NovelToon NovelToon
ME | Possessive BadBoy

ME | Possessive BadBoy

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Fantasi Isekai / Nikahmuda
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Smarrr

Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.

Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Dan karena Mela yang malu, ewek itu meminta Nadia untuk dia aja yang mengantarkan dirinya pulang ke rumah.

"Lo aja yang anterin gue pulang ke rumah, jangan dokter Arga yang ada nanti gue pingsan lagi," bisik Mela.

"Gue itu mau bantuin lo ya anjir buat deket sama Dokter Arga, malah nggak mau, gimana sih lo? mau lo jomblo seumur hidup?"

"Nggak gitu juga anjir, lo tau sendiri gue lagi tadi aja pingsan lagi deket- dkeet sama dia, yang ada nanti gue malah nyusahin dia lagi."

"Nggak! pokoknya gue maunya lo di anter sama Arga aja, biar lo sekalian belajar kan deket sama cowok imipian lo," goda Nadia yang membuat Mela frustasi.

"Dok, bisa kan nganterin Mela lagi? tapi jangan di buat pingsan ya? hehe..." kata Nadia pada Arga.

"Iya bisa kok,"

Mela menunduk malu, ia bingung harus berbuat apa untuk saat ini.

Mereka pulng dengan kendaraan masing-masing dan sama pasangan masing - masing.

Jay mengenggam tangan Nadia sepanjang perjalanan pulang bahkan cowok itu hanya menyetir dengan satu tanganya saja.

"Jay, lepas dulu kan bisa, kamu lagi nyetir loh."

"Bisa sayang, pokoknya jangan di lepas," ujar Jay mencium punggung tangan Nadia.

Sementara di sisi lain, Mela yang seolah menjadi patung di dalam mobil Arga. Mela tak mau melihat ke arah Arga karena takut jatuh pingsan lagi.

"Kamu baik- baik aja kan?" tanya Arga yang melihat Mela sangat tegang.

"Iya, baik-baik aja kok, dokter fokus nyetir aja biar cepet sampai rumah, "Mela meremas jemarinya untuk mengilangkan grogi.

Tak lama kemudian mibil Arga samapi di gang rumah Mela yang tidak bisa di masuki mobil.

"Dokter nggak usah turun, aku jalan sendiri aja," cegah Mela saat Arga hendak turun dari mobil.

Namun Arga kekeuh turun dari mobil karena khawatir jika tuba-tiba nanti Mela akan pingsan lagi seperti di rumah sakit tadi.

"Duh dok bveneran deh aku jaaln sendiir aja, nggak enak dari tadi ngrepotin dokter aja."

"Nggak ngrepotin Mela, lagian ini juga udah malam, biar aku yang anter sampai rumah kamu ya, aku janji aku langsung pulang, ang penitng aku liat kamu masuk ke dalam rumah dulu."

Blush.

Wajah Mela seketika memerah saat mendapatkan perhatian yang menuruitnya lebih dari Arga.

Mereka berjalan berdua di gang yang sepi, dan sampai akhirnya mereka sampai di rumah sederhana denga lampu yang suda menyala, itu tandanya orang tua Mela sudah pulang bekerja.

"Aku masuk ya dok, dokter langsung pulang aja ya, takut orang tua aku keluar yang ada nanti malah berabe urusanya" lirih Mela menitah Arga agar cepat pergi.

Dan baru saja Arga akan berjalan pergi, kedua orang tua Melakeluar larena mendengar suara langkah kaki di halaman rumahnya yang tidak luas itu.

"Kamu kenapa baru pulang jam segini? nggak ada kabar sama sekali, bikin orang tua cemas aja, siapa dia? kok nggak ikut masuk?" kata bapakMela degan suara yang tegas.

Arga menghentikan langkahnya dan berbalik badan, dia harus bertanggng jawab karena kini Mela di antarkan pulang oleh dirinya.

"Maaf pak buk, nama saya Arga, teman Mela. Maaf baru bisa mengantarkan Mela pulang selarut ini, mungkin Mela biasanya pulang tepat waktu," ujar Arga dengan sopan.

Bapaknya Mela melihat Arga dari atas sampai ke bawah, memperhatikan penampilan Arga yang sepertinya bukan dari kalangan seperti mereka.

"Kamu terlihat dewasa, dan kamu juga terlihat seperti bukan orang yang kekurangan, apa betul tebakan bapak?"

"Duh pak,, udah ya, dia temenya Nadia yang nganter kau pulang, tadi aku mau ngabarin bapak, tapi hp aku lobet," Mela mencoba menjelaskan agar masalah tak lagi runyam.

"Jangan bohong kamu, biasanya juga kalau hp kamu lobet kamu pakai hp Nadia atau telepon rumah Nadia."

"Tadi lupa pak, udah ya, biar kak Arga pulang, toh aku juga udah pulang sekarang kan?"

Mela melirik sekilas ke arah Arga yang masih berdiam diri.

"Nama kamu Arga?" tanya bapaknya Mela

"Iya pak betul nama saya Arga."

"Boleh bapak minta nomor hp kamu? jadi kalau ada apa- apa dengan anak saya, saya langsung bisa menghubungi kamu," tegas bapaknya Mela.

"Pak udah dong ahh, malu tahu, orag Mlea juga nggak kenpaa\= napa kan?" protes Mela yang tak enak hati ada Arga.

"Boleh pak, kalau ada apa-apa bapak bisa langsung hubungi saya." Arga memebrkan nomer pponselnya kepada bapaknya Mela.

"Maaf ya kak, jadi agak runyam," kata Mela yang terpaksa memanggil Arga dengan sebutan kakak.

Setelah Ara memberikan nomer ponselya, cowok itu langsung berpamitan pada orang tua Mela juga dengan Mela.

"Bapak apaan sih? malu tahu!" protes Mela.

"Heleh.. malu malu, padahal mau tuh, bapak bantun ini minta nomor hp-nya, pasti kamu belum punya kan? pinter to bapak?" ternyata bapaknya Mela sengaja bersikap seperti itu.

"Astaga bapak! kirain bapak bakal beneran mau marahin kak Arga."

"Dia keliatan udah dewasa, tapi inget dia bukan dari kalangan orang seperti kita nak, jadi lebih baik sadar diri saja, sebelum nanti akan sakit di kemudian hari." nasehat bapanya Mela pada ana sat satunya itu.

"Iya pak, Mela juga tahu kok," Mela menggandeng lengan bapaknya dan melangkah masukke dlaam rumah, dimana ibunya sudah menyiapkan makan malam bersama.

"Eh... Aturan tadi nak Arga di ajak makan malam dulu ya, sekalian pendekatan kan," si bapak sengaja menggoda anaknya yang tengah kasmaran.

"Apaan sih bapak, jangan ngadi ngadi deh." tukasnya sebel," Mela mandi dulu ya Pak, Buk," imbuhnya berkalan masuk ke dalam kamar.

.

.

.

.

.

Baru saja Jay mematikan mesin mobilnya, cowok itu segera melepas sabuk pengamanya dan menyerbu bi bir Nadia tanpa ampun lagi setelah ia menahan gejolak dari kejadian di area parkir tadi.

"Jay..." pekik Nadia encoba mendorong badan Jay yang sudah pasi kalah telak dalam tenaga.

Dengan mudah jay menurunkan jok hingga kini keduanya dalam posisi Jay mengukung badan Nadia.

Tak lupa Jay juga membuka sabuk pengaman yan masih terpasang di badan Nadia, seoalh seperti tengan kerasukan Jay menghujani bi bir dan le her Nadia ci uman tanpa spasi.

Mobil yang bergoyang membuat security yang berjaga di sana hanya bisa pura -pura tak melihat

"Oughh... Jay..." Nadia emnggigit bibirnya sendiri saat bagaimana Jay memainkan lidanya di leher mulusnya.

Jay berhenti sejenak, mengatur nafasnya yang hampir habis, tatapanya sudah begitu sayu, jemari Nadia terulur membelai wajah Jay yang tampan.

"Are you okay?" suara Nadia terdengar seperti bisikan bagi Jay.

"I am okay baby, tapi aku aku nggak tahan sekarang," saat jay akan kembali menyerang, Nadia menghadang dengan kedua tanganya.

"Jangan di sini," jawabnya yang juga mulai parau.

Jay memuka pintu mobil dan begegas keluar, ia membuka pintu bagian Nadia dan menggendongnya ala koala, lalu melangkah dengan cepat masuk ke dalam.

Keduanya tersenyum dan sesekali memberikan kecupan kilas di bibir sambil berjalan masuk.

Jay yang sudah tak tahan kembali menyerbu bi bir Nadia saat baru saja mereka berada di ruang tamu, tanpa melihat sekitar lagi karena keduaya sudah sama-sama di baluti oleh gelora yang membara.

"Ehem...." suara deheman terdengar, membuat Nadia juga Jay melirik ke arah suara tersebut.

Dan betapa terkejutnya di saat mereka melihat Bramasta duduk di ruang tamu dengan Nagita, yaitu kedua orang tua Nadia.

"Papa, mama!" seru Nadia yang sedikit harus menhaan malu karena kepergok oleh kedua orang tuanya, walaupun mereka sudah sah sebagai sepasang suami istri, tapi mereka tak enak hati jika itu menyangkut orang tua Nadia.

"Tahu deh yang pengantin baru, sampai nggak bisa lihat kedatangan papa sama mama di sini," keluh Bramasta yang langusg mendapakan cubitan oleh Nagita.

"Papa kaya nggak pernah muda aja deh, papa bahkan dulu lebih ganas kan dari Jay," ungkapan Nagita membuat Jay juga Nadia kaget dan saling lirik.

"Papa sama mama dateng kok nggak bilang-bilang sih? kan bisa aku jemput." Nadia menghambur memeluk kedua orang tuanya.

"Iya pa, ma, kita kan bisa jemput kalau papa sama mama bilang kalau kalian sudah pulang," timpal Jay. "Dan maaf buat kejadian tadi, kita beneran nggak tahu." imbuh Jay tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Jadi udah suka nih? kemarin siapa sih Pa yang nggak mau di jodohin? sampe marah-marah?" goda Nagita sang mama.

"Ihh... Mama.." keluh Nadia semakin malu.

"Jayden, boleh papa bicara berdua sama kamu?" Kata Bramasta membuat Nadia dan Jayden terhenyak.

1
S.Marrr
Halloweeww gGuysss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!