Riana terpaksa menerima lamaran keluarga seorang pria beristri karena keadaan yang menghimpitnya. Sayangnya, pria yang menikahinya pun tidak menghendaki pernikahan ini. Sehingga menjadikan pria tersebut dingin nan angkuh terhadap dirinya.
Mampukah Riana tetap mencintai dan menghormati imamnya? Sedangkan sikap labil sering sama-sama mereka tunjukkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Bukti
Nana dan Dayat masih setia menunggu itikad baik dari sang putra. Sebelum mereka benar-benar membantu Riana untuk melayangkan gugatan cerai untuknya.
Sayangnya, sampai detik ini, Langit sama sekali tak menghubungi mereka. Walau hanya sekedar meminta maaf.
Sungguh kelakuan cuek Langit kali ini tidak bisa mereka maafkan. Gemas, akhirnya Nana pun memutuskan untuk mengirim surat itu kepada sang putra.
"Sudahlah, Pa. Kirim saja surat cerai itu. Muak Mama lama-lama dengan sikap tak tahu diri putramu itu!" ucap Nana sembari merapikan baju-baju milik sang suami.
Dayat masih belum mau membalas ucapan sang istri. Ia terlihat masih mempelajari file perihal perceraian itu. Tentu saja, sebagai seorang ayah, Dayat harus bersikap adil dalam kasus ini. Sebab, ia tak ingin timbul masalah setelah perceraian.
"Kira-kira Ria masih nuntut haknya nggak ya, Ma? Sekalian kita cantumin kalo masih!" tanya Dayat pelan. Seperti tidak bersemangat.
"Kemarin sempat Mama tanya, katanya nggak usah. Dia malah nggak mau Mama kasih uang. Pokoknya dia maunya semua berjalan dengan baik saja, gitu, Pa!" jawab Nana, sesuai dengan kesepakatan antara dirinya dan Riana.
"Ya sudah, boleh lah, Ma. Tapi Papa mau Ara sama kita. Gimana menurut Mama?" tanya Dayat masih memikirkan samb cucu.
"Jangan dulu, Pa. Selama Minah masih ikut mereka, biarkan saja bapaknya yang urus. Mama pengen tahu, nyadar nggak dia kalo urus anak tu nggak gambang. Kita lihat saja bagaimana perkembangan ego putra kita," balas Nana sembari melangkah mendekati sang suami.
"Soal Langit, Papa bisa saja tega, Ma. Tapi kalo soal Ara, demi apapun Papa nggak tega, Ma," ucap Dayat sedih.
Nana tersenyum. Sebab ia sangat tahu bagaimana Dayat terhadap cucu mereka. Namun sekali lagi, jika mereka tidak berusaha mengikhlaskan lalu kapan. Langit tidak akan mau berpikir nantinya. Langit tak kan bisa dewasa jika mereka terus saja membantu.
***
Sepertinya, keputusan Nana dan Dayat sudah bulat untuk memisahkan Riana dan Langit. Bagi mereka, sikap cuek Langit terhadap masalah ini adalah penyebab mereka melanjutkan gugatan cerai ini.
Namun, kaca mata Nana dan Dayat tidak sama dengan kaca mata wanita yang hampir sepuluh tahun ini bekerja pada keluarga Langit. Lalu setelah Langit menikah, Nana meminta Minah untuk menjaga putra semata wayangnya. Setidaknya Nana merasa tenang, asupan gizi Langit tetap terjaga.
Lagi-lagi insting seorang ibu saat ini yang main. Minah melihat banyak sekali kejanggalan di rumah ini.
Sejak ia menemukan fakta bahwa Yuta tak pernah meminum obatnya, Minah jadi semakin rajin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sayangnya, nomer ponsel mantan perawat Yuta sudah ganti. Sehingga Minah kesulitan untuk mencari info tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Sekali lagi, Minah memang kehilangan satu jalan. Namun, semangatnya untuk menguak sebuah kebenaran tidak luntur sampai di sini. Minah hanya mau kebenaran terungkap. Minah mau Langit tahu, bahwa istri yang dia agungkan itu pembohong. Bukan hanya itu, Minah juga ingin, majikannya ini paham, bahwa Riana bukanlah wanita hina seperti yang Langit pikirkan.
Minah ingin membuktikan pada Langit bahwa, wanita yang ia pihak, dialah sesungguhnya yang menyuguhkan racun untuknya. Sampai Langit kehilangan segalanya.
Seperti malam-malam sebelumnya. Minah menyiapkan makan seperti biasanya. Ara sedang bermain dengan Langit di ruang tamu. Di samping mereka, ada Yuta yang asik bermain ponsel di atas kursi roda. Aplikasi yang sedang Yuta buka saat itu adalah situs belanja online. Membuat otak Minah sangsi bahwa wanita ini memiliki rasa prihatin terhadap rumah tangganya. Mengingat saat ini Langit sudah tidak bekerja seperti biasa.
Kondisi ini sebenarnya tidak berpengaruh bagi Minah. Sebab, selama ini, gaji yang ia terima bukan murni dari Langit dan istrinya. Melainkan dari nyonya dan tuan besarnya. Itu sebabnya, Yuta tak berani memecatnya. Minah rasa, itu adalah alasan kenapa Yuta tak berani mengambil tindakan.
"Ah, bodo amat!" ucap Minah tak mau ambil pusing perihal gaji. Yang penting saat ini, misinya adalah membongkar kebohongan wanita jahat ini. Agar dia kapok, tak berani berbuat licik lagi.
Selepas sang majikan makan dan membersihkan dapur. Minah pun segera mengambil Ara dari gendongan Langit. Lalu menidurkan gadis cilik itu, sebagai tugas akhirnya hari ini. Sedangkan Langit sendiri, ia seperti memiliki bayi besar. Ia harus merawat dan menemani Yuta tidur. Setelah itu, barulah ia bisa tidur tenang di kamarnya bersama Ara.
Keadaan mulai sepi. Ara sudah tidur dan sudah berada di kamar Langit.
Tinggallah sekarang Minah dengan jiwa kekepoannya yang sedang meronta di dalam hati. Tak sabar, wanita paruh baya itupun mengendap-ngendap menuju kamar sang majikan.
Minah ternyata tidak bodoh. Ia tahu jika hanya mendengar dari balik pintu, ia tak akan mendapatkan apapun. Wanita paruh baya ini pun memutuskan untuk ke balkon. Mengintip apa yang sedang Yuta lakukan kalau malam.
Sayangnya, langkah Minah terhenti ketika ia melihat bayangan seorang pria. Namun, ia yakin itu bukanlah Langit. Sebab, Minah tahu bagaimana perawakan sang majikan.
Jantung Minah berdetak sangat kencang. Berdebar tak karuan. Bagaimana tidak? Ini adalah saat mendebarkan dalam hidupnya. Minah di hadapkan dalam situasi yang mungkin akan mengguncangkan rumah ini. Sebab, Minah melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa bayangan pria yang minah curigai masuk ke dalam kamar Yuta.
Minah tertegun dalam persembunyiannya. Sungguh, dia tak tahu harus berkata apa. Ingin ia melapor kan kejadian ini langsung kepada Langit. Namun, jangankan untuk melapor. Mengangkat kakinya untuk berpindah dari tempat itu saja Minah tak sanggup. Wanita ini sungguh-sungguh tak bisa berbuat apa-apa.
Bersambung....
Like like like... jangan Lupa🥰🥰🥰🥰
msh merasa paling tersakiti