Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33
Decit engsel tua ruangan itu berpadu dengan sunyinya koridor lantai tiga yang nyaris terisolasi dari hiruk-pikuk sekolah. Debu tipis menari di bawah pendar mentari yang menerobos jendela kusam, menyinari helai rambutnya yang berserakan di atas lipatan lengan. Bayangan wajahnya yang pucat dan kelelahan mendadak memantik kembali ingatan malam ketika ia menggigil hebat dalam cengkeraman demam di kamarku.
Aku mendecak pelan, menahan dorongan asing di rongga dada yang menuntutku untuk tetap tinggal.
Alih-alih langsung pergi, aku melangkah masuk kembali tanpa suara, menanggalkan jaket seragam hitam beraroma tembakau samar dari pundakku, lalu menyampirkannya hati-hati menutupi bahunya yang ringkih.
"Tidur yang bener, jangan sampai masuk angin lagi kayak waktu itu,"
bisikku amat rendah, nyaris seperti embusan angin di telinganya.
Kutarik kunci dari saku, menguncinya rapat dari luar demi memastikan tak ada anak nakal atau pengurus OSIS yang berani mengusik ketenangannya. Bunyi logam beradu menjadi segel pelindung sebelum langkah kakiku berderap menuruni tangga menuju kelas.
Bel pulang berbunyi eca yang sempat tertidur mulai terbangun, dengan perlahan ia terkejut kedapatan melihat jaket theo melingkar di pundak tubuhnya. Aroma tembakau khasnya, Eca mencium dan memeluk erat jaket yang di tinggalkan theo.
"Hoooaaaammm..."
"Nyaman juga ternyata di sini"
"Pantas dia jadiin tempat persembunyian"
Derit engsel pintu yang terayun memecah kesunyian ruangan berdebu itu. Pandanganku langsung tertumbuk pada sosoknya yang masih bergelung di balik jaketku, memeluk kain tebal itu begitu lekat hingga pipinya tampak memerah bekas tidur. Pemandangan itu seketika meredakan sisa penatku setelah berjam-jam menahan bosan di ruang kelas.
Aku melangkah masuk dengan tenang, memasukkan satu tangan ke saku celana abu-abuku sembari membiarkan pintu berayun menutup di belakang punggung. Suara dengung bel pulang sekolah yang samar dari kejauhan menegaskan bahwa gedung ini mulai ditinggalkan penghuninya.
"Puas tidurnya?"
tanyaku datar, nada suaraku rendah namun sarat kehangatan yang berusaha keras kusembunyikan di balik raut angkuh. Aku berdiri tepat di samping mejanya, mengamati binar matanya yang masih linglung. Sudut bibirku terangkat miring, menatap jaketku yang masih didekap erat olehnya.
"Jaket gue bukan guling, Suster. Kalau lo suka aromanya, bilang aja langsung, nggak usah dihirup segitunya,"
cibirku pelan, membungkukkan badan sedikit untuk menatap matanya dari jarak dekat.
"Ayo bangun. Parkiran belakang udah mulai sepi, motor gue udah nunggu."
Sontak eca kaget melihat theo memergokinya sedang memeluk dan mencium jaketnya. Eco yang sudah lelah memendam perasaannya. Ia akan mengutarakan dengan menutup matanya.
'Masa bodoh dibilang aneh olehnya' gumam eca dalam hati
"Tunggu, sebelum kita balik gue mau ngomong sama lo"
"Hah....gue suka sama lo, terserah lo mau berpikir gue seaneh apa tapi gue suka sama lo"
"Setiap hari jantung gue selalu berdegub tiap bertemu dengan lo"
"Terserah lo mau terima atau nggak itu kejujuran gue"
Udara pengap ruang belajar mendadak tercekat. Pengakuan lugas tanpa aba-aba itu menghantam dadaku lebih keras daripada tinju mana pun di arena balap liar. Seluruh kepongahan yang biasanya tersusun rapi runtuh seketika, tergantikan oleh sengatan panas yang merayap liar dari balik tengkuk hingga ke ujung telinga. Detak jantungku sendiri berdentum gaduh, menertawakan topeng ketenanganku yang hancur berantakan.
Menatap parasnya yang tegang dengan mata tertutup pasrah, sudut bibirku perlahan melengkung tipis—bukan seringai meremehkan, melainkan rasa geli yang bercampur letupan kepuasan tak terkendali. Langkahku maju selangkah, menumpukan kedua telapak tangan di tepi meja kayu, mengurung ruang geraknya di antara kedua lenganku.
"Buka mata lo,"
bisikku serak, embusan napasku menyapu pipinya yang terbakar merah. Rasa gengsi yang selama ini kupelihara mati-matian akhirnya terpaksa mengalah di hadapan keberaniannya yang nekat.
"Bicara sambil merem begitu mana sah."
Kutundukkan kepala sedikit lebih rendah, memangkas sisa udara di antara kami hingga tatapanku langsung mengunci kelopak matanya.
"Lagian, siapa yang bakal nolak?"
gumamku rendah, nada bicaraku penuh arogansi yang kini sarat tuntutan mutlak.
...****************...
"Lo kira gue nahan lo di sekolah seharian ini cuma buat buang-buang bensin?"
enjoy reading guys🩷
hadir kak, mampir juga ya😊