**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**
Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.
Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.
Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.
"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan di Bawah Malam
Malam itu, Keiran duduk sendirian di kamarnya. Sejak pulang sekolah, pikirannya terus dipenuhi oleh kejadian beberapa hari terakhir. Perkataan Fio masih teringat jelas, begitu pula ekspresi Hikari ketika dirinya membentak gadis itu.
Dia sudah berulang kali mencoba mengabaikannya, tetapi semakin berusaha melupakan, semakin sulit pula pikirannya beralih ke hal lain.
Keiran mengambil ponsel dari atas meja. Dia membuka daftar kontak, lalu berhenti pada satu nama yang baru saja ditambahkannya sore tadi.
Nomor Hikari.
Awalnya, dia sempat ragu untuk meminta nomor tersebut. Namun, setelah cukup lama berpikir, Keiran akhirnya meminta bantuan Rian untuk mendapatkannya melalui Neta. Rian sempat heran, tetapi tidak banyak bertanya.
Keiran membuka ruang percakapan itu. Jarinya sempat terdiam di atas layar sebelum akhirnya mulai mengetik.
Keiran:Kamu bisa ketemu aku malam ini?
Dia membaca ulang pesannya, kemudian mengirimkannya.
Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar.
Hikari:Di mana?
Keiran: Di taman waktu itu.
Keiran:Jam 20.15
Keiran meletakkan ponselnya setelah mengirim pesan terakhir. Dia tidak tahu apakah Hikari akan datang atau justru menolak ajakannya. Namun, setidaknya kali ini dia sudah mencoba melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan.
Sementara itu, di rumahnya, Hikari sedang duduk di ruang keluarga ketika pesan dari nomor yang belum tersimpan masuk. Awalnya dia tidak mengenali pengirimnya. Namun, setelah membaca balasannya, dia langsung tahu siapa orang yang menghubunginya.
Keiran.
Hikari terdiam beberapa saat. Dia membaca pesan itu sekali lagi, memastikan bahwa dirinya tidak salah mengenali nama tersebut.
Ada banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. Mengapa Keiran tiba-tiba mengajaknya bertemu? Apakah ada sesuatu yang ingin dibicarakan? Atau justru ada hal lain yang belum dia ketahui?
Hikari sempat ingin membalas bahwa dirinya tidak bisa datang. Namun, pada akhirnya dia menghapus kalimat tersebut dan hanya mengirimkan jawaban singkat.
Hikari: Iya, aku datang
Setelah itu, Hikari segera naik ke kamar untuk bersiap.
Pukul 20.10, Hikari sudah meninggalkan rumah. Dia berjalan menuju taman kecil yang berada tidak jauh dari kawasan perumahannya. Udara malam terasa cukup sejuk, sementara beberapa lampu taman menerangi jalan setapak yang mulai sepi.
Sesekali Hikari melihat layar ponselnya untuk memastikan waktu.
Pukul 20.15.
Ketika tiba di taman, pandangannya langsung tertuju pada seseorang yang sedang berdiri tidak jauh dari bangku panjang.
Keiran.
Laki-laki itu mengenakan kaus berwarna gelap dengan celana panjang sederhana. Kedua tangannya berada di saku celana, sementara pandangannya tertuju pada jalan masuk taman.
Hikari sempat berhenti beberapa langkah. Ada perasaan gugup yang tiba-tiba muncul, membuatnya membutuhkan waktu sebentar sebelum akhirnya berjalan mendekat.
Keiran yang menyadari kedatangannya langsung mengangkat kepala. Dia kemudian berdiri tegak dan mengeluarkan kedua tangannya dari saku.
"Hai," sapa Hikari pelan.
Keiran tidak langsung menjawab. Dia hanya memperhatikan gadis yang kini berdiri beberapa langkah di hadapannya.
Untuk beberapa saat, keduanya terdiam.
Hikari sedikit kebingungan dengan suasana canggung yang tercipta. Dia tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, terlebih setelah beberapa hari terakhir Keiran selalu menjaga jarak darinya.
"Kamu mau ngomong apa?" tanyanya akhirnya.
Keiran menarik napas panjang.
"Aku mau minta maaf."
Hikari terdiam.
Keiran menundukkan wajah sebentar sebelum kembali menatapnya.
"Soal sikap aku kemarin. Aku tahu aku keterlaluan."
Hikari tidak segera menjawab. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana Keiran membentaknya di koridor sekolah. Saat itu, dia benar-benar tidak mengerti apa kesalahannya hingga harus menerima perkataan seperti itu.
"Aku nggak seharusnya ngomong begitu sama kamu," lanjut Keiran. "Kamu nggak salah apa-apa."
Hikari menunduk sebentar.
"Aku pikir kamu memang nggak mau aku deketin lagi."
Keiran terdiam mendengar perkataan itu.
Sebelum Hikari sempat mengatakan sesuatu lagi, Keiran melangkah mendekat. Tanpa banyak kata, dia menarik Hikari ke dalam pelukannya.
Hikari membeku.
Kedua matanya membesar karena terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Keiran akan melakukan hal seperti itu. Tubuhnya tetap diam, kedua tangannya menggantung di sisi tubuh, sementara wajahnya berada dekat dengan bahu laki-laki tersebut.
Keiran memeluknya cukup erat, seolah sedang berusaha menyampaikan sesuatu yang sulit diungkapkan melalui kata-kata.
"Maaf," ucapnya pelan.
Hikari tidak menjawab.
Dia bahkan belum mampu memahami apa yang sedang terjadi. Selama ini, Keiran selalu menjaga jarak darinya. Laki-laki itu juga bukan seseorang yang mudah menunjukkan perasaan. Namun, malam ini, dia justru datang dan memeluknya tanpa diduga.
Beberapa saat kemudian, Keiran perlahan melepaskan pelukannya.
Dia menatap Hikari yang masih terlihat kebingungan. Gadis itu mengangkat wajah, mempertemukan pandangan mereka.
"Kamu marah sama aku?" tanya Keiran.
Hikari menggeleng pelan.
"Enggak."
"Yakin?"
"Aku cuma bingung."
Keiran mengangguk kecil. Dia memahami bahwa sikapnya malam ini pasti terasa mendadak bagi Hikari.
"Aku memang lagi banyak masalah," katanya. "Tapi itu bukan alasan buat aku bersikap buruk sama kamu."
Hikari memperhatikan wajahnya. Ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Keiran malam itu. Tidak sedingin biasanya, juga tidak menunjukkan keinginan untuk mengakhiri pembicaraan secepat mungkin.
"Aku nggak tahu apa yang sedang kamu hadapi," ujar Hikari. "Tapi kalau memang kamu nggak mau cerita, aku juga nggak akan memaksa."
Keiran terdiam.
Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa sesak. Hikari tidak menuntut penjelasan apa pun. Gadis itu bahkan masih bersedia datang meskipun sebelumnya sudah diperlakukan dengan buruk olehnya.
Keiran mengalihkan pandangan sebentar, kemudian kembali menatap Hikari.
"Ada satu hal lagi yang mau aku bilang."
"Apa?"
Keiran menarik napas dalam-dalam. Dia tahu dirinya tidak bisa terus menghindari perasaan yang selama ini berusaha disangkalnya.
"Aku suka sama kamu, Hikari."
Hikari langsung terdiam.
Matanya sedikit membesar. Dia sempat mengira dirinya salah mendengar, tetapi ekspresi Keiran menunjukkan bahwa laki-laki itu benar-benar mengatakan sesuatu yang selama ini tidak pernah terbayangkan olehnya.
"Aku nggak tahu sejak kapan," lanjut Keiran. "Awalnya aku cuma merasa kamu terlalu sering muncul di sekitar aku. Tapi lama-lama, aku malah terbiasa sama kehadiran kamu."
Keiran berhenti sejenak.
"Dan waktu kamu mulai menjauh, aku baru sadar kalau aku ternyata nggak suka keadaan itu."
Hikari menundukkan wajah. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Dia sudah lama merasakan sesuatu yang berbeda setiap kali berada di dekat Keiran. Awalnya, semua itu hanya rasa penasaran karena laki-laki tersebut mengingatkannya pada seseorang yang pernah dia kenal. Namun, seiring berjalannya waktu, perasaan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.
Dia menyukai cara Keiran memperhatikan hal-hal kecil, meskipun laki-laki itu jarang mengatakannya secara langsung. Dia juga menyukai kehadirannya, bahkan ketika Keiran hanya diam tanpa banyak bicara.
Dan sekarang, orang yang selama ini membuatnya kebingungan justru sedang mengungkapkan perasaan yang sama.
"Kenapa diam?" tanya Keiran pelan.
Hikari mengangkat wajah. Dia mencoba menyusun kata-kata, tetapi senyum kecil justru muncul di bibirnya.
"Aku juga suka sama kamu."
Keiran terdiam.
Kali ini, giliran dirinya yang terlihat terkejut.
Hikari sedikit menunduk karena merasa malu, tetapi dia tetap melanjutkan ucapannya.
"Awalnya aku cuma penasaran sama kamu. Tapi sekarang... aku juga nggak tahu sejak kapan perasaanku berubah."
Keiran memperhatikan gadis itu tanpa menyela.
"Aku sempat berpikir mungkin lebih baik kalau aku berhenti mendekati kamu. Tapi ternyata, aku juga nggak bisa begitu saja berhenti menyukai kamu."
Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Keiran terlihat lebih tenang.
Dia tidak menyangka Hikari akan membalas perasaannya. Bahkan setelah semua sikap buruk yang telah ditunjukkannya, gadis itu masih menyimpan perasaan yang sama.
Keiran mengembuskan napas pelan.
"Jadi, kita sama-sama suka?"
Hikari mengangguk kecil.
Keiran tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali terlihat di wajahnya, membuat Hikari tanpa sadar ikut tersenyum.
Mereka kemudian duduk di bangku taman. Tidak ada pembicaraan yang terlalu panjang setelah pengakuan itu. Sesekali Keiran bertanya tentang kegiatan sekolah, sementara Hikari menceritakan beberapa hal yang terjadi selama beberapa hari terakhir.
Malam terasa lebih tenang daripada biasanya.
Namun, di balik kebahagiaan kecil yang baru saja mereka temukan, masih ada sesuatu yang belum selesai dalam kehidupan Keiran. Panggilan telepon yang mengubah sikapnya, seseorang dari masa lalu yang kembali mengusik pikirannya, serta penyesalan yang selama ini belum benar-benar hilang.
Hikari belum mengetahui semua itu.
Dan Keiran pun belum siap menceritakannya.
Untuk malam ini, dia hanya ingin menikmati waktu bersama gadis yang ternyata juga menyimpan perasaan untuknya.