[WARNING! DISARANKAN UNTUK MEMBACA BRITTLE TERLEBIH DAHULU]
Keep reading🖤
Kata orang karma itu nyata, karma itu benar adanya. Dan kata orang apa yang sudah menimpanya adalah sebuah karma dari kedua orang tuanya.
Namun Rea tidak pernah memusingkan hal tersebut. Baginya semua yang terjadi padanya adalah kehendak takdir.
Kehadiran malaikat kecil dalam hidupnya, juga adalah sebuah takdir. Anugerah terindah dari Tuhan yang dihadiahkan padanya. Tapi sayang, hadiah itu datang di waktu yang kurang tepat.
Bisakah Rea selalu menerima semua takdir itu?.
Apakah ia akan bosan di tengah perjalanan yang sangat rumit tersebut?.
Yang sangat penting, mampukah Rea mempertahankan hubungan yang tidak berpondasi itu?
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rilansun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluh kesah seorang Ayah
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Disaat-saat titik terendah dalam hidupnya, seseorang hanya ingin ditemani oleh orang yang dicintainya.......
...###...
"Siapa yang berani ngelanjutin pernikahan ini, gue jamin enggak bakal ada yang selamat malam ini."
Rea sontak bangkit dari duduknya saat melihat Argan yang berjalan menghampiri cowok yang sedang berdiri di ambang pintu. Dengan sepasang mata elangnya yang menyorot Rea tajam. Seolah ingin meremukkan dirinya dalam sekali pandang.
"Siapa lo?, berani-beraninya lo buat keributan di rumah gue?, pakai ngancam segala", ujar Argan seraya mendorong Levi dengan kasar. Membuat cowok itu lantas mundur selangkah.
"Lo tanya siapa gue?. Gue adalah-"
"Satpam!", Reagan berteriak memanggil petugas keamanan rumahnya, memotong ucapan Levi.
"Hadir, Bos."
"Kemana aja kalian?, kenapa dia sampai bisa masuk?. Kalian enggak kerja?, cuma makan gaji buta?. Kalau gitu saya enggak butuh kalian di rumah saya!", bentak Reagan membuat para pria bertubuh besar itu menunduk ketakutan.
"Maaf Bos, kami lalai dalam tugas. Tapi bukan di sengaja, kami semua kalah jumlah dengan mereka", ujar Alfred pelan sembari menunjuk ke arah luar pintu. Dimana suara knalpot motor saling bersahutan satu sama lain. Sangat berisik. Membuat semua pasang mata menatap ke arah para pemuda yang masuk ke dalam rumah dengan berdampingan. Bahkan ada lebih dari dua puluh orang. Dan itu pun diluar masih ada yang tersisa.
"Dari mana anak-anak berandalan ini datang?."
"Eits, Om. Walaupun kami berandalan, tapi kami adalah orang-orang yang disekolahkan, dan kami diajarkan untuk mengucapkan", Ammar menjeda ucapannya dan menatap kearah seluruh cowok yang kompak memakai kaos berwarna hitam dengan huruf G besar ditengah-tengah nya. Ammar terlihat mengkode seluruh temannya sebelum berujar dengan serempak, "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Seperti grup nasyid yang memberikan salam sebelum mulai tampil. Membuat semua orang yang ada disana diam terperangah.
Melihat tidak ada yang menjawab salam mereka. Morgan lantas berceletuk, "Nah sekarang tau kan siapa yang anak berandalan gak berpendidikan."
Uh, durhakanya sampai ke kerak jahannam. Ada yang mau menemani Morgan otw ke neraka?.
"Usir mereka semua keluar!", perintah Reagan yang langsung diangguki oleh anak buahnya.
Namun belum sempat anak-anak Ghozi diamankan. Para pemuda itu langsung mengeluarkan pistol dari dalam saku masing-masing. Membuat semuanya berhenti di tempat.
"Baik kami boleh di puji, jahat kami jangan di uji", seru anak Ghozi dengan serentak. Terdengar seperti slogan sehidup semati.
"Kami datang baik-baik kesini, tapi kalau kami diperlakukan dengan buruk, maka kami-"
"Apa?, saya juga bukan berasal dari orang yang baik-baik, tapi saya tidak pernah diajarkan untuk mengangkat senjata kepada yang lebih tua. Banci", sahut Reagan seraya menodongkan senjatanya kepada seluruh pemuda yang berdiri berbaris dihadapannya. Membuat suasana menjadi sangat mencekam.
Rea yang melihat pistol diangkat dengan mudah pun lantas berteriak dengan histeris memanggil Papi nya. Mengapa masalahnya bisa sampai begini.
"Papi!", tanpa sadar Rea berlari dengan gaun panjang yang ribet itu. Membuat Arinta memekik. Ia takut jika Rea jatuh karena terinjak gaunnya sendiri.
"Pa-papi, jangan, jangan kayak gini. Rea takut Papi. Jangan ada pertumpahan darah lagi. Kalau enggak saya bakal ngerasa salah banget. Saya yang udah menyebabkan ini semua. Kalau kalian mau nembak. Arahkan pistol itu ke saya aja", ujar Rea lalu menunjuk Bara yang memegang pistolnya. Membuat Reagan langsung membuang senjata api nya dan menarik Rea ke dalam pelukannya.
"Maafin Papi sayang, kamu jangan ngomong kayak gitu lagi. Princess nya Papi enggak pernah salah", gumam Reagan seraya mengelus punggung putrinya yang tampak rapuh itu.
Melihat hal itu, Levi lantas menyuruh seluruh teman-temannya untuk menurunkan senjata mereka. Lalu cowok itu berjalan pelan menghampiri Reagan. Melewati Argan yang sedari tadi hanya terdiam bungkam. Sungguh, ia sama sekali tidak paham dengan kondisi yang ada.
Sejak kapan keluarganya berurusan dengan anak geng motor seperti itu. Dan Argan sangat mengenali mereka. Cowok-cowok itu adalah musuh bebuyutannya serta Darras.
"Om, izinkan saya untuk menikahi Rea", ujar Levi membuat semua perhatian tertuju kepada cowok itu.
Reagan mendongak dan menatap Levi dengan datar, "Saya tidak akan menikahkan putri saya kepada kamu. Sebelum menikah aja kamu udah berani buat putri saya terluka. Lalu setelah nikah apa?, menceraikan putri saya?, mencampakkan putri saya setelah kamu bosan?. Terlebih seorang tempramen seperti kamu, enggak ada yang bisa diharapkan. Dan saya tidak akan mungkin membiarkan putri saya berada di dalam keluarga kamu yang memandang hina dirinya", balasnya panjang lebar.
"Tapi Rea menikah dengan saya, bukan dengan keluarga saya", sahut Levi yang mendapatkan seruan heboh dari anak-anak Ghozi.
"Sekali lagi saya tegaskan, saya tidak akan memberikan Rea kepada laki-laki yang sudah merusaknya", bantah Reagan dengan tegas.
"Kenapa tidak?."
Semua orang terperanjat kaget saat mendengarkan suara berat yang berasal dari ambang pintu.
"Kakek?", gumam Rea mengenali suara yang dulu selalu mengajarinya.
"Menghalangi jalan orang tua, hidupnya enggak akan selamat."
Para pemuda yang berdiri berbaris memenuhi jalan pun sontak menoleh ke belakang. Menatap seorang pria paruh baya yang melihat mereka dengan datar.
"Woi, kasih jalan aelah", seru Ammar menyuruh teman-temannya untuk menepi, "Silakan, Om", lanjut cowok itu mempersilahkan Deri untuk melangkah masuk.
Mendengar itu Deri kontan melirik Ammar saat berjalan melewatinya, "Saya bahkan lebih tua dari Ayah kamu."
"Ayah?", Arinta berlari menghampiri Deri, "Bukannya Ayah sakit?, kenapa datang?, dimana Ibu?", tanyanya sembari menoleh kebelakang. Mencari-cari keberadaan Sinta yang sama sekali tidak terlihat.
"Nanti ya sayang", jawab Deri dan mencium sekilas kening putrinya. Lalu Pria paruh baya itu melanjutkan jalannya menghampiri Reagan yang masih memeluk Rea.
"Apa sekarang saya harus menyesal?", Deri bertanya saat sampai dihadapan menantunya itu.
Reagan mengangkat sebelah alisnya bingung, "Kenapa, Yah?."
"Karena saya sudah menyerahkan Arinta kepada laki-laki yang telah merusaknya", jawaban dari Deri yang membuat Reagan serta yang lainnya bungkam.
"Kenapa?, bukankah kamu yang berkata seperti itu?. Ingat Reagan, sebelum kamu merasakan ini, saya lebih dulu merasakannya. Mungkin bahkan lebih parah dari yang kamu alami saat ini."
"Jika dulu Arinta terlihat sangat rapuh, beda halnya dengan Rea, dia terlihat sangat tegar dan kuat. Asal kamu tau, dulu saya bahkan enggak pernah tidur dengan nyenyak pada malam hari. Karena apa?, karena saya takut sewaktu-waktu putri saya nekat bunuh diri dan meninggalkan saya", tambah Deri sembari menoleh sekilas ke arah Arinta yang menunduk.
"Bukan saya bermaksud untuk membuka aib. Kalau kamu enggak lupa, dulu kamu bersikeras menolak menikah dengan putri saya. Bahkan kamu ingin menjalin sebuah pernikahan sementara anak saya sudah kamu buat menderita."
"Bayangkan betapa terpuruknya saya ketika melihat putri saya yang seakan pasrah dengan hidupnya. Jika saja saya seorang Ayah yang tempramen, mungkin saya sudah memukul Arinta pada waktu itu karena tidak mempedulikan orang tuanya. Tapi apa?, saya selalu memeluk putri saya. Karena saya tau disaat-saat titik terendah dalam hidupnya, seseorang hanya ingin ditemani oleh orang yang dicintainya. Dan saya pun mendukung apa yang dipilih oleh Arinta. Sampai dia menikah dengan kamu", ujar Deri panjang lebar. Membuat semuanya hening tak bersuara. Mereka seolah terhanyut dalam cerita yang diungkapkan oleh Deri. Betapa hebatnya beliau dalam mencintai putrinya.
"Relakan semuanya Reagan. Menyesal pun tak ada gunanya. Nasi sudah menjadi bubur. Jika Levi ingin bertanggung jawab atas Rea. Maka biarkanlah. Apapun yang terjadi kelak, selalu dukung apa yang diinginkan putri kamu. Sebelum memutuskan sesuatu, selalu bertanya dari hati ke hati dengan anak-anak kamu. Jangan sengsara kan anak kita hanya karena emosi semata", Deri mengelus surai panjang Rea yang tergerai cantik. Cucunya itu memang perempuan yang paling tangguh. Bahkan diusianya yang masih begitu muda. Menerima dengan lapang dada apa yang telah terjadi padanya. Tak pernah sekalipun terbesit di otaknya untuk mengakhiri hidup.
"Tapi, Yah-"
"Jadi lo cowok berengsek yang udah ngerusak adek gue. Bangs*t lo", Argan yang hendak meninju Levi pun langsung di tahan oleh Deri.
"Jangan nyari keributan. Kalau kamu mau, sabar. Setidaknya sampai nunggu Rea siap nikah", bisik Deri yang dipatuhi oleh Argan.
Lalu semuanya hening, sebelum...
"Papi, Rea mau menikah dengan Levi."
Jdar
Ucapan Rea yang tiba-tiba membuat semua orang yang berada disana menatap tak percaya cewek tersebut.
"Sayang", Arinta terlihat berjalan kearah putrinya itu.
"Enggak Bunda. Saya gak mau melimpahkan masalah ini dengan Bang Aji. Karena dia berhak bahagia, dan memilih pasangan hidupnya sendiri. Bang Aji, maafkan saya", Rea menatap Aji dengan pandangan bersalah. Membuat pria itu tersenyum simpul.
"Dan karena Levi yang sudah berbuat, maka dia juga yang harus bertanggung jawab. Atas saya, dan anak ini", tambah Rea seraya menyentuh perutnya yang terbalut gaun pengantin. Dengan pandangan yang fokus kearah Levi.
Cowok itu tidak banyak bereaksi. Tapi siapa saja yang menatap sepasang telaga abu-abu itu pasti dapat mengetahui jika Levi sangat bahagia.
...~Rilansun🖤....
Yang dapat lampu ijo
😶
selamat datang kembali di dunia perketikan ka author 😘
kangen dengan kata"mutiaranya ka author 😉😘👍
aku juga nunggu Alsyia lho ka othor😘
" ARGAN" Bukan " MORGAN"..