Dijodohkan dari sebelum lahir, dan bertemu tunangan ketika masih di bangku SMA. Aishwa Ulfiana putri, harus menikah dengan Halim Arya Pratama yang memiliki usia 10tahun lebih tua darinya.
Ais seorang gadis yang bersifat urakan, sering bertengkar dan bahkan begitu senang ikut tawuran bersama para lelaki sahabatnya.
Sedangkan Halim sendiri, seorang pria dingin yang selalu berpembawaan tenang. Ia mau tak mau menuruti permintaan Sang Papi.
Bagaimana jika mereka bersatu? Akankah kehangatan Ais dapat mencairkan sang pria salju?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekanan batin Cinta
"Maa... Mama.." panggil Ais dalam igauannya.
Lim yang sudah terlelap, langsung bangun dan menghampirinta di tempat tidur.
"Ais kenapa? Ini udah tengah malam, kenapa bangun?"
"Hanya rindu Mama. Biasanya, kalau sakit Mama temenin tidur dan peluk. Ini udah engga. Bahkan, Mama ngga tahu kalau Ais sakit 'kan?"
"Maaf, tak memberitahunya."
Ais hanya meringkuk, kembali dengan tangis rindunya yang mendalam. Tampak begitu kasihan, meski Ia berusaha kuat.
"Gadis manja, yang pertama kalinya jauh dari Ibu." batin Lim.
Ia pun berinisiatif, menggeser tubuh Ais sedikit minggir. Lalu, Ia naik dan tidur di sebelahnya.
"Tidurlah, biar aku temani. Sayangnya, bantal gulingmu pun lupa di bawa kemari." ucap Lim, terlentang di sebelah istrinya dan menyelimuti dengan selimut tipisnya.
Ac dihidupkan dan begitu dingin. Ais tak memakai selang oksigennya lagi saat ini. Ia tampak kedinginan, dan suhu tubuhnya berubah-ubah. Ia bahkan masih meringik, sesekali memanggil sang mama. Hinga Lim membuat posisi miring dan memeluknya erat.
"Udah?"
"Lumayan...." ucap Ais, yang memang merasa nyaman dan hangat.
Mereka kembali memejamkan mata, hingga mentari pagi menjelang.
*
"Dimana ruangannya?" tanya Nisa pada Dimas yang kebetulan datang bersama.
"Di ruang VVIP." ucap Dimas.
"Nah, ini dia."
Dimas membuka pintu, dan menemukan mereka yang tengah berpelukan satu ranjang. Antara sungkan, dan senang. Sampai merasa tak enak ketika ingin membangunkannya.
"Permisi, saya mau kontrol pasien." ucap Sang perawat yang datang dari belakang.
"Tapi, mereka sedang tidur. Apakah, bisa di tunda?" tanya Dimas
"Tidak bisa, Pak. Karena sesuai jadwal dan saya akan memberi obat alerginya."
"Baik, saya akan membangunkannya." ucap Dimas.
Ia pun berjalan menghampiri pasangan kasmaran itu. Lalu menggoyang-goyangkan tubuh Lim agar Ia bangun. Hingga akhirnya, Lim pun membuka matanya.
"Dim, Sejak kapan masuk?" tanya Lim, menarik lengannya dari bawah leher Ais.
"Ais, semalam tak bisa tidur karena rindu Mama. Jadi, Lim peluk agar tenang." ucap Lim.
"Ya, aku faham itu."
Lim beranjak dari tempat tidur itu dan berjalan menuju kamar mandi. Mencuci muka, dan menggosok giginya agar sedikit lebih segar.
"Bagaimana, suster?" tanya Pak Dimas.
"Sudah membaik. Kalau mau pulang juga sudan boleh. Itu yang dokter katakan tadi. Maaf, Beliau mewakilkan karena ada pasien gawat darurat di IGD."
"Ya, saya faham. Ais juga sudah sangat membaik." jawab Dimas padanya.
"Oh iya, Suster. Boleh tolong, gantikan pakaian Ais? Dia kegerahan semalam." pinta Lim, yang beranjak keluar dari kamar mandi.
Sang suster pun mengangguk, lalu mengambil tirai untuk mengganti pakaian Ais, meski masih dalam keadaan tidur. Dibantu Nisa yang menyangga tubuhnya.
"Kenapa tak kamu saja yang mengganti? Sampai membiarkan dia kegerahan karena tak nyaman." tanya Dimas.
"Canggung."
"Kenapa canggung, Dia istrimu. Sudah halal hubungan kalian. Harus mulai terbiasa, antar satu sama lain. Kau menjaga Ais, dan Ais juga akan mengurusmu."
"Ya, faham." jawab Lim bernada datar, dengan meneguk air putih hangat yang tersedia disana.
"Nisa ngga sekolah?" tanya Lim padanya.
"Izin, buat jengukin Ais, Kak."
"Dia sudah boleh pulang. Tolong tunggu sebentar, Aku urus administrasinya." pinta Lim padanya. Nisa pun mengangguk, dan menunggunya.
Sementara Dimas, pergi keluar karena sebuah panggilan darurat.
"Ada-ada aja si Ais mah. Lagi musim ujian, malah sakit. TBC kali ya? Tekanan Batin Cinta." gumamnya, menatap sang sahabat yang masih terlelap.
biar je...