NovelToon NovelToon
Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ziziyuuu

Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".

Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Hari pertama masuk kampus setelah libur satu minggu.

Kila pikir kampus akan sepi, tenang, cocok untuk healing. Nyatanya tidak. Sejak gerbang depan, kampus sudah riuh seperti pasar pagi. Spanduk HUT kampus yang akan dirayakan seminggu lagi tergantung di mana-mana, besar-besar. Mahasiswa berlalu-lalang membawa kardus, sound system cek sound, dan tumpukan proposal yang hampir setinggi Kila.

Termasuk dirinya yang jadi korban.

Kila dan beberapa mahasiswa di kelasnya ditunjuk menjadi panitia pelaksana HUT. Tidak bisa menolak. SK panitia turun seperti surat cinta yang tidak diinginkan.

"Kamu jadi panitia apa?"

Suara cempreng itu sudah sangat Kila hafal di luar kepala. Tanpa menoleh pun Kila tahu siapa pemiliknya.

Sahabatnya. Satu-satunya manusia yang berani mengacak-acak rambut Kila tanpa takut dibunuh, yaitu Elvano.

"Panitia seminar," jawab Kila. Suaranya lemas, seperti kerupuk kena hujan. Bahunya turun drastis.

Elvano mengernyit, memperhatikan wajah Kila. "Kenapa mukanya gitu? Kayak mau ujian skripsi padahal baru masuk. Lesu banget."

"Aku males banget ngurusin seminar, Van. Kamu tahu kan aku paling nggak suka acara duduk-diam-dengerin-orang-ngomong-ngantuk itu!? Bosenin," kata Kila dengan wajah memelas.

Elvano tertawa keras sampai ngakak, tidak ada simpati sama sekali. "Hahaha, udah sih terima nasib aja, bocil. Namanya juga mahasiswa, harus aktif."

"Yehh, resek banget deh lu." Kila memukul lengan atas Elvano. Tidak pelan, pakai tenaga.

"Aduh! Sakit tahu! Galak banget si bocil!" Elvano meringis sambil memegangi lengannya yang memerah, pura-pura kesakitan.

"Biarin, siapa suruh resek," Kila mendengus puas. "Oiya kamu jadi panitia apa emangnya? Sok ngatain Aku."

"Olahraga dong, jelas. Tempatnya cowok-cowok ganteng dan atletis," jawab Elvano dengan dagu terangkat tinggi, wajah sombong yang dibuat-buat sampai Kila pengen jitak.

"Sombong banget, padahal cuma bagian angkat-angkat kursi kan kamu tuh?"

"Hahaha, jangan ngambek gitu, nanti muka kamu tambah jelek loh kalo cemberut. Nggak ada yang mau jadi pacar kamu nanti," goda Elvano. Tangan jahilnya sudah mendarat lagi di kepala Kila, mengacak-acak rambutnya yang sudah rapi sejak pagi.

Kila menepisnya kesal dengan gerakan cepat. "Ihh apaan sih, jangan ngacak-ngacak rambut Aku mulu!" Saat itu juga ponselnya bergetar di saku roknya.

Pesan masuk di grup WA Panitia.

> _Diharapkan kepada semua panitia seminar untuk segera ke ruang rapat Lt.2 karena sebentar lagi akan diadakan rapat perdana. WAJIB HADIR._

Kila menghela napas panjang sampai paru-parunya kempes. "Belum apa-apa udah rapat aja. Nggak dikasih napas."

"Kenapa? Kamu ada rapat?" tanya Elvano.

"Iya nih, disuruh ke ruang rapat sekarang, rapat perdana katanya," kata Kila. Semangat yang tadinya sisa dua persen, kini sisa nol koma nol persen.

"Yaudah sana buruan, nanti kamu telat dimarahin ketuplak. Semangat ya bocil seminar!" kata Elvano sembari mendorong kecil tubuh Kila dari belakang.

Dengan langkah gontai seperti zombie, Kila berjalan ke ruang rapat. Sesampainya di sana, dia memilih duduk di kursi paling pojok, dekat jendela. Pojok adalah zona aman. Tempat di mana dia bisa tidak terlihat, bisa menghilang, bisa tidur-tiduran.

Tak lama, ketua panitia masuk dengan map tebal. Rapat pun dimulai. Agak membosankan di awal.

Tema seminar dilempar satu per satu. Ide-ide beterbangan, ada yang serius ada yang ngasal. Kila hanya mendengarkan setengah, setengahnya lagi melamun memikirkan tumpukan tugas yang belum disentuh dan jaket hitam yang belum dibalikin.

Sampai akhirnya satu tema disepakati. Tema tentang penguasaan ilmu, bukan sekadar peringkat dan IPK. Kila setuju. Tema itu bagus, dalam, tidak klise.

Lalu agenda selanjutnya yang paling krusial. Penentuan pembicara utama seminar.

Salah satu mahasiswa angkatan atas mengangkat tangan dengan semangat. "Bagaimana kalau Bapak dosen muda yang cerdas itu? Yang kemarin ngisi kuliah umum? Beliau sangat cocok dengan tema ini, pemikirannya keren banget."

Otak Kila langsung berdenging keras. Sinyal bahaya berbunyi.

_Jangan dia. Tolong jangan dia. Jangan sebut namanya._

Tapi terlambat. Nama itu sudah disebut serempak oleh semua orang di ruangan itu seperti paduan suara. Satu nama yang akhir-akhir ini terlalu sering muncul di dalam kepala Kila, di halte, di jaket hitam, di mimpi.

Pak Rhaegar. Bapak Dosen tampan itu.

"Bapak Rhaegar! Iya Pak Rhaegar cocok!"

Ketua panitia mengangguk-angguk puas. "Wah ide bagus. Beliau memang paling pas untuk tema ini. Baiklah karena tema dan pembicara sudah ditetapkan, selanjutnya kita akan membagi tugas. Tugas yang paling penting adalah melobi Pak Rhaegar agar mau menjadi pembicara untuk seminar kita ini. Ini tugas paling berat."

"Ok kak, siap!" jawab semua anggota panitia serentak dengan semangat.

Satu per satu nama dipanggil. Satu per satu mendapat tugas. Ada yang dapat panggung, ada yang dapat konsumsi, ada yang dapat perlengkapan.

Kila menunggu dengan jantung berdebar. Menunggu namanya disebut. Dari tadi namanya belum dipanggil.

Tapi tidak ada. Namanya tidak ada di daftar awal.

Jantungnya mulai tidak enak. Biasanya, kalau namanya tidak disebut di awal, berarti akan mendapat tugas yang paling merepotkan, yang paling tidak diinginkan orang, yang disisakan di akhir.

Dan benar saja. Firasatnya tidak pernah salah.

Ketua panitia tiba-tiba menunjuk ke arah pojok ruangan. Tepat ke arah Kila yang sedang mencoba mengecilkan tubuhnya agar tidak terlihat. Ke arah zona amannya yang ternyata tidak aman sama sekali.

"Untuk kamu, Kila. Kamu bertanggung jawab untuk melobi Pak Rhaegar agar mau menjadi pembicara di seminar kita. Kamu jadi koordinator seksi pembicara ya."

Dunia Kila berhenti. Detak jam dinding terdengar sangat keras.

"Aku, Kak?" Kila spontan menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk, matanya membulat tak percaya, suaranya meninggi. "Aku yang lobi Pak Rhaegar?"

"Iya kamu, Kila. Kamu bertanggung jawab ya untuk urusan pembicara. Soalnya kamu kan mahasiswi yang paling rajin dan paling sopan, jadi pasti Pak Rhaegar mau. Tolong ya, Kil, ini harapan kita semua," tegas ketua panitia dengan senyum manis yang memaksa.

_What? What the hell?_

Kila ingin berteriak di dalam hati sampai serak.

_Kenapa harus aku coba? Dari banyaknya manusia di ruangan ini, dari 20 orang panitia di sini, kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang berurusan lagi dengan Bapak Dosen sedingin kulkas tujuh pintu, sejutek itu, yang jaketnya masih belum Aku balikin?_

Jantungnya yang baru saja belajar tenang beberapa hari terakhir setelah drama keluarga, kini berdegup kencang lagi. Tidak terkendali. Lebih kencang dari waktu di halte. Bedanya, kali ini dia tidak bisa lari.

Dia harus menemui Pak Rhaegar. Lagi.

Dengan jaket hitam itu sebagai alasan... atau sebagai beban?

"Baiklah karena semua orang sudah mendapatkan tugas masing-masing, rapat hari ini sampai di sini dulu, saya harap semua bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan segera melaporkan kemajuan tugasnya secara berkala kepada saya langsung," kata ketua panitia menutup rapat hari itu dengan ketukan.

Ruangan mulai kosong. Mahasiswa lain keluar dengan wajah lega dan ngobrol.

Kila masih duduk di pojokan. Menatap kosong ke depan, memegang ponselnya erat. Di layar ponselnya ada foto jaket hitam itu yang tadi pagi dia foto mau dikembalikan.

---

1
Rini Hanindya Salma Nurazizah
bagus
Linda Natalia
lanjut kak,crita nya bagus
Rian Moontero
mampiiirr😍👍
Wien Ibunya Fathur
ceritanya lumayan seru...
ayok ada dibaca🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!