Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umpan Yang Termakan
Siapa? Otakku langsung dipenuhi pertanyaan tentang laki-laki bertopeng itu.
Postur tubuhnya yang tinggi besar, bahu lebar yang tegap, serta cara geraknya saat menangkis serangan pertamaku terasa sangat terlatih.
Aku mengambil ponsel di saku dan menekan panggilan grup ke nomor Rijal dan Pak Baskoro.
Telepon tersambung.
"Halo? Maya?" suara Pak Baskoro terdengar pertama kali, parau khas orang terbangun dari tidur. "Ada apa, May? Ini sudah jam setengah satu malam. Ada masalah darurat?"
"Halo, May? Ada apa malam-malam begini?" suara Rijal menyusul, nada suaranya terdengar khawatir.
"Pak Baskoro, Rijal... maaf mengganggu malam-malam. Baru saja ada kejadian buruk di rumah ku," ucapku suara yang keluar dari mulutku terdengar bergetar "Ada orang asing bertopeng berusaha membobol pintu dapur belakang. Aku sempat terlibat kontak fisik sebelum pelakunya kabur."
"Apa?! Kamu terluka, May? Anak-anak bagaimana?!" tanya Pak Baskoro panik.
"Anak-anak aman di kamar bersama Bu Aminah, Pak. Saya cuma memar sedikit. Pisau pelaku sempat terjatuh sebelum kabur."
"Syukurlah kamu tidak apa-apa..." desah Rijal lega. "Tapi kenapa rumahmu disasar, ya? Apa ada hubungannya dengan pekerjaan kita?"
"Iya, Jal. Postur dan refleksnya seperti orang terlatih. Saya curiga jangan jangan ini suruhan seseorang yang tidak menyukaiku di kantor," jelas ku.
"Kalau begitu aku telepon polisi sekarang dan bawa petugas ke rumahmu," tegas Pak Baskoro.
"Jangan, Pak! Tolong jangan bawa polisi dulu," potongku cepat. "Kalau polisi datang malam-malam begini, anak-anak dan Bu Aminah bakal makin trauma dan panik. Saya juga tidak mau masalah ini heboh sebelum kita tahu siapa dalangnya."
Rijal mengangguk setuju dari seberang telepon. "Benar kata Maya, Pak Baskoro. Mending kita selidiki perlahan dulu."
Pak Baskoro menghela napas. "Baiklah, May. Besok pagi saya dan Rijal akan ke rumahmu dulu sebelum kita sama -sama berangkat ke kantor, untuk memeriksa keadaan pintu dapur dan membicarakan langkah selanjutnya." Ujar Pak Baskoro dari ponsel nya.
"Terima kasih banyak, Pak Baskoro, Rijal," ucapku tulus sebelum menyudahi panggilan.
"Iya Maya, sama -sama." Jawab mereka serempak, Telpon terputus.
Selesai menelpon, aku mengamankan pisau yang tertinggal ke tempat tinggi menggunakan kain lap, lalu mengganjal pintu dapur dengan kursi tebal. Tak lupa ku pasang dengan palang besi yang melintang. Setelah itu, aku melangkah pelan masuk kembali ke kamar tidur.
Cklek.
Begitu aku memutar kunci dan membuka pintu, Bu Aminah yang menunggu di dalam kamar langsung menghampiriku dengan raut cemas. Matanya menatapku penuh kepanikan, dadanya kembang-kempis menahan rasa takut.
"Gimana, May? Kamu tidak apa-apa, kan, Nak?" tanya Bu Aminah dengan suara berbisik yang gemetar, kedua tangannya yang dingin langsung memegang lengan atasku.
Aku tersenyum tipis seraya menggenggam balik jemari Bu Aminah untuk menyalurkan rasa tenang. "Maya tidak apa-apa, Bu. Pria bertopeng itu sudah kabur lewat pintu belakang setelah Maya lawan."
"Ya Allah... Ibu dari tadi di dalam kamar cuma bisa memeluk Siska sama Rian sambil berdoa," desah Bu Aminah lega, meski sorot matanya masih dipenuhi kecemasan. Beliau melirik ke arah pintu kamar. "Terus... pintu dapur gimana, May? Orang itu tidak bakal bisa masuk lagi, kan?"
"Pintunya sudah Maya kunci, diganjal kursi tebal, dan ditahan pakai palang besi dari dalam, Bu. Aku juga sudah telepon Pak Baskoro sama Rijal. Mereka minta kita tenang dulu malam ini, besok pagi baru mereka datang ke rumah untuk bantu urus semuanya," jelas ku pelan namun pasti.
Bu Aminah mengelus dadanya berulang kali, menghembuskan napas panjang. "Alhamdulillah... Ya sudah kalau begitu, Nak. Yang penting kamu selamat dan anak-anak tidak terbangun."
Aku naik ke atas tempat tidur, berbaring di sebelah Siska dan Rian, sementara Bu Aminah berbaring di sisi lainnya. Nyeri di sikuku tak sebanding dengan ramai pikiran yang terus menerka-nerka sosok di balik topeng hitam itu.
Tapi akhir nya aku bisa tertidur juga saat bangun Suara azan subuh yang bergema samar dari surau dekat rumah membuyarkan tidurku.
Di sisiku, Siska dan Rian masih tertidur amat lelap dengan napas yang teratur. Di ujung kasur, Bu Aminah sudah terbangun dan sedang melipat selimutnya dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara.
"Sudah bangun, May?" bisik Bu Aminah lembut saat mendapati mataku sudah terbuka.
"Sudah, Bu," jawabku berbisik.
Aku beranjak dari kasur, melangkah ke kamar mandi Dapur belakang yang menjadi saksi pertarungan semalam tampak begitu lengang. Kursi kayu tebal masih kokoh mengganjal pintu dapur. Di atas rak paling tinggi, kain serbet yang membungkus pisau milik pria bertopeng itu masih tersimpan aman, menjadi satu-satunya bukti fisik dari aksi nekat penyusup semalam.
Sambil menunggu hari makin terang, aku dan Bu Aminah mulai sibuk menyiapkan sarapan sederhana di dapur.
"May, nanti selesai ibu masak di sini Rian Ibu ajak ke rumah Ibu ya," ucap Bu Aminah seraya memotong sayuran di meja dapur. Kamu tidak usah cemas, Rian bakal Ibu jaga ketat di rumah, pintu depan dan belakang bakal Ibu kunci terus dari dalam."
Aku menatap wanita tua itu penuh rasa haru. "Terima kasih banyak ya, Bu... aku sangat terbantu. Nanti kalau Siska berangkat sekolah, Maya akan titip pesan ke Siska supaya langsung pulang ke rumah Bu Aminah nanti ada ojek langganan yang antar jemput nya Bu."
"Iya, May. Kamu fokus saja dengan urusan di kantor dan masalah semalam. Biar anak-anak jadi urusan Ibu," sahut Bu Aminah menenangkan.
Pukul tujuh pagi, suasana rumah mulai riuh khas pagi hari. Siska sudah rapi mengenakan seragam sekolahnya, sementara Rian yang baru terbangun sibuk mengucek mata sambil mencari es krim sisa semalam—yang langsung dilarang halus oleh Bu Aminah.
Setelah menyuapi anak-anak dan memastikan Siska siap berangkat sekolah, pendengaranku menangkap suara deru roda mobil yang berhenti tepat di halaman depan rumah.
Puk... Puk... Puk...
Suara ketukan pintu depan terdengar pelan namun teratur.
Aku dan Bu Aminah saling pandang sejenak. kemudian bergegas menuju pintu depan dan memutar kuncinya.
Begitu pintu terbuka, tampak sosok Pak Baskoro dengan kemeja rapinya berdiri di teras bersama Rijal yang menenteng sebuah tas dokumen tebal. Wajah kedua lelaki kepercayaan keluarga kami itu terlihat sangat serius.
"Selamat pagi, Maya," sapa Pak Baskoro pelan. Matanya langsung menyapu penampilanku dari ujung kepala sampai kaki, memastikan kondisiku. "Bagaimana keadaanmu dan anak-anak pagi ini?"
"Selamat pagi, Pak Baskoro, Rijal. Alhamdulillah kami semua aman," jawabku seraya mempersilakan mereka masuk. "Mari masuk dulu, Pak, Jal."
"Mbak Maya tidak apa-apa kan? Tidak ada luka serius ?" tanya Rijal dengan raut khawatir yang jelas terpancar di wajahnya saat kami berjalan menuju ruang tamu.
"Cuma memar sedikit di siku, Jal, tidak masalah," balasku menenangkan.
Bu Aminah menyambut mereka sebentar sebelum akhirnya membawa Rian ke ruang tengah. Begitu kami bertiga duduk di set kursi kayu ruang tamu, suasana mendadak berubah menjadi sangat serius.
"Maya, mana pisau yang kamu amankan semalam?" tanya Pak Baskoro membuka pembicaraan tanpa membuang waktu.
Aku beranjak sebentar ke dapur dan kembali membawa pisau dapur bernoda gesekan yang terbungkus rapi dengan kain serbet, lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kaca.
Pak Baskoro menggunakan kacamata minusnya dan memperhatikan bentuk pisau itu tanpa menyentuhnya langsung. Sementara Rijal mengamati pintu arah dapur dengan kening berkerut.
"Pintu dapur belakang benar-benar dirusak secara paksa," gumam Rijal. "Dan pisau ini... pisau komersial biasa yang dijual bebas, tapi cara penyusup itu memilih momen semalam benar-benar terencana."
"Bukan cuma terencana, Jal," potong Pak Baskoro dengan nada dingin. Beliau menatapku tajam. "Kejadian semalam terjadi tepat setelah Maya melakukan gertakan maut di ruang sidang kantor kemarin siang. Waktunya terlalu pas untuk sebuah kebetulan."
Aku mengangguk setuju, menyandarkan punggungku ke kursi. "Itu yang membuat saya yakin, Pak. Pertarungan kita di rapat kemarin sudah memicu kepanikan di lingkaran Prilia dan para kepala divisi."
"Maksud Mbak Maya... penyusup semalam ada hubungannya dengan Pak Pendi, Bu Rahma, atau PT Mahkota Jaya Utama itu?" tanya Rijal seraya memajukan posisi duduknya.
"Sangat mungkin, Rijal," jawab Pak Baskoro tegas. "Gertakan Maya soal pemblokiran rekening, audit mandiri, dan tuduhan soal dana ekspansi kemarin siang pasti membuat mereka panik setengah mati. Siapa pun yang mengendalikan PT Mahkota Jaya Utama merasa terancam bahwa Maya akan menemukan bukti aliran dana haram itu!"
Aku menggenggam erat tanganku mengingat kembali detail perkelahian semalam.
"Pria bertopeng semalam punya postur tegap, bahu lebar, dan teknik bela diri yang sangat terlatih. Dia bukan cuma mau barang biasa, Pak," kataku dengan suara menekan. "Dia mencari berkas, atau sengaja dikirim untuk menakut-nakuti agar aku mundur dari kepemimpinan CV Abadi Permai!"
Pak Baskoro mengelus dagunya, menatap pisau di atas meja dengan tatapan berserat tegang. "Mereka sudah mulai bermain fisik karena tahu gertakan hukum tidak akan mempan untuk menghentikan pewaris sah kakekmu.
Rijal membuka tas dokumennya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. "Mbak Maya, soal instruksi audit mandiri yang Mbak tetapkan kemarin siang... tenggang waktunya adalah pagi ini jam sembilan. Sebelum ke sini tadi, saya sempat mengecek email kantor. Beberapa kepala divisi sudah mulai mengirimkan laporan mereka dengan tergesa-gesa sejak tengah malam!"
Mata Pak Baskoro berbinar mendengarnya. "Nah! Umpan mu kemarin siang dimakan bulat-bulat oleh mereka, May!"
Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang penuh perhitungan.
"Bagus," kataku pelan namun tegas. "Siapa pun yang menyerahkan laporan paling berantakan dan panik pagi ini, dialah yang punya hubungan langsung dengan penyusup semalam dan aliran dana ke PT Mahkota Jaya Utama."
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇