NovelToon NovelToon
Cinta Di Tapal Batas

Cinta Di Tapal Batas

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Romansa pedesaan / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Tamat
Popularitas:32.5k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.

"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."

"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."

Bagaimana kisah selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Suasana dalam ruangan perawatan itu begitu hening, hanya menyisakan bunyi ritmis dari alat pemantau jantung di samping ranjang Lusi.

Aksa yang tengah mendonorkan darah berbaring di brankar sebelah Lusi. Lengannya terulur dengan selang transparan, darahnya mengalir ke tubuh Lusi yang sangat pucat. Tubuh Aksa tampak lemas namun matanya tidak sedikit pun beralih dari sosok wanita di sampingnya.

Dini berdiri mematung di sudut ruangan, tangannya meremas blusnya sendiri. Sebenarnya ia yang mendukung langkah Aksa, tapi pemandangan itu kenapa lebih menyakitkan hati Dini dari sekedar menggendong Lusi. Ada ikatan tak kasat mata yang terjalin antara Aksa dan Lusi entah apa yang akan terjadi setelah ini. Dini berjalan cepat mencengkeram handle pintu meninggalkan Aksa, Lusi, dan juga perawat. Dini menghampiri Lestari sahabatnya menyembunyikan getar cemburu yang menyesakkan dada.

"Dini... kamu kenapa?" Lestari yang masih di ruang tunggu berdiri memandang wajah Dini yang mengalir air mata. "Apa yang terjadi dengan bu Lusi?" Lestari pikir Lusi mengalami hal buruk tentang penyakitnya.

Dini mengusap air matanya lalu duduk menyembunyikan rasa kecewa nya yang dalam. "Tidak apa-apa Ri, aku hanya takut melihat darah" Dini tidak berkata jujur. Ia malu kepada Lestari, kenapa dirinya mempunyai pikiran pendek.

"Oh, minum dulu gih" Lestari memberikan botol air mineral milik Dini yang ia bawa-bawa.

Dini meneguk air dalam botol mineral hingga habis seperempat. Setelah agak tenang ia ngobrol dengan Lestari hingga beberapa saat.

"Aku mau pulang Ni, tapi ingin menjenguk bu Lusi dulu" ucap Lestari karena waktu sudah sore.

"Oke... aku juga" Dini berjalan lebih dulu kembali ke ruangan diikuti Lestari. Ketika membuka pintu, pandanganya tertuju ke arah Lusi dan Aksa.

Senyum lemah Lusi mengembang tapi sorot matanya tertuju lama kepada Aksa. Senyum yang penuh arti. "Mas Aksa, terima kasih kamu sudah mengalirkan darahmu ke tubuhku. Itu artinya... Kita satu. Apakah kamu tidak bisa membuka hati kamu untuk mencintai aku?" Lusi berkata panjang tidak menyadari jika Dini dan Lestari mendengarkan di sudut ruangan.

Kalimat itu bagai sembilu di hati Dini. Dia menatap Aksa yang tidak segera tegas menjawab pertanyaan Lusi. Aksa sudah melampaui batas wajar seorang teman, Dini ingin Aksa menjawab 'tidak tapi tak kunjung keluar dari bibirnya. Dengan perasaan campur aduk, Dini menarik tangan Lestari mendekati tempat tidur pasien.

"Pak Aksa, kami pulang dulu" pamit Dini dengan suara pelan, berusaha menyembunyikan perasaannya yang tidak karuan.

"Kamu di sini Dini?" Lusi menatap Dini tidak suka dengan kehadiran muridnya itu.

"Iya Bu, semoga Ibu cepat sembuh," Dini mengulurkan tangan hendak salim, tapi Lusi sama sekali tidak merespon. Dini menarik tangannya lalu mundur dan balik badan.

"Hati-hati" Aksa tersenyum tipis menatap Dini sayu. Dini yang sudah berjalan pun tidak sanggup lagi untuk menoleh.

"Dini, kamu yang kuat" ucap Lestari ketika mereka sudah tiba di luar.

Dini berhenti menatap Lestari dengan air mata berlinang. "Kenapa aku menjadi wanita jahat Ri, seharusnya aku tidak cemburu kepada bu Lusi."

"Dini..." Lestari memeluk sahabatnya. "Aku tahu perasaan kamu Ni. Jika kamu ingin menangis, menangislah" Lestari kesal melihat Aksa di dalam tadi yang tidak bisa tegas.

**************

Semenjak saat itu Dini harus merasakan rasa pahit setiap hari, karena perhatian Aksa kepada Lusi lebih besar lagi. Hingga Lusi berangsur-angsur sembuh dan sudah mulai mengajar. Hampir setiap hari menyaksikan Lusi yang selalu merengek manja minta diantar pulang. Tetapi anehnya Aksa bagai kerbau di cucuk hidungnya. Namun, Dini lebih memilih menjauh dari Aksa, fokus belajar menghadapi ujian semester satu yang tinggal sebulan lagi.

Ketika hampir semua teman berjalan ke kantin, Dini memilih ke perpustakaan seorang diri. Tempat itu menjadi tempat Dini paling nyaman untuk belajar.

Sementara itu, Aksa mencari Dini ke kantin, ke taman sekolah, dan terakhir ke kelas. Akan tetapi di tempat itu hanya menemukan Lestari yang sedang makan bekal.

"Lestari, Dini ke mana?" Tanya Aksa, tampak bingung.

"Di perpustakaan, Pak" jawab Lestari. Lestari kaget, tumben sekali sudah beberapa hari pak Aksa cuek kepada Dini tapi tiba-tiba mencarinya. "Mudah-mudahan Pak Aksa bisa menyenangkan hati Dini," Batinya sembari memandang Aksa yang kembali keluar kelas.

Sementara Aksa mencari Dini ke perpustakaan, ia tersenyum ketika menatap Dini yang membaca buku seorang diri. "Pantas saja, otak kamu jenius, waktu istirahat pun masih rajin belajar" ucap Aksa bangga.

"Tidak ada yang lebih penting daripada belajar, Pak" Dini tersenyum masam.

"Maaf ya, akhir-akhir ini kita jarang ngobrol berdua," Aksa rupanya menyadari itu.

"Lebih baik begitu, Pak" Dini menjawab santai, tapi hatinya seolah protes kenapa hanya Lusi yang selalu Aksa pikirkan. Hati Dini merasa sakit setiap kali melihat binar mata Aksa yang kini lebih tertuju kepada Lusi daripada dirinya. Walaupun Aksa selalu beralasan bahwa hubungan mereka hanya sebatas teman, tapi gestur tubuh dan perhatian kecil yang Aksa berikan kepada Lusi sudah cukup jawaban bagi Dini.

"Maksud kamu apa, Dini?" Aksa kaget mendengar ucapan Dini.

"Lebih baik hubungan ini kita sudahi saja Pak. Saya rasa kita lebih baik hubungan murid dengan guru seperti dulu saja. Bukankah Ibu Lusi lebih membutuhkan Pak Aksa?" Lirih Dini tapi tegas. Dini menyadari bahwa memaksakan diri untuk bertahan hanya akan menumpuk luka yang semakin dalam.

Aksa kaget dan mencoba menyangkal dan memberi penjelasan yang sama seperti sebelumnya. Namun, Dini hanya menggeleng. Cinta seharusnya tidak membuatnya merasa sendirian.

"Dini, kamu harus bisa berpikir dewasa," ucap Aksa menaikkan intonasi suara, tidak mau kehilangan Dini.

"Saya memang tidak sedewasa Bapak, tapi saya cukup tahu. Pak Aksa mengatakan cinta sama saya tapi hati kamu dibagi dua!" Dini berteriak, emosi yang ia tahan berhari-hari akhirnya meledak menghancurkan hati Aksa.

"Kamu salah paham, Dini!" Aksa mencoba menjelaskan. Tetapi hati Aksa sesak karena Dini sudah tidak mau mendengarkan.

"Sudahlah, Pak. Cukup sampai di sini saja, saya tidak mau berkompetisi dengan kehadiran Lusi yang lebih kamu perhatikan!" Dini akhirnya mengucap kamu, kamu sangking kesalnya. Dini meninggalkan Aksa dengan langkah terburu-buru. Ia tidak akan menangis lagi, sudah terlalu banyak air mata yang ia buang selama satu tahun berhubungan dengan gurunya.

Dini seketika ingat kata-kata ibunya yang sering kali menasehati. Usianya yang terlalu muda akan timpang karena berbeda pemikiran dengan Aksa, ternyata benar adanya. Dini lebih baik menjaga kewarasan daripada gila padahal masa depannya masing panjang.

Di balik rak buku, seorang wanita yang mendengarkan pertengkaran Dini dengan Aksa hingga akhirnya putus, wanita itu tertawa puas.

...~Bersambung~...

1
Bu Kus
udah mampir thro bagus kisah nya
Buna Seta: terima kasih
total 1 replies
Dahyun Mood Vlogger
tetap semangat thorr🙏👍😭
Eka ELissa
Ahir nya brahir bhgia Mak...
otw mak...
neng ade
Kamu harus secepatnya kasih tau Lusi kalau kalian itu kakak beradik..
neng ade
waduh.. bakalan rumit ini .. pantas aja dari awal udah ada kecocokan darah nya ternyata mereka adik kakak ..
neng ade
siapa pria itu yang ternyata ayah kandung nya Lusi 🤔
neng ade
mungkin memang benar Aksa udah menikah dengan Lusi karena penyakitnya udah parah
neng ade
Alhamdulillah.. akhirnya Dini udah lulus sekolah..
selamat ya Din .. semoga sukses 😍
neng ade
pak Agus itu baik, perhatian dan juga mencintai kamu Dini ..
ada. pepatah yang bilang lebih baik dicintai dari pada mencintai tapi selalu tersakiti ..
neng ade
yahh.. bakalan ketahuan deh .. gara-gara Dini nyenggol pot hingga pecah. 😲
Ariany Sudjana
kapan karya barunya keluar kak?
Buna Seta: Tunggu dulu ya, mau revisi dulu.
total 1 replies
evi solina
siap pasti ku baca buku barunya
vj'z tri
🎉🎉🎉🎉🎉🎉 di tunggu karya wokeh selanjut nya Thor
Ita rahmawati
tamat juga nih akhirnya,,suka ceritanya gk mbulet aja sat set udh tamat deh 😅
Bu Kus
terimakasih thro semoga lancar dan sehat selalu tak tunggu thro karya barunya tetap semangat
Bu Kus
lanjut
Bu Kus
🤦🤦
Eka ELissa
pak Agus pasti' ksian....cri yg lain yaaa pak ....msih byk koo..
cewek yg lain...😄🤭
Eka ELissa
berdoa pak moga dini jodoh mu....🤲🤲
Eka ELissa
Risi apa dini Mak...😄🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!