Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karma
"Halo? Pak Hendra? Maksudnya bagaimana proyek logistik ini fiktif?!" teriak Arkananta dengan suara parau di hadapan layar ponselnya, sementara tangan kanannya gemetar hebat memegang gagang telepon rumah.
"Maaf, Pak Arkananta. Semua dana investasi awal yang Anda transfer ke rekening perusahaan mitra kemarin sudah ditarik habis oleh pimpinan proyek, dan orangnya sudah tidak bisa dihubungi," jawab suara di seberang sambungan dengan nada datar sebelum sambungan diputus secara sepihak.
Ponsel di tangan Arkananta meluncur bebas, menghantam lantai keramik ruang tamu dengan suara keras hingga bagian penutup baterainya terlepas.
Hari itu, bisnis sampingan yang dibangun Arkananta menggunakan sisa tabungannya mengalami penipuan. Pria itu menatap kosong ke dinding ruang keluarga, menyadari bahwa seluruh aset terakhir yang ia kumpulkan dari pinjaman bank dan sisa pesangon kantor telah raib dalam sekejap.
Arkananta kehilangan hampir seluruh dana cadangan masa depannya dalam semalam. Tidak ada lagi sisa uang di rekening tabungannya; lemari besi kosong melompong, sementara cicilan kartu kredit dan tagihan rumah mewah terus menumpuk di atas meja.
Pintu utama terbuka dengan sentakan kasar. Clara melangkah masuk sambil menjinjing beberapa kantong belanjaan bermerek dari mal pusat. Wajah wanita itu tampak sumringah sebelum matanya menangkap ekspresi pucat pasi di wajah suaminya.
"Mas! Transferan buat bayar salon dan cicilan kartu kredittku kok belum masuk dari tadi siang? Cepat urus sekarang, kasihan tas incaranku keburu dibeli orang lain!" tuntut Clara ketus sambil melempar tas belanjaannya ke atas sofa.
Arkananta mendongak perlahan, menatap istrinya dengan mata merah berair dan senyum hambar yang tersungging getir di bibirnya. "Uang kita sudah habis, Clara... Tabungan terakhirku lenyap ditipu orang."
Clara terperanjat di tempatnya. Senyum di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh sorot mata tajam penuh amarah. Clara marah besar mengetahui uang tabungan Arkananta telah ludes tidak bersisa.
"Apa kamu bilang?! Habis bagaimana maksudmu, hah?!" bentak Clara histeris, melangkah mendekati suaminya dengan tangan berkacak pinggang. "Kamu jangan coba-coba membohongi aku ya! Kalau uang itu habis, terus darimana aku harus bayar gaya hidupku?!"
"Aku tidak bohong, Clara! Investasi rintisan yang kubuat kemarin ternyata penipuan fiktif! Semua uang kita sudah hilang!" Bentak Arkananta frustrasi, menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan.
Clara mendengus keras, wajahnya memerah karena emosi yang meledak-ledak. Wanita itu melotot tajam menatap pria di hadapannya tanpa sedikit pun rasa iba atau keinginan untuk mencari solusi bersama.
"Aku tidak peduli dengan alasan bangkrutmu itu!" sergah Clara dengan nada suara melengking tinggi. Clara mengancam akan pergi meninggalkan Arkananta jika tidak diberi uang belanja dan fasilitas mewah seperti biasa. "Dengar ya, Arkan! Kalau kamu sudah tidak punya uang lagi dan tidak sanggup biayai hidupku, jangan salahkan kalau aku pergi dari rumah ini dan cari laki-laki lain yang lebih kaya dari kamu!"
Arkananta tertegun, menatap sosok wanita yang selama ini ia bela mati-matian hingga tega mengusir istri sah dan anak kandungnya sendiri. Di titik nadir kehancurannya, Arkananta menyadari bahwa Clara hanya mencintai harta dan kemewahannya saja; perempuan itu tidak pernah memiliki rasa cinta atau kesetiaan tulus di saat susah.
"Jadi... selama ini kamu memang cuma mengincar uang dan fasilitas dari aku saja, Clar?" tanya Arkananta dengan suara bergetar lemah, menatap lurus ke mata istrinya tanpa daya.
"Bagus kalau kamu sadar diri!" jawab Clara tanpa ragu sedikit pun. Wanita itu berbalik badan dengan kasar, menyambar kembali tas belanjaannya, lalu berjalan cepat menuju kamar lantai atas untuk mengemasi barang-barangnya.
Arkananta terduduk lemas di lantai ruang tamu, membiarkan air matanya mengalir deras membasahi pipi.
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel