Diskripsi
Namaku Qirrera Binar Kenzo, umur 18 tahun. Aku gadis blasteran dari Ibu Indonesia-Inggris dan Bapak Jepang. Bisa dibayangkan kecantikanku dan pesonaku yang menggila. Wajahku bule banget dan rambutku blonde.
Saat ini tinggiku 172cm dan berat badanku 55 kg, sungguh ideal dan sexy habis. Kulitku putih susu dan mataku coklat berbinar jernih pokoknya perfect banget dah.
Sayang sekali nasibku kurang beruntung, aku adalah korban sepasang kekasih yang tidak bertanggung jawab. Waktu masih dalam kandungan orang tuaku berusaha menggugurkanku dengan segala cara. Rupanya takdir berkehendak lain, bayi mungil itu memberontak lahir. Dalam hitungan hari kelairanku sudah bisa memenjarakan orang tuaku yang membuangku di depan rumah seorang ninggrat yang kaya raya.
Sayang sekali pada saat aku tamat kuliah, aku harus ke Bali karena Mama angkatku yang berada di Bali mendadak sakit keras dengan meninggalkan utang yang segunung. Akulah yang ditunjuk sebagai "alat" untuk melunasi utang-utang keluarga.
Dengan berjalannya waktu mampukah aku melunasi utang keluarga atau malah aku menyerahkan kegadisanku kepada Om Brata yang menjerat mamaku dalam undang-undang perdata dan mengancam mamaku untuk di penjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTENGKAR
Hari sabtu aku tidak kerja, aku ingin bersantai ria. Setiap minggu aku wajib menengok mama, jadi hari ini aku akan pergunakan untuk pergi. Tapi pergi kemana ya? masalahnya aku belum begitu mengenal Bali seutuhnya. Aku bosan muter-muter di jalan tidak tidak ada tujuan.
Tiba-tiba Ingatanku tertuju pada Merry HRD ku, Human Resources Development. Merry pernah bercerita bahwa dia punya kebun buah di kampung. Segala macam buah ada di sana, kebetulan sekarang lagi musim buah. Aku mengambil ponselku dan menghubungi Merry.
"Good morning Merry cantik, aku akan menjemputmu 20 menit lagi." kataku tertawa. Aku tahu dia kaget di sebrang sana.
"Ada apa Boss, jangan bikin jantungku copot."
"Kita akan jalan-jalan ke kampungmu, aku lagi gabut, aku saat ini memaksamu."
"Idihh...aku baru bangun, mana bisa 20 menit Boss. Mandi aja belum."
"Mandilah cepat." kataku menutup ponselku. Aku sengaja membeli ponsel baru khusus untuk orang-orang Hotel, jadi tidak campur aduk seperti ponsel mamaku.
Hari ini aku mengenakan celana pendek Jean dan T-shirt putih agak ketat, sepatu Sneaker, kaca mata hitam serta topi Eiger.
Penampilanku casual banget membuat Merry mengacungkan jempol ketika aku sudah sampai di tempat kosnya untuk menjemputnya.
"Boss kamu sungguh cantik, apapun yang kamu kenakan fashionable. Kalau aku menjadi cowok pasti akan melamarmu."
"Aku tidak mau kamu lamar." sahutku bercanda sambil tertawa.
"Kalau tidak mau dilamar kamu akan menjadi perawan tua. Zaman sekarang perempuan lebih banyak, makanya banyak orang tidak dapat jodoh termasuk aku." sahut Merry tertawa.
"Makanya perselingkuhan banyak."
"Dari dulu juga banyak, dari kuda gigit batu." ucap Merry membuat aku tefus tertawa.
Sungguh asyik perjalanan ini, sepanjang jalan kami bercanda. Sudah tidak ada batasan antara Boss dan anak buah. Merry bisa mengimbangi apa yang aku bicarakan, bahasa Inggrisnya juga lancar. Walaupun wawasannya belum luas tapi pikirannya tidak picik. Aku merasa cocok bicara dengannya.
"Kita sudah mendekati Desa Petang, harap hati-hati karena tujuan kita hampir sampai. Disebelah kanan terdapat kebun buah-buahan dan di sebelah kiri juga kebun, jadi dimana-mana kebun." kata Merry kocak.
"Lihatlah Boss turis domestik ramai sekali berburu buah segar. Banyak kebun buah yang membuka harga murah supaya dikunjungi oleh wisatawan. Beli buah sekilo free icip-icip, atau bebas makan ditempat sampai kenyang." sambungnya lagi.
"Banyak juga pengunjung aku tidak menyangka. Apa di kebun ini terdapat banyak buah?"
"Beraneka macam buah ada Boss dan sangat banyak. Kita akan mencari kebunku yang paling lengkap buahnya dan rasanya....pasti gratis." kata Merry membuatku tertawa.
Aku memarkir mobilku di tempat yang sudah ditentukan. Turun dari mobil aku sudah dapat sambutan hangat dari orang tua dan saudara Merry. Mereka orang kampung yang sopan.
"Selamat menjelang siang Boss, apakah perjalanan anda cukup menyenangkan?" kakak lelaki Merry menghampiriku.
"Ini kakak tertuaku, dia lebih kocak dari aku sayang dia belum dapat jodoh." kata Merry.
"Semoga cepat dapat jodoh." sahutnya tersenyum
Aku berkenalan dengan keluarga Merry dan masuk ke dalam kebun. Banyak sekali buah segar yang membuat aku ngiler. Harganya tidak mahal dan free makan sepuasnya. Aku harus pintar memilih, supaya tidak cepat kenyang hahaha....
Sedang asyik-asyiknya melihat berbagai buah, perjalananku mendadak terhenti karena beberapa orang meneriaki namaku dan tahu-tahu aku sudah menjadi obyek pemotretan dan jadilah ketemu fans. Mereka mengenalku sebagai selebgram.
Aku sekalian mempromosikan kebun Merry dan buah-buah segar itu. Aku tahu ini pasti ulah kakak Merry yang mengatakan aku akan datang, sehingga pengunjung membludak. Marketing yang bagus, kesempatan di dalam kesempitan.
"Trimakasih Boss, maaf tidak ada royalty." kata Teguh kakak Merry setelah aku menjadi ajang pemotretan dadakan.
"Aku mengacungkan jempol atas kejeniusanmu." sahutku duduk di gazebo yang banyak terdapat di kebun itu.
"Boss silahkan icip-icip semua buah matang di pohon, saya rasa semua manis." Ayah dan Ibu Merry datang membawa buah pilihan.
"Trimakasih Pak, Bu." sahutku sopan.
Sedang enak-enaknya duduk aku mendengar celetukan kasar.
"Selebgram recehan, apalagi kalau tidak di barengi jual diri. Wajah boleh cantik, tapi kelakuan seperti janda gatel." suara itu dari gazebo sebelahku. Sayang sekali aku tidak bisa melihat wajah wanita yang bicara itu, karena di halangi papan triplex. Walaupun aku merasa diriku yang dihina tapi dia tidak menyebut nama, sampai dia menyebut namaku tinjuku bisa melayang ke mulutnya yang nyinyir itu.
"Jangan sembarang bicara sebelum kamu melihat bukti, sekarang orang sudah melek hukum." suara berat laki-laki membuatku terperangah. Itu suara Andre, berarti dia kesini bersama gundiknya dan yang menghina itu si monyong.
Hatiku panas seribu watt, marah, cemburu, sakit hati menjadi satu. Aku langsung turun dari gazebo dan menghampiri dua orang yang sedang makan buah itu.
"Hallo manusia daur ulang, apa kalian puas menghinaku. Rasa iri kalian melebihi buah yang kalian makan. Mulut kalian yang busuk itu perlu di sulam pakai benang woll." kataku marah. Merry langsung memegang tanganku.
"Ohh...jadi kau merasa dihina? anak haram ingin menjadi ratu, mana bisa? anjing akan tetap mengais sampah busuk." sahut Natalia turun dari gazebo.
"Diam!!, bikin malu saja." bentak Andre memegangku.
Aku menepis tangan Andre dan tersenyum sinis. Mataku tajam menatapnya. Laki-laki brengsek!! umpatku dalam hati.
"Ajari gundikmu bicara yang benar kalau mulutnya tidak ingin ditabok. Aku antipati dengan manusia ini dan keluarganya. Untung keluargaku mengurungkan kerjasamanya." kataku ketus.
"Keluargamu sampah, termasuk kau janda murahan......."
Sebelum dia selesai berkata tanganku sudah menampar mulutnya.
"Qi...tahan emosi, nanti ada yang merekam. Imagemu akan jatuh." kata Andre memelukku. Aku berontak, tapi Andre mengunci tanganku.
"Bangsat!! dasar janda gatel." teriak Natalia memegang pipinya. Matanya melotot melihat aku dipeluk oleh Andre.
"Jadi kalian sudah saling kenal, jangan-jangan kalian sudah pernah tidur bersama." kata Natalia marah.
"Memang kami sering tidur bersama, apa itu mengganggumu. Kau pikir calon suamimu setia? hahaha....jangan mimpi. Kami sudah serumah." sahutku mengejeknya. Dalam hati aku tertawa, memang serumah tapi beda kamar. Mampus loe dimakan cemburu. gerutuku.
Tangisan Natalia meledak, aku senang. Dia berlari keluar.
"Kejarlah gundikmu, mungkin kamu butuh hartanya atau tubuhnya." kataku menepiskan tangan Andre.
Andre menarikku ke tempat ramai dan memelukku serta menciumku. Aku belum mengerti apa rencananya, tiba-tiba aku menjadi obyek pemotretan.
"Ini buktinya aku mencintaimu." katanya membiarkan orang memotret kami. Aku terpaksa bertingkah manis karena aku selebgram. Aku tahu sepersekian detik berita ini akan muncul di sosmed.
"Kapan marriednya?" teriak mereka hampir berbarengan.
"Setelah kami bisa melewati semua rintangan yang berseliweran di samping kami. Mohon doanya." sahut Andre mencakupkan kedua tangannya. Dia kembali memelukku dan mencium keningku.
Drama recehan!. Setelah selesai berakting
Andre kemudian mengajakku ke gazebo. Merry heran melihat tingkah kami berdua, dia memilih duduk manis di gazebo sebelah. Tentu dia menguping.
"Apa kamu sudah puas dan percaya bahwa aku berani melakukan apapun. Aku sangat mencintaimu." kata Andre setelah kami duduk di gazebo.
"Apa kamu tidak mengejar gundikmu, atau kamu menunggu dia menjemputmu."
"Genderang perang sudah ditabuh sekarang menunggu reaksi dari pihak lawan. Aku harap kamu mengerti resiko atas tindakanku." kata Andre menatapku.
Perlukah aku sangsi lagi atas sikap Andre yang berani. Aku tahu sanksi apa yang dia akan terima dari orang tua dan calon mertuanya.
"Seandainya mereka membuangmu dari trah keluarga,- aku siap melindungimu dan membiayai hidupmu. Jika kamu berpikir bahwa tindakanmu tadi kurang tepat, kamu boleh kembali dengan jodohmu." sahutku tegas.
"Seorang lelaki akan selalu di terima dan di maafkan. Aku memikirkan cemohan dan caci maki yang akan diarahkan padamu. Apabila para tetua ikut campur, tamat sudah riwayatmu." kata Andre membuat aku sadar.
"Gosip akan beredar sesat, orang akan menilai diriku dari attitude dan pencapaianku."
"Statusmu membuat orang meragukan dirimu, apalagi kamu dari luar negeri."
Aku terdiam, Andre benar. Orang yang tidak mengenalku akan menilai aku janda ganit yang merebut jodoh orang. Pelakor!! julukan yang membuat moralku merosot, seolah-olah tidak ada lelaki lain di Dunia ini.
****
SEMOGA MAKIN SUKSES KARYA NYA
GOOD JOB👍👍👍
🙏🤗❤️