Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.
Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.
Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.
Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Sekitar satu jam menunggu, akhirnya makanan pesanan Aru datang juga.
Aroma rendang dan gulai langsung memenuhi kamar rawat Alvian.
Aru sibuk menata kotak-kotak makanan di atas meja kecil yang memang disediakan untuk keluarga pasien. Gerakannya cekatan, seolah sudah terbiasa mengurus banyak orang sekaligus. Sendok, piring, dan tisu ia susun rapi
“Nah, makanannya datang,” ucap Aru sambil tersenyum.
“Lengkap banget,” komentar Papi Bas sambil mencondongkan badan melihat isi meja.
“Kayak mau syukuran,” tambahnya, setengah bercanda.
“Ini bukan makan siang,” sahut Pak Bara santai, “ini pesta kecil.”
Semua tertawa.
“Bisa-bisanya kita piknik di rumah sakit,” lanjut
Pak Bara sambil menyuap rendang.“Kalau orang lain lihat, bisa dikira kita nggak punya empati.”
“Justru ini bentuk empati,” jawab Ayah Dika sambil tersenyum. “Biar suasananya nggak tegang. Anak yang sakit juga lebih tenang kalau lihat orang-orangnya santai.”
Pak Bara mengangguk setuju, lalu melirik Alvian.
“Eh, tapi gue penasaran. Kok Alvian dirawat di sini? Bukannya rumah sakit lo lebih gede dari ini?”
Ayah Dika menjawab tenang, “Yang gede jauh. Yang dekat ini.”
“Dan rumah sakit lo dekat sama rumah gue,” timpal papi Bas cepat sambil terkekeh.
Pak Bara tertawa pendek.
“Keluarga aneh. Punya rumah sakit sendiri, malah dirawat di rumah sakit orang.”
“Darurat, Bar,” jawab Ayah Dika lebih serius.
“Kemarin itu bukan soal fasilitas, tapi soal nyawa.”
Pak Bara langsung mengangguk.
“Oke, gue paham.”
Di sudut lain ruangan, Kai duduk lesehan di atas karpet kecil. Tubuh mungilnya bersandar ke paha Aru. Bocah tiga tahun itu menguap lebar, lalu mengucek matanya dengan punggung tangan.
“Ngantuk?” tanya Aru lembut.
Kai menggeleng, meski matanya sayu.“Lapee,” jawabnya cadel.
Aru tersenyum, lalu mengambil mangkuk kecil berisi makanan balita khusus untuk Kai.
“Nah… buka mulut.”
Kai membuka mulut selebar mungkin.
“Hmm…” Kai mengunyah pelan. “Enak…”
“Enak?” tanya Aru.
Kai mengangguk cepat. “Enak banget.”
Papi Bas dan Mami Amara yang melihat cucunya makan dengan lahap tersenyum.
“Kalau sama bundanya, makannya selalu habis.”ucap papi Bas. "Coba aja kalau dirumah, susah nya minta ampun. Udah di kepung satu Rt tetap juga nggak mau makan."
"Beneran kamu, Bas. " tanya Ayah Dika tak percaya.
"Kai memang susah makan anaknya pak Dika. Kadang seharian dia cuma minum susu sama makan buah aja, itu pun sedikit. " ucap mami Amara.
"Susah juga ya, jeng kalau anak nggak mau makan. " sahut mama Yasmin.
"Iya, Jeng."
Kai mendongak mendengar suara itu, lalu menunjuk papi Bas dan Pak Bara.
“Kakek… sama opa rame,” ucap Kai polos.
Pak Bara terkekeh.
“Dengar tuh, kita dibilang rame.”
“Kayak kucing berantem,” lanjut Kai sambil menggerakkan tangan kecilnya.
Ruangan langsung dipenuhi tawa.
Aru ikut tertawa. “Eh, jangan ngomong gitu.”
Kai nyengir kecil, lalu kembali fokus ke sendok.
“Pelan-pelan,” Aru mengingatkan.
Kai mengunyah sambil bergumam,“Bunda baik…”
Kalimat sederhana itu membuat Aru terdiam sesaat.
Saat hampir menyelesaikan makannya, Aru menoleh ke arah ranjang.
Ia mendapati Alvian sudah terbangun dan duduk bersandar.
“Kak?” Aru refleks berdiri setengah. “Kok bangun?”
Mama Yasmin langsung menghampiri. “Masih pusing nggak?”
Alvian menggeleng.
“Nggak. Aku kebangun karena bau makanan.”
“Jadi kita ganggu?” tanya Pak Bara.
“Enggak,om.” jawab Alvian cepat. “Vian malah senang lihat semuanya ketawa.”
Aru mendekat.“Kakak tidurnya baru bentar.”
“Iya,” Alvian tersenyum tipis. “Tapi perut Kakak lebih berisik.”ucap Vian melirik kearah Makanan yang terhidang.
Aru langsung menatap tajam. “Kak nggak boleh makan itu.”
Alvian memasang wajah memohon. “Dek… sesuap aja. Demi kewarasan kakak.”
Pak Bara terkekeh. “Pintar sekali anak mu merayu,Dik.”ucap pak Bara membuat mereka semua terkekeh.
“Kasih aja satu suap aja, nak,” ucap Amara lembut. “Biar dia nggak penasaran.”
Aru tak langsung mengiyakan,ia menoleh pada orang taunya, dan mereka mengangguk. Aru menghela napas.
“Satu suap. Nggak lebih.”ucap Aru akhirnya
Alvian tersenyum lebar. “Janji.”
Aru menoleh ke Kai. “Kai tunggu ya,bunda mau nyuapin om dulu.”
Kai menarik ujung baju Aru. “Bunda jangan lama.”
“Iya.”
Aru menyuapi Alvian perlahan dengan tangan. Semua yang melihat terdiam sesaat—adegan itu terlalu hangat untuk diinterupsi.
...****************...
Di ruang CEO Baskara Grup, suasana terasa lengang. Jam dinding menunjukkan pukul empat sore, waktu di mana sebagian besar lantai eksekutif sudah mulai sepi. Hanya suara pendingin ruangan dan ketukan pelan dari jarum jam yang menemani.
Kenan masih duduk di balik meja kerjanya. Beberapa map tebal terbuka, tersusun berlapis. Di layar laptop, laporan proyek terakhir masih menampilkan grafik yang belum ia tutup.
Ia membaca ulang satu paragraf, lalu menghela napas singkat.
“Revisi lagi,” gumamnya pelan.
Pulpen di tangannya bergerak cepat, memberi tanda di beberapa bagian. Kenan menutup map pertama, lalu membuka map berikutnya. Fokusnya terlihat utuh, raut wajahnya datar, nyaris tanpa emosi.
Joe berdiri tak jauh dari meja, menyandarkan punggung ke lemari arsip. Sejak sepuluh menit lalu ia hanya mengamati, tahu betul Kenan akan berhenti kalau memang sudah waktunya.
“Lo tahu nggak,” ujar Joe akhirnya, memecah keheningan, “normalnya manusia itu butuh istirahat.”
Kenan tak menoleh. “Normalnya manusia juga nggak ninggalin kerjaan setengah.”
Joe mendecak pelan. “Tuh kan. CEO dingin.”
Kenan menutup map terakhir dan merapikannya sejajar dengan yang lain. Ia lalu mematikan layar laptop.
Ia bersandar lebih dalam ke kursinya, memejamkan mata sesaat. Bukan untuk tidur—hanya mencoba memberi jeda pada pikirannya yang terus bekerja sejak pagi.
Baru beberapa detik—
Ting
Ponsel di meja bergetar pelan.
Kenan membuka mata, melirik layar. Nama Mami Amara muncul.
Alisnya terangkat tipis. Ia meraih ponsel itu.
Sebuah foto terpampang di layar.
Aru dan Kai.
Duduk lesehan, tersenyum ke arah kamera. Kai terlihat memeluk bantal kecil, sementara Aru tersenyum lembut di sampingnya.
Kenan menatap foto itu lebih lama dari yang ia sadari.
Sudut bibirnya terangkat tanpa izin.
“Pak Kenan,” suara Joe muncul tiba-tiba dari pintu, “itu senyum bahagia atau senyum gila?”
Kenan melirik malas. “Keluar kalau mau bercanda.”
Joe terkekeh sambil masuk lebih jauh. “Fix. Ada yang lagi kangen.”
Kenan berdiri dari kursinya. Ia menyimpan ponsel ke saku jas, lalu merapikan kerah kemejanya di depan cermin kecil di dinding.
“Ada meeting lagi?” tanya Kenan datar.
“Udah selesai semua,” jawab Joe. “Lo mau keluar?”
Kenan menoleh sebentar. “Gue mau ke rumah sakit. Lo ikut atau nggak?”
Joe tersenyum lebar. “Ya jelas ikut. Masa lo ninggalin gue sendirian?”
Kenan sudah melangkah keluar tanpa menunggu jawaban.
“Kenan! Tunggu gue!” teriak Joe sambil berlari menyusul.
Langkah Kenan tetap mantap.
Di kepalanya, satu bayangan sudah lebih dulu sampai—senyum Aru dan tawa kecil Kai.
Bersambung................