NovelToon NovelToon
Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Isti arisandi

Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.

Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.



Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Mikha berpegangan pada tepi wastafel ketika rasa mual kembali menyerang. Tubuhnya terasa lemas, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Ia menatap pantulan wajahnya di cermin.

Pucat. Matanya sembap, dan bibirnya terlihat kering.

Sejak pagi, ia memang hampir tidak menyentuh makanan. Bukan karena tidak ingin makan, melainkan karena setiap kali mengingat pengkhianatan Pras dan Alena, perutnya langsung terasa bergejolak.

Namun, ada satu hal yang membuatnya jauh lebih takut daripada rasa mual itu sendiri.

Kehamilannya.

Ia belum siap memberi tahu siapa pun, terutama Pras.

Bagaimana mungkin ia mengabarkan kehamilan ini kepada lelaki yang sedang merencanakan pernikahan dengan perempuan lain? Bagaimana jika Pras justru menganggap anak yang dikandungnya sebagai penghalang bagi kebahagiaannya bersama Alena?

Mikha tidak sanggup membayangkan kemungkinan itu.

Ia mengusap bibirnya, lalu berkumur sebelum membasuh wajah dengan air dingin.

"Tenang, Mikha. Kamu harus kuat," bisiknya kepada diri sendiri.

Ia tidak boleh lengah.

Belum sekarang.

Setelah merasa sedikit lebih baik, Mikha keluar dari kamar mandi. Pras yang masih duduk di tepi ranjang langsung menoleh ke arahnya.

"Kamu kenapa, Sayang? Mas dengar kamu muntah lagi."

Mikha memaksakan senyum. "Enggak apa-apa, Mas. Mungkin tadi aku terlalu kenyang."

Pras mengernyit.

"Terlalu kenyang bagaimana? Bukannya kamu dari tadi belum makan banyak?"

Mikha terdiam sesaat. Ia tidak menyangka Pras masih memperhatikan hal sekecil itu.

Atau mungkin lelaki itu hanya sedang menjalankan perannya sebagai suami yang baik.

Peran yang begitu pandai dimainkan hingga orang lain tidak akan pernah menyangka bahwa di balik sikap perhatiannya, ada kebohongan besar yang sedang disembunyikan.

"Aku cuma kurang enak badan. Nanti juga sembuh sendiri."

Pras bangkit, lalu menghampirinya. Punggung tangannya menyentuh dahi Mikha.

"Enggak demam, sih. Tapi wajah kamu pucat sekali."

Mikha segera memalingkan wajah.

"Mas, aku mau tidur. Kepalaku agak pusing."

Pras mengangguk, kemudian membantunya berbaring.

"Ya sudah, istirahat saja. Besok kalau masih begini, kita ke dokter."

Mikha hanya mengangguk kecil.

Dalam hati, ia berharap besok tidak ada seorang pun yang memaksanya pergi ke dokter. Ia belum tahu harus berbuat apa jika kehamilannya diketahui sebelum ia menemukan cara untuk menghadapi Pras.

Keesokan paginya, Mikha terpaksa turun ke ruang makan meskipun tubuhnya masih terasa lemas.

Mama mertuanya sudah duduk di sana. Perempuan paruh baya itu sedang menikmati sarapan ketika melihat Mikha berjalan perlahan sambil memegangi pinggangnya.

"Mikha, sini, Nak. Kamu kenapa? Kok kelihatannya pucat sekali?"

Mikha tersenyum kecil, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengannya.

"Enggak apa-apa, Ma. Cuma kurang tidur."

Mama mertuanya meletakkan sendok.

"Kurang tidur sampai wajahmu sepucat itu? Semalam Mama juga dengar kamu muntah. Sekarang masih mual?"

Jantung Mikha berdegup lebih cepat.

Ia menyayangi Mama mertuanya. Selama ini, perempuan itu selalu memperlakukannya dengan baik, bahkan ketika rumah tangganya dengan Pras mulai terasa renggang.

Justru karena itulah Mikha tidak ingin membuat perempuan tersebut khawatir.

Apalagi jika sampai harus mengatakan bahwa dirinya sedang mengandung anak Pras, sementara pernikahan mereka mungkin tidak akan bertahan lama.

"Sudah agak mendingan, Ma."

"Kalau begitu, nanti Mama ajak kamu periksa, ya."

Mikha langsung mengangkat wajah.

"Enggak usah, Ma. Aku benar-benar baik-baik saja."

"Jangan keras kepala. Sakit itu jangan disepelekan. Kalau memang cuma masuk angin, kita bisa tahu setelah diperiksa. Kalau ada yang lain, bisa segera ditangani."

Mikha meremas ujung bajunya di bawah meja.

Ia tidak bisa membiarkan dirinya diperiksa begitu saja. Terlebih, ia belum melakukan pemeriksaan kehamilan secara resmi. Jika dokter menemukan sesuatu, ia harus menghadapi pertanyaan yang belum siap dijawabnya.

"Ma, nanti saja, ya? Aku mau istirahat dulu. Mungkin setelah makan dan minum obat, aku akan lebih baik."

Mama mertuanya menatapnya lekat-lekat.

Ada sesuatu dalam sikap Mikha yang terasa berbeda. Menantunya itu biasanya tidak pernah menolak jika dirinya menawarkan bantuan.

"Ya sudah. Tapi Mama mau bicara dengan Pras."

Mikha sontak menegang.

"Untuk apa, Ma?"

"Untuk menyuruh suamimu memperhatikan kamu. Masa istrinya sakit begini, dia tidak tahu?"

Ucapan itu membuat dada Mikha terasa sesak.

Pras tahu dirinya sakit. Bahkan, lelaki itu sempat menduga bahwa ia sedang hamil.

Namun, Mikha tidak mungkin mengatakannya kepada Mama mertuanya.

"Jangan, Ma. Pras sudah tahu kok."

Mama mertuanya menggeleng pelan.

"Kalau sudah tahu, seharusnya dia mengajakmu periksa. Mama tidak mau kamu kenapa-kenapa."

Mikha hanya bisa menunduk.

Di tengah semua kebohongan yang sedang dibangunnya, perhatian tulus dari perempuan itu justru membuat hatinya semakin sakit.

Ia ingin sekali bercerita.

Ingin menangis di pelukan Mama mertuanya dan mengungkapkan bahwa rumah tangganya sedang berada di ambang kehancuran.

Namun, ia takut.

Takut Mama mertuanya ikut terluka. Takut perempuan itu membela Pras. Dan yang paling ia takutkan, jangan sampai kehamilannya justru menjadi alasan bagi Pras untuk mempertahankannya hanya demi kepentingan lelaki itu sendiri.

Siang harinya, Pras pulang lebih awal karena ada beberapa berkas yang harus diperiksanya di rumah.

Ketika memasuki ruang makan, ia melihat Mikha sedang duduk di depan sepiring nasi yang hampir tidak tersentuh.

"Mikha, kamu belum makan?"

Mikha mendongak. "Sudah, Mas."

Pras melirik piringnya.

"Ini masih penuh."

"Aku sudah makan tadi."

Pras menarik kursi di sampingnya, lalu duduk.

"Sayang, lihat Mas."

Mikha terpaksa menoleh.

"Kamu benar-benar baik-baik saja?"

"Iya."

"Enggak mual lagi?"

Mikha menggeleng.

"Enggak."

"Enggak pusing?"

"Enggak, Mas."

Pras mengembuskan napas panjang. "Kalau begitu, kenapa dari kemarin kamu seperti orang sakit? Mama sampai bilang ke Mas kalau kamu harus diperiksa."

Mikha menunduk, memainkan sendoknya.

"Aku cuma kecapekan."

"Kalau memang kecapekan, kamu harus makan. Jangan sampai sakit."

Kalimat itu terdengar begitu perhatian.

Seandainya Mikha tidak mengetahui apa yang dilakukan Pras di belakangnya, mungkin ia akan merasa beruntung memiliki suami seperti lelaki itu.

Sayangnya, kini setiap perhatian Pras justru membuatnya bertanya-tanya.

Apakah lelaki itu benar-benar peduli kepadanya?

Atau hanya tidak ingin sesuatu terjadi pada istrinya sebelum semua urusannya dengan Alena selesai?

"Mas," panggil Mikha tiba-tiba.

"Hm?"

"Kalau seorang istri enggak bisa memberikan apa yang diinginkan suaminya, menurut Mas, apa yang seharusnya dilakukan?"

Pras mengerutkan kening.

"Maksud kamu apa?"

Mikha menarik napas pelan. Ia sudah memikirkan pertanyaan itu sejak semalam, tetapi baru sekarang memiliki keberanian untuk mengucapkannya.

"Misalnya, kalau seorang istri enggak bisa hamil."

Pras terdiam.

Mikha menatapnya dengan mata yang tampak tenang, meskipun hatinya sedang bergejolak.

"Kalau ternyata istri itu mandul, apa suaminya berhak mencari perempuan lain?"

Wajah Pras berubah.

"Mikha, kenapa tiba-tiba kamu bertanya begitu?"

"Aku cuma ingin tahu."

"Ya, tapi pertanyaan kamu aneh."

Mikha tersenyum tipis.

"Aneh, ya? Padahal menurutku itu pertanyaan yang wajar. Banyak pasangan yang akhirnya berpisah karena tidak bisa punya anak."

Pras tidak langsung menjawab.

Mikha melanjutkan, suaranya terdengar semakin pelan.

"Kalau kamu berada di posisi suami itu, apa kamu akan tetap bertahan dengan istrimu? Atau mencari perempuan lain yang bisa memberimu keturunan?"

Pras menatapnya tajam.

"Mikha, kamu sedang menyindir Mas?"

"Kenapa Mas berpikir begitu?"

"Karena dari tadi kamu terus membicarakan soal istri yang tidak bisa hamil."

Mikha menunduk, lalu mengusap perutnya yang masih terasa tidak nyaman.

"Karena aku ingin tahu, Mas. Seberapa besar arti seorang istri bagi suaminya. Apa dia hanya berharga selama bisa memenuhi semua keinginan suaminya?"

Pras terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia seperti kehilangan kata-kata di hadapan istrinya sendiri.

Mikha mengangkat wajah. Senyumnya masih ada, tetapi sorot matanya terasa berbeda.

"Kalau aku tidak bisa hamil, apa Mas akan mencarikan pengganti untukku?"

Pertanyaan itu menghantam Pras tepat di tempat yang paling tidak ingin disentuhnya.

Ia tahu ada sesuatu yang sedang terjadi pada Mikha. Perubahan sikap istrinya sejak beberapa hari terakhir terlalu jelas untuk diabaikan.

Namun, ia tidak pernah menyangka Mikha akan mengajukan pertanyaan seperti itu.

"Siapa yang bilang kamu tidak bisa hamil?" Pras akhirnya menjawab. "Kamu belum pernah diperiksa, kan?"

Mikha menggeleng.

"Belum."

"Kalau begitu, jangan bicara sembarangan. Kita tidak tahu apa-apa."

Mikha mengangguk pelan.

"Benar. Kita memang belum tahu apa-apa."

Ia sengaja membiarkan kalimat itu menggantung di udara.

Pras mengusap wajahnya, terlihat semakin gelisah.

"Mikha, dengarkan Mas. Apa pun yang terjadi, kamu tetap istriku."

Lagi-lagi, kalimat itu.

Kamu tetap istriku.

Mikha hampir tertawa, tetapi yang keluar dari bibirnya justru senyum kecil yang terasa pahit.

"Benarkah, Mas?"

"Tentu saja."

"Kalau begitu, Mas tidak akan pernah mencari perempuan lain meskipun aku tidak bisa memberikan keturunan?"

Pras membeku.

Untuk sesaat, wajah Alena melintas dalam pikirannya.

Perempuan yang telah dijanjikannya masa depan. Perempuan yang ingin dinikahinya setelah urusannya dengan Mikha selesai.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti dirinya akan terjebak dalam pertanyaan seperti ini, terlebih dari mulut istrinya sendiri.

"Apa sebenarnya yang kamu inginkan, Mikha?" tanyanya, mulai kehilangan kesabaran. "Mas sudah bilang kamu tetap istri Mas. Kenapa kamu terus mempertanyakan hal yang sama?"

Mikha menatapnya lekat-lekat.

Karena aku tahu kamu sudah menyiapkan penggantiku, Mas.

Karena aku tahu kamu menjanjikan pernikahan kepada perempuan lain ketika aku masih percaya bahwa rumah tangga kita baik-baik saja.

Karena aku sedang mengandung anakmu, sementara kamu bahkan tidak tahu apakah masih menginginkan keluarga ini.

Namun, tak satu pun kalimat itu keluar dari mulutnya.

Mikha hanya menggeleng pelan.

"Enggak ada, Mas. Aku cuma ingin tahu apakah aku masih punya tempat di hati suamiku."

Pras terdiam lagi.

Kali ini, ia tidak bisa segera memberikan jawaban.

Dan diamnya itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata apa pun.

Mikha akhirnya bangkit dari kursinya.

"Aku mau istirahat dulu."

"Sayang, tunggu."

Pras meraih pergelangan tangannya.

"Kamu benar-benar tidak menyembunyikan sesuatu dari Mas?"

Jantung Mikha seolah berhenti berdetak.

Ia menatap lelaki yang selama ini menjadi suaminya, kemudian perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Pras.

"Aku?" Mikha tersenyum tipis. "Seharusnya pertanyaan itu Mas tanyakan kepada diri Mas sendiri."

1
Ma Em
Ayo Mikha jgn sampai pelakor yg menikmati hartanya Pras ambil semua yg Pras punya biar si Alena gigit jari dan Mikha jadi janda kaya .
Sri Widiyarti
kutunggu penyesalanmu Pras...
ArchaBeryl
kak kenapa kemrin gak up
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭
Sari Nilam
mikha terlalu main hati . kelamaan ambil.keputusan
Sari Nilam
saran aja thor, mungkin jangan.terlalu lama kebohongan ditutupi
Sari Nilam
bagus suka gayamu pelakormah dipites aja
Sari Nilam
gaskeun mikhahadapi pelakor dengan elegan
Sari Nilam
bagus setelah itu pergilah janga menunda2 lagi
Sari Nilam
ayo mikha pergi sekarang ...biarkan.pras merasa bebas untuk.menikahi sepupu maut.
Sari Nilam
sepupu maut ini
Sari Nilam
harus pintar n cerdik sana laki2 selingkuh
Sari Nilam
pekakor gak tahu malu
Sari Nilam
kalau tabu suami selingkuh tinggalin aja
Sari Nilam
sedih
Sari Nilam
jadi deg2 an..ada apa ya
sunaryati jarum
Nanti setelah Mikha pergi bawa anakmu dalam kandungannya dan tahu sifat asli Alena baru tahu rasa.Mikha segera pergi saja,Mikha sebelum kandungan kamu terlihat
Sari Nilam: serakah ..pras serakah dan.egois.
total 1 replies
Dinda Putri
lanjut
sunaryati jarum
Mampir
Ma Em
Mikha kamu hebat berani membuat pelakor tdk bisa berkutik buat pelakor iri sama Mikha biar dia tersiksa karena mengharapkan sesuatu dari suami orang .
Sri Widiyarti
lanjut thor ditunggu up-nya 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!