Marsya Arcelia Dealova, gadis cantik mahasiswi tingkat akhir yang dijodohkan dengan laki-laki pilihan dua keluarga.
Yang mana, calon suaminya itu adalah sahabat dari pacarnya.
Bagaimana Marsya akan menjani pernikahan itu? Mampukah dia berdiri diantara dua laki-laki, suami dan pacarnya?
Selamat datang di cerita ketiga ku, doain ya semoga cerita ini nggak gantung seperti yang udah udah😄
Dukung aku yaa
Selamat membaca~~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah NH2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghilang
Pagi itu, suasana hati Marsya masih tidak baik-baik saja sejak semalam. Niat hati ingin menikmati sarapan dengan tenang justru terasa sulit karena dirinya dihadapi kenyataan bahwa pernikahannya dengan Kyle tinggal beberapa hari lagi. Usahanya untuk membatalkan perjodohan itu gagal total, kedua keluarga tidak menyetujuinya. Terlebih Rianti dan Sekar yang menolak keras permohonannya semalam.
Namun bagaimana dengan Kyle? Laki-laki itu sama sekali tidak membantu, Kyle hanya menahan senyum dan tawa melihat Marsya berulang kali merajuk, memohon kepada para tetua untuk membatalkan perjodohannya. Sangat menyebalkan, pikir Marsya.
"Kamu ini cemberut mulu? Sudah lah, apa salahnya menikah sama Kyle?" Tanya Hendry, sang papa, saat menggenggam tangan puteri kesayangannya itu,
"Tapi Papa tau kan Marsya punya pacar, Pa?" Ucap Marsya sedikit merajuk,
"Dan kamu pun tau Papa nggak pernah suka sama pacar kamu, Erik kan namanya?" Ujar Hendry dengan jelas, seakan mengingatkan sang anak bahwa hubungannya itu tidak akan pernah dia restui
"Bahkan dari awal Papa nggak setuju kamu pacaran sama dia, tapi kamu keras kepala"
"Ehem, Sayang, gini..." Tania, sang mama turut angkat bicara, "Anggap aja ini sebagai keinginan terakhir Oma dan Oma Sekar, ya"
"Mereka udah janji mau menjodohkan cucu mereka saat dewasa, agar hubungan mereka makin dekat, tidak putus, kamu ngerti kan, Sayang?"
"Tapi, Maaa-"
"Ssst, udah, kita udah akhiri pembahasan ini semalam. Mama yakin kok Kyle itu calon suami yang terbaik buat kamu"
"Ya udah, lah. Rasanya percuma Marsya ngomong ke Mama atau Papa, semuanya sama aja" Ucap Marsya saat bangun dari duduknya, dia pun segera mencuci tangan dan pergi ke kampus, tidak tahan lagi rasanya berlama-lama dimeja makan bersama kedua orang tuanya.
Langkah berat Marsya mengiringi kedua kakinya saat memasuki gerbang kampus. Tanpa sengaja dia menoleh ke kiri, melihat Kyle baru turun dari mobilnya. Marsya sedikit mendengus, dia menyesal telah menoleh karena itu membuat tatapannya bertemu dengan Kyle. Tidak mau ambil pusing, sambil terus berjalan Marsya mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Erik yang semalaman tidak ada kabar sejak dia pulang dari acara kejutan ulang tahunnya.
Puluhan pesan singkat dan belasan panggilan masuk tidak kunjung mendapatkan jawaban. Mau tidak mau, Marsya harus menghampiri Erik di kelasnya. Melewati satu gedung lainnya dan menaiki lift demi mendapatkan penjelasan dari kekasihnya itu. Masih ada waktu sepuluh menit sebelum kelasnya dimulai.
"Eh, Marsya, tumben kesini?" Leo, teman dekat Erik menyambut Marsya saat mereka bertemu di pintu kelas. Tidak lama, tatapan Leo pun beralih pada Kyle yang berdiri dibelakang Marsya dengan kedua tangan yang masuk kedalam saku celananya.
"Lo ngapain disitu?" Tanya Leo pada Kyle, membuat Marsya tersentak dan menoleh ke belakang. Entah sejak kapan Kyle berada dibelakangnya, Marsya tidak menyadarinya. Marsya pun menghindar, dia sadar posisinya menghalangi pintu masuk menuju kelas yang didominasi oleh mahasiswa laki-laki itu.
"Leo, sini dulu" Marsya menarik lengan dari jaket yang dipakai Leo, membawa laki-laki itu sedikit menjauh dari kelasnya. Kyle pun memperhatikan dari dalam, seakan tahu maksud dari kedatangan Marsya ke kelasnya
"Kamu bisa hubungin Erik, nggak? Dari semalam Erik nggak angkat telfon atau bales chat aku, dia kemana, ya?"
"Tapi bukannya semalem lo kasih surprise ke dia?"
"Iya, tapi setelah aku pulang, dia sama sekali nggak ada kabar. Nggak biasanya"
"Oke, gini, Sya, biasanya kan Erik telat, mungkin sepuluh atau lima belas menit lagi dia dateng. Lo balik aja dulu ke kelas"
"Dia pasti ke kelas lo nanti"
Setelah Leo memberikan pengertian dan membuat Marsya sedikit lebih tenang, Marsya pun patuh dan kembali ke kelasnya, dia akan menunggu Erik disana. Dia berharap penantiannya tidak sia-sia karena jawaban Erik sangat dia butuhkan, jawaban Erik yang akan menghilangkan fikiran buruknya sejak semalam.
"Temen lo tuh ngilang, bikin anak orang khawatir aja" Ucap Leo saat duduk dihadapan Kyle
"Oh? Dia nyariin Erik?"
"Ya iya lah, dia ceweknya Erik, masa nyariin lo?" Jawaban Leo dibalas senyum tipis Kyle, senyum penuh arti yang membuat Leo menyipitkan kedua matanya,
"Heh, lo tau Erik kemana?" Leo terlihat antusias, dia perhatikan Kyle dengan seksama berharap temannya itu mengetahui sesuatu. Namun apa yang Leo dapatkan, Kyle hanya mengangkat kedua bahunya, pertanda tidak mengetahui sesuatu atau tidak ingin memberitahukannya kepada Leo.
Dua jam berlalu, bersama sahabatnya, Bella, Marsya duduk disudut kantin setelah rehat dari kelasnya. Dan masih sama seperti tadi, Marsya masih menatap ponselnya berharap ada pesan atau panggilan dari Erik, namun hasilnya nihil. Sosoknya pun tidak terlihat, pertanda bahwa Erik juga tidak pergi ke kampus. Marsya mulai frustasi, dia mulai gelisah dan tidak tenang. Tidak ada satupun pertanda atau kabar apapun tentang Erik.
TING
Suara notifikasi ponselnya membuat Marsya bersemangat. Namun sesaat kemudian, dirinya kembali dibuat lemas saat mendapati kontak sang mama tertera dilayarnya. Ini bukan lah yang dia harapkan, dia berharap Erik yang menghubunginya.
"Cantik, jangan lupa siang ini kamu dan Kyle beli cincin, ya"
"Dan besok jadwalnya kamu dan Kyle fitting baju pengantin. Okay, baby?"
"Ya, Ma" Jawaban singkat terkirim, Marsya sedikit melempar ponselnya keatas meja sebelum ikut menjatuhkan kepalanya diatas sana. Bella yang duduk dihadapannya, mengernyit sebelum menaruh telapak tangannya tepat di dahi Marsya
"Kamu sakit ya, Sya? Soalnya dari pagi lemas gitu?"
"Nggak, kok. Nggak apa-apa" Senyum tipis Marsya membuat Bella terdiam. Sejujurnya ada rasa penasaran dengan sikap Marsya hari itu, namun Bella memilih diam karena tidak mau terlalu jauh mencampuri urusan sahabatnya itu. Biarlah, dia akan menunggu Marsya untuk bercerita dengan sendirinya.
Marsya membuang nafas panjang, dia rapihkan barang-barangnya diatas meja dan bersiap pergi bersama Kyle untuk membeli cincin pernikahan. Entah lah, dengan perasaan khawatir dan tidak karuan seperti ini, rasanya malas bagi Marsya memikirkan pernikahannya dengan Kyle yang akan berlangsung tiga hari lagi. Tetapi demi memenuhi impian kedua keluarga, Marsya rela melakukannya.
Setelah berpisah dengan Bella di gerbang kampus, Marsya menghampiri mobil Kyle yang berhenti disisi jalan, tidak jauh dari posisinya. Laki-laki itu sudah menunggunya disana, menunggu sosok perempuan mungil dengan wajah pucat dan raut yang datar.
Kyle menoleh, memperhatikan Marsya yang sedang memakai sabuk pengaman. Sesaat kemudian, tatapan mereka bertemu, Marsya menunjukkan senyum tipisnya, berusaha terlihat baik-baik saja dihadapan Kyle. Namun laki-laki itu tahu, kenyataan tidak begitu. Pikiran Marsya masih sibuk memikirkan Erik.
"Kalo lo sakit, kita pulang aja" Ucap Kyle dengan tatapan lurus kedepan, dia tahu Marsya tidak sepenuh hati pergi bersamanya.
"Aku nggak apa-apa, ayo" Jawab Marsya meyakinkan Kyle. Rasa gundah gulana yang dia rasakan hari ini, tidak mempengaruhi persiapan pernikahan mereka berdua.
••••
To be continued
Hayyyy guysss... seperti biasa jangan lupa dukungannya yaaaa
klik suka dan subscribe biar gak ketinggalan kelanjutannya yaaaa
semoga kalian suka sama ceritanya...kalo ada saran dan masukan, silahkan komen, maaciww✨😘💙💙💙