kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawa di Atas Penderitaan
Sinar rembulan yang keperakan menyinari kemegahan istana Atlas, namun di balik kemilau emas dan pesta pora yang sedang berlangsung, tersimpan sisi gelap yang hanya dinikmati oleh sang penguasa. Ratu Layla, dengan jubah kebesarannya yang menjuntai, meninggalkan keriuhan aula utama. Ia melangkah dengan penuh tenaga, merasakan aliran energi baru yang berdenyut di setiap ototnya. Tujuannya bukan menuju peraduan, melainkan menuju sebuah struktur raksasa yang berada di bagian belakang kompleks istana. Tempat itu adalah sebuah gudang bawah tanah yang luas, yang atapnya didesain sedemikian rupa agar sang Ratu bisa mengintip ke bawah tanpa harus bersentuhan langsung dengan udara pengap di dalamnya.
Ratu Layla menaiki tangga rahasia menuju atap gudang tersebut. Di bawah sana, di dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh obor-obor minyak yang redup, ratusan budak dan rakyat yang dianggap membangkang dikurung dalam sel-sel besi yang sempit. Bau keringat, kotoran, dan keputusasaan menguar dari bawah, namun bagi Layla, itu adalah aroma kekuasaan yang sesungguhnya. Ia berdiri di tepi lubang pengintai, menatap rendah ke arah manusia-manusia yang telah kehilangan martabatnya. Di belakangnya, Panglima Delta berdiri membeku, sementara pasukan Centaur dan Minotaur telah bersiap dengan ember-ember besar di tangan mereka.
"Beri mereka perjamuan malam ini," perintah Ratu Layla dengan nada dingin namun penuh kegembiraan yang jahat. Atas perintah tersebut, para prajurit Minotaur yang bertubuh kekar mulai mengangkat ember-ember besar yang berisi daging panggang segar, roti empuk, dan buah-buahan—sisa-sisa dari pesta di aula utama. Tanpa kelembutan sedikit pun, mereka melemparkan isi ember tersebut ke bawah, membiarkan makanan-makanan lezat itu jatuh berserakan di atas lantai tanah yang kotor. Seketika, suasana di bawah sana berubah menjadi neraka. Para budak yang sudah berhari-hari tidak makan dengan layak langsung menerjang makanan tersebut.
Pemandangan itu sangat mengerikan. Ayah berkelahi dengan anaknya, saudara saling mencakar, dan mereka yang lebih kuat menginjak yang lemah hanya untuk mendapatkan sekerat daging yang berlumuran tanah. Suara jeritan, makian, dan hantaman tubuh ke dinding besi memenuhi ruangan bawah tanah tersebut. Dari atas, Ratu Layla menyaksikan kekacauan itu dengan mata yang berbinar. Ia tertawa terbahak-bahak, sebuah suara melengking yang membelah keheningan malam di sekitar gudang. Baginya, melihat manusia berperilaku seperti binatang liar adalah hiburan tertinggi. Setelah merasa puas menyaksikan penderitaan itu, ia membalikkan badan dan kembali menuju aula dengan langkah anggun, meninggalkan para tawanan yang masih berlumuran darah demi sesuap makanan.
Setelah kegembiraan yang ia dapatkan dari penderitaan rakyatnya, Ratu Layla akhirnya memutuskan untuk mengakhiri pesta dan kembali ke kamar pribadinya. Seluruh pengawal, termasuk Penyihir Petir yang masih merasa cemas, membungkuk dalam saat sang Ratu melintas. Di dalam kamarnya yang luas dan dipenuhi kain sutra terbaik, Layla merebahkan tubuhnya. Ramuan emas dari Penyihir Serbuk memang telah memulihkan fisiknya, namun tampaknya ramuan itu juga membuka pintu-pintu di alam bawah sadarnya yang selama ini tertutup rapat oleh kekejaman dan kesombongan. Begitu ia memejamkan mata, kegelapan yang berbeda mulai menyelimutinya.
Dalam tidurnya, Ratu Layla menemukan dirinya berdiri sendirian di tengah lapangan luas di pusat Atlas. Tidak ada pasukan Centaur yang melindunginya, tidak ada Naga Api yang menjaganya di langit. Tiba-tiba, bumi bergetar hebat. Ribuan rakyat yang selama ini ia tindas muncul dari balik bayang-bayang. Wajah mereka pucat, mata mereka berlubang, namun tangan-tangan mereka yang kurus kering bergerak serentak ke arahnya. Layla mencoba merapal mantra petir, namun tangannya terasa lumpuh. Ia mencoba berteriak memanggil Panglima Delta, namun tidak ada suara yang keluar dari kerongkongannya. Rakyatnya mulai mengepungnya, menjatuhkannya ke tanah, dan mulai menimbun tubuhnya dengan tanah yang dingin dan basah.
Ratu Layla merasakan sensasi mengerikan saat tanah mulai menutupi mulut dan hidungnya. Ia terkubur hidup-hidup oleh orang-orang yang selama ini ia anggap sebagai serangga. Ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya kini mencengkeram jantungnya. Ia tersentak bangun dengan napas memburu dan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah baru saja berlari dari kejaran maut. Kamar yang mewah itu tiba-tiba terasa sempit dan mencekam. Ia merasa bayangan rakyatnya masih mengintai di balik tirai-tirai sutranya yang mahal.
Tanpa memanggil pelayan atau pengawal, Ratu Layla bangkit dari tempat tidur. Rasa gelisah yang luar biasa mendorong kakinya untuk melangkah keluar. Ia tidak tahan berada di dalam kesunyian kamarnya sendiri. Dengan langkah terburu-buru dan hanya mengenakan jubah tidur tipis, ia kembali menuju ke arah gudang tempat para budak dikurung. Pikirannya dipenuhi oleh gambaran mimpi buruk tadi, dan ia perlu meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia masih memegang kendali penuh atas mereka. Ia perlu melihat bahwa mereka masih terkurung dan tidak berdaya, tidak seperti sosok-sosok mengerikan yang mencoba menguburnya hidup-hidup dalam mimpi tersebut.
Udara malam terasa menusuk saat Ratu Layla kembali berdiri di atap gudang penyimpanan budak. Keadaan di bawah sana sudah jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam yang lalu saat kerusuhan makanan terjadi. Sisa-sisa perkelahian masih terlihat; beberapa orang tergeletak lemas di sudut sel dengan luka memar, sementara yang lain mencoba tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Layla mengintip melalui celah pengintai yang sama, namun kali ini tawa jahat tidak keluar dari bibirnya. Mimpi buruk yang baru saja dialaminya meninggalkan sisa-sisa kegelisahan yang mendalam di dadanya.
Ia menatap seorang ibu yang sedang memeluk anaknya yang kurus kering. Sang ibu memberikan sisa roti yang berhasil ia pertahankan dari perkelahian tadi kepada anaknya, meskipun ia sendiri tampak sangat kelaparan. Di sudut lain, seorang pria tua sedang membalut luka di kaki temannya dengan sobekan kain yang kotor. Pemandangan ini biasanya akan membuat Layla merasa jijik, namun entah mengapa, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ada sebuah getaran halus di sudut hatinya yang sudah lama membeku. Ia melihat mereka bukan lagi sebagai sekumpulan binatang, melainkan sebagai manusia yang memiliki daya tahan luar biasa meski terus ditekan oleh kekuasaannya.
Untuk sesaat, rasa kasihan—sebuah emosi yang sudah ia buang sejak ia naik tahta—muncul secara samar di dalam benaknya. Ia teringat bagaimana mereka menimbunnya dengan tanah dalam mimpi, dan ia menyadari bahwa kebencian mereka adalah hasil dari benih yang ia tanam sendiri. Namun, kebanggaan sebagai penguasa Atlas segera menyergap kembali. Ia menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir perasaan lemah tersebut. Ia adalah Ratu Layla, penguasa naga dan raksasa, dan ia tidak boleh merasa iba pada mereka yang berada di bawah kakinya. Meskipun begitu, ia tidak bisa lagi tertawa melihat kondisi di bawah sana.
Ratu Layla berdiri dengan kaku di atas atap gudang untuk waktu yang lama, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Ia merasa terasing, terjepit di antara kekuatannya yang luar biasa dan ketakutan batin yang baru saja bangkit. Dengan perasaan yang campur aduk antara amarah, ketakutan, dan sisa-sisa rasa kasihan yang asing, ia akhirnya berbalik. Ia berjalan kembali menuju kamarnya dengan langkah yang lebih lambat, tidak lagi seangkuh sebelumnya.