Bumi dan Bulan bukanlah sebuah nama planet dan satelit dalam tata surya melainkan nama seorang pria dan wanita yang saling membenci tapi dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Perjodohan mereka telah direncanakan sejak mereka kecil oleh kedua orang tua mereka. Bagaimana kisah selanjutnya? Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvani Rosita Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegilaan Sarah
Sampai didepan rumah Bulan turun dari mobil dan tersenyum kepada pak Robi.
"Terima kasih pak telah mengantarku." Ucap Bulan setengah menundukkan kepalanya untuk melihat wajah pak Robi di kaca mobil.
"Jangan berterima kasih non Bulan, karena ini sudah menjadi kewajibanku untuk mengantar non Bulan." Sahut Pak Robi lalu pergi meninggalkan Bulan.
Bulan masuk kedalam rumahnya dan merebahkan tubuhnya di sofa.
"Ternyata jadi pengangguran itu membosankan. Andai aku masih kerja dikantornya Reno pasti aku masih bisa tertawa bersama teman-temanku. Apa kabar mereka sekarang? Aku mau ngapain sekarang? Apa tiap hari aku harus berada didalam rumah dan mengurus semua keperluannya, menunggunya pulang lalu melayaninya di ranjang? Ya ampun, aku belum siap dengan semua ini." Bulan berteriak sendiri didalam rumahnya.
Bulan bangun dari sofa dan menuju kamarnya. Bulan melepaskan bajunya dan mengganti dengan pakaian rumah. Bulan kembali lagi kelantai bawah dan menuju dapur, dia melihat isi kulkas dan mulai mengolah beberapa makanan untuk dia hidangkan saat Bumi pulang dari kantor. Setelah semuanya beres barulah Bulan kembali kekamarnya untuk istirahat sejenak dari rutinitasnya.
Bulan terbangun kaget dan langsung melihat jam dinding ternyata sudah menunjukan pukul 20.00. Dia meraba ponselnya tak ada pesan satupun yang dikirimkan kepadanya. Bulan langsung turun kelantai bawah untuk memastikan apakah Bumi sudah pulang atau belum. Bulan melangkah menuruni anak tangga dengan pelan, ada suara orang berjalan terdengar didapur. Perasaannya sedikit takut apabila orang itu bukanlah Bumi. Bulan langsung menuju dapur dan mendapati seorang wanita sedang menyantap makanannya yang berada di atas meja.
"Sarah?" Betapa terkejutnya dia saat melihat Sarah sedang makan dan mengacaukan dapurnya.
"Kenapa? Terkejut? Takut? Atau kamu bertanya-tanya mengapa aku bisa berada disini?" Ucap Sarah dengan lantang menebarkan senyuman sinisnya kepada Bulan.
"Kenapa kamu bisa masuk kedalam rumah ini?" Bulan masih tidak percaya melihat Sarah berada dalam rumahnya.
"Bulan.. aku pulang." Suara Bumi berteriak dari ruang tamu.
Bulan tak menjawab dan Sarah semakin tersenyum.
"Akhirnya pangeranku datang juga." Seru Sarah sambil tertawa lepas.
"Bulan? Hei.... Sarah?" Bumi memeluk Bulan dan dia juga terkejut melihat Sarah berada dalam rumahnya.
"Hai, sayang." Ucap Sarah tertawa seperti sedang mabuk.
"Sarah.. keluar dari rumah ini!!" Teriak Bumi.
"Keluar? Kamu lupa rumah ini untuk siapa kamu siapkan? Untuk siapa Bumi? Untuk wanita penggoda itu atau untukku? Bahkan aku mempunyai kunci serepnya dan aku masih bebas keluar masuk dalam rumah ini kan? Rumah ini aku yang merancangnya seperti apa, interiornya, dapurnya, bahkan kamar yang kalian tempati itu semua adalah keinginanku dan wanita ini yang menikmati jerih payahku."
"Jerih payahmu? Semua ini adalah uangku dan kamu hanya memerintahku."
"Hei wanita penggoda, lihat saja nanti. Dia akan meninggalkanmu sama seperti dia meninggalkanku. Kamu tahu dapur ini, meja ini tempat favoritku untuk bercinta dengannya! Oh bukan hanya dapur, ruang tamu, di sofa itu, dikamar itu, dan paling aku sukai adalah dikamarmu yang berada dilantai dua itu. Aku menyukai tempat itu karena kami bisa memadu kasih sepanjang malam sampai dia lupa waktu bahwa sudah pagi."
"Sarah!!"
Prakk! Bumi menamparnya dengan kuat hingga Sarah terjatuh dilantai.
Bulan tak mampu menahan sakit hatinya bahkan dia hanya bisa duduk dilantai sambil menangis.
"Bulan, jangan dengarkan perkataan Sarah." Bumi memeluknya dengan erat.
"Lepaskan tanganmu! Hiks, hiks, hiks."
"Sarah! Cepat keluar dari rumah ini." Bumi berjalan ke arahnya dan menarik tangannya hingga keluar dari rumah tersebut.
"Hahaha.. ini baru awal Bumi, aku sudah pernah katakan jangan berani meninggalkan aku demi perempuan penggoda itu. Mungkin berita ini akan sampai ketelinga orang tuamu." Ucap Sarah sambil tertawa.
Prakk! Bumi kembali menamparnya.
"Sialan kamu. Kamu butuh uang berapa?"
"Uang? Aku tidak membutuhkan uang lagi, aku butuh dirimu. Jika aku tidak mau melanjutkan kegilaanku temui aku diapartemenku besok, maka kita akan bersenang senang bersama." Sarah kembali tertawa berjalan meninggalkannya.
"Oke, tunggu aku. Siapkan semuanya.. akan ku buat kamu bahagia besok." Jawab Bumi dan kembali masuk kedalam rumah.
"Bumi, Bumi, kamu akan masuk kedalam perangkapku kali ini." Ucap Sarah masih tertawa didalam mobilnya.
seru kayaknya🥰
asekkk udah berubah judul lagu kita🙆🙆
iya kan thoorrt...