Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Kamu Tidak Pernah Bertanya?
Malam itu, hujan turun tipis membungkus ibu kota.
Alya duduk bersila di sofa ruang tengah apartemennya dengan rambut panjang yang sudah terurai bebas. Wajahnya sudah bersih dari sisa makeup tebal, menyisakan kulit yang sedikit pucat setelah seharian menjalani jadwal yang luar biasa padat.
Televisi LED raksasa di depannya menyala menampilkan sebuah talkshow. Namun, pandangannya sama sekali tidak tertuju ke sana.
Tangannya justru sibuk menggulir layar ponsel tanpa tujuan.
Satu per satu pesan penting masuk. Manajernya mengirimkan rundown jadwal untuk beberapa hari ke depan.
Ada pemotretan brand ambassador. Wawancara eksklusif majalah gaya hidup. Pembacaan naskah perdana (reading) untuk proyek baru. Agenda promosi film yang akan tayang.
Semuanya adalah rutinitas yang biasa. Semuanya sudah bertahun-tahun ia jalani layaknya robot bernapas.
Namun entah kenapa, malam itu fokusnya menolak tertuju pada deretan jadwal bernilai ratusan juta tersebut. Pikirannya justru kembali melayang pada memori siang tadi yang jauh lebih sederhana.
Makan siang. Warung tenda kecil. Kipas angin berisik. Es kopi susu.
Dan Arka.
Alya membuang napas, menekan tombol daya untuk mengunci layar ponselnya.
Tiga detik kemudian, ia membukanya lagi.
Ruang obrolan terakhirnya dengan Arka masih berada di sana. Tidak ada pesan penting, hanya percakapan singkat setelah mereka berpisah sore tadi.
Alya: Sudah sampai di kosan?
Arka: Sudah.
Alya: Kopi yang tadi enak juga ya.
Arka: Berarti lain kali bisa beli lagi.
Alya: Lain kali?
Arka: Kalau mau.
Alya membaca bagian terakhir itu berulang-ulang sampai matanya hampir juling.
"Kalau mau."
Ia mendengus keras. "Kenapa sih cowok ini? Irit banget ngetiknya!"
Alya melempar ponselnya perlahan ke atas karpet berbulu, lalu mengambil bantal sofa dan memeluknya erat-erat menutupi wajah.
Sebenarnya, ada satu hal yang terus mengganggu benaknya sejak beberapa hari terakhir mereka mulai berinteraksi intens. Sesuatu yang terasa sangat tidak lazim.
Arka tidak pernah meminta foto bareng. Tidak pernah meminta tanda tangan. Tidak pernah kepo membicarakan proyek film-filmnya. Bahkan setelah menyadari identitas aslinya yang sebenarnya, sikap Arka tetap konsisten tidak berubah sama sekali.
Awalnya, Alya merasa itu sangat melegakan dan menyenangkan.
Namun semakin lama... ketidakpedulian itu justru terasa mengusik egonya.
Alya mengambil ponselnya lagi, membuka aplikasi kamera depan. Wajah polos tanpa makeup-nya muncul di layar.
Alya memiringkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, memperhatikan pantulan dirinya selama beberapa detik.
"Apa kalau lagi nggak pakai makeup, wajahku kelihatan biasa banget ya? Kurang menarik ya?"
Detik berikutnya, ia langsung memutar bola matanya dan menggeleng keras. "Nggak, bukan itu intinya."
Ia menurunkan ponsel ke pangkuannya. "Maksudnya... aneh aja."
Alya terdiam, sulit merumuskan keruwetan pikirannya sendiri.
Selama sepuluh tahun berkarier, ia terlalu terbiasa melihat perubahan ekstrem reaksi orang-orang ketika mengetahui identitas aslinya.
Ada yang histeris meminta foto. Ada yang mendadak gagap meminta tanda tangan. Ada yang memuji-muji kecantikannya secara berlebihan. Ada yang mendadak berubah sikap menjadi terlalu ramah dan menjilat. Ada pula yang bermanuver mencoba mendekat hanya karena ingin mendapatkan keuntungan atau popularitas (pansos).
Tapi Arka? Tidak ada. Nol besar.
Bahkan ketika pertama kali tersadar bahwa perempuan misterius yang kehujanan di minimarket itu adalah Alya Renata, reaksi Arka hanya...
"Oh."
Alya mendengus lagi mengingatnya. "Cuma 'oh'."
Ia kemudian tertawa sumbang mentertawakan dirinya sendiri. Sangat aneh. Seharusnya ia merayakan ini. Bukankah selama ini ia menangis diam-diam karena rindu diperlakukan normal layaknya manusia biasa?
Lalu, kenapa sekarang ketika semesta benar-benar mengirimkan pria yang memperlakukannya dengan sangat normal, ia justru merasa insecure?
Alya menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. "Dasar aneh."
Namun, ia tidak yakin apakah umpatan itu ia tujukan untuk Arka... atau untuk dirinya sendiri.
Keesokan paginya, Arka duduk santai di salah satu bangku kayu di bawah pohon rindang depan fakultasnya.
Laptop terbuka. Tumpukan revisi berantakan. Dan secangkir kopi hitam.
Kehidupannya kembali pada setting normal. Setidaknya, begitu pikirnya.
"Bro."
Rendy tiba-tiba muncul dan duduk menjatuhkan diri di sebelahnya.
Arka tidak mengangkat kepalanya dari layar. "Apaan?"
"Lu udah buka grup WhatsApp angkatan belum pagi ini?"
"Belum."
"Buka sekarang."
Arka membuang napas pelan. "Kalau isinya link giveaway bodong atau meme lu lagi, gue beneran males, Ren."
"Bukan meme, Ka. Sumpah dah, buka."
Rendy akhirnya tidak sabar dan menyerahkan ponselnya sendiri ke depan wajah Arka.
Arka mau tidak mau memfokuskan pandangannya ke layar.
Sebuah foto. Kualitasnya agak buram dan pixelated, jelas diambil dengan terburu-buru menggunakan zoom maksimal dari jarak jauh.
Namun objeknya cukup jelas. Foto itu memperlihatkan sosok Alya Renata (dikenali dari perawakannya) sedang berjalan terburu-buru keluar dari area lorong sempit berdampingan dengan seorang laki-laki.
Laki-laki berjaket denim. Arka.
Caption yang menyertai foto di grup itu cukup memancing keributan.
"Eh, ini beneran Alya Renata kemarin di kampus kita kan? Terus cowok yang jalan bareng di sebelahnya ini siapa njir?!"
Arka mengernyitkan dahi. "Ini kapan difotonya?"
"Gue juga enggak tahu pastinya. Kayaknya kemarin sore pas beres syuting."
Arka menggulir layar ke bawah. Komentar dari mahasiswa lain di grup itu sudah mencapai puluhan pesan dalam waktu singkat.
Ada yang menduga rasional bahwa Alya sedang berjalan menuju mobil syutingnya. Ada yang mengira laki-laki di sampingnya adalah asisten kru lokal. Ada yang sok tahu menebak bahwa itu mahasiswa. Ada pula yang mulai mengarang bebas berspekulasi bahwa Alya punya pacar rahasia di kampus tersebut.
Arka mengembalikan ponsel itu ke tangan Rendy dengan santai.
"Biasa aja."
Rendy menatapnya tak percaya. "Biasa?"
"Iya, biasa."
"Bro, lu minum kopi campur apaan sih pagi ini? Lu sadar enggak kalau cowok yang di foto itu jelas-jelas diri lu?!"
"Gue sangat sadar."
"Dan lu lagi kepergok jalan sembunyi-sembunyi bareng Alya Renata, sang bintang box office?"
"Itu juga gue sadar, Ren."
Rendy mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Asli dah, Ka, gue kadang bingung sama respons lu."
Arka menutup laptopnya dengan tenang. "Terus menurut lu, gue harus bereaksi gimana?"
"Entahlah! Panik sedikit kek! Keringet dingin kek! Cari alibi kek!"
"Buat apa panik?"
Rendy membuka mulutnya ingin mendebat, namun tidak ada kata yang keluar. "Bener juga sih. Nggak mengubah apa-apa."
Arka berdiri dan memasukkan laptop ke ranselnya. "Gue mau masuk kelas."
"Ka, bentar."
Arka menoleh. "Apa lagi?"
"Kalau nanti anak-anak pada ngenalin punggung dan jaket lu di foto itu, terus ada yang nanya ke gue... gue harus jawab apa?"
"Jawab jujur aja."
"Jujur gimana?"
"Bilang aja kalau gue sama dia kebetulan bareng, dan emang cuma teman biasa."
Rendy mengangguk pelan, mencoba mencerna. "Masuk akal sih. Lagian mana ada yang bakal percaya juga kalau kalian ada apa-apa."
Arka berbalik berjalan meninggalkan Rendy menuju kelas. Namun baru sepuluh langkah, ponsel di sakunya bergetar.
Satu pesan WhatsApp masuk.
Alya Renata.
Alya: Arka, kamu sudah lihat foto candid yang nyebar di grup kampus kamu?
Arka berhenti di tengah koridor. Ia membalas dengan satu tangan.
Arka: Sudah. Barusan Rendy kasih lihat.
Balasan datang beberapa detik kemudian.
Alya: Maaf ya, Ka.
Arka mengerutkan kening.
Arka: Kenapa tiba-tiba minta maaf?
Alya: Karena gara-gara jalan bareng aku kemarin, kamu jadi ikut kefoto dan dijadiin bahan obrolan orang-orang.
Arka mendengus geli dan mengetik balasannya.
Arka: Santai aja, Mbak Alya.
Arka: Mereka kan cuma nebak-nebak dari foto buram. Mukaku juga nggak kelihatan jelas.
Tanda 'typing' muncul agak lama sebelum balasan masuk.
Alya: Kamu ini beneran orang yang terlampau santai ya rupanya.
Arka: Lah, mau aku panik guling-guling juga fotonya nggak bakal otomatis hilang dari internet kan?
Alya membaca pesan terakhir itu di dalam mobil van produksinya. Sebuah senyum tanpa sadar merekah di wajahnya.
Benar-benar jawaban yang sangat mewakili seorang Arka.
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!