Diusianya yang baru menginjak 16 tahun, Bianca Rosaline terpaksa menikahi pria yang lebih tua 12 tahun dari dirinya. Semuanya terjadi ketika kedua orang tuanya dengan tega menjual dirinya pada lelaki asing.
Ditengah penolakannya, Bianca mau tak mau harus menemui pria itu—Alan Drax. Pria yang tanpa ragu membeli dirinya dengan harga mahal.
Dan ketika pertama kali bertemu, Bianca tak mampu mengalihkan perhatiannya saat iris hitam legam Alan menatapnya tajam. Sekalipun wajah pria itu tak menampakkan ekspresi apapun.
Note :: Kalo udah baca, jangan lupa ninggalin jejak yaahhh. Biar aku tau kalo kamu itu ada #eeaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyya Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat
Bianca yang baru saja sampai di lantai satu untuk sarapan, menatap heran pada Jimmy ketika pria itu masuk ke dalam rumah seraya membawa tiga buah dus. Pandangan mereka bertemu sekilas sehingga membuat Jimmy tersenyum simpul. Tak jauh darinya, Alan tengah sibuk menikmati sepiring roti bakar.
“Bianca, kemarilah.” Panggil Alan ketika melihat Bianca masih setia berdiri di dekat tangga. Tangannya melampai kecil—meminta Bianca untuk mendekat.
“Hai, Jimmy.” Sapa Bianca seraya tersenyum lebar. Segera, ia mendudukkan dirinya di sebelah Alan. Tepat di depan semangkuk sereal coklat.
“Nona, ini untukmu.” Ucap Jimmy seraya meletakkan ketiga dus tersebut di atas meja makan. Mata birunya menatap Bianca lekat.
“Apa?” Tanya Bianca dengan kening berkerut. Sesendok sereal telah berhasil meluncur masuk ke dalam perutnya.
“Ponsel. Pilih yang kau suka.” Seru Alan seraya menatap Bianca.
“Ketiganya?” Tanya Bianca tak percaya. Kedua matanya langsung membulat sembari menatap Alan dan Jimmy secara bergantian.
“Kau bisa memiliki ketiganya kalau kau mau.” Alan menjawab santai seraya mengunyah gigitan terakhir roti bakar miliknya.
Bianca tak mengatakan apa pun. Dengan cepat, ia menarik ketiga dus yang Jimmy bawa. Matanya menatap secara bergantian. Dan baru tersadar, jika ponsel yang dilihatnya saat ini, berbeda jauh dengan ponselnya yang dibuang oleh Rico. Jika tak salah ingat, ibunya memberikannya ponsel bekas yang hanya bisa digunakan untuk menelfon dan mengirim pesan.
“Kau yakin?” Bianca bertanya ragu. Tahu betul jika ponsel yang Jimmy bawa berharga fantastis.
“Tentu saja.” Alan mengangguk mantap. Iris hitam legamnya kembali menatap Bianca lekat. Menanti ponsel mana yang akan wanita itu pilih.
“Aku pilih yang ini saja.” Bianca menjatuhkan pilihannya pada dus berwarna hitam dengan ukuran yang lumayan besar dari yang lainnya.
“Cepat buka.” Perintah Alan.
Dengan wajah yang memberengut, Bianca segera membuka dus tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah ponsel berwarna silver yang lumayan besar menurutnya. Di salah satu sisi belakangnya, terdapat tiga buah kamera yang berjejer rapi ke bawah. Padahal selama ini ia hanya memakai ponsel butut berukuran kecil.
“Berapa harganya?” Bianca tanpa sadar bertanya dengan nada penasaran. Yakin jika ponsel yang saat ini tengah berada di dalam genggamannya bukanlah barang murah. Setidaknya, ia harus memastikan harganya terlebih dahulu. Lalu memutuskan akan membawanya ke sekolah atau tidak.
“Hanya tiga puluh juta.” Jawab Alan santai seraya menyeruput segelas americano hangatnya. Di sebelahnya Jimmy mengangguk kecil—membenarkan ucapan Alan.
“Ha–hanya tiga puluh juta?” Bianca memekik tak percaya seraya menatap Alan tanpa kedip. Jangankan tiga puluh juta, jika bukan karena Alan, sampai mati pun ia tidak akan pernah memegang uang satu juta.
“Aku bahkan bisa membelikan yang lebih mahal lagi untukmu.” Ucap Alan seraya menyeringai kecil. Merasa lucu ketika menatap ekspresi kaget Bianca. Wanita itu selalu mampu membuatnya takjub.
“Tapi aku tak tahu cara pakainya. Jimmy, bisa tolong ajari aku?” Bianca memilih untuk menyerah dan mengambil ponsel tersebut. Ia tidak ingin membuat Alan marah karena menolak pemberian pria itu. Bianca tahu jika Alan bukanlah tipe pria yang menerima penolakan. Apalagi jika sampai mempermasalahkan harganya.
“Jimmy.” Bianca kembali memanggil Jimmy ketika pria itu hanya menatapnya dalam diam. Di sebelahnya Alan tengah berusaha menahan tawa.
“Ak–aku juga tak tahu.” Jawab Jimmy dengan wajah datar. Sementara Alan sudah tak kuasa menahan tawanya.
“Apa?” Tanya Bianca bingung.
“Kau boleh bertanya apa pun pada Jimmy asalkan jangan memintanya untuk mengajarimu bagaimana cara memakai ponsel.”
Selama Alan mengenal Jimmy, pria itu hanya tahu bagaimana cara untuk menelfon dan mengirim pesan singkat. Ia bahkan harus menyewa guru privat hanya untuk mengajari Jimmy dasar-dasar menggunakan komputer. Jika ada yang mendapati Jimmy mahir memakai ponsel, percayalah, pria itu pasti sedang membawa buku petunjuk.
“Wow.” Bianca berucap takjub seraya menatap Jimmy lekat. Pria bermata biru itu segera memalingkan wajah dengan perasaan malu.
“Kau tak ingin berterima kasih padaku?” Tanya Alan sembari menatap Bianca dengan sebelah alis terangkat. Bibirnya tersenyum nakal.
“Nanti.” Jawab Bianca cepat seraya menatap Alan kesal. Pria itu selalu saja mencari kesempatan.
“Baiklah. Aku akan menagihnya di kamar nanti.” Ucap Alan yang sontak membuat Bianca mendelik jengkel padanya. Setelah berpamitan pada Jimmy, Bianca segera melangkah menuju kamarn. Hari ini, ia akan menghabiskan waktunya untuk mempelajari cara pakai ponsel yang baru saja Alan berikan. Bianca tak ingin berakhir dengan menjadi bahan ejekan pria itu.
***
Bianca tak mampu menahan senyum bahagianya ketika hari ini ia kembali lagi ke sekolah. Setelah membujuk Alan, pria itu pada akhirnya mengizinkan Bianca. Dengan syarat, wanita itu harus selalu memberinya kabar.
“Bianca! Ya Tuhan!” Teriak Lily saat melihat Bianca tengah berjalan di koridor sekolah. Dengan cepat, ia berlari menghampiri wanita itu seraya memeluknya erat.
“Lily.” Sapa Bianca lalu balas memeluk Lily.
Lily tak mengatakan apa pun. Ia masih tetap setia memeluk Bianca. Seolah ingin memastikan jika sedang tak salah liat.
“Lily, ada apa?” Bianca berjengit kaget ketika mendengar Lily terisak kecil. Dengan segera, ia melepaskan pelukannya untuk menatap Lily. Dan benar saja, gadis itu tengah menangis tanpa suara.
Bianca tersenyum simpul. Ibu jarinya dengan lembut menghapus jejak air mata pada pipi sahabatnya.
“Maafkan aku.” Ucap Bianca lirih. Perlahan, ia menarik Lily menjauh dari ruang kelas. Dan pilihannya jatuh pada taman belakang sekolah yang kurang terawat.
“Aku pikir, aku tak akan lagi bisa bertemu denganmu.” Lily berucap dengan nada tercekat. Ia merasa bersalah karena tidak menemani Bianca waktu itu. Dan rasa bersalahnya semakin bertambah besar ketika Bianca menghilang secara tiba-tiba.
Perlahan, Bianca mengelus surai pendek Lily. Kedua matanya menatap gadis itu hangat.
“Lily, terima kasih karena sudah peduli padaku. Sudah mau menjadi sahabatku selama ini. Sudah mau mengkhawatirkanku.” Ucap Bianca seraya tersenyum tulus. Sungguh, ia merasa kehadiran Lily di dalam hidupnya sebagai salah satu anugerah. Jika tak ada Lily, kehidupannya di sekolah pasti tak akan menyenangkan.
Sejak kelas satu, seluruh teman-temannya sudah tahu jika kedua orang tuanya adalah seorang penjudi. Bukan hanya dikejar-kejar rentenir, tapi kehidupan Bianca yang jauh dari kata layak membuat yang lainnya segan untuk berteman. Walau terkadang, beberapa dari mereka menyapa. Tak lebih dari itu.
“Bianca.” Lily sontak menggenggam kedua tangan Bianca erat.
“Kau tahu, aku tidak pernah menyesal ketika memutuskan untuk menjadikanmu sebagai seorang sahabat. Apa pun yang orang lain katakan, aku tidak pernah peduli. Di mataku, kau justru terlihat seribu kali lebih baik dari mereka.” Lily berucap penuh kesungguhan. Matanya menatap Bianca tulus.
“Tapi aku tak punya apa-apa. Kau tahu sendiri bagaimana kehidupan kedua orang tuaku.” Ucap Bianca sedih. Orang tuanya bahkan tak mau merepotkan diri untuk menemuinya.
“Aku juga tak peduli. Bagiku, kau adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki.” Jawab Lily cepat. Ia tak suka mendengar Bianca yang selalu merendahkan dirinya sendiri.
“Selama ini, kita bersahabat dengan cara saling mengisi. Aku bisa berbagi makanan denganmu ketika kau sedang lapar. Aku bisa berbagi uang denganmu ketika kau tidak punya. Pun halnya dengan keluarga. Aku rela jika kedua orang tuaku juga menyayangimu layaknya anak kandung mereka sendiri.
“Lily, kau tak perlu mengasihaniku.”
“Kasihan? Bianca, apa yang kurasakan padamu benar-benar perasaan sayang kepada saudara.”
Bianca kembali teringat pada pertemuan pertama mereka. Waktu itu, ketika upacara penerimaan siswa baru telah usai, hanya Bianca yang duduk seorang diri. Tak ada yang ingin mendekatinya karena seragam yang ia pakai jauh dari kata baru. Seperti biasa, kedua orang tuanya hanya membeli seragam bekas.
Dan Lily, dengan acuh melangkah menghampiri Bianca seraya mengulurkan tangan. Sekalipun memakai kacamata, tapi Bianca bisa melihat dengan jelas ketulusan di kedua mata Lily.
“Maka dari itu, kumohon, jangan lagi pernah menghilang tanpa kabar.”Lily berucap dengan suara bergetar. Ia kembali menatap Bianca sedih. Jauh di lubuk hatinya, Lily tak pernah berhenti bersyukur ketika ia bisa bertemu kembali dengan Bianca. Bisa kembali memeluk sahabatnya itu.
“Terima kasih.” Ucap Bianca seraya tersenyum. Setelah memeluk Lily sekilas, ia segera mengajak gadis itu menuju kelas. Bel masuk baru saja berbunyi.
***
“Apa kau yakin?” Bianca kembali bertanya memastikan ketika Lily menolak untuk diantar pulang. Ia sudah menghubungi Alan dan meminta izin pada pria itu. Bahkan Jimmy pun tak keberatan.
“Lain kali saja. Aku ingin pergi ke toko alat tulis.” Tolak Lily halus.
“Tapi aku juga bisa mengantarmu.” Seru Bianca tak ingin kalah.
Lily memutar bola mata malas.
“Besok. Besok kau boleh mengantarku.” Ucap Lily pada akhirnya. Sebenarnya, Lily tak masalah jika Bianca ingin mengantarnya pulang. Hanya saja, hari ini, ia sudah membuat janji dengan seorang pria yang dikenalnya melalui forum pecinta novel misteri. Lily hanya tak ingin Bianca tahu dan berakhir dengan terus menggodanya.
***
Di sisi lain, sudah sejak tadi Cathy menginja-injak gas mobil sedan yang dikemudikannya. Kini ia tengah berada tak jauh dari sekolah Bianca. Dan bisa melihat jelas wanita itu di depan gerbang. Cathy sudah membulatkan tekadnya jika hari ini, ia akan membuat Bianca merasakan apa yang ia rasakan.
“Wanita sial!” Rutuk Cathy. Ia langsung tersenyum licik ketika melihat Bianca baru saja masuk ke dalam mobil.
Dengan tak sabaran, Cathy segera tancap gas lalu melajukan mobilnya menghampiri Lily yang tengah berjalan seorang diri. Ia akan memulai dengan menyakiti orang terdekat Bianca.
Bianca yang baru saja berniat menutup pintu mobil dengan rapat, tersentak kaget ketika secara tak sengaja melihat sebuah mobil sedan hitam melaju kencang. Dan pandangannya langsung tertuju pada Lily.
“Lily!” Bianca berteriak kencang seraya keluar dari mobil. Secepat mungkin, ia berlari untuk menghampiri Lily seraya terus memanggil-manggil gadis itu.
Lily tak mendengar. Dia tengah sibuk mendengar musik dari Ipod miliknya.
“Lily, awas!” Teriak Bianca seraya menarik sikut Lily dengan kuat hingga mereka berdua jatuh secara kasar di atas aspal.
“Nona!” Jimmy berujar panik ketika ia baru saja berhasil menghampiri Bianca. Ia baru tersadar jika Bianca tak berada di dalam mobil ketika melihat wanita itu berlari.
“Kau tak apa-apa?” Bianca bertanya cemas seraya menatap Lily. Sikut sebelah kiri Lily tergores dan mengeluarkan darah walau tak banyak. Sementara Bianca mendapatkan luka pada kedua lututnya.
“Apa yang terjadi?” Lily bertanya dengan wajah bingung. Ia baru tersadar ketika Bianca menariknya.
“Kau hampir saja tertabrak.” Jawab Bianca pelan. Kedua matanya sontak menatap tajam mobil sedan yang telah melaju cukup jauh di depan sana. Dan Bianca bisa memastikan jika apa yang baru saja terjadi adalah sesuatu yang di sengaja.
“A–apa?” Tanya Lily tak percaya.
“Aku akan mengantarmu pulang.” Ucap Bianca tegas. Setelah berhasil berdiri atas bantuan dari Jimmy, Bianca segera menarik tangan Lily menuju mobil.
Ia tak akan membiarkan Lily pulang seorang diri dan membuat kejadian tadi terulang kembali.
***
Setelah memarkirkan mobil sedan yang dikemudikannya di dekat sebuah kafe, Cathy tak henti-hentinya mengumpat penuh kekesalan. Hari ini rencananya berantakan karena Bianca.
“Sial!” Rutuknya. Namun tak lama, bibirnya kembali tersenyum licik. Jika Bianca menghancurkan semuanya, maka ia akan melakukannya ketika gadis yang tadi ingin ditabraknya tengah seorang diri.
“Aku akan membuatmu menderita.” Desis Cathy penuh percaya diri.
***
Untuk part 31-32 nya udah saya kirim tapi gak diupdate2 juga sama Mangatoon. Mungkin lagi eror atau gimanan. Jadinya, sekalian aja saya update barengan sama part 33-34, jadi empat sekaligus.
Setelahnya, insyaaAllah akan tetap seperti biasa, sehari 2 part
btw makasih kakakk author..
senang dengan karyamu.💗