NovelToon NovelToon
TETANGGA GARIS KERAS

TETANGGA GARIS KERAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anomali

Setelah serangan 'merger' dari Gavin di depan Bu Tejo, Aruna memutuskan bahwa pertahanan terbaik adalah serangan balik. Jika Gavin bisa menyajikan makan malam yang sempurna secara klinis, maka Aruna akan menyajikan makan malam yang penuh dengan... jiwa.

Aruna pun mengetik pesan singkat di WA.

Aruna: "Mas Gavin, besok malam jam 19.00, makan malam balasan di rumahku. Tidak ada protokol, tidak ada penggaris. Berani?"

Butuh waktu sepuluh menit bagi Gavin untuk membalas (mungkin dia sedang menghitung risiko kontaminasi silang di dapur Aruna).

Gavin: "Saya akan membawa Hand Sanitizer cadangan dan alat pemadam api ringan. Sampai bertemu besok."

Setelah mendapat chat balasan dari Gavin, Aruna langsung melompat kegirangan.

Keesokan harinya, Aruna sibuk luar biasa. Dia memasak pasta oglio olio yang aromanya sangat kuat dan menaruh lilin-lilin aromaterapi di setiap sudut. Masalahnya, Aruna tetaplah Aruna. Tepung terigu sedikit tumpah di lantai, dan ada noda saus di celemeknya.

Tepat pukul 19.00 bel berbunyi. Tok. Tok. Tok. Tok. Irama auditor yang sangat di kenal.

Aruna membuka pintu dengan percaya diri. Gavin berdiri di sana mengenakan kemeja warna biru muda yang disetrika sangat licin, memegang sebuah kotak transparan.

"Ini apa, Mas?" tanya Aruna.

"Penutup sepatu plastik medis." Jawab Gavin serius. "Lantai Anda terlihat.... memiliki kelembaban yang mencurigakan di dekat dapur."

Aruna memutar bola matanya. Masuk saja, Mas Kaku. Lepas sepatunya di keset."

Gavin melangkah masuk dengan ragu, seperti seorang astronot yang mendarat di planet asing yang penuh debu. Matanya langsung tertuju pada lilin-lilin di atas meja.

"Runa, secara statistik, penggunaan lilin terbuka di dalam ruangan sempit meningkatkan resiko kebakaran sebesar lima belas persen. Dan jarak lilin ini dari gorden, hanya dua puluh sentimeter. Sangat berbahaya."

"Duduk, Gavin!" perintah Aruna sambil menunjuk kursi. "Atau aku bakal tambahin bawang putih ekstra ke pastamu."

Gavin langsung duduk tegak. Ia melihat meja makan Aruna. Tidak ada penggaris, tidak ada simetri. Garpu ada di kiri, sendok ada di kanan, tapi posisinya miring 45 derajat. Gavin menarik napas panjang, tangannya gatal ingin merapikan, tapi ia menahannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih.

"Makanannya sudah siap," Aruna menyajikan dua piring pasta. "Ini buatan tangan, bukan pesanan catering sehat."

Gavin mencicipi suapan pertama. Wajahnya yang biasanya datar, tiba- tiba berubah. Ia terdiam cukup lama.

"Gimana? terlalu banyak kalori?" tanya Aruna sinis.

"Ini...," Gavin menatap piringnya. "Rasanya tidak bisa diprediksi. Ada rasa pedas yang tidak konsisten, tapi... anehnya, otak saya memberikan sinyal dopamin yang sangat tinggi. Ini tidak logis.

Aruna tertawa, "itu namanya rasa sayang, Mas. Bukan rumus kimia."

Suasana mulai mencair. Aruna sengaja memutar musik indie yang santai. Gavin yang biasanya hanya mendengarkan metronom atau podcast akuntansi, mulai terlihat rileks. Ia bahkan tidak protes saat Aruna tidak sengaja meneteskan saus ke atas serbet kainnya.

"Runa," panggil Gavin setelah selesai makan. "Tentang tawaran 'merger' kemarin..."

Aruna menatapnya, deg-degan. "Kenapa? Mau revisi dramanya?"

Gavin merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah benda kecil. Aruna mengira itu pengukur laser lagi, tapi ternyata itu adalah sebuah kunci cadangan dengan gantungan kunci.... wortel.

"Saya sudah menduplikasi kunci rumah saya," kata Gavin, wajahnya memerah hebat. "Secara hukum, ini adalah tanda kepercayaan tertinggi dari seorang auditor. Saya ingin Anda memiliki akses... ke keteraturan hidup saya. Dan mungkin saya butuh sedikit kekacauan Anda untuk menyeimbangkan laporan hidup saya."

Aruna tertegun. Ia menerima kunci itu, lalu tersenyum sangat manis. "Jadi, ini artinya kita resmi 'konsolidasi?"

Gavin mengangguk pelan. "Iya. Tapi dengan syarat, piyama wortel yang robek itu harus segera saya jahit atau saya ganti dengan yang baru yang memiliki sertifikasi standar SNI."

Aruna tertawa lepas dan langsung memeluk Gavin. Gavin sempat membeku sebentar, menghitung jumlah bakteri yang mungkin berpindah, sebelum akhirnya ia membalas pelukan Aruna dengan sangat erat.

"Logika saya benar-benar sudah bangkrut kalo di dekatmu, Runa," gumam Gavin di telinga Aruna.

Aruna menimang kunci dengan gantungan wortel itu di telapak tangannya. Senyum liriknya muncul - senyum yang biasanya membuat Gavin ingin segera melakukan audit resiko.

"Oke, Mas. Aku terima kunci ini, tapi ada syaratnya," ujar Aruna sambil menunjuk dada Gavin dengan telunjuknya yang masih sedikit berbau bawang putih.

Gavin menegakkan punggung. "Sebutkan. Selama tidak melanggar hukum perdata dan norma kesusilaan."

"Syaratnya: Setiap hari Minggu, Mas Gavin di larang menyentuh sapu, penggaris laser, atau cairan disinfektan. Kita akan jadi manusia normal yang malas-malasan. Dan satu lagi... Mas harus belajar makan bakso pinggir jalan tanpa menghitung jumlah kuman di kuahnya."

Gavin memejamkan mata, seolah sedang membayangkan kiamat kecil bagi ususnya. "Minggu tanpa sterilisasi... itu sangat tidak higienis. Tapi, demi kelancaran konsolidasi ini.... deal."

"Oke!" kata Aruna bersemangat karena syaratnya di terima.

******

Kebahagiaan Aruna hanya bertahan dua hari. Karena dua hari kemudian, pintu rumah Aruna digedor dengan brutal pada jam dua siang. Di sana berdiri Tania, sepupu Aruna yang baru lulus kuliah - tipe gadis estetik yang hidupnya hanya unruk konten media sosial.

"Runa! Aku numpang nginep ya, seminggu! Apartemen lagi di renovasi!" Tania masuk tanpa izin menyeret koper pink neonnya yang langsung membuat lantai rumah Aruna berantakan.

Namun, langkah Tania berhenti di jendela. Matanya menangkap sosok di sebelah rumah. Gavin sedang mencuci mobilnya dengan gerakan yang sangat artistik - kaos hitam yang basah sedikit menempel di tubuh, kacamata hitam dan fokus yang mematikan.

"OMG, Runa... Tania hampir menjatuhkan ponselnya. "Itu siapa? kenapa ada spek dewa tinggal di sebelah rumah kamu? Itu cowok kalo jadi konten 'A Day in My Life' pasti viral."

Aruna meringis, "Itu Gavin, 'Tetangga Garis Keras '. Jangan didekatin, dia nggak ramah sama manusia yang nggak simetris kayak kamu."

Tania tidak peduli. Dia langsung memeluk lengan Aruna. "Runa, please, comblang in Aku sama dia! Dia tipe aku banget. Bersih, wangi dan kelihatan... mahal. Kamu kan tetangganya pasti punya akses, kan?"

Aruna menghela napas panjang. "Nggak ah, Tania. Kamu bakal nyesel kalo mau sama dia." kata Aruna.

Tania memandangi Aruna. "Kenapa? Aku yakin aku nggak bakal nyesel, karena dia tipe aku banget. Comblang in aku ya? Please.

"Ya udah, deh nanti. Sekarang kamu istirahat dulu." Akhirnya Aruna mengalah.

Malam harinya, Tania kembali memaksa Aruna mengundang Gavin dengan alasan "syukuran kepindahan". Aruna yang ingin melihat bagaimana Gavin bereaksi terhadap "anomali" seperti Tania, akhirnya setuju.

Gavin datang dengan membaw satu kotak tisu basah sebagai buah tangan. Begitu masuk, Tania langsung menyerbunya.

"Hai, Mas Gavin! Aku Tania, sepupu Aruna yang paling cantik. Aku denger, Mas suka yang rapi-rapi, ya? Lihat deh, feeds Instagram aku, warnanya senada semua lho, estetik banget kan? Tania menyodorkan HP-nya ke depan wajah Gavin.

Gavin mundur satu langkah, menjaga jarak sosial yang aman. Ia menatap layar HP Tania seolah-oleh sedang memeriksa laporan pajak yang bermasalah.

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!