menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.
Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.
Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.
Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Heningnya Kenya, Riuhnya Silva
Di tempat lain, atmosfer terasa jauh lebih sunyi. Kenya duduk diam di kamarnya, atau lebih tepatnya, di ceruk jendela kamarnya yang melengkung.
Kedua kakinya terlipat di depan dada, didekap erat oleh kedua lengannya sendiri. Kepalanya disandarkan lesu pada kaca jendela yang dingin, sementara matanya yang sembap mendongak, menatap kosong ke langit malam yang pekat dan tenang.
Sepulang dari kuburan sore tadi, Kenya tidak lagi menangis. Air matanya seolah sudah kering, menyisakan ruang hampa yang menyesakkan di dadanya.
Ia hanya terjebak dalam posisinya saat ini, menatap dunia luar dengan pandangan kosong. Entah sudah berapa jam berlalu. Tubuhnya kaku, belum bergerak sama sekali sejak pertama kali duduk di sana.
Bahkan, ia masih mengenakan seragam putih abu-abu yang tampak kusut, seolah tidak punya energi lagi hanya untuk sekadar mengganti pakaian.
Keheningan malam itu pecah saat sebuah motor sport berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Seorang laki-laki melepas helm fullface-nya, menampakkan garis wajah Archard yang tegas di bawah temaram lampu jalan. Cowok itu mendongak, menatap lurus ke arah lantai dua rumah di hadapannya.
Pandangan Archard langsung terkunci pada sosok Kenya yang masih meringkuk di balik kaca jendela. Tepat saat Archard memperhatikannya, Kenya sedikit bergerak dan menatap ke bawah.
Netra mereka bertemu dalam keheningan malam. Kenya tampak terkejut. Secepat kilat, gadis itu menurunkan kakinya dan menghilang dari balik jendela.
Tak butuh waktu lama sampai sosok Kenya muncul kembali, melangkah keluar dari balik gerbang besi rumahnya. Langkahnya sengaja dibuat tegas untuk menutupi kerapuhannya. "Ngapain Lo kesini?" tanya Kenya ketus.
Archard masih bergeming di atas motornya. Ia cukup terkejut melihat penampilan Kenya yang berantakan, terlebih gadis itu ternyata masih mengenakan seragam sekolah. Berarti sejak Archard mengantarkannya pulang tadi, Kenya sama sekali belum membersihkan diri.
Kenya melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. "Ngapain?" ulangnya lagi, menuntut jawaban.
Tanpa banyak bicara, Archard menyodorkan sebuah tas punggung. "Tas Lo," ucapnya datar.
Namun, bukan hanya tas yang disodorkan cowok itu. Di tangan satunya, terdapat sebuah kantong plastik transparan yang mengeluarkan aroma gurih yang sangat familier. Ujung-ujung tusuk bambu yang menyembul dari dalam plastik mempertegas isinya: sate ayam.
Kenya terdiam sebentar, menatap plastik sate itu dengan dahi berkerut sebelum akhirnya menerimanya. Tanpa gengsi atau jaim, Kenya langsung merobek bungkus kertas minyak sate tersebut dan meletakkannya di atas tangki motor Archard. Ia mulai memakannya di sana, di bawah dinginnya angin malam.
Suasana kembali hening. Hanya ada suara kunyahan kecil dari Kenya. Tiba-tiba, tanpa menatap Archard, Kenya membuka suara dengan nada yang terlampau tenang. "Mungkin Lo enggak tahu gue kenapa hari ini. Tapi yang jelas, sekarang Lo lagi kasihan sama gue."
Kenya menjeda kalimatnya, mengunyah satenya perlahan sebelum melanjutkan, "Gue enggak suka dikasihani. Apalagi sama cowok," ujarnya, tetap tenang sambil menikmati makanan di depannya.
Archard tidak menyela, ia tetap mendengarkan dengan tatapan lurus.
"Tadi sebelum turun, gue sudah bilang ke Lo... anggap aja Lo enggak lihat apa-apa hari ini," lanjut Kenya.
Suaranya datar, sengaja menekan segala bentuk emosi agar tidak pecah lagi. "Tapi sekarang Lo malah datang ke rumah gue, bawain tas sama sate ini. Gue yakin satu-satunya alasan Lo lakuin ini cuma karena kasihan."
Hening menjeda obrolan mereka. Cukup lama, hingga hanya suara jangkrik malam yang terdengar bersahutan.
"Dulu, gue pernah suka sama orang," ucap Kenya tiba-tiba, memecah kecanggunga.
I know, batin Archard bersuara. Tatapannya sedikit intens, tapi ia tetap memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Dia ganteng. Dingin. Banyak banget cewek yang suka sama dia di sekolah. Rata-rata alasannya ya klise, karena dia ganteng, anak orang kaya, pintar, dan semua kelebihan-kelebihan dia yang lainnya." Kenya terkekeh kecil, sebuah kekehan hambar yang sarat akan luka masa lalu.
"Kalau gue beda," lanjut Kenya, pandangannya menerawang ke aspal jalanan. "Dulu, dia sering ngasih gue perhatian-perhatian kecil. Mungkin... mirip kayak yang Lo lakuin sekarang. Bawain gue sate. Padahal gue bisa beli sendiri, uang gue punya. Tapi kalau perhatian itu datang dari orang lain, rasanya beda. Apalagi dia tipe cowok yang dingin, mirip kayak Lo. Dan akhirnya, gue bodoh karena jatuh suka sama dia cuma karena hal-hal kecil itu."
Kenya kembali terkekeh, seolah sedang menertawakan kebodohan dirinya sendiri di masa lalu. "Tapi setelah gue beneran suka dan confess, dengan gampangnya dia bilang... kalau selama ini dia cuma kasihan sama gue."
Tangan Kenya yang memegang tusuk sate sedikit melemah. "Mungkin di sekolah semua orang ngerasa gue galak, defensif, atau sengak. Gue cuma enggak mau ada orang yang ngasihanin gue lagi, Ar. Gue enggak mau kejadian itu terulang untuk kedua kalinya."
"Entah Lo paham atau enggak sama omongan gue sekarang, karena gue emang enggak berniat nyeritain latar belakang gue ke Lo." Kenya melipat bungkus sate yang sudah kosong dengan rapi, lalu melemparnya tepat sasaran ke dalam tong sampah di dekat pagar.
"Tapi intinya, gue enggak mau Lo kasihanin gue cuma karena Lo lihat gue nangis di kuburan tadi." Kenya menatap mata Archard lekat-lekat. "Makasih sudah bawain tas gue. Lain kali, enggak usah repot-repot kayak gini lagi."
Setelah mengucapkan kalimat penutup itu, Kenya memutar tubuhnya. Ia mulai melangkah masuk ke area pekarangan rumah.
Namun, tepat sebelum tubuhnya benar-benar melewati gerbang besi, ia menghentikan langkah dan menoleh sekali lagi ke arah Archard yang masih mematung di atas motor.
"Gue rasa Lo bukan tipe cowok yang ember," ucap Kenya ragu-ragu sejenak. "Jadi, seharusnya apa yang gue ucapin malam ini enggak akan sampai ke telinga orang lain."
Setelah memastikan Archard mendengar kalimatnya, Kenya langsung melangkah masuk dan menghilang di balik pintu rumah.
Setibanya di dalam kamar, Kenya melemparkan tas sekolahnya ke atas kasur dengan asal. Ia berjalan mendekati lemari pakaian, membukanya untuk mengambil baju ganti dan handuk.
Tubuhnya sangat lelah dan ingin segera beristirahat, tetapi ia sadar harus mandi terlebih dahulu untuk meluruhkan debu pemakaman yang menempel di badannya.
Namun, gerakan Kenya terhenti. Ia berdiri diam di depan lemari yang terbuka, menatap deretan pakaian di dalamnya dengan pandangan kosong.
Pikirannya mendadak kalut. Bukan karena bingung memilih baju yang ingin dipakai, melainkan karena ia menyadari satu hal yang mengejutkan dirinya sendiri.
Kenapa gue bisa se-terbuka itu sama Archard? tanya Kenya dalam hati.
Lalu ia menggelengkan kepalanya. Gue cuman ngejelasin biar dia paham. Bukan curhat.
Namun, kalimat itu belum berhasil menenangkannya. Jantungnya berdesir aneh. Ia mendadak bingung dan sedikit menyesal.
Apakah ia sudah berbicara terlalu banyak dan menunjukkan sisi rapuhnya kepada cowok yang bahkan baru ia kenal kurang dari seminggu? Apakah kalimat jujurnya malam ini akan dipahami oleh Archard yang sedingin es itu? Atau, apakah semua cerita panjangnya tadi justru akan berbalik menjadi bumerang yang menghancurkan dinding pertahanan yang selama ini ia bangun dengan susah payah?
•••
Cklek.
Silva terlonjak kaget saat baru saja membuka pintu kamarnya. Matanya membulat sempurna begitu melihat pemandangan di depannya. "Kok kamu bisa ada di sini?!" tanya Silva dengan nada heran yang tertahan.
Bagaimana bisa cowok itu tiba-tiba ada di kamarnya? Padahal tadi di rumah sebelah, Baffin sudah menghilang tanpa suara.
Tapi sekarang, cowok es itu justru sudah rebahan dengan santai di atas kasur empuk milik Silva seolah-olah itu adalah kamarnya sendiri.
Baffin mengubah posisinya menjadi duduk di tepi ranjang. Tatapannya tertuju lurus pada Silva. "Ternyata kamu pinter drama juga, ya?" sindir Baffin, mengungkit aksi akting Silva di depan bundanya tadi.
Silva mendengus, melangkah mendekat dengan berkacak pinggang. "Salah siapa ngebiarin aku kejebak di dalem lemari itu?"
"Nggak ada yang nyuruh kamu sembunyi di dalam situ, Culpa." balas Baffin membela diri dengan wajah datarnya. "Kenapa sekarang jadi aku yang disalahin?"
"Cowok memang selalu salah!" potong Silva tidak mau kalah. "Sudah, sana pulang! Aku mau tidur."
Silva mendekati Baffin, lalu mencengkeram lengan pemuda itu dan menariknya sekuat tenaga agar beranjak dari kasurnya.
Namun, Baffin tetap pada posisinya. Tubuh tegap cowok itu sama sekali tidak bergeser satu sentimeter pun dari tempat tidur.
"Ih... sana pergi!" Silva kembali mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa di tubuh mungilnya. Ia menarik lengan Baffin dengan hentakan kuat, tapi—glep!
Keseimbangan Silva runtuh. Alih-alih berhasil menarik Baffin keluar, Silva justru kehilangan pijakan. Tubuhnya tertarik ke depan dan langsung jatuh tepat di dalam dekapan hangat Baffin. Aroma maskulin khas cowok itu langsung menyeruak memenuhi indra penciumannya.
"Masa aku narik sambil duduk, kamu langsung jatuh di sini? Atau... kamu sebenarnya lagi modus ya, sengaja pengen dekat-dekat sama aku?" ejek Baffin dengan bisikan rendah di dekat telinga Silva. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum miring yang menyebalkan.
Wajah Silva seketika memerah karena kesal. Ia langsung berusaha menarik diri sekuat tenaga, ingin segera membersihkan namanya dari tuduhan sepihak yang menyebalkan itu. Namun, lengan kekar Baffin justru melingkar di pinggangnya, menahan tubuh Silva agar tidak menjauh.
"Tuh, kan... kamunya sendiri yang nggak mau ngelepasin," tukas Silva.
Ia masih berusaha melepaskan diri. Tapi Baffin masih menahanya dengan erat. "Apin, lepasin!"
Baffin tidak menurut. Tatapannya mendadak berubah serius, mengunci manik mata Silva. "Ngapain kamu ngadi-ngadi bilang ke Bunda kalau aku sengaja bikin kamu kesal biar kamu minta batalin tunangan? Bukannya tadi pas di mall, justru kamu yang minta pertunangan ini dibatalin? Atau... ini sebenarnya rencana kamu biar kita batal tunangan?"
Silva menahan napasnya. Jarak wajah mereka berdua terlalu dekat, hingga ia bisa merasakan embusan napas Baffin di kulit wajahnya. Otak Silva mendadak macet total. "Lepas," cicitnya lirih.
"Jawab dulu."
"Jawab apa?" Silva benar-benar tidak fokus dengan rentetan kalimat yang diucapkan Baffin barusan. Pikirannya kosong. Blank. Ya, betul, pesona Baffin dari jarak dekat sukses membuat akal sehatnya terbang entah ke mana.
Baffin sedikit mendekatkan wajahnya lagi. "Kamu nggak takut aku marah karena kamu asal nuduh di depan Bunda tadi?"
Silva mengerjapkan mata, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Kenapa? Bukannya kamu itu penakut? Pas mecahin kaca di sekolah aja, kamu langsung ngumpet di balik badan aku," ujar Baffin mengingatkan kejadian lalu.
"Aku cuma takut sama orang yang nggak aku kenal," sahut Silva membela diri. "Kan aku nggak tahu orang asing itu jahat atau enggak."
"Terus, menurut kamu... aku ini jahat atau enggak?" tanya Baffin dengan nada suara yang masih datar. Tapi terselip rasa penasaran.
Silva kembali menggelengkan kepalanya.
"Makanya kamu berani asal nuduh aku kayak tadi di dapur?"
Kali ini Silva mengangguk pelan.
"Menurut kamu, aku nggak mungkin bisa marah sama kamu?"
Silva menggelengkan kepalanya lagi.
"Kenapa?"
Silva terdiam sesaat, menimbang-nimbang wajah Baffin yang sedari tadi terus menatapnya intens. "Eh... mungkin bisa marah, sih," ralat Silva cepat-cepat.
"Terus, kamu nggak takut kalau aku beneran marah?"
Silva menggelengkan kepalanya dengan percaya diri. "Kalau kamu marah, nanti aku beliin es potek. Kamu pasti langsung diem."
Baffin mendengus geli mendengar jawaban polos itu. Es potek? Itu kan sogokan yang mempan pas mereka masih berumur lima tahun! Sekarang mereka sudah remaja, mana mungkin emosinya bisa diredam hanya dengan es krim jadul seharga beberapa ribu rupiah.
"Kalau ternyata sekarang aku nggak bisa diademin pakai es potek lagi gimana?" pancing Baffin, ingin menguji sejauh mana kepercayaan gadis itu.
"Ya sudah, biarin aja kamu marah. Lagian kamu juga nggak akan jahatin aku," ucap Silva santai.
"Yakin banget?"
Silva mengangguk mantap tanpa keraguan sedikit pun. "Yakin."
"Kenapa bisa seyakin itu?"
"Karena kamu nggak pernah jahatin aku dari dulu."
Mendengar jawaban yang terlampau polos dan tulus itu, ada sesuatu yang bergejolak di dalam dada Baffin. Sifat usilnya kembali meronta. "Kalau ternyata malam ini aku jahatin kamu gimana?"
Dalam hitungan detik berikutnya, posisi mereka berbalik. Tubuh Silva terhempas pelan ke atas kasur, dan kini tubuh tegap Baffin sudah berada di atasnya, mengukung pergerakan gadis itu.
Silva langsung panik setengah mati. Aura yang dipancarkan Baffin sekarang benar-benar berbeda dari biasanya. Ah, bahaya! Sorot mata cowok itu tampak nakal dan penuh kilat usil yang mengintimidasi.
Baffin semakin merundukkan wajahnya, memangkas jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "Gimana kalau aku beneran jahatin kamu malam ini, Cilpa?" bisik Baffin dengan suara berat yang seksi.
"Aaaaaaaaa!" Silva tidak bisa menahan kepanikannya lagi. Ia langsung berteriak histeris, reflex memejamkan mata erat-erat.
"Kenapa, Silva?!"
Suara berat dan panik milik Baskara seketika terdengar dari arah luar, disusul derap langkah kaki yang terburu-buru menuju kamar putrinya.
Lalu.. Brak!