NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Putra Sang Pewaris

Menjadi Ibu Susu Putra Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Ibu susu / Janda / Duda
Popularitas:26.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecanggungan kembali melanda

Cahaya matahari pagi mulai merayap masuk melalui celah gorden, namun bagi Kamila, fajar kali ini terasa lebih berat dari biasanya. Sejak kepulangannya dari kamar Baby Zevan subuh tadi, ia sudah sibuk menyiapkan keperluan putranya. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk segera menjauh sebelum Evan terbangun.

Kamila berjalan menuju ruang makan sambil menggendong Baby Zevan yang mulai aktif mengoceh. Ia berharap bisa sarapan lebih awal dan menghilang ke taman belakang sebelum pria itu turun. Namun, keberuntungan sedang tidak berpihak padanya.

Di lantai atas, Evan sudah rapi dengan setelan jas kerjanya. Langkah kakinya yang tegas menuruni anak tangga terdengar menggema. Matanya menyisir setiap sudut ruangan hingga akhirnya menemukan sosok yang dicarinya di ruang makan.

"Pagi, Kamila. Pagi, Jagoan Papa," sapa Evan dengan suara baritonnya yang tenang, seolah kejadian panas dan penuh emosi semalam hanyalah mimpi belaka.

Mendengar suara itu, tubuh Kamila menegang. Ia tetap menunduk, pura-pura sibuk membetulkan letak selimut Zevan. "Pagi, Mas," jawabnya lirih tanpa berani mengangkat wajah. Jantungnya mulai berdegup kencang, rasa panas menjalar hingga ke pipinya saat ingatan tentang sentuhan bibir Evan kembali melintas.

Evan berjalan mendekat. Ada sesuatu yang berbeda pagi ini. Meski ia berusaha bersikap biasa, ia merasa canggung yang luar biasa. Ia berdiri tepat di hadapan Kamila, membuat bayangan tubuhnya menutupi wanita itu.

"Sini, biar aku gendong Zevan sebentar," ucap Evan sambil mengulurkan tangannya.

Saat Evan hendak meraih tubuh mungil putranya, jari-jari besarnya secara tidak sengaja bersentuhan dengan punggung tangan Kamila.

Deg!

Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik bagi Kamila. Tubuhnya gemetar hebat. Dengan gerakan refleks yang hampir terlihat seperti ketakutan, ia segera melepaskan Zevan ke tangan Evan dan melangkah mundur satu langkah.

Evan tertegun melihat reaksi itu. Ia merasa ada jarak yang tiba-tiba membentang luas di antara mereka. Di sudut ruangan, Tuan Chen yang sejak tadi memperhatikan dari kursi kebesarannya hanya tersenyum tipis. Sebagai orang tua, ia bisa merasakan ada "sesuatu" yang telah berubah di antara putra dan menantunya.

"Kamu... kamu sudah sarapan, Kamila?" tanya Evan berusaha memecah keheningan yang menyesakkan itu.

Zevan, yang tidak tahu apa-apa, malah asyik mengoceh sambil menarik-narik dasi ayahnya hingga miring. Evan tertawa kecil, menciumi perut Zevan hingga bayi itu tertawa kegelian.

"B... belum, Mas," jawab Kamila terbata, masih dengan mata yang menatap ujung sepatunya.

"Ya sudah, sebaiknya kita makan bersama. Untuk sementara waktu, biar Zevan digendong Suster Zara dulu," ajak Evan dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.

Kamila hanya bisa mengangguk patuh. Tak lama, Suster Zara datang mengambil alih Zevan, dan Tuan Chen pun menyapa mereka, membuat suasana sedikit lebih mencair meski kegugupan masih menyelimuti Kamila.

Selesai sarapan, Kamila menjalankan tugasnya sebagai istri dengan mengantarkan Evan hingga ke teras depan. Udara pagi yang segar tidak mampu mendinginkan hatinya yang masih bergemuruh.

Saat Evan berbalik untuk berpamitan, mata Kamila tidak sengaja menangkap sesuatu yang mengganggu penglihatannya. Dasi Evan miring dan sedikit berantakan akibat ulah Zevan tadi. Meski ragu, perhatiannya sebagai istri mengalahkan rasa malunya.

"Maaf Mas, dasimu tidak rapi," ucap Kamila pelan.

"Masa sih?" Evan mencoba meraba kerahnya, namun gerakannya malah membuat dasi itu semakin tak beraturan.

Tanpa sadar, Kamila melangkah maju. Tangannya yang lentik bergerak meraih simpul dasi Evan. Kini jarak mereka begitu dekat, bahkan sangat dekat hingga Evan bisa menghirup aroma vanilla dari tubuh Kamila, dan Kamila bisa merasakan hangatnya napas Evan di keningnya.

Keduanya terpaku. Debaran jantung mereka seolah berlomba dalam kesunyian teras itu. Kamila dengan cepat merapikan dasi tersebut, meski tangannya sedikit bergetar. Setelah selesai, ia meraih tangan kanan Evan dan mencium punggung tangannya dengan takzim.

Evan terpaku sejenak. Secara spontan, ia menarik dagu Kamila sedikit ke atas dan mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening istrinya.

"A... Aku berangkat kerja dulu, Kamila. Kamu hati-hati di rumah, aku titip Zevan padamu!" ucap Evan gugup sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bertingkah laku aneh yang jarang sekali ia tunjukkan.

Kamila hanya mengangguk tanpa kata. Ia terpaku di tempatnya berdiri saat mobil Evan perlahan meninggalkan halaman rumah.

Di dalam mobil, Evan menyandarkan punggungnya dan membuang napas panjang. Ia merasa sangat lega sekaligus bingung. Dadanya masih bergemuruh hebat. Sesuatu yang aneh dan tidak biasa sedang tumbuh di sana, meruntuhkan semua janji yang pernah ia buat untuk tidak berpaling dari masa lalunya.

.

.

Lantai teratas gedung perkantoran itu biasanya menjadi tempat Evan menunjukkan otoritas dan ketegasannya. Namun pagi ini, ruang kerja yang luas itu justru terasa seperti penjara bagi pikirannya. Evan menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran, perlahan ia memejamkan mata.

​Seketika, memori semalam berputar kembali seperti rol film. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Kamila dalam pelukannya, isak tangisnya yang perlahan reda, dan puncaknya yaitu sentuhan bibir mereka yang begitu dalam. Evan menyentuh bibirnya sendiri dengan ujung jari, seolah sisa rasa manis dan kehangatan dari Kamila masih tertinggal di sana.

​"Kenapa rasanya masih senyata ini?" gumamnya lirih.

​Di ambang pintu, Kevin, asisten setianya, sudah berdiri selama hampir dua menit. Ia menatap aneh ke arah tuannya yang tampak seperti orang sedang melamunkan sesuatu yang sangat intens, bahkan sampai memejamkan mata dengan raut wajah yang sulit diartikan. Di tangan Kevin terdapat dokumen penting yang butuh tanda tangan segera.

​"Ehem... Tuan?" sapa Kevin pelan.

​Tidak ada jawaban. Evan masih tenggelam dalam fantasinya.

​"Tuan Evan?" Kevin mengulanginya sedikit lebih keras.

​Evan tersentak kaget. Ia membuka mata dan segera memperbaiki posisi duduknya dengan gerakan kikuk, berusaha mengembalikan wibawanya yang sempat runtuh.

​"Kau... Ada apa datang ke sini?" tanya Evan dengan nada kesal, seolah menyalahkan Kevin karena telah memutus benang ingatannya tentang Kamila.

​Kevin sedikit terkejut melihat reaksi tak biasa itu. "Maafkan saya Tuan, saya hanya ingin menyerahkan dokumen penting ini untuk segera Tuan tanda tangani. Ini mengenai proyek di Kalimantan," ujarnya sedikit gugup.

​Dengan sisa kekesalan yang masih membekas, Evan menyambar dokumen itu dan segera membubuhkan tanda tangan tanpa banyak bicara. Namun, saat Kevin hendak berbalik pergi, Evan merasa butuh "sudut pandang luar" untuk memahami apa yang terjadi pada hatinya.

​"Kevin, tunggu sebentar!" panggil Evan cepat.

​Kevin berhenti dan berbalik. "Iya Tuan, apakah ada hal lain yang bisa saya bantu?"

​Evan terdiam sejenak, memutar otak agar pertanyaannya tidak terdengar seperti sedang membicarakan dirinya sendiri. Ia berdehem, mencoba mencari nada suara yang paling netral.

​"Jadi begini Kevin, aku punya seorang teman. Dia baru saja menikah, sama sepertiku. Mereka menikah tanpa dilandasi cinta, awalnya murni karena komitmen lain. Namun akhir-akhir ini, temanku itu selalu merasa gugup dan canggung terhadap istrinya. Setiap berada di dekatnya, jantungnya berdebar kencang... padahal di hatinya, dia merasa masih mencintai wanita lain dari masa lalunya. Menurutmu, apa yang sedang dialami temanku itu?"

​Mendengar pertanyaan "klasik" tentang "seorang teman" di pagi hari yang cerah ini, Kevin hampir saja tertawa. Sebagai orang yang paling dekat dengan Evan, ia tahu betul siapa "teman" yang dimaksud. Namun, ia tetap menjaga profesionalitasnya meski sorot matanya menunjukkan kecurigaan.

​"Kalau dari analisa saya, Tuan..." Kevin menjeda kalimatnya, sengaja memberi efek dramatis. "Itu tandanya teman Tuan sudah diam-diam menyukai istrinya. Hanya saja, dia masih dalam tahap penyangkalan. Perasaannya bimbang karena dia merasa 'berkhianat' pada wanita di masa lalunya, padahal sebenarnya, lambat laun rasa cintanya pada wanita lain itu sudah mulai memudar dan tergantikan oleh kehadiran istrinya yang sekarang."

​Deg!

​Evan seolah berhenti bernapas sesaat. Penjelasan Kevin menghantam telaknya tepat di ulu hati. Ia sampai harus menelan ludah dengan susah payah untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba saja kering.

​'Aku menyukai Kamila? Tidak... tepatnya aku telah jatuh cinta padanya?' batin Evan berteriak. 'Ini tidak mungkin! Cintaku masih sepenuhnya milik Jingga. Tapi... argh! Kenapa malah jadi kacau seperti ini?!'

​Tanpa sadar, Evan menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya sebelum kemudian memijit pelipisnya yang terasa berdenyut kencang. Kebingungan antara kesetiaan masa lalu dan getaran masa kini membuatnya hampir gila.

​Kevin yang melihat tuannya bersikap aneh dan sangat tidak biasa itu hanya bisa tersenyum tipis. Ia tahu Evan butuh waktu untuk berdamai dengan hatinya sendiri.

​"Saya permisi dulu, Tuan. Semoga 'teman' Tuan itu segera mendapatkan jawaban yang jujur dari hatinya," ucap Kevin dengan nada penuh makna sebelum akhirnya melangkah keluar, meninggalkan Evan sendirian dalam kemelut rasa bersalah dan cinta yang baru tumbuh.

1
Teh Euis Tea
sukurlah jaka sadar dan mudsh2an cepat sehat biar bisa jd saksi ratu demit masuk bui
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: siip kk 👍
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya jaka sadar dan bisa jdi saksi kejhtn siska
Lisa
Ciee..Evan udh mulai pdkt nih..😊
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: iya dong 🤣🤣🤣
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/🤗🤗🤗
total 1 replies
Nar Sih
hahaha😂😂iklan lewat dulu gais😂
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
Juriah Juriah
sebagai pembaca novel menurut ku jln crita nya udh cukup bagus tulisannya juga rapi ga banyak typo nya trus tanda baca nya juga tepat penempatan nya sampai di episode ini masih enak di baca nya...buat kakak author tetap semangat untuk berkarya 💪🙏
Juriah Juriah: sama-sama kak🙏
total 2 replies
suryani duriah
gagal lagi😁😁
neny
apa itu panggilan di bawah alam kubur,,atau mungkin kah orang yg sdh dianggap siska mati akan mengganggu siska sampe ia mengakui perbuatan nya sendiri,,jd penasaran nich,,semangat terus kak othor💪😘
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏😊
total 1 replies
neny
oramg suruhan siska pasti itu,,lanjut kak,,
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/
total 1 replies
neny
cinta rvan,,itu cintaa,,cinta mu pada jingga ada di ruang hati mu yg lain,,beda jg dengan cinta kamila,,ayo akui perasaan mu drpd tersiksa,,🤭lanjut kak🥰
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: siip kk, aku sudah up 3 Bab 🤗
total 1 replies
Teh Euis Tea
cieee evan udah nyosor lg aj🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: jadi bebek dia kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
pasti si Siska.😡
Nar Sih
hahaha😂😂evan ,,kmu ada ,,sja pkai cerita tentang teman mu pdhl itu cerita diri mu sendiri yg mungkin udh jtuh cinta dgn kamila ,
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul kak, malu tuh dia 🤣🤣
total 1 replies
Teh Euis Tea
kocak di evan, pake bilang temannya bilang aj aku yg mulai jatuh cinta dm istriku 🤣🤭
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: nah betul begitu 🤣🤣
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
Iqlima Al Jazira
next thor..
kopi untuk mu👍
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏😊
total 1 replies
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ani
lepas kendali juga gak apa apa kali Van lah yo wong halal kok..😄😄😄
Cindy
lanjut kak
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Nar Sih
buat pangn yg sdh sah boleh kok kamila untuk berhubungan seperti layak nya suami ,dan kmu jujur sja klau sdh ngk punya rahim lgi
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul kak 👍🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!