Gimana jadinya kalau harus menikah dengan seseorang yang bahkan tidak dikenal sama sekali?
Inilah yang terjadi kepada Alvaro dan Kiara, Pernikahan yang sudah diatur membuat mereka tidak bisa untuk menolaknya.
Disatu sisi Ara sangat mencintai kekasihnya dan tidak rela bila harus kehilangannya, dan satu sisi lagi, Ara tidak bisa menolak keinginan Sang Papa.
Dan dengan terpaksa Ara memutuskan untuk menikah akan tetapi dirinya tetap berhubungan dengan pacarnya dibelakang Alvaro.
Suatu ketika Al mengetahui kenyataan yang sangat pahit bahwa Sang Istri berselingkuh!
Bagaimanakah nasib pernikahan mereka? Akankah Al menceraikan Ara? Bagaimanakah takdir mempermainkan mereka berdua? Akankah mereka mampu untuk menghadapinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Apriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SL 34
EPISODE SEBELUMNYA....
"katakan! ada perlu apa kamu sampai mengikutiku kesini?" ucap al sambil terus mengelap mukanya.
"apa yang telah kamu lakukan! aku tau ini semua ulah kamu ya? kenapa kamu melakukan semua ini!" ucap ara secara terang terangan.
****
Al langsung menatap ara dengan tatapan yang mengejek. "aku sudah menduga kamu jauh jauh kesini hanya untuk membahas dia. tapi maaf aku tidak tertarik."
ucap al lalu berjalan masuk kedalam villa. ara hanya terpaku ditempat sambil melihat al yang sudah mengacuhkannya dan mengejeknya. 'kalo tidak terpaksa juga aku tidak bakalan nyariin kamu begini! karena sudah terlanjur, aku harus mencari cara untuk membantu rey. apa pun itu, ayo ara kamu pasti bisa membujuknya!' batin ara.
kemudian ara mengikuti langkah al masuk kedalam villa. "tapi al, aku tau kamu tidak tertarik untuk membahasnya, aku juga mengerti itu. aku masih tidak mengerti, kenapa kamu melakukan itu terhadap rey?" tanya ara sambil terus mengikuti langkah al yang terus saja berjalan, hingga membuat ara lelah.
"sepertinya kamu sudah tau sangat jelas kenapa aku melakukan hal itu kepadanya, bukannya dia memang pantas mendapatkannya?" ucap al yang tidak menatap ara sama sekali.
"kamu...kamu..." ucap ara terhenti.
"aku kenapa? bukankah aku berhak melakukannya?" ucap al lalu menatap ara dengan sangat tajam.
"tidak, kamu tidak berhak membuat karier rey hancur begitu. apa bedanya kamu dengan aku? kamu juga tidak sebaik yang aku kira, kita berdua sama. bedanya kamu memanfaatkan kesempatan seperti ini untuk membalasku!" tegas ara dengan ketus.
"hei dengar, aku itu jelas sangat berbeda dengan kalian berdua, aku melakukannya untuk membalaskan rasa sakit hatiku. kalo kamu sengaja melakukannya untuk mencapai keuntungan dariku!" tegas al sambil menarik dagu ara dengan paksa untuk menatapnya.
ara langsung memalingkan wajahnya seketika. "aku melakukannya karena keadaan, karena keadaanlah yang memaksaku begitu! tapi yang kamu lakukan terlalu kejam." ucap ara ketus.
"aku kejam? kamu tidak salah." ucap al sambil tertawa lepas.
al kemudian melanjutkan langkahnya lagi, "oh iya, kamu mau sampai kapan mengikutiku?" tanya al sambil mengerlitkan alisnya.
'sialan banget nih si al! brengsek, berani banget dia menertawakan ku seperti ini. ara sabar ra.' batin ara.
"iya aku akan terus mengikuti kemana kamu pergi, sebelum kamu merubah keputusanmu untuk menarik apa yang telah kamu lakukan terhadap rey." ketus ara lagi dan lagi, sambil menatap al dengan sangat tajam.
"oke baiklah, silahkan jika kamu ingin terus mengikutiku, aku dengan senang hati menerimanya." kemudian al membuka sebuah pintu didepan lalu masuk kedalam.
ara terus berjalan membuntuti kemana langkah kaki al pergi. 'apa kamar mandi? jadi dia ingin mandi.' langkah kaki ara langsung terhenti seketika.
ara terpaku didepan pintu kamar mandi, ara menatap tubuh bagian atas al yang baru saja dibuka oleh al, seketika ara sangat merasa terpesona dan tergoda melihatnya. bahkan ara sampai tidak berkedip sama sekali.
mulut ara menganga, ara masih sibuk dengan lamunannya. kemudian ara mulai tersadar ketika al berbicara. "kenapa wajahmu memerah begitu? apa kamu sedang memikirkan hal yang tidak tidak? jangan mimpi!" tegas al lalu tersenyum mengejek.
"apa? kamu jangan terlalu kege'eran ya! dengar ya kamu itu tidak ada bagus bagusnya sama sekali dibandingkan dengan rey!" balas ara.
al mulai terpancing. "apa lebihnya dia daripada aku?!" cetus al kesal karena ara telah membanding mandingkan dirinya dengan pria bernama rey itu.
ara tersenyum. "banyak, dia terlalu sempurna!" ucap ara sambil memainkan rambut dengan tangannya.
"keluar...! aku ingin mandi." ucap al dengan nada membentak kepada ara.
"dengan senang hati." balas ara lalu melangkah keluar dan menutup pintunya. tepat dibalik pintu yang sudah tertutup. ara terus memegangi dadanya yang sedari tadi sudah berdetak tidak karuan.
'hampir saja aku tergoda melihat tubuh al, untung saja aku dengan cepat tersadar dan bisa mengendalikan keadaan. kalau tidak gawat, aku tidak akan tau apa yang akan terjadi. gimana caranya agar al mau melepaskan rey.. aku harus menemukan sebuah cara.' ucap ara yang sedari tadi mondar mandi tidak jelas sambil terus berpikir.
pada saat bersamaan al keluar dari kamar mandi, ara yang kaget dan hampir saja terjatuh, untung saja al dengan cepat memegang erat tubuh ara, hingga sekarang mereka saling tatap hingga beberapa detik, detak jantung ara semakin tidak beraturan.
"mau sampai kapan kamu seperti ini?" bisik al dingin, hingga menyadarkan ara kembali
"maaf." ucap ara yang menjadi salah tingkah.
"kenapa kamu belum kembali? hari sudah semakin gelap, disini sangat sunyi. pada malam hari tidak ada yang berani melewati jalan, karena sangat sering kejadian penculikan dan pemerkosaan wanita wanita seperti kamu ini." ucap al sambil melihat ara dari atas sampai bawah.
ara dengan spontan langsung menutupi tubuhnya yang sedang ditatap al. "kamu kira aku ingin berlama lama disini? aku akan segera pergi setelah kamu menyetujui permintaanku!" ucap ara.
"percuma! kamu hanya akan buang buang waktu kamu saja!" ucap al lalu berjalan melewati ara.
ara terus mengikuti al. "aku mohon al, itu hal yang sangat berarti untuk rey. aku tidak ingin melihat dia sedih seperti itu. ya?" mohon ara dengan penuh harap.
al mendekati ara, ara berjalan mundur, al terus jalan mendekati ara, ara terus berjalan mundur dan sampai akhirnya ara sudah berada di ujung tembok. "aww..." ucap ara sambil memegangi kepalanya yang terbentur.
al menatap ara lalu tersenyum. "oke aku akan menyetujuinya, tapi dengan satu syarat." bisik al.
"serius! aku akan menyetujui syarat dari kamu asalkan kamu mau melepaskan rey." ucap ara penuh semangat.
"kamu jangan senang dulu, kamu harus mikirin syarat ini benar benar. ini syarat yang tidak mudah!" ucap al untuk mengingatkan ara kembali.
"apapun itu akan aku lakukan, asalkan rey bisa melanjutkan kariernya lagi." ucap ara.
"apapun? kamu yakin?" ucap al dengan menatap tidak percaya kepada ara.
ara mengangguk kuat.
"tinggalkan dia selamanya! aku akan berbaik hati untuk melepaskan dia! gimana?" ucap al.
kali ini ara hanya terpaku, ara tidak bisa menjawab al kali ini, ara tidak akan sanggup bila harus meninggalkan rey. terlebih lagi rey adalah segalanya untuk ara.
"kenapa kamu diam aja? kenapa? kamu pasti tidak sanggup untuk melepaskan dia kan? sudah aku duga." ucap al lalu segera pergi meninggalkan ara sambil tersenyum mnegejek.
'bisa bisanya al memberikan pilihan sulit itu ke aku! pada dasarnya dia memang tidak ingin melepaskan rey. bodohnya aku datang kesini dan mohon mohon ke dia!' umpat ara dala hati dengan terus merutuki dirinya sendiri.
ara ingin bergegas pulang, kemudian ara menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. "apa sudah jam segini? duh gimana nih? mana berani aku pulang sendirian begitu." ucap ara.
ara terus merutuki dirinya yang begitu sial. kemudian ara ke kamar mandi karena sudah kebelet buang air. dengan langkah cepat ara masuk kedalam kamar mandi, tapi ara tidak melihat ada sisa air sabun yang beradabdi lantai kamar mandi hingga akhirnya ara terpeset didalam.
"aaaaaa......" ara jatuh terpeleset sampai sulit untuk berdiri, seluruh tubuh ara basah seketika.
al langsung berlari ketika mendengar ara menjerit. al langsung mencari keberadaan ara.
"kamu gapapa?" tanya al ketika melihat ara yang sudah basah di kamar mandi.
"gimana sih.. bisa bisanya kamar mandi ini licin.. kan aku jadi jatuh!" gerutu ara sambil marah marah ke al.
al hanya berusaha untuk menahan tawanya. "makanya lain kali hati hati!" ucap al lalu berjalan pergi tanpa membantu ara.
"AL..!" Teriak ara.
al langsung menoleh. "ada apa lagi?" tanyanya.
"bantuin aku! kaki aku sakit, sepertinya keseleo deh." ucap ara.
al langsung membantu ara untuk berdiri. "awww..." kata ara yang terus meringis kesakitan.
"sepertinya kamu tidak bisa berjalan dulu nih." ucap al sambil melihat keadaan kaki ara saat ini.
"makanya bantuin aku, sial banget deh aku hari ini!" ucap ara yang terus menguruti dirinya sendiri.
"oke!" ucap al lalu menggendong ara, lalu membawa ara ke dalam kamar.
"aku tinggal dulu, mendingan kamu istirahat saja, sepertinya kamu tidak bisa kembali malam ini dengan keadaan kamu yang seperti ini." ucap al lalu melangkah pergi.
"pakaian aku basah semua, kamu ada pakaian lebih?" ucap ara yang tidak memikirkan gengsi lagi.
al mengambil kemeja putih yang ada didalam lemarinya. "aku hanya ada pakaian ini. kalo kamu mau kamu bisa memakainya." al memberikan pakaiannya itu kepada ara. kemudian al keluar dari dalam kamar.
ara mendengus pasrah. "mau gak mau deh aku pake nih baju!" ucap ara lalu dengan cepat mengganti pakaiannya.
"sial banget sih aku hari ini! pake acara jauh segala lagi." ucap ara kepada dirinya sendiri, kemudian perutnya berbunyi, "duh apa lagi nih perut, bisa bisanya bunyi disaat keadaan aku seperti ini. aaarrgggh."
mau tidak mau ara keluar sambil menahan rasa sakit yang ada pada kakinya. dengan berjalan jinjit ara pergi menuju dapur, berharap akan menemukan makanan. tapi ara tidak menemukan apa apa, ara melihat ke sekeliling dapur dan menemukan bungkusan mie instan. ara menghidupkan kompor untuk memasak mie tersebut.
tiba tiba saja dari arah belakang al mengejutkan ara. "apa yang sedang kamu lakukan?!" tanya al sambil berbisik tepat ditengkuk telinga ara, hingga ara bisa merasakan nafas al.
ara yang kaget langsung berbalik."memasak! kamu mau?"
al kemudian menggeleng dengan cepat, tapi perutnya berkata sebaliknya. perut al berbunyi, al juga kelaparan makanya keluar dari kamar. ara kemudian tertawa geli.
"oke, kamu mendingan duduk, aku akan masakin kamu juga!" ucap ara lalu mendorong tubuh al untuk pergi.
al hanya pasrah lalu mengikuti perintah ara.
beberapa menit kemudian ara sudah selesai memasak ala kadarnya, dengan bahan bahan yang terbatas.
"al.. udah masak nih." ujar ara.
al datang nyamperin ara, dan akhirnya mereka berdua pun makan dengan lahapnya, ya biarpun cuma semangkok
mie, tapi lumayanlah bisa mengganjal isi perut mereka. sebenarnya bukan tidak tidak bisa al memerintahkan seseorang untuk membelikannya makana, tapi entah mengapa malam ini hujan cukup deras, karena daerah villa al cukup jauh dari kota, kendaraan yang berlalu lalang pun tidak banyak.
apalagi pada saat hujan deras seperti ini, signal di ponsel mereka pun hilang. setelah selesai menghabiskan makanannya, ara mencuci kedua mangkuk itu, lalu ingin segera tidur.
setelah selesai mencuci mangkuk, ara berjalan untuk pergi menuju kamar, tapi tiba tiba saja mati lampu.
ara langsung menjerit. "AL...KAMU DIMANA? TOLONGIN AKU...AKU...!" Teriak ara yang sangat histeris.
al langsung menyalahkan senter dari ponselnya. "aku disini." ucap al singkat.
"aku... aku takut gelap." ucap ara sambil terus menutup matanya.
al baru mengetahui jika ara takut akan kegelapan, al membantu ara untuk menuju kamarnya. "oke kita sudah sampai, aku juga sudah menyalahkan lampu ini. jadi kamu tidak perlu takut lagi." ucap al.
ara membuka matanya, lalu mengamati sekitar. tiba tiba suara petirnya sangat kuat, yang mengakibatkan ara spontan memeluk al yang merasa ketakutan.
"aku takut al, please tetap disini sampai aku tertidur." pinta ara sambil terus memeluk al dengan sangat eratnya.
al yang mengerti akan ketakutan ara langsung mengelus punggung ara, "oke, aku akan disini, kamu tidak perlu
takut lagi."
"thanks al." ucap ara lalu melepaskan pelukannya dari al kemudian berbaring, ara berusaha untuk menutup matanya, tapi ara terus merasa ketakutan dan selalu gelisah, al dengan sabar menemani ara. al menggenggam tangan ara.
"gapapa ra, kamu tidur saja." ucap al.
"aku tidak bisa tidur. maaf telah merepotkan kamu!" ucap ara kembali membuka matanya.
ara kembali duduk diatas ranjangnya sambil menatap al, "apa kamu ada minuman atau obat tidur?" tanya ara.
"hmm.. mungkin ada, sebentar aku lihat dulu." ucap al lalu pamit kebelakang.
"adanya minuman, kemarin sebelum kesini aku membeli ini untuk meminumnya sendirian. nih kalo kamu mau." lalu al memberikan satu botol minuman kepada ara.
ara tanpa pikir panjang lagi langsung meneguk minuman itu, ara ingin menghilangkan rasa takut yang ada didalam hatinya saat ini.
"temani aku minum." ucap ara lalu memberikan botol minuman yang belum terbuka kepada al.
"aku sedang tidak ingin, mendingan kamu minum sendiri saja." tolak al.
"ayolah al, kamu terlalu lemah! tidak seperti rey!" ucap ara untuk memancing al.
al langsung membelalakkan matanya lalu mengambil botol minuman yang diberikan ara kepadanya.
al membuka botol minuman itu dan langsung meneguknya hingga habis. akhirnya ara dan al sama sama mabuk.
"izinkan aku bertanya sesuatu, apa istimewanya rey dibanding dengaku? kenapa kamu selalu saja membanding
bandingan aku dengan dirinya?" ucap al blak blakkan dengan pipi yang sudah sangat merah karena sudah terlalu banyak minum.
"kamu mau tau? hmm..rey itu selain sangat baik, dia selalu memperlakukanku sebagai seorang wanita, rey itu sangat mengerti dan mencintaiku, bahkan dia rela berkoban untuk melihatku menikah dengan pria lain, rey itu terlalu sempurna, sedangkan kamu...kamu itu pria yang paling menyebalkan yang pernah aku temui...! kamu pria brengsek yang bisanya mengancam semua orang dengan kekuasaan yang kamu punya, kamu hanya bisa
menindas orang lemah! aku benci kamu, al... benci.....dan sangat benci...!" tegas ara yang sudah sangat mabuk.
al hanya tersenyum mendengar penjelasan ara, tanpa sadar al mendekat dan mencium bibir ara, ara sangat menikmati sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh al. mereka berdua mulai terbawa suasana dan mengikuti nafsu yang sedang bergejolak didalam diri mereka masing masing.
Bersambung....
*****
Apa yang selanjutnya bakalan terjadi? Nantikan jawabannya....!!
>> like, comment, favorite and rating! <<
Happy Reading guys 🤗🤗
like
favorit👍❤
gw syuka sama alurnya,....tata bahasanya meski pjg,tpi runut annya bagus,...teratue...bahkan menurut gw "sempurna".......
capcus....lnjut.....💪💪thor🙏
kapan tpada tobatnya biar terbungkar