Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Rangga mulai kehilangan kesabarannya. Sudah beberapa hari Jingga meninggalkan rumah, tetapi perempuan itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan kembali. Teleponnya tidak dijawab, pesannya hanya berakhir tanpa balasan, sementara ancaman perceraian yang semula dianggapnya sebagai gertakan kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang mengusik pikirannya.
Sebenarnya bukan karena ia takut kehilangan Jingga sebagai perempuan yang dicintainya. Jauh di dalam hati, Rangga bahkan belum pernah benar-benar menempatkan Jingga sebagai seseorang yang ingin ia perjuangkan. Yang membuatnya gelisah adalah kenyataan bahwa istrinya berani mengambil keputusan tanpa menunggu persetujuannya.
“Masih memikirkan Jingga?”
Suara Dira terdengar dari ambang pintu ruang kerja. Perempuan itu membawa secangkir kopi, mengenakan pakaian rumah yang sederhana, dengan rambut tergerai melewati bahunya. Wajahnya masih menyimpan kesedihan sejak kepergian Tara tiga bulan lalu, tetapi di balik tatapan sendunya, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa dibaca Rangga.
“Dia sengaja membuatku kesal,” jawab Rangga tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. “Dia pikir bisa hidup sendiri, lalu mengancam akan menceraikanku begitu saja.”
Dira meletakkan kopi di meja. “Kalau memang dia sudah tidak bahagia, mungkin sebaiknya kamu membiarkannya pergi.”
Rangga mendongak. “Kau ingin aku bercerai?”
“Aku hanya tidak ingin kamu terus-menerus marah karena perempuan yang bahkan tidak mau pulang lagi kesini.” Dira tersenyum tipis, seolah perkataannya semata-mata bentuk kepedulian. “Bukankah selama ini kamu juga tidak pernah benar-benar bahagia dengannya?”
Kalimat itu menyentuh bagian diri Rangga yang paling ingin ia sembunyikan. Dira tahu bagaimana cara membuatnya merasa dipahami, sebab sejak dahulu perempuan itu selalu menjadi tempat bagi perasaan yang tidak pernah berani ia ungkapkan secara terbuka.
“Setidaknya dia istriku,” gumam Rangga.
Dira menunduk sebentar, menyembunyikan senyum samar di sudut bibirnya. Ia tidak pernah meminta Rangga menceraikan Jingga secara langsung, tidak pula menjanjikan akan menggantikan posisi perempuan itu.
Ia hanya perlu menyisipkan kalimat-kalimat kecil yang membuat Rangga kembali berharap, kemudian menarik diri tepat ketika lelaki itu merasa sudah cukup dekat untuk meraih sesuatu yang selama ini diinginkannya.
“Benar, dia istrimu. Aku tidak seharusnya ikut campur...“ jawab Dira lembut.
Ia berbalik meninggalkan ruangan, tetapi sengaja memperlambat langkah ketika melewati pintu. Rangga memperhatikannya sampai sosok itu menghilang dari pandangan. Perasaan yang masih tumbuh di dadanya untuk Dira kembali terusik, perasaan lama yang seharusnya sudah ia kubur ketika Dira memilih Tara sebagai suaminya.
Malam itu, Bu Farah pergi ke rumah seorang kerabat yang sedang sakit. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada Rangga agar mengawasi Dira dan Varel. Rangga hanya mengangguk tanpa benar-benar mendengarkan, sementara Dira menyambut pesan itu dengan senyum manis yang membuat Bu Farah merasa tenang.
Setelah rumah menjadi lebih sepi, Dira meminta Rangga membantunya mengambil sebuah kotak dari lemari penyimpanan di ruang keluarga. Katanya, kotak itu berisi beberapa barang milik Tara yang ingin ia rapikan. Rangga sempat menolak karena sedang sibuk, tetapi Dira menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tahu seharusnya sudah bisa menerima kepergian Mas Tara. Tapi ada malam-malam ketika aku merasa tidak sanggup sendirian.”
Rangga akhirnya mengikuti Dira. Ketika kotak itu berhasil diturunkan, beberapa barang di dalamnya berhamburan ke lantai. Dira berjongkok untuk memungutnya, lalu kehilangan keseimbangan saat tangannya meraih sebuah bingkai foto. Rangga refleks menangkap lengannya.
Untuk beberapa detik, jarak di antara mereka terlalu dekat.
“Makasih,” bisik Dira.
Wanita itu tidak segera melepaskan tangannya dari lengan Rangga. Sebaliknya, jemarinya perlahan berpindah, menyentuh tangan lelaki itu seolah baru menyadari kedekatan mereka. Kemudian Dira menarik diri, memasang wajah terkejut dan salah tingkah.
“Maaf, aku hanya sedang tidak baik-baik saja.”
Rangga seharusnya mundur. Ia seharusnya mengingat bahwa perempuan di hadapannya adalah istri mendiang kakaknya, seseorang yang sedang berduka dan membutuhkan dukungan, bukan kesempatan untuk memenuhi hasrat yang selama ini dipendamnya. Namun, Dira menatapnya dengan cara yang membuat batas-batas itu terasa kabur.
“Aku tahu kamu selalu ada untukku,” kata wanita itu dengan tatapan lembut saat memandang Rangga.
Perkataan Dira akhirnya menjadi pembenaran yang dicari Rangga. Ia meyakinkan dirinya bahwa Dira juga membutuhkan kehadirannya, bahwa kedekatan mereka bukan semata-mata keinginannya sendiri. Ia mengabaikan kenyataan bahwa Dira tidak pernah mengatakan mencintainya, tidak pernah memintanya meninggalkan Jingga, dan tidak pernah menjanjikan masa depan bersama.
Dira melangkah mendekat sekali lagi. Kali ini, tidak ada kotak yang jatuh atau gerakan yang bisa dianggap kebetulan. Tangannya menyentuh bahu Rangga, lalu berhenti di sana. Ia membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka, memberi Rangga kesempatan untuk memilih.
Dan Rangga memilih untuk tidak menjauh.
Ketika Dira menatap bibirnya sesaat sebelum kembali mengangkat wajah, Rangga akhirnya kehilangan kendali atas alasan-alasan yang selama ini ia gunakan untuk menjaga jarak. Ia mencium Dira, dan perempuan itu membalasnya setelah jeda singkat yang membuat keputusan tersebut terasa semakin nyata.
Ciuman itu bukan lagi kecelakaan. Tidak ada salah paham yang bisa mereka jadikan alasan, tidak ada keadaan mendesak yang memaksa mereka melewati batas. Ketika Rangga merengkuh Dira dan perempuan itu membiarkan dirinya tetap berada dalam pelukannya, keduanya sadar bahwa mereka sedang mengkhianati seseorang.
Malam terus berjalan. Pintu kamar Dira tertutup, sementara rumah yang mereka tinggali tetap sunyi. Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi di balik pintu itu. Bu Farah masih berada di rumah kerabatnya, Varel sudah tertidur, dan dunia di luar kamar mereka berjalan seolah tidak ada sesuatu yang berubah.
Namun, ada batas yang telah mereka hancurkan bersama.
Beberapa waktu kemudian, Rangga duduk di tepi ranjang dengan wajah tegang. Dira berdiri di dekat jendela, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada pengakuan cinta, bahkan tidak ada kepastian mengenai apa yang baru saja mereka lakukan.
“Dira, kita tidak seharusnya melakukan ini,” ujar Rangga akhirnya, iya mengusap wajahnya dengan kasar.
Sesaat, wajah Dira kehilangan ketenangan yang sejak tadi ia pertahankan saat mendengar ucapan Rangga.
“Kamu yang mendekatiku,” jawab wanita itu pelan.
Rangga menatap Dira dengan terkejut, seolah baru menyadari betapa mudahnya ia terjerat oleh harapan yang diciptakannya sendiri. “Kau juga membalasnya.”
“Aku sedang kesepian...” Dira mengusap sudut matanya. “Sejak Mas Tara meninggal, semuanya terasa berbeda.”
Kata-kats Dira terdengar seperti pengakuan dari seorang perempuan yang rapuh. Namun, jauh di dalam dirinya, Dira tahu kesedihan bukan satu-satunya alasan ia membiarkan kejadian itu berlangsung. Ada bagian dirinya yang menikmati kenyataan bahwa Rangga masih menginginkannya, bahwa ia masih memiliki kuasa atas lelaki yang sejak dulu menyimpan perasaan untuknya.
Ia tidak berniat memberikan seluruh hidupnya kepada Rangga. Ia hanya tidak ingin kehilangan tempat istimewa yang selama ini dimilikinya dalam hati lelaki itu.
“Apa ini berarti kau juga memiliki perasaan yang sama?” tanya Rangga.
Dira justru memalingkan wajah, membiarkan Rangga menafsirkan keheningannya sebagai harapan. “Aku tidak tahu apa yang kurasakan sekarang, jangan memaksaku memikirkan semuanya malam ini.”
Rangga mengangguk, meski jawaban itu tidak memberinya kepastian apa pun. Ia memilih mempercayai kemungkinan yang paling ingin didengarnya, sementara Dira kembali menyembunyikan isi hatinya di balik kesedihan.
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu