Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.
Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.
Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 — Dunia Rasanya Berhenti
Seminggu berlalu, tapi rasanya kayak udah setahun penuh. Setiap pagi pas mataku terbuka, aku masih biasa aja sebentar. Pikiran belum nyambung sama kenyataan, rasanya kayak hari ini bakal sama kayak hari-hari sebelumnya. Aku bakal bangun, mandi, siap-siap, terus sore tinggal ke taman duduk nunggu dia datang sambil baca buku. Tapi baru beberapa detik kemudian, semuanya dateng menghantam sekaligus. Ingatannya nyampe ke kepala, terus dada rasanya kayak diremas kuat banget sampai susah napas. Bima udah nggak ada. Dia nggak bakal muncul lagi di ujung jalan setapak itu sambil senyum kayak biasa. Dunia yang aku kenal selama ini rasanya retak di bagian yang paling dalam.
Aku nggak nangis teriak-teriak atau jatuh sakit sampai harus dibawa ke rumah sakit kayak yang sering aku lihat di film-film. Aku cuma diam. Lama banget diam. Kadang duduk di pinggir kasur dari siang sampai sore tanpa sadar waktu udah lewat begitu aja. Mataku ngeliat ke jendela tapi nggak beneran ngeliat apa-apa. Pikiran melayang ke mana-mana, kebanyakan ke dia. Ke suaranya, ke cara dia senyum miring waktu ketawa, ke tatapannya yang selalu kayak dia lagi hafalin setiap bagian wajahku. Semua hal kecil itu tiba-tiba jadi sangat jelas di kepalaku, kayak otakku mau menyimpannya baik-baik sebelum semuanya memudar.
Teman-teman pada datang ke rumah. Mereka bawa makanan, bawa buku, duduk di sebelahku ngomong hal-hal yang sebenarnya aku nggak terlalu dengerin. Mereka bilang waktu bakal sembuhin semuanya, bilang aku kuat, bilang Bima pasti tenang sekarang. Aku cuma ngangguk pelan. Aku tahu mereka bermaksud baik banget, tapi kata-kata itu rasanya kayak orang ngomong soal hujan ke orang yang lagi kebanjiran. Mereka tahu hujannya deras, tapi mereka nggak tahu gimana rasanya air itu masuk sampai ke tulang. Ibu paling ngerti kayaknya. Dia jarang ngomong, cuma masuk ke kamarku, duduk di sebelahku, terus elus punggungku pelan-pelan tanpa tanya apa-apa. Itu aja udah cukup bikin air mataku tumpah lagi tanpa aku minta.
Nggak ada yang berani nyebut nama Bima di depanku. Kayak nama itu jadi sesuatu yang terlalu tajam buat diucap. Tapi justru karena nggak ada yang ngomong, dia malah ada di mana-mana. Di jalan yang biasa aku lewati ke kampus, di kedai kecil tempat aku pernah cerita soal buku kesukaanku, di lagu yang kebetulan keputer di HP pas aku mau tidur malam. Semua hal biasa tiba-tiba punya kenangan tentang dia. Rasanya dunia ini terlalu penuh sama dia, tapi dia sendiri nggak ada di mana-mana. Itu perasaan paling aneh dan sakit yang pernah kurasakan.
Taman itu nggak aku kunjungi selama tujuh hari penuh. Tiap kali aku teringat tempat itu, perutku rasanya mual. Kakiku terasa berat banget kayak ada yang nahan aku dari dalam. Aku tahu kalau aku ke sana dan lihat bangku kayu itu kosong, aku bakal hancur lebih parah dari yang sekarang. Aku belum siap menghadapi kenyataan bahwa tempat yang jadi rumah kecil kita berdua itu sekarang cuma tempat duduk kosong yang nunggu orang lain lewat. Bangku itu pasti masih di sana, berdiri sendiri di bawah pohon rindang, nunggu orang yang nggak akan pernah datang lagi. Pikiranku selalu berakhir di situ, dan aku tetap memilih diam di rumah sama kotak peninggalan Bima yang taruh di meja belajar, masih tertutup rapat, belum berani aku buka lagi.
Suatu sore langit mendung dari pagi. Angin berhembus lebih kencang dari biasanya, meniup tirai jendelaku naik turun pelan. Hujan turun deras banget, bunyinya ngetok di atap bikin aku teringat satu sore yang nggak akan aku lupa. Waktu itu hujan juga deras kayak gini, aku pikir dia nggak bakal datang. Tapi pas aku sampai di sana, dia udah berdiri di bawah pohon besar itu, bahunya agak basah, rambutnya meneteskan air, dan dia senyum pas lihat aku datang, seolah berdiri di tengah hujan itu hal paling biasa di dunia. Aku ingat betul matanya sore itu. Tatapan yang begitu lembut, tapi ada kesedihan yang dalam banget di sana, seolah dia tahu itu salah satu dari sedikit waktu yang tersisa buat dia habiskan sama aku. Dan aku sama sekali nggak sadar. Aku cuma ngobrol biasa, tertawa, cerita soal hari-hariku, tanpa tahu kalau di depanku orang yang lagi berjuang melawan rasa sakit yang nggak pernah dia ceritakan ke siapa pun.
Malam itu aku mimpi aneh banget. Bima berdiri di bangku kayu itu, langit di belakangnya berwarna keemasan kayak waktu matahari hampir terbenam. Dia senyum ke arahku, tangannya melambai pelan, bibirnya bergerak bilang sesuatu tapi suaranya nggak sampai ke telingaku. Aku berlari ke arahnya secepat mungkin, tapi semakin aku berlari, dia semakin menjauh. Jarak di antara kita nggak pernah berkurang sedikit pun. Sampai akhirnya dia perlahan menghilang di balik kabut tipis yang tiba-tiba muncul di sekitar taman, dan aku terbangun dengan napas terengah, keringat dingin menetes di dahiku, jantungku berdetak kencang kayak habis lari jauh. Jam dinding di dinding menunjukkan pukul empat pagi. Aku duduk tegak, tarik napas panjang, coba tenangin diri. Ada sesuatu yang mendesak di hatiku, sesuatu yang nggak bisa kutunda lagi. Aku harus ke taman itu. Bukan buat nunggu dia, karena aku tahu dia nggak akan datang. Tapi buat pamit dengan benar. Buat bilang semua hal yang seharusnya aku bilang waktu dia masih di sini.
Pagi itu aku bangun dan melakukan hal yang belum pernah aku lakukan selama seminggu ini. Aku mandi, sisir rambutku, pakai baju yang nyaman, terus sarapan sedikit meskipun perutku terasa penuh banget. Ibu ngeliat aku dari jauh, senyum tipis muncul di wajahnya, dia nggak tanya ke mana aku pergi. Dia cuma bilang hati-hati aja, seolah dia tahu aku lagi pergi menutup satu bab penting dalam hidupku.
Perjalanan menuju taman terasa lama banget. Setiap langkah terasa berat, tapi aku terus jalan. Langit cerah, anginnya sejuk menyentuh wajahku, orang-orang lewat sambil tersenyum, anak-anak berlari kejar-kejaran sambil tertawa riang. Dunia tetap berputar normal, padahal duniaku sendiri rasanya udah berubah total. Rasanya aneh banget, tahu kan? Bahwa di saat hatiku lagi hancur berkeping-keping, orang lain tetap jalan, tetap ketawa, tetap menjalani hari mereka. Kadang aku iri, kadang aku cemburu, tapi lama-lama aku sadar, itu memang cara dunia bekerja. Kehidupan nggak berhenti cuma karena satu orang pergi. Itu hal yang berat banget buat diterima, tapi aku mulai belajar menerimanya pelan-pelan.
Sesampainya di sana, bangku kayu itu masih ada persis di tempatnya. Kosong, tenang, di bawah bayang-bayang pohon besar yang dulu selalu menaungi kita. Aku berjalan mendekat pelan, takut kalau aku terlalu cepat tempat ini bakal berubah atau menghilang kayak di mimpiku tadi malam. Aku duduk di ujung bangku yang biasa dia tempati. Duduk tegak, tarik napas dalam-dalam, mencium bau tanah kering dan daun yang tertiup angin. Semuanya sama persis kayak hari-hari dulu. Pohonnya, anginnya, bunyi burungnya. Cuma satu hal yang beda. Kali ini aku sendirian. Nggak ada suara langkah kakinya yang tenang mendekat dari belakang. Nggak ada sapaan lembutnya yang bikin sore mendung sekalipun terasa hangat. Nggak ada senyumnya yang seolah dunia ini tempat yang baik banget buat dihuni.
Aku diam cukup lama, membiarkan kesadaran itu masuk perlahan ke dalam hatiku. Dia nggak datang. Dia nggak akan pernah datang lagi ke tempat ini. Tapi anehnya, rasa sakit yang muncul nggak sepanas yang aku takutkan. Ada rasa rindu yang besar banget, tapi di samping itu ada juga rasa tenang yang pelan-pelan muncul. Aku mengeluarkan selembar kertas dari saku jaketku, kertas yang udah kutulis dari rumah tadi pagi. Tanganku nggak gemetar kayak biasanya saat memegang sesuatu yang berhubungan sama dia. Aku pegang kertas itu erat sebentar, lalu mulai bicara pelan ke ruang kosong di sebelahku.
"Kamu tahu Bima? Tadi malam aku mimpi kamu. Kamu berdiri di sini, senyum kayak biasa, tapi kamu pergi sebelum aku bisa nyampe ke tempat kamu. Pas bangun aku nangis lama banget. Tapi sekarang di sini, aku merasa kamu dengerin aku. Aku nggak tahu kamu ada di mana sekarang, tapi aku mau bilang banyak hal yang nggak pernah aku sempat bilang waktu kamu ada di sebelahku."
Aku berhenti sebentar, telan ludah, lanjut lagi dengan suara yang lebih stabil.
"Aku sempat mau marah sama kamu. Kenapa sembunyiin semuanya? Kenapa pikul beban itu sendirian sampai hari-hari terakhir kamu? Kenapa nggak percaya sama aku? Aku nggak akan pergi cuma karena kamu sakit, Bima. Aku nggak akan pernah pergi. Tapi aku ngerti sekarang kan? Kamu takut kalau aku lihat kamu sakit, aku bakal ingat kamu yang lemah, bukan kamu yang selalu ceria dan penuh harapan. Kamu mau aku ingat senyum kamu itu. Kamu berhasil banget. Itu hal pertama yang muncul kalau aku denger nama kamu. Senyum kamu yang tulus banget itu."
Angin berhembus pelan, menerbangkan beberapa helai daun di dekat kakiku. Rasanya kayak dia ngangguk setuju di sebelahku.
"Makasih ya. Makasih udah pilih aku jadi tujuan kamu. Makasih udah jalan sejauh itu cuma buat nyapa aku sore itu. Makasih udah bikin aku merasa berharga banget, padahal aku cuma cewek biasa yang suka duduk sendirian baca buku. Kadang aku mikir, kenapa aku? Kenapa dari sekian banyak orang di dunia ini, kamu milih aku? Aku mungkin nggak pernah dapet jawabannya. Tapi aku mau kamu tahu, kalau bisa milih lagi, aku tetap mau ketemu kamu. Walau tahu akhirnya bakal sesakit ini, aku tetap mau kenal kamu. Karena waktu singkat yang kita punya itu lebih berharga daripada seumur hidup yang biasa-biasa aja."
Aku taruh kertas itu di bawah batu kecil di sela akar pohon besar, tepat di tempat yang biasa dia tinggalkan pesan-pesan kecilnya untukku. Di kertas itu aku tulis cuma satu kalimat: "Aku udah sampai Bima. Dan kamu memang sampai di hatiku. Selamanya."
Lalu aku berdiri, merapikan pakaianku, menyeka sisa air mata yang menetes di pipi pakai punggung tanganku. Aku menatap sekeliling taman itu sekali lagi, menghafal setiap sudutnya, setiap bayang-bayang pohon, setiap bunyi angin yang lewat di sela dahan. Mulai hari ini, tempat ini bukan lagi tempat yang menyakitkan buat aku ingat. Ini tempat di mana seseorang datang dari jauh, berjuang diam-diam, dan mencintai aku dengan cara yang paling tulus yang pernah ada. Ini tempat di mana aku belajar bahwa perpisahan nggak berarti berakhir, dan bahwa cinta yang tulus itu tetap hidup walau orangnya udah nggak terlihat lagi.
Langkahku pulang terasa lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya. Nggak berarti aku udah nggak sedih lagi. Masih berat banget, dan pasti bakal berat buat waktu yang lama ke depan. Tapi sakit itu sekarang nggak terasa kayak beban yang harus kubuang. Itu terasa kayak bagian dari diriku, bagian dari cerita yang indah yang pernah aku alami. Bima nggak hilang begitu saja. Dia hidup di caraku melihat dunia sekarang. Aku lebih menghargai waktu, lebih berani bilang apa yang kurasakan, lebih tulus pada orang-orang di sekitarku. Dia mengubahku menjadi orang yang lebih baik, bahkan saat dia nggak ada di sini untuk melihatnya. Dan aku rasa, itulah cara terbaik dia tetap ada di sisiku.