Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.
Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.
Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.
Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
Dentum bas berfrekuensi rendah memutar udara dingin di dalam area VIP sebuah bar eksklusif di jantung kota New York.
Cahaya lampu amber bernuansa temaram memantul pada deretan botol kristal bernilai puluhan ribu dolar, melukiskan kesan kemewahan yang tertutup dari bisingnya dunia luar.
Di meja bundar berbalut kulit hitam paling sudut, aroma alkohol pekat membumbung tinggi, menyatu dengan gelak tawa sinis yang memecah keheningan sejenak.
"Untuk Dominic Ashford... pria paling sabar sekaligus paling sial se-Manhattan!"
Gelas kristal berisi whisky amber beradu keras. Suara benturan porselen dan kristal menggemakan perayaan miris atas kehancuran hati yang berulang.
Clink!
"Cheers!"
Dominic langsung menyesap cairan panas itu hingga kandas tanpa jeda.
Efek terbakar di tenggorokannya adalah satu-satunya sensasi yang mampu mengalihkan rasa ngilu di dadanya.
Sepuluh tahun runtuh hanya dalam hitungan detik di sebuah restoran mewah, meninggalkan rongga hampa yang sangat luas.
"Enam kali, Brother," ujar Julian seraya menyandarkan punggungnya pada sofa kulit, memutar-mutar es batu di gelasnya dengan kekeh samar.
"Enam kali kau ditolak mentah-mentah! Seorang Ashford... pemilik setengah saham properti bernilai miliaran, ditolak hanya karena seorang wanita enggan menandatangani dokumen pernikahan? Kalau berita ini bocor ke media, saham keluargamu bisa merosot."
"Sudah kukatakan padamu sejak awal, Dom," timpal Joy.
Pria itu menyulut cerutu mahal, membiarkan asap tipis mengepul ke udara. "Jangan terlalu dipikirkan. Dan yang paling penting, jangan mau dibodohi oleh wanita. Mereka itu manis di mulut saja saat butuh, tapi begitu kita meminta kepastian, mereka menyajikan alasan-alasan konyol tentang kebebasan."
Dominic memejamkan mata erat-erat, memijit pangkal hidungnya yang berdenyut hebat. Bayangan wajah dingin Florence malam ini—wajah yang sama selama sepuluh tahun—kembali menembus pikirannya.
"Kalau kau mau hidupmu tenang," Joy melanjutkan seraya melempar korek apinya ke meja, "harusnya kau mencari anjing yang hanya tahu cara menggonggong. Kau tuannya. Kau penentunya. Dan hanya kau yang bisa mengatur arah langkahnya."
Dominic terkekeh miris, menggeleng pelan. "Aku mencari istri, Joy. Bukan peliharaan."
"Tapi faktanya kau tidak mendapatkan apa-apa!" potong Julian cepat.
Tangannya menepuk bahu Dominic kasar.
"Dengar, Dom. Kenapa kau harus menyiksa dirimu sendiri untuk seseorang yang bahkan tidak sudi memiliki masa depan bersamamu? Kau butuh pelampiasan. Kau butuh wanita yang tidak akan memberimu penolakan atau kerumitan drama 'kebebasan'."
Julian dan Joy saling bertukar tatapan bermakna. Senyum tipis bercampur niat terselubung terbit di bibir mereka berdua.
"Kau bisa memiliki wanita yang bisa diperlakukan sebagai kekasih di atas ranjang," bisik Julian dengan nada provokatif.
"Tanpa status, tanpa tuntutan, tanpa drama. Dan saat kau mulai bosan? Kau tinggal menggantinya dengan yang baru."
Dominic mendelik tajam, matanya meredup berbahaya. "Kau gila? Aku tidak mungkin melakukannya. Aturan Mommy-ku sangat ketat, sialan. Kau tahu sendiri bagaimana beliau akan mengulitiku hidup-hidup jika aku bermain-main dengan wanita tak jelas."
"Hey, Brother! Kau sudah 32 tahun!" seru Joy setengah tertawa, gemas dengan kekakuan sahabatnya. "Lihat dirimu! Lihat bagaimana hubunganmu yang sepuluh tahun itu kacau balau! Kau bahkan tidak bisa membuat kekasihmu sendiri tunduk padamu!"
"Tapi mereka?" Julian kembali mengambil alih, memiringkan badannya mendekati Dominic.
"Mereka berbeda, Dom. Bisa kita lakukan apa saja sesuai kemauan kita. Kau ingin menikah bukan? Ingin merasakan bagaimana rasanya dilayani seperti seorang suami? Mereka siap menuruti setiap permintaanmu. Dan saat kau bosan? Kita boleh menggantinya kapan saja. Mereka terikat kontrak yang sangat rapi."
Dominic terdiam, tangannya mengepal di atas meja. Rasa frustrasi dan kemarahan pada Florence masih membakar dadanya, namun akal sehatnya mencoba menolak.
"Saranku... kau boleh mulai melihat koleksi Madam Choo malam ini," tambah Joy santai sambil menghembuskan asap cerutunya.
"Tidak. Kalian saja," pangkas Dominic tegas, menyandarkan punggungnya dengan lelah. "Aku sungguh takut penyakit. Tidak sepadan mempertaruhkan kesehatanku untuk hal-hal murahan seperti itu."
Joy tertawa terbahak-bahak mendengar alasan Dominic.
"Penyakit? Kau bercanda? Dom, mereka ini bukan wanita jalanan! Mereka hanya milikmu jika kau menyewanya. Mereka sudah dilatih, dididik dengan standar tinggi, dan unggulnya... mereka masih sangat sehat. Masih bersegel."
Deg.
Kalimat itu bergetar pelan di telinga Dominic. Sebuah jeda hening merayap di antara dentum musik bar yang memekakkan telinga.
"Kau tidak tertarik?" tanya Julian, mengamati perubahan raut wajah sahabatnya yang membeku.
Dominic menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya dengan dingin.
"Tidak. Aku tidak tertarik."
"Kau bisa menggunakan mereka untuk bercinta sepuasnya, Dom," tekan Julian lagi, menatap Dominic lurus-lurus. "Membayar kepuasan tanpa perlu menyetor perasaan yang akhirnya ditumpahkan ke tong sampah."
Lagi-lagi Dominic terdiam hebat.
Keheningan mencengkeram dirinya di tengah keramaian bar.
Kata-kata Florence tentang 'aturan murahan' dan 'bebas bersama siapa saja' seolah terus bergema, merobek sisa-sisa kesetiaan yang selama sepuluh tahun ini ia jaga setengah mati.
Dengan gerakan cepat dan sedikit frustrasi, Dominic meraih botol whisky di atas meja, mengucurkannya langsung ke gelas, dan meminumnya habis dalam sekali teguk.
Cairan pekat itu membakar tenggorokannya, menyebarkan rasa panas yang menjalar hingga ke dada.
Beberapa saat kemudian, kesadaran Dominic mulai samar oleh pekatnya alkohol.
Kepala pria itu terasa berat, bertumpu pada lengan kemejanya di atas meja bar. Tawa Julian dan Joy terdengar menjauh, menyatu dengan dentum musik yang tak bertepi.
Tiba-tiba, sebuah gesekan langkah kaki yang ragu mendekati area sofa VIP mereka.
Seorang gadis berdiri di sana.
Tubuhnya terbalut gaun malam minim bahan berwarna merah maroon yang sangat seksi—memamerkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Namun, alih-alih tampil percaya diri, gadis itu tampak sangat gelisah.
Tangannya berulang kali membetulkan gaun bagian atasnya yang terlalu rendah, sementara jemarinya yang lain meremas sebuah benda kecil.
"Tuan..." suara gadis itu terdengar canggung dan bergetar tipis di tengah bisingnya bar.
"Ponselmu tertinggal."
Dominic perlahan menegakkan tubuhnya.
Pria itu belum sepenuhnya melihat wajah gadis tersebut karena matanya yang masih terasa berat dan pandangannya yang mengabur. Ia hanya menangkap siluet gaun seksi dan nada suara yang tampak panik.
Dominic menyipitkan matanya tajam.
Ponsel?
Detik itu juga, Dominic tahu persis bahwa ia sama sekali tidak membawa ponsel pribadi ke bar. Semua barang pribadinya ada di dalam mobil bersama sopirnya.
Ciri khas modus wanita murahan yang ingin menarik perhatian di bar mewah, batin Dominic sinis.
Julian dan Joy yang duduk di samping Dominic langsung menyenggol lengan satu sama lain. Mereka tertawa kecil, menikmati pemandangan yang tersaji di depan mata.
"Lihat itu... ada yang mencoba peruntungan," bisik Julian pada Joy dengan kekeh geli.
"Dia melakukan modus pada orang yang sangat salah malam ini," balas Joy pelan. "Kira-kira apa Dominic akan langsung menamparnya atau mengusirnya?"
Namun, spekulasi kedua sahabatnya runtuh begitu saja.
Bukan emosi atau tamparan yang keluar dari Dominic.
Pria itu makin menyipitkan matanya, memajukan wajahnya sedikit untuk menembus temaram lampu amber yang menerpa wajah gadis di hadapannya.
Rambut cokelat sedikit bergelombang, mata bulat yang kini terbelalak lebar, dan raut wajah polos yang sangat bertolak belakang dengan pakaian serba terbuka yang melekat di tubuhnya.
Jantung Dominic berdesir samar.
Dominic mengenalnya.
Gadis di hadapannya ini sama sekali bukan wanita malam atau pengunjung bar pencari mangsa.
Dia adalah Ester Alba.
Gadis muda, mahasiswi berprestasi, sekaligus guru privat yang setiap sore mengajar keponakannya di kediaman utama keluarga Ashford.
Sementara itu, Ester yang baru saja mengumpulkan keberanian untuk mengangkat matanya, mendadak membeku total.
Seluruh darah di tubuhnya seolah terpompa keluar saat mengenali garis wajah tegas pria yang memandangnya dingin.
"Tuan... Dominic?" bisik Ester parau.
Wajahnya seketika pucat pasi.
Tangannya yang memegang ponsel—yang entah milik siapa yang ia temukan di lorong—bergetar hebat.
Dominic tak mengucap sepatah kata pun. Keheningan yang menakutkan mendadak melingkupi meja itu.
Tanpa peringatan, Dominic berdiri tegap.
Gerakannya tegas meski pengaruh alkohol masih tersisa di matanya.
Pria itu melepas jaket tuxedo hitam mewahnya dengan satu gerakan cepat, lalu tanpa ragu menyampirkannya ke bahu Ester—menutupi dadanya yang terbuka dan tubuhnya yang terekspos dari tatapan liar orang-orang di bar.
Aroma parfum maskulin khas kayu cendana milik Dominic seketika melingkupi tubuh Ester yang dingin.
"Ayo pulang," ucap Dominic singkat dan dingin.
Tanpa menunggu jawaban, tangan kekar Dominic meraih pergelangan tangan Ester, menggenggamnya erat, dan menarik gadis itu melangkah keluar dari area VIP.
Julian dan Joy melongo hebat.
Mereka saling bertatapan dengan mata membelalak, lalu meledak dalam tawa tak percaya.
"Astaga! Ditolak kekasihnya, langsung membawa pulang wanita seksi dalam hitungan detik?" seru Julian seraya geleng-geleng kepala.
"Pria itu benar-benar tidak sabar," timpal Joy sambil terkekeh nakal. "Katanya tidak tertarik pada koleksi Madam Choo, tapi begitu melihat yang seksi, langsung tancap gas menuju ranjang!"
Mereka berdua sepenuhnya salah paham. Mengira Dominic yang frustrasi akhirnya menyerah pada godaan malam dan melampiaskan kekecewaannya pada seorang gadis bar.
Namun Dominic tidak memedulikan tatapan atau pikiran kedua sahabatnya. Ia terus menuntun—hampir menyeret—langkah kaki Ester yang tergesa-gesa menyamai langkah lebarnya menyusuri lorong remang bar menuju pintu keluar.
...----------------...
Dominic Qiel Ashford
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
berasa sedikit bacanya 🤭
makasih Thor sudah up 🙏