Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Nyonya Maya melirik sinis ke arah Ayu dengan tatapan merendahkan, seolah melihat kotoran yang menempel di ujung sepatunya.
"Heh Nyonya tua... Kalau bertamu ke rumah orang malam-malam begini tuh jaga sikap dong! Cih, wanita kaya tapi kelakuan kampungan!" dengus Ayu geram.
Sebagai wanita perkotaan yang pemberani dan tidak suka melihat sahabatnya diinjak-injak, Ayu berdiri pasang badan. Namun, tak berselang lama, dua bodyguard bertubuh kekar melangkah maju dari balik kegelapan lorong kontrakan.
"Jaga mulut Anda, jika tidak mau berurusan dengan kami!" gertak Rudolf, salah satu bodyguard berkepala botak dengan suara beratnya yang menggelegar.
"Gue enggak takut ya sama elo-elo pada! Selagi kalian masih makan nasi, bakalan gue lawan!" cerocos Ayu sembari menyingsingkan kedua lengan bajunya, siap untuk pasang kuda-kuda bertarung.
Nyonya Maya menyunggingkan senyum remeh, menatap Ayu dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Cih, dasar hama pengganggu!" ujarnya semakin menjadi-jadi.
Mendengar dirinya disebut hama, emosi Ayu naik ke ubun-ubun. "Heh, Mak Lampir bau tanah! Perbanyak berbuat baik ya dari sekarang, siapa tahu situ besok pagi udah jadi mayat!" balas Ayu sengit tanpa rasa takut sedikit pun.
Rudolf yang tidak terima majikannya dihina mendadak geram. Wajahnya mengeras, dan tanpa peringatan, ia melayangkan kepalan tangannya yang besar ke arah wajahnya Ayu. Bukannya menghindar atau berteriak ketakutan, Ayu justru tetap pasang badan membela Arumi.
Namun, di detik-detik sebelum pukulan itu mendarat, sebuah tangan dengan cepat kilat memotong udara dan menangkis pukulan Rudolf dengan sangat akurat.
Plak!
Si pria botak bertubuh kekar itu mendadak meringis kesakitan. Arumi mencengkeram pergelangan tangan Rudolf dengan amat sangat erat. Seluruh tenaga dalam dan kekuatan fisiknya ia salurkan ke cengkeraman itu. Siapa sangka, di balik penampilannya yang selalu kalem, lembut, dan anggun, Arumi menyimpan sisi misterius, ia adalah pemegang sabuk hitam seni beladiri yang tak pernah ia pamerkan kepada siapa pun.
Nyonya Maya yang menyaksikan pemandangan itu tepat di depan matanya seketika syok berat. Mulutnya sedikit terbuka tak percaya. Wanita yang selama ini ia anggap lemah, miskin, dan mudah ditindas, ternyata memiliki keberanian dan kekuatan fisik yang begitu mengerikan.
"Kau... dasar wanita kampung!" desis Nyonya Maya dengan suara bergetar bercampur emosi yang meluap. "Aku tidak akan tinggal diam! Putraku tidak akan pernah memilihmu menjadi istrinya, camkan itu baik-baik!" ancamnya seraya memelototi Arumi dengan napas memburu.
Tanpa mau menanggung malu lebih lama lagi, Nyonya Maya berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kontrakan, diikuti oleh Rudolf yang masih mengelus pergelangan tangannya yang memar serta satu bodyguard lainnya.
Begitu deru mobil Nyonya Maya menjauh, Ayu yang sedari tadi tegang mendadak terpaku. Ia menoleh ke arah Arumi dengan mata membelalak.
"Rum... jangan bilang si nenek tua bau tanah itu... ibunya Pak Zaky?" tanya Ayu berbisik.
Arumi mengangguk pelan, menyapu napasnya yang masih sedikit tidak teratur.
"What?! Serius lo?! Si pria tampan dan baik itu punya ibu modelan begitu? Cih, sungguh sangat disayangkan!" seru Ayu geleng-geleng kepala. Namun melihat raut Arumi yang mendadak pias, Ayu memegang bahunya. "Terus... apa yang akan kamu lakukan sekarang, Rum, setelah si nenek tua itu melabrakmu seperti ini?"
"Entahlah, Mbak Yu... Aku benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa lagi," ujar Arumi lirih. Matanya menatap kosong ke lantai. "Sepertinya... aku dan Zaky memang ditakdirkan untuk tidak pernah bersama. Harusnya sedari dulu aku terima saja lamaran Pak Kades di kampung..." pungkasnya penuh penyesalan.
"Rum! Jangan gegabah mengambil tindakan... Ini soal masa depanmu loh!" tegur Ayu cemas.
"Aku capek, Mbak Yu... Capek dengan semua ini!" akhirnya pecah sudah pertahanan Arumi.
Ia yang tadinya tampil begitu tegar dan kuat di hadapan Nyonya Maya, kini mendadak runtuh. Arumi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, terisak menangis sesenggukan.
"Aku tidak mau bayang-bayang dari masa laluku terus-menerus menghantuiku seperti ini... Aku... aku memilih menyerah, Yu. Zaky memang bukan jodoh untukku!" tangis Arumi pecah di pelukan Ayu.
Di dalam hatinya, rasa sakit itu kembali menghantam dengan sangat kejam. Meski ia mencintai Zaky, keberadaan tembok besar bernama Nyonya Maya dan luka masa lalu seolah menegaskan bahwa impian mereka untuk bersatu memang tak akan pernah menjadi kenyataan.
*
*
Pagi yang cerah di depan gerbang sekolah terasa dingin dan membeku bagi Zaky. Seperti biasa, ia menghentikan Lamborghini putihnya di area parkir untuk menurunkan Azzam dan Azzura. Hatinya bersiap menyambut senyuman manis dari Arumi, senyuman hangat yang kemarin sempat meluruhkan seluruh lelah di jiwanya dan memberi harapan baru.
Namun, harapan itu hancur seketika.
Begitu Arumi berjalan mendekat untuk menyambut anak-anak didiknya, sikap wanita itu telah berubah 180 derajat. Saat pandangan mata Zaky bertabrakan dengan matanya, Arumi dengan sengaja membuang muka. Tak ada lagi binar ramah, tak ada lagi senyuman tipis nan manis yang kemarin menghiasi bibirnya. Raut wajah Arumi kini begitu dingin, kaku, dan berjarak, seolah Zaky hanyalah orang asing yang tak kasat mata.
"Mari masuk ke kelas, Azzam, Azzura," ujar Arumi dengan nada suara yang teramat datar dan formal, bahkan tanpa melirik sedikit pun ke arah pria yang berdiri di samping mobil itu.
Zaky terpaku di tempatnya berdiri, tangannya yang semula hendak melambai perlahan menggantung di udara. Dadanya mendadak terasa sesak oleh kebingungan yang membakar pikiran.
'Kenapa dengan Arumi? Kenapa tiba-tiba saja sikapnya berubah dingin seperti ini? Apakah aku telah melakukan kesalahan kemarin?' batin Zaky bertanya-tanya penuh kepanikan.
Pria itu hanya bisa menatap punggung Arumi yang berjalan menjauh membawa kedua anaknya masuk ke area sekolah. Di dalam benaknya, Zaky berusaha menenangkan diri, mungkin saja Arumi sedang memiliki masalah pribadi atau tubuhnya kembali kurang fit.
Ia sama sekali tidak menyadari keributan hebat yang terjadi di kontrakan Arumi semalam. Momen ketika sang ibu, Nyonya Maya, datang melabrak dan menginjak-injak harga diri wanita yang dicintainya itu sama sekali tak terdeteksi oleh kekuasaannya Zaky.
Sebab, pria kepercayaan Zaky yang ditugaskan untuk memantau keamanan Arumi terpaksa meninggalkan posnya semalam karena sang istri mendadak hendak melahirkan. Orang kepercayaan itu sebenarnya sudah mengirimkan pesan laporan izin darurat kepada Asisten Arya, namun Arya yang melihat pesan tersebut di larut malam belum sempat menyampaikannya kepada Zaky karena tidak ingin mengganggu waktu istirahat sang bos.
Tanpa Zaky ketahui, di balik sikap dingin dan keputusan Arumi yang memilih membuang muka pagi ini, ada hati yang kembali retak dan air mata penyesalan yang ditahan setengah mati oleh sang guru.
Bersambung...
sekarang si tinggal terserah lu
masih mau ga berjuang
Arumi mah udah pasrah Ama takdir
toh...gw juga bisa kok selama ini tanpa lu
dasar nenek lampir
Arumi lawan jgn diam aj, cabein aj mulut kotor Bu Maya klu ga berani suruh othor yg maju duluan ntar aku bantuin doa dari jauh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣