Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 3: Tuhan, Izinkan Aku Melepas Hijabku
Di Kafe itu namanya Kafe Mawar. Catnya pink pudar, lampunya remang-remang kuning.
Di dalamnya tidak seperti yang kubayangkan. Tidak ada musik keras. Hanya ada beberapa perempuan seusiaku, dengan make-up tebal, duduk menunggu. Ada yang tertawa keras, ada yang menatap kosong ke gelas kopi.
Aku masuk dengan jantung mau copot. Semua mata menatapku. Seorang perempuan dengan rok mini merah, yang ternyata maminya, mendekatiku.
"Cari kerja, Neng?"
Aku mengangguk. Tenggorokanku kering.
"Umur?"
"dua puluh tahun," jawabku .
Mami itu memindai aku dari atas ke bawah. Dari kaos oblong pinjaman, celana jeans longgar, sampai wajahku yang tanpa make-up sama sekali.
"Kamu masih perawan desa ya? Wajah kamu sayang kalau di sini. Tapi... mata kamu bagus. Mata orang dendam. Cocok."
Aku tidak mengerti.
Mami itu menyuruhku duduk. Dia memberiku kopi hitam.
"Di sini kerjanya cuma temani tamu minum, Neng. Tidak lebih. Kalau tamu macam-macam, kamu teriak. Mami yang urus. Gaji harian 100 ribu. Mau?"
100 ribu. Ibu di Kuala Pembuang butuh 2 juta untuk operasi kataraknya minggu depan. Uang pondok sudah diputus.
Aku mengangguk.
"Nama kamu siapa? Jangan pakai nama asli."
Aku menatap kopi hitam itu. Bayangan Laila si hafizah dengan kerudung hijau sudah tidak ada di pantulan gelas itu.
"Ma... Maya," ucapku pelan. Nama tengahku.
"Oke, Maya. Mulai malam ini kamu kerja. Tapi ingat, rambutnya..."
Aku tahu. Aku melepaskan ikat rambutku. Rambut hitamku yang selama ini selalu kusembunyikan di balik hijab, tergerai sampai pinggang. Rambut yang kata ibu paling indah.
Untuk pertama kalinya sejak aku baligh, angin malam Seruyan menyentuh kulit kepalaku langsung. Dingin. Bebas. Berdosa.
Air mataku menetes satu. Bukan karena sedih. Tapi karena perpisahan.
Maafkan aku, Ibu. Maafkan aku, Al-Qur'an 15 juz ku.
Malam pertama sebagai Maya adalah neraka.
Aku dipaksa memakai dress hitam pinjaman yang ketat di bagian dada, tapi longgar di pinggang karena badanku terlalu kurus. Make-up ku menor, bibirku merah, sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.
Aku hanya duduk di sudut, gemetar memegang nampan. Setiap ada tamu laki-laki masuk, aku menunduk dalam.
Sampai jam 11 malam, satu tamu masuk. Dia memakai baju koko putih, peci hitam, dan sorban putih bersih melingkar di lehernya.
Darahku berhenti.
Kyai Rahman.
Jantungku seperti mau meledak. Dia tidak melihatku karena lampu remang dan make-up ku. Dia masuk dengan dua orang temannya, tertawa keras, memesan ruangan VIP di belakang.
"Kyai, yang kemarin santriwati yang fitnah itu gimana? Udah beres?" tanya temannya cukup keras.
Kyai Rahman tertawa, suara tawanya yang selama ini kudengar sebagai suara wali, malam itu terdengar seperti suara setan.
"Sudah beres. Anak bau kencur. Mau lawan saya? Sudah saya bikin surat gila, biar orang tuanya malu se-Kecamatan Sukamandang. Paling sekarang jadi gembel di Seruyan."
Mereka semua tertawa.
Tanganku yang memegang nampan mengepal sampai kukuku menancap. Setengah kerudung hijau robek yang kusimpan di dalam tas kecilku terasa panas.
Aku ingin berdiri dan berteriak saat itu juga. Tapi Kak Wulan pernah bilang, "Kalau kamu teriak sekarang, La, kamu akan mati konyol. Tidak ada yang akan percaya Maya si pelayan kafe. Mereka akan percaya Kyai."
Aku butuh bukti. Bukan hanya robekan.
Aku melihat HP di sakunya. HP yang selalu dia pakai untuk merekam pengajian. HP itu pasti ada isinya.
Malam itu, Tuhan benar-benar mengizinkanku berdosa.
Saat Kyai Rahman mabuk dan tertidur di sofa VIP setelah minum anggur yang dibawakan temannya - ya, Kyai suci itu minum - aku yang disuruh mami untuk membereskan ruangan VIP itu masuk.
Tanganku gemetar hebat. Aku mengambil HP itu dari meja. Sandinya... aku tahu. 1234. Tanggal lahir pondok. Dia pernah menyebutkannya saat khutbah.
Aku membukanya. Galeri.
Duniaku benar-benar hancur untuk kedua kalinya malam itu.
Di dalamnya bukan hanya fotoku dengan kerudung robek yang diam-diam dia foto sore itu dari balik jendela ndalem. Ada puluhan foto lain. Ada Kak Wulan. Ada Siti. Ada Ustadzah muda lain. Semua dengan kerudung robek, wajah menangis, di dalam ndalem yang sama. Ada video. Ada chat grup dengan nama "Berkah Private".
Aku bukan korban pertama. Aku korban ke-23.
Air mataku mengalir deras di atas dress hitam itu. Aku memindahkan semua foto dan video itu ke HP bututku dalam 30 detik yang terasa seperti 30 tahun. Tangan ku basah oleh keringat.
Saat aku mau meletakkan HP itu kembali, sebuah tangan besar mencengkeram pergelangan tanganku.
Kyai Rahman terbangun. Matanya merah, bau alkohol.
"Kamu... siapa kamu?" desisnya, menatap wajahku lekat-lekat. Make-up tebal ku luntur karena air mata.
Dia menyipitkan mata. Mengenali.
"Laila...?"
Saat itu, pintu VIP digedor dari luar.
"Maya! Tamu VIP selesai! Cepat keluar!"
Itu suara Mami.
Kyai Rahman berdiri sempoyongan. Tangan satunya lagi meraih kerudung... bukan, rambutku yang tergerai.
"Jadi kamu jadi pelacur sekarang, ya? Pantas kamu fitnah saya. Dasar..."
Aku tidak menunggu kalimatnya selesai. Aku menggigit tangannya keras-keras sampai berdarah, sama seperti dia pernah membuat bibirnya sendiri berdarah untuk memfitnahku.
Dia berteriak kesakitan.
Aku lari. Lari sekuat tenaga keluar dari ruangan VIP itu, keluar dari Kafe Mawar, keluar dengan HP butut di tanganku yang kini berisi 23 nyawa yang dirusak.
Di luar, hujan Seruyan turun lagi. Sama derasnya seperti hujan Sukamandang dua malam lalu.
Tapi kali ini aku tidak berdiri mematung di halaman pondok.
Kali ini aku berlari di tengah hujan, dengan dress hitam, rambut tergerai, tanpa hijab, sambil memeluk HP butut itu seperti memeluk Al-Qur'an.
Aku, Laila Nuraini, bekas hafizah 15 juz, baru saja mencuri bukti untuk menghancurkan seorang wali palsu.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak berdoa "Tuhan, izinkan aku berdosa."
Aku berteriak di tengah hujan Seruyan yang deras, dengan suara yang akhirnya kembali menjadi milikku.
"Tuhan! Lihatlah! Aku sudah berdosa! Sekarang giliran Engkau yang menunjukkan keadilan-Mu!"
Dari kejauhan, azan subuh dari Masjid Besar Seruyan mulai berkumandang, beradu dengan musik dangdut dari Kafe Mawar.