Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Suasana di aula utama hotel bintang lima terasa sangat meriah malam itu.
Para tamu undangan tampak menikmati hidangan mewah sambil mengobrol santai.
Bima berdiri di dekat sudut ruangan sambil memegang segelas jus buah segar.
Matanya mengawasi setiap gerak-gerik orang yang ada di sekitar aula dengan penuh kewaspadaan.
"Tuan Bima, acara peresmian yayasan ini sukses besar diliput media," bisik Rian mendekat.
"Bagus, tapi kita harus tetap waspada pada tamu-tamu asing tadi," jawab Bima tenang.
Rian mengangguk pelan mengamini peringatan dari bos mudanya itu.
Tiba-tiba dua orang pria berjas hitam dengan postur tubuh tegap berjalan mendekati arah mereka.
Pria-pria itu adalah utusan dari sindikat investasi internasional milik Victor.
"Selamat malam, Direktur Bima," sapa pria berdepan dengan senyum sinis.
Bima menoleh sekilas dan menatap kedua pria asing itu dengan tatapan dingin.
"Kalian bukan tamu undangan resmi di acara amal ini," ucap Bima datar.
"Kami datang membawa pesan penting dari Tuan Victor untuk Anda," balas pria itu tanpa gentar.
"Pesan penting apa dari bos kriminal kalian itu?" tanya Bima sengaja memancing.
"Tuan Victor meminta Anda menandatangani surat pelepasan saham perusahaan hari ini juga," ancam pria itu pelan.
Bisikan ancaman itu sengaja diucapkan di dekat telinga Bima agar tidak didengar tamu lain.
Bima tersenyum tipis mendengar permintaan konyol dari utusan sindikat global tersebut.
"Katakan pada Victor, perusahaanku bukan barang murah yang bisa dibeli dengan ancaman," jawab Bima tegas.
Wajah pria berjas hitam itu langsung berubah menjadi kaku mendengar penolakan mentah-mentah tersebut.
"Anda sedang mencari masalah besar dengan sindikat paling berbahaya di Eropa," bisik utusan itu mengancam.
"Masalah besar?" tanya Bima tertawa kecil mengejek.
"Justru aku sangat menantikan kedatangan bos kalian ke kota ini untuk kubuat bangkrut," balas Bima tajam.
Pria asing itu mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat menahan amarah yang meluap.
"Anda akan menyesali keputusan arogan ini, Direktur Bima!" desis pria itu penuh kebencian.
Sebelum pria itu sempat berbuat nekat, beberapa petugas keamanan hotel bergerak cepat mengepung mereka.
"Jangan bergerak! Tetap di tempat kalian!" bentak kepala keamanan hotel tegas.
Ternyata Bima sudah menginstruksikan tim keamanan untuk bersiap sejak awal melihat gerak-gerik mereka.
Para tamu undangan di sekitar aula langsung menoleh kaget melihat ketegangan mendadak di sudut ruangan.
"Ada apa itu? Kenapa ada keributan di dekat direktur utama?" bisik salah satu tamu bingung.
Bima mengangkat tangan kanannya memberi isyarat kepada para tamu agar tetap tenang.
"Tidak ada apa-apa, Bapak dan Ibu sekalian, hanya ada dua tikus got yang menyusup ke acara kita," umum Bima tenang.
Semua wartawan yang meliput acara langsung mengarahkan kamera mereka ke arah dua utusan Victor tersebut.
Blar...
Kilatan lampu kamera berkedip bertalu-talu menangkap wajah panik para mata-mata asing itu.
"Sialan! Matikan kamera itu!" teriak salah satu utusan Victor mencoba merampas kamera wartawan.
Bugh!
Petugas keamanan langsung melumpuhkan pria itu dengan kuncian tangan yang kuat di lantai.
Kras...
Suara hantaman tubuh jatuh bergemuruh di atas lantai marmer aula.
"Lepaskan aku! Kami dari konsorsium global!" ronta utusan itu histeris di hadapan publik.
"Konsorsium global atau sindikat pemeras, kalian tetap tertangkap basah melakukan pengancaman," balas Bima dingin.
Rian segera maju membawa mikrofon dan menyerahkannya kepada Bima.
"Semua rekaman ancaman dan kartu identitas mereka sudah kita serahkan ke pihak kepolisian," umum Bima lantang.
Para tamu undangan langsung memberikan tepuk tangan meriah mendengar tindakan cepat tanggap Bima.
"Luar biasa! Direktur Bima memang pengusaha muda yang sangat berani dan tegas!" puji seorang pengusaha senior.
Dua utusan Victor itu akhirnya diseret keluar oleh pihak kepolisian yang sudah datang menjemput.
Mereka gagal total menjalankan misi dan justru mempermalukan sindikat mereka sendiri di hadapan media nasional.
Bima kembali tersenyum ramah kepada seluruh tamu undangan seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Acara malam ini kita lanjutkan kembali, silakan nikmati hidangan yang tersedia," ucap Bima ramah.
Suasana aula kembali meriah dan alunan musik klasik kembali mengalun lembut menghibur para tamu.
Rian mendekati Bima dengan wajah kagum bercampur heran.
"Tindakan Anda benar-benar di luar dugaan, Tuan Bima, mereka langsung masuk perangkap," puji Rian.
"Victor mengira bisa menekanku dengan cara lama, dia salah besar," jawab Bima tenang.
"Langkah apa lagi yang akan kita ambil setelah ini untuk menghadapi Victor?" tanya Rian serius.
"Kita tunggu balasan dari bos besar mereka di markas utamanya," jawab Bima sambil meneguk jusnya.
Perang melawan sindikat internasional baru saja dimulai dengan kemenangan telak di babak penyergapan pertama.
Bima membuktikan bahwa kekuasaannya tidak bisa diganggu gugat oleh kekuatan asing mana pun di negeri ini.
Malam semakin larut dan acara amal besar tersebut ditutup dengan kesuksesan yang luar biasa gemilang.
Berita penangkapan mata-mata asing itu langsung menjadi berita utama di seluruh stasiun televisi keesokan paginya.
Victor yang berada di markas mewahnya di luar negeri langsung membanting layar monitor saat melihat berita tersebut.
Brak!
Suara hantaman gelas kristal menghancurkan meja kerjanya di markas Eropa.
"Bocah sialan itu... beraninya dia mempermalukan sindikatku di hadapan publik!" murka Victor menggelegar.
Kemarahan Victor menjadi awal dari badai besar yang akan dikirim langsung ke kota tempat Bima berada.
Namun Bima sama sekali tidak merasa gentar sedikit pun menghadapi ancaman dari gembong kriminal global tersebut.
Ia berdiri di ruang kerjanya sambil menatap tajam peta dunia di dinding kaca.
"Datanglah, Victor, aku sudah menyiapkan kuburan yang sangat layak untukmu," batin Bima dingin.
Kecerdasan, strategi matang, dan mental baja menjadikan Bima sebagai penguasa mutlak yang tidak terkalahkan.