Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5.Taruhan nyawa di tepi Jembatan
Matahari pagi itu masih bersembunyi di balik gumpalan awan mendung ketika Tera melangkah keluar dari gang rumah kontrakannya.
Mengenakan kemeja putih rajut yang sudah sedikit memudar warnanya dan rok kain hitam, Tera berjalan kaki menuju halte bus terdekat.
Di dalam tas jinjingnya, tersimpan rapi beberapa map dokumen baru. Tujuan utamanya hari ini adalah Rumah Sakit Harapan Bangsa, tempat yang diceritakan ayahnya kemarin.
Luka batin akibat penghinaan di Rumah Sakit Medika Utama masih berbekas, namun tekad di dada Tera jauh lebih raksasa daripada rasa traumanya.
Langkah kaki Tera membawanya menyusuri trotoar jalan layang yang sepi, sebuah kawasan yang menghubungkan wilayah pinggiran dengan pusat administrasi kota.
Di sebelah kanannya, terbentang jembatan beton besar yang melintasi sungai berbatu yang cukup dalam. Pagi itu arus lalu lintas masih lengang.
Vroom! Ckiiit!
Keheningan pagi pecah berantakan oleh suara raungan mesin mobil yang dipacu dalam kecepatan ekstrem.
Lentera refleks menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.
Dari kejauhan, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam melesat bagai anak panah, meliuk-liuk liar di atas aspal.
Di belakangnya, empat mobil SUV besar berwarna senada mengejar dengan beringas. Mereka saling pepet, mencoba mengunci jalur pergerakan mobil sedan mewah di depannya.
Aksi kejar-kejaran itu tampak seperti adegan film aksi yang mematikan. Salah satu SUV mengepot tajam, menghantam bagian belakang sedan hitam hingga mobil mewah itu kehilangan kendali.
BRAGH!
Suara benturan logam yang memekakkan telinga bergema di sepanjang jembatan.
Sedan hitam itu berputar menghantam pembatas jalan beton, terpelanting ke udara, lalu terguling hebat beberapa kali sebelum akhirnya terperosok dan tersangkut di bibir jembatan beton yang curam.
Asap tebal abu-abu langsung mengepul dari kap mesinnya yang ringsek parah. Sementara itu, keempat mobil SUV musuh yang melakukan pengejaran mendadak memperlambat laju mereka sejenak, memastikan mobil sasaran mereka hancur, lalu melesat pergi meninggalkan lokasi dengan kecepatan tinggi.
Lentera terpaku di tempatnya berdiri, jantungnya berdegup kencang hingga ke kerongkongan.
Area jembatan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan desis ngeri dari bangkai mobil yang bergoyang di tepi jurang jembatan.
"Astaga, ada orang di dalam," gumam Tera.
Pada detik itu, ketakutan batinnya sebagai manusia biasa sempat berbisik untuk menyuruhnya mundur dan mencari tempat aman.
Namun, jiwa medis di dalam tubuh Lentera bergejolak jauh lebih dahsyat.
Di dalam kepalanya, sumpah dokter yang pernah ia ucapkan berdengung nyaring.
Ada nyawa manusia yang sedang di ambang kematian di seberang sana, dan dia adalah seorang petugas medis.
Lentera melempar tas jinjingnya begitu saja ke atas trotoar, lalu berlari sekencang mungkin membelah jalanan menuju bangkai mobil yang berasap.
Napasnya tersengal-sengal saat kakinya sampai di dekat pintu pengemudi yang sudah hancur dan bengkok.
Bau bensin yang menyengat menyengat penciumannya, sebuah pertanda bahaya besar bahwa mobil itu bisa meledak kapan saja.
"Halo! Apakah ada orang di dalam? Bisa mendengar suara saya?!" teriak Tera sambil melongokkan kepalanya ke dalam kabin mobil yang terbalik.
Di kursi kemudi yang terhimpit kantung udara yang pecah, terbaring seorang laki-laki.
Kepalanya terkulai lemah ke samping, dengan darah segar mengalir deras dari pelipis menutupi sebagian wajahnya. Ketika Tera berhasil menyingkirkan sisa pecahan kaca dan menyadarkan pria itu, matanya mendadak membelalak sempurna.
Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik.
Wajah itu. Rahang tegas yang kokoh, struktur wajah sempurna bagai pahatan marmer yang ternoda darah.
Tera tersentak hebat, jiwanya terguncang karena merasa sangat tidak asing dengan raut wajah tersebut.
Otaknya yang cerdas langsung memutar kembali memori satu tahun yang lalu di ruang UGD yang kacau.
Lelaki misterius, igauan nama Nugraha, kejang hebat yang berhenti_
"Tuan Sean?!" teriak Tera, suaranya melengking tinggi di antara desis kepulan asap.
Hanya nama itu yang melekat kuat di ingatannya. Pria di dalam mobil ini adalah pasien misterius yang setahun lalu membuat seluruh jajaran direksi rumah sakit bertekuk lutut ketakutan.
Sean membuka matanya sedikit, manik mata gelapnya yang tajam tampak sayu dan kehilangan fokus, namun dia menatap langsung ke arah Tera.
Bibirnya bergerak lirih tanpa suara, seolah mengenali getaran suara gadis yang sedang panik di depannya.
Tubuh Sean sangat lemah, terhimpit sabuk pengaman dan badan mobil yang ringsek.
Bzt,.Spark!
Percikan api mulai terlihat dari bawah kap mesin. Waktu mereka tidak banyak, mungkin hanya hitungan detik sebelum api menyentuh tangki bensin.
"Tuan Sean! Anda harus bergerak! Mobil ini akan meledak!" seru Tera panik.
Tera memasukkan setengah tubuhnya ke dalam kabin yang sempit. Jari-jemarinya yang gemetar dengan cepat menekan tombol pengunci sabuk pengaman hingga terlepas.
Namun, tubuh Sean yang jangkung dan berotot terlalu berat untuk ditarik oleh kekuatan fisik Tera yang kecil.
Dalam kondisi darurat yang mencekam itu, Tera melakukan refleks yang sama persis seperti setahun lalu.
Dia menyambar tangan kanan Sean, menggenggam telapak tangan pria itu dengan amat sangat erat dengan kedua tangannya.
"Tolong, bantu saya! Bertahanlah!" pekik Tera dari lubuk hatinya yang paling dalam, menyalurkan seluruh sisa kekuatannya.
Tepat ketika jemari mereka bertautan dan mengunci rapat, keajaiban misterius itu kembali terulang.
Sebuah aliran hangat yang pekat, nyaman, dan luar biasa bertenaga mendadak melesat keluar dari dada Tera, mengalir deras membanjiri lengannya, dan terpancar lurus masuk ke dalam telapak tangan Sean.
Aliran hangat itu terasa seperti sebuah sengatan listrik murni yang menyembuhkan.
Di saat yang sama, Sean yang tadinya sudah hampir kehilangan kesadaran akibat benturan kepala, mendadak merasakan pasokan energi yang sangat besar masuk ke dalam inti tubuhnya.
Kekuatan supranaturalnya yang selama ini cacat dan terganggu, mendadak bergejolak aktif, memberikan dorongan adrenalin dan kekuatan fisik instan yang luar biasa pada otot-ototnya.
Mata Sean terbuka lebar, kilatan magis di manik matanya mendadak menyala pekat.
Dengan sisa tenaga yang mendadak pulih berkat aliran hangat Tera, Sean menggunakan tangan kirinya untuk mencengkeram dasbor, memberikan tumpuan.
"Satu dua tiga_, Tarik!" teriak Tera sekuat tenaga.
Dengan satu sentakan kuat dari Tera dan dorongan tubuh dari Sean sendiri, tubuh jangkung pria itu berhasil lolos keluar dari jepitan kabin mobil, merosot jatuh ke atas aspal jembatan tepat di pelukan Tera.
"Lari!" bisik Sean dengan suara serak yang berat.
Tera tidak berpikir dua kali.
Meskipun tubuhnya sudah gemetar dan kelelahan setelah mengalirkan energi misterius tadi, dia memapah bahu Sean yang besar.
Mereka melangkah terseok-seok, menjauh dari mobil mewah tersebut dengan kecepatan maksimal yang bisa mereka lakukan.
Baru saja mereka berhasil menjauh sekitar sepuluh meter—
BOOOOOOOM!!!
Ledakan dahsyat mengguncang jembatan. Bangkai mobil sedan hitam itu meledak hebat, meletupkan bola api raksasa ke udara dan melemparkan serpihan logam panas ke segala arah.
Gelombang kejut dari ledakan tersebut mengempaskan tubuh Tera dan Sean hingga berguling di atas aspal trotoar.
Tera terengah-engah, telinganya berdenging hebat. Dia segera memeriksa tubuhnya sendiri, beruntung tidak ada luka bakar, hanya beberapa lecet di lutut dan siku akibat terhempas.
Namun, dia tidak memedulikan rasa perih di tubuhnya sendiri. Jiwa medisnya kembali mengambil alih.
Tera merangkak mendekati Sean yang terbaring terlentang di sampingnya.
Kepala pria itu masih mengeluarkan darah, wajahnya dipenuhi jelaga hitam, tetapi napasnya kini jauh lebih stabil daripada saat di dalam mobil tadi.
"Tuan Sean, Anda bisa mendengar saya? Tolong jangan memejamkan mata," ucap Tera sambil menepuk-nepuk pipi Sean dengan cemas.
Yuk dong komennya, jangan lupa LIKE dan HADIAH nya.