NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA BELUM MATI

SUAMIKU TERNYATA BELUM MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:311
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Selama hampir empat tahun, Puspita Kusumah dikurung di panti perawatan setelah keluarganya merekayasa tuduhan terhadapnya. Dengan bantuan kuasa hukum independen, ia meminta pengadilan membatalkan penetapan yang membatasi kewenangannya mengurus kepentingan perdata dan memperoleh putusan yang memulihkan haknya. Setelah dokter menyatakan rawat inap tak lagi diperlukan, ia dipulangkan secara resmi dan dapat mengurus warisan suaminya, Arya, termasuk saham Keluarga Mahesa. Namun, ada sebuah rahasia. Suaminya yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat ternyata masih hidup dan menyamar sebagai dosen hukum yang dingin di kampus. Kini keluarga Kusumah dan Mahesa berusaha merebut hartanya, sementara orang yang paling ia rindukan berdiri di hadapannya tanpa sudi mengakuinya. Mengapa Arya memalsukan kematian, dan sampai kapan Puspita harus berpura-pura tidak mengenal suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9 - Pertanyaan untuk Dosen Pengganti

Tiga komentar beruntun dari akun Puspita800 tertinggal di ruang obrolan kuliah hukum daring malam itu, dan yang akhirnya menjawab bukan Profesor Guntara. Sosok di balik layar genggam Puspita adalah Profesor Bagus, pria tua pengganti yang kadang mengisi siaran ketika profesor favorit penonton itu berhalangan, dan ia menanggapi pertanyaan janda muda itu dengan semangat seorang guru yang jarang sekali ditanya.

Puspita menatap kalimat jawaban itu dengan ujung bibir yang naik tipis, lalu ponselnya ia letakkan telungkup di meja kerja.

Sejak sore hari itu, ia memang menghabiskan waktu dengan dua hal. Membaca berkas latar belakang yang diserahkan Yusuf, dan menunggu jam siaran tiba.

Yusuf menyerahkan map itu dengan sikap yang sedikit lebih hati-hati dari biasanya.

"Data alumni daring sudah lengkap, Nona. Aku juga sempat mewawancarai satu orang dari sekolah lamanya lewat telepon."

Isinya tidak tebal. Satu lembar riwayat hidup, beberapa salinan sertifikat, dan satu foto profil yang diambil dari halaman resmi kampus.

Guntara Prasetya. Asli Kota Serimpi. Kedua orang tuanya masih hidup. Punya seorang adik laki-laki berusia lima tahun yang namanya jarang disebut di mana pun.

Ia lulus dari Universitas Cakrawala di ibu kota, kemudian pindah ke Universitas Bhinneka tahun lalu dan langsung diangkat sebagai profesor termuda di fakultas hukum.

Nama adik laki-laki itu hanya tercantum dalam satu baris, tanpa sekolah, tanpa foto, tanpa keterangan apa pun. Satu-satunya potongan informasi yang hilang di seluruh berkas itu membuat pria di depan kamera terasa seolah sengaja memotong sebagian dari dirinya supaya mudah dikenali khalayak.

Puspita pernah mempertimbangkan kemungkinan yang paling gila dari semua kemungkinan, yaitu bahwa suaminya pura-pura mati dan kini berdiri di depan kamera dengan nama lain.

Tetapi riwayat hidup yang terlalu lengkap dan sepasang kaki yang terlihat utuh di balik celana panjang membuatnya mengesampingkan dugaan itu, setidaknya untuk malam ini.

Perasaan yang diberikan Guntara padanya memang sangat mirip dengan Arya. Dingin yang sama, lembut yang sama, tetapi tanpa lapisan murung yang selalu menempel pada suaminya dulu. Di layar siaran, ia tidak pernah menemukan gelagat orang yang mudah uring-uringan. Yang ada hanya seorang dosen yang berbicara hukum dengan suara rata serta teratur, seolah sudah berdamai dengan keheningan.

Ia menyandarkan punggung ke kursi, menautkan jari-jarinya di perut, dan menatap foto profil di berkas itu tanpa memalingkan pandangan. ID akun aplikasi pesannya sendiri sudah lama ia beri nama Orang Bodoh Mudah Ditipu, dan setiap kali ia mengetik pesan, nama itu muncul di layar sebagai pengirim, pilihan yang menurutnya memang sangat tepat.

"Nona." Yusuf mengetuk daun pintu ruang kerja.

"Boleh aku masuk?"

"Ya."

"Ada yang ingin kutanyakan." Puspita tidak menoleh dari foto itu.

"Bagaimana kalau aku benar-benar hamil?"

Yusuf yang baru melangkah masuk nyaris tersandung kakinya sendiri di tepi karpet. Ia menahan keseimbangan dengan tangan di kusen pintu, lalu bertanya, suaranya tidak lagi stabil.

"Nona... apa yang barusan Nona katakan?"

"Tidak ada." Puspita akhirnya menoleh, dan wajahnya sepenuhnya tenang.

Ekspresi Yusuf ketakutan. Ia berdiri membeku, menghitung sendiri berapa banyak masalah yang bisa lahir dari satu kalimat singkat itu.

"Nona hamil dari siapa?" tanyanya akhirnya dengan hati-hati.

Puspita menunduk. Yusuf melanjutkan lebih cepat dari sebelumnya.

"Ini tidak mungkin, Nona. Darah keturunan Keluarga Mahesa tidak bisa diganti orang lain. Kalau nanti sampai ketahuan, akibatnya sangat berat."

"Aku bercanda." Puspita menutup berkas di depannya.

"Kenapa kau begitu tegang?"

Ujung bibirnya memang tersenyum tipis, tetapi senyum itu justru membuat orang yang berdiri di hadapannya merasa semakin tertekan.

"Kita jalani langkah demi langkah dulu, Nona." Yusuf menegakkan punggungnya.

"Kalau Nona khawatir kehamilan ini tidak bertahan sampai waktunya, jalannya pasti masih ada nanti."

Dalam diam, asisten itu sudah memutuskan untuk membinasakan ide gila apa pun yang sedang tumbuh di kepala tuan rumahnya sejak dini. Kalau ide itu sampai berbunga, ia sendiri yang akan kerepotan menjelaskan pada orang yang harus ia pertanggungjawabkan.

"Nona." Ia menarik napas.

"Warisan Rp 84 triliun itu pada dasarnya datang dari Keluarga Mahesa. Lebih baik kita jadi orang yang punya nurani."

Puspita tertawa. Tawanya pendek dan ringan, tetapi berhenti begitu saja di udara.

Wajahnya berubah dingin seketika.

"Apa itu nurani? Bisa dimakan?"

Ia punya dendam yang belum terbayar lunas. Ketika dulu Arya memaksanya bertahan di sisinya, apakah laki-laki itu pernah sekali pun berbicara nurani? Laki-laki itu membawanya kembali setiap kali ia mencoba kabur, lalu menakut-nakutinya dengan gergaji mesin sampai ia dibuat yakin bahwa pilihan satu-satunya adalah menjadi pasangan orang yang sama-sama cacat.

Kalau kali ini laki-laki itu benar-benar tidak bangkit dari kematian, akankah ia bertahan di Keluarga Mahesa sampai akhir hayatnya?

Matinya Arya justru meninggalkan kekosongan yang tidak bisa ia namai. Bukan duka. Bukan lega. Hanya perasaan bahwa permainan yang ia jalani selama empat tahun berhenti di tengah jalan tanpa babak penutup.

Itulah sebabnya akhir-akhir ini ia menonton siaran langsung Profesor Guntara. Selama ini ia terbiasa beradu mulut dengan rubah tua itu setiap hari. Tanpa lawan bicara, malam-malam di rumah deret terasa terlalu panjang.

Lagi pula, bukankah warisan Rp 84 triliun itu menggiurkan?

Malam itu, saat ponselnya berbunyi tanda siaran dimulai, pembawa acara di layar ternyata bukan Profesor Guntara. Yang muncul adalah Profesor Bagus, pria tua yang kadang menggantikan siaran, dan karena wajah yang muncul bukan yang dicari, ruang obrolan langsung sepi dalam hitungan menit.

[Di mana suamiku? Aku hanya ingin melihat suamiku.]

[Kenapa Profesor Guntara tidak ada?]

[Pak, apakah Profesor Guntara masih akan siaran di masa depan?]

[Profesor Bagus, boleh tahu kapan Profesor Guntara kembali?]

[Puspita800]: Pak, aku ada pertanyaan.

Puspita menaburkan satu hadiah virtual tanpa banyak bicara. Efek emas melayang di layar siaran, dan wajah Profesor Bagus langsung memerah sampai ke telinga.

"Tanya, tanya." Ia melambaikan tangan dengan riang dari balik meja.

"Sepertinya Nona Puspita sangat tertarik pada ilmu hukum."

"Profesor Guntara tidak ada, tapi tetap menabur hadiah virtual." Ia menggeleng sambil tersenyum lebar.

"Pasti anak yang rajin belajar."

[Puspita800]: Ketika suamiku mati, apakah aku harus berduka?

Profesor Bagus melambaikan tangan lagi dengan tenang.

"Tidak. Menikah lagi tidak membuatmu berhenti menerima warisan."

[Puspita800]: Bagaimana kalau setelah aku menikah lagi, suamiku bangkit dari kematian?

Kali ini ia tidak menjawab terburu-buru. Ia merapikan kacamatanya, menatap layar dengan wajah serius, lalu menjawab dengan kalimat yang keluar perlahan serta jelas.

"Mantan suami itu otomatis berstatus lajang."

Ruang obrolan hening sebentar, lalu meledak dalam gelak tawa yang memenuhi layar ponsel Puspita. Tidak lama kemudian potongan jawaban itu beredar di linimasa kampus dengan sebuah tagar yang dibuat para mahasiswa. Puspita menatap kalimat itu beberapa saat, lalu mengetik balasan terima kasih sebelum akhirnya menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dengan wajah yang pertama kalinya sepanjang hari terlihat puas.

Di layar ponselnya, ID Orang Bodoh Mudah Ditipu masih tertinggal di pengaturan akunnya, dan untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan sendiri, ia tidak berniat Mengganti nama itu malam itu.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
singgah dimari nanti bacanya ya kaCan
☠ Novita ☘𝓡𝓳『⃟𝐉 zc❖ 🍒⃞⃟🦅
mampir kak, semangat yah
anonim
semangat kk ceritanya bagus , gak bisa komen cepet-cepet tapi tenang dibaca semua kok.
anonim
halo apa kabar , aku mampir lagi nih
anonim: udah..
total 13 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!