Zizi adalah seorang gadis yang memiliki kekuatan supranatural karena darah para leluhurnya.
Bukan hanya menjadi pewaris pusaka sang leluhur, namun nyatanya takdir cinta Zizi juga mengikuti jejak para leluhurnya yang harus bertemu dengan mahluk yang berbeda.
Akankah Zizi bisa menjadi pewaris yang baik dari leluhurnya?
Dan akankah Zizi bisa benar-benar bersama sosok yang ia cintai meski mereka berbeda?
yuk ndongeng...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Pulang
Zizi pergi ke Rumah Sakit di mana Ali dirawat menjelang kepulangannya ke Indonesia. Paman Ziyan sudah tampak di sana menemani Bibi Aisyah dengan penjagaan pengawal dari keluarga Bibi Aisyah di Malaysia.
Zizi datang bersama sang Mama dan juga Shane serta Paman dan pengawal lainnya.
Karena memang sepulang dari Rumah Sakit mereka akan langsung terbang ke Indonesia dengan pesawat pribadi milik Alpha Centauri.
"Zizi ingin bicara berdua saja dengan Ali, bisa kan Paman? Bibi?"
Tanya Zizi pada Paman Ziyan dan Bibi Aisyah, yang tentu saja langsung mereka ijinkan.
Zizi kemudian masuk ke dalam ruangan Ali dirawat. Ali sudah membaik, dia bahkan sudah duduk sambil fokus belajar.
Sungguh tak diragukan lagi jika anak Paman Ziyan. Batin Zizi.
Ah tapi Papa sebetulnya juga sangat suka bekerja dan berlama-lama di perpustakaan, tapi entah kenapa Zizi tidak suka. hihihihi...
Zizi berjalan mendekati Ali, tampak Ali yang menyadari seseorang datang dan ketika yang dilihatnya adalah Zizi tentu saja langsung tersenyum lebar menyambut kedatangan Zizi.
"Al."
Panggil Zizi seraya berdiri di dekat ranjang Ali berbaring.
"Sudah lebih baik?"
Tanya Zizi.
Ali mengangguk.
"Sudah sangat baik, sebetulnya dokter sudah mengijinkan pulang, tapi entahlah kenapa aku masih di sini."
Keluh Ali.
"Siapa lagi, pastinya ulah orangtuamu yang takut kamu kenapa-kenapa, hahaha..."
Zizi tertawa.
Ali mengangguk membenarkan.
"Kak, terimakasih ya."
Kata Ali kemudian.
"Untuk apa?"
Tanya Zizi.
"Sudah sampai rela jemput Ali ke dunia aneh itu, ah padahal dulu kak Zizi pernah pesan agar jangan masuk gudang jika sedang tak ada Kak Zizi."
Ujar Ali seolah menyesali kecerobohannya.
"Katanya kau sekarang lihat hantu?"
Tanya Zizi.
Ali menatap Zizi sambil mengangguk.
Lalu matanya beralih pada sosok yang berdiri di belakang Zizi.
Zizi yang tahu ada sesuatu yang berdiri di belakangnya segera berbalik dengan cepat dan melayangkan tinjunya.
Hantu dokter dengan muka hancur yang selalu mengganggu Ali itupun terpental keluar menembus pintu, Zia yang sedang bicara serius melihat hantu dokter terpental jadi kehilangan fokus.
Shane, Maria dan mbak pocong yang ada di sana dan juga melihatnya hanya cekikikan. Sudah jelas kelakuan siapa lagi jika bukan Zizi.
Ali melongo melihat Zizi melakukannya dengan santai.
"Apa tidak apa-apa Kak Zizi? Aku bisa membumi hanguskan mereka jika dalam bentuk seperti asap, tapi sudah berwujud begitu rasanya aku tidak sanggup."
Lirih Ali.
Zizi cekikikan.
"Kalau mereka ganggu hajar saja, tidak usah lihat bentuknya. Lagian makin seram bentuknya, makin semangat hajar kalau Kak Zizi mah."
Ali makin melongo.
Buseeet dah.
Zizi kemudian ingat tujuan utamanya datang ke Rumah Sakit, tampak Zizi memasukkan tangannya ke kantong jaketnya, lalu mengeluarkan batu kecil berkilauan milik Lori yang ikut terpental ke dunia manusia bersama Ali saat Ali pulang.
"Apa ini ka? Bukankah ini..."
Ali menatap Zizi.
Zizi mengangguk.
"Ya ini milik Lori, dia ikut ke dunia manusia saat kamu kembali ke dunia manusia bersama mbak pocong."
Ujar Zizi.
Ali kemudian meraih batu kecil berkilauan itu.
Yang kemudian saat berada di tangan Ali, batu kecil itu tiba-tiba seperti masuk ke dalam telapak tangan Ali.
"Kak... Ini..."
Ali sedikit panik.
Ali jadi ingat saat masa kecilnya dulu juga pernah mengalami masa yang sama.
Ah jangan-jangan...
"Ada takdir yang mengikatmu dengan Lori, persiapkan saja dirimu Al."
Kata Zizi akhirnya.
Ali tercekat.
Takdir?
Takdir apa?
Ali bingung luar biasa.
"Hati-hati Al, Kak Zizi harus pulang ke Indonesia, ada yang harus Kak Zizi lakukan lagi."
Ujar Zizi.
**-----------**
Zizi dan Zia serta yang lain pulang ke Indonesia dengan perasaan yang sudah cukup lega karena akhirnya Ali sudah bisa ditemukan dan dia baik-baik saja.
Meskipun kenyataan bahwa Ali sebetulnya kapan saja bisa ditarik lagi ke dunia Lori sengaja tak Zizi buka pada siapapun.
Zizi tahu jika toh Zizi katakan, pasti tak akan ada jalan keluar untuk menghindarinya. Sama seperti dulu Papa dan Mamanya mencoba menjauhkan Zizi dari Jayapada hingga pindah ke London, tapi tetap saja takdir itu mengikuti Zizi.
Hari telah senja, tatkala pesawat mereka landing di bandara. Dan kemudian, dengan mobil jemputan dari Alpha Centauri, mereka semua pun kemudian pulang.
Sebagaimana permintaan Zia di mana Zion tidak boleh lembur dan harus pulang cepat, saat Zia dan Zizi datang, Zion terlihat sudah ada di rumah menyambut kedatangan mereka.
Wajah-wajah lelah yang teramat tergambar jelas pada wajah mereka, terutama para pengawal.
"Yang rumah dan keluarganya di area Jabodetabek, aku ijinkan kalian ambil cuti dua hari. Uang bonus akan ditransfer besok pagi ke rekening kalian masing-masing."
Ujar Zion, yang langsung disambut bahagia para pengawal.
Zia dan Zizi kemudian menjadi masuk ke dalam rumah lebih dulu karena Zion juga memanggil Dave dan bicara serius dengannya.
Tak mau ganggu urusan mereka, maka Zia memilih masuk rumah saja, dan Zizi juga mengikuti Mamanya.
"Nyonya."
Mbak Ning menyambut senang.
Zia tersenyum lebar pada mbak Ning.
"Mbak Ning masak apa?"
Tanya Zizi yang rasanya lapar lagi.
"Masak sayur buntut Non, sama ayam bakar trus pesan sate."
"Siiiiiip, makan ah."
Zizi bersemangat.
Membuat Zia menabok lengan anaknya itu.
"Mandi dulu."
Marah Zia.
Zizi cekikikan.
"Makan dulu Ma, kalau mandi dulu perut lapar nanti Zizi masuk angin, kembung."
Kata Zizi.
Zia geleng-geleng kepala seraya menghela nafas.
"Lagian sebelum ke Merapi, Zizi ingin makan yang enak Ma, makan enak dan banyak, hihihi..."
Zizi cekikikan lagi, membuat Zia dan Mbak Ning saling pandang lalu tertawa.
"Memangnya selama ini kamu makannya sedikit?"
Zia tertawa sambil mengacak-acak rambut kepala anaknya sendiri lalu melanjutkan langkahnya.
"Kalau aku mau mandi dulu mbak, buatkan saja aku teh melati ya, gulanya sedikit saja."
Kata Zia pada Mbak Ning.
"Nona Zizi mau makan?"
Tanya mbak Ning.
Zizi menganggukkan kepalanya.
Maria bersama mbak pocong yang baru muncul karena tadi keliling komplek dulu karena katanya mencium aroma tidak enak terlihat langsung menempel pada Zizi.
"Ngga usah pada pasang muka Spongebobnya."
Kata Zizi pada Maria dan mbak pocong.
Maria menabok punggung Zizi.
"Yang benar itu kalau ngomong, cantik begini dibilang Spongebob."
Maria mengusap wajahnya yang mirip barbie jaman dulu.
Zizi cekikikan lalu mulai fokus menatap menu di meja makannya, menatap sop buntut yang masih mengepul panas, dan kini uapnya sedang dihirup Mbak Pocong.
Zion tampak datang ke ruang makan setelah selesai bicara dengan Dave.
Zion duduk di ruangan itu menemani anaknya yang baru bersiap akan makan.
**-----------**
aku sdh berapa kali ngulang baca, dari "Zia" sampe " putri vampir terkhir"...
kapan lanjutannya, thor?.
sehat selalu yaa..
di dinding. buat tempat para jin
Foto aku simpen album saja