"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""
Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.
Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!
Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35 - Anak Kecil Yang Memanggil Tante
Malam itu Arga menepati janji.
Ia tidak menunggu Safira bertanya sampai tiga kali. Setelah makan malam, setelah piring dicuci, setelah Dinda pulang dengan alasan tidak mau menjadi saksi interogasi rumah tangga, Arga duduk di meja makan dan berkata, "Rayhan teman keluarga Mahendra. Keluarga kami beberapa kali bekerja sama dalam yayasan dan proyek media."
Safira duduk di depannya. "Dan dia tahu kamu Kusuma."
"Banyak orang di lingkaran itu tahu."
"Aku lingkaran mana?"
Arga terdiam.
Safira tidak marah-marah. Justru itu membuat kalimatnya lebih berat.
"Aku istrimu, Mas. Tapi kadang aku merasa semua orang dapat brosur hidupmu, sementara aku cuma dapat potongan kertas."
"Saya salah."
"Iya."
"Saya sedang memperbaiki."
"Mulai sekarang, jangan tunggu orang lain keceplosan."
"Baik."
Safira menyesap air putih. "Rayhan dan Jovan. Ada apa dengan foto itu?"
"Saya tidak tahu."
"Kamu curiga."
"Iya."
"Apa?"
Arga berpikir sejenak. "Keluarga Mahendra pernah kehilangan anak perempuan bertahun-tahun lalu. Adik Rayhan. Saya hanya tahu garis besarnya. Mereka tidak banyak bicara."
Safira terdiam.
"Dan Jovan bilang aku mirip foto di kamar Rayhan."
"Bisa saja foto orang lain."
"Tapi kamu juga memikirkan hal yang sama."
Arga tidak menyangkal.
Safira tertawa kecil, lelah. "Hidupku akhir-akhir ini seperti pintu yang terbuka terus."
"Kalau kamu tidak nyaman menerima pesanan Rayhan..."
"Aku tidak akan membatalkan kerja hanya karena ada misteri. Tapi aku ingin tahu kalau misteri itu menyangkutku."
"Saya akan cari tahu pelan-pelan."
"Bukan diam-diam."
"Bukan diam-diam," ulang Arga.
Keesokan harinya, Jovan datang untuk fitting pertama bersama Fajar. Rayhan tidak bisa ikut karena syuting. Anak itu membawa kantong kecil berisi batu.
"Untuk kantong," katanya kepada Safira.
Safira berjongkok. "Kita uji kantongnya?"
Jovan mengangguk serius.
Fitting anak biasanya sulit, tetapi Jovan mengejutkan semua orang. Ia berdiri diam saat Safira mengukur bahu, mengangkat tangan saat diminta, dan hanya mengeluh ketika jarum pentul terlihat terlalu dekat.
"Jarumnya tidak akan menyentuh Jovan," kata Safira.
"Janji?"
"Janji."
"Kalau kena?"
"Tante minta maaf dan kasih roti cokelat."
Jovan berpikir. "Dua."
"Satu setengah."
"Dua."
"Baik, dua."
Fajar menatap mereka seperti menyaksikan negosiasi penting.
Setelah fitting, Jovan duduk di lantai ruang konsultasi, memasukkan batu ke contoh kantong yang Safira buat dari kain sisa. Safira sengaja menjahit cepat satu kantong kecil untuk diuji. Kantong itu kuat.
"Bisa lima batu," kata Jovan puas.
"Bagus."
"Tante pintar."
Dinda dari meja admin berbisik, "Aku setuju."
Jovan menatap Dinda. "Tante juga pintar?"
Dinda langsung duduk tegak. "Tentu."
"Bisa bikin kantong?"
"Tidak."
"Berarti Tante Safira lebih pintar."
Bima yang kebetulan datang membawa kopi tertawa keras. Dinda melempar gulungan benang kosong kepadanya.
Safira tertawa, lalu mendadak sadar Arga berdiri di pintu.
Ia tidak tahu sejak kapan.
Arga melihat Jovan yang duduk terlalu dekat dengan Safira, lalu melihat kantong batu.
"Kamu punya asisten baru?" tanyanya.
Jovan menatap Arga. "Aku klien."
Arga mengangkat alis. "Begitu?"
"Iya. Tante Safira bikin kantong batu."
"Saya lihat."
Safira membaca sesuatu di wajah Arga. Bukan cemburu seperti kepada Dani dulu. Lebih lembut, tetapi tetap ada rasa ingin memiliki perhatian yang biasanya untuknya.
Ia menahan senyum.
"Mas Arga, jangan bersaing dengan anak kecil."
"Saya tidak."
Bima langsung berkata, "Sedikit."
Arga menatapnya.
Bima mengangkat kopi sebagai tameng.
Jovan menarik lengan Safira. "Tante, Om itu siapa?"
"Suami Tante."
Jovan menatap Arga dari atas ke bawah. "Om tinggi."
"Terima kasih."
"Bisa bikin kantong?"
"Tidak."
Jovan berpikir. "Tante Safira lebih pintar."
Dinda bertepuk tangan sekali.
Arga kalah dari anak lima tahun.
Safira tidak bisa menahan tawa.
Fajar tampak lega melihat Jovan nyaman. Ia mengirim foto fitting ke Rayhan. Tidak sampai lima menit, ponsel Safira berbunyi. Pesan dari nomor Rayhan:
`Jovan tersenyum. Terima kasih.`
Safira membalas:
`Dia klien yang tegas soal kantong.`
Rayhan:
`Dia jarang begitu. Biasanya diam atau marah. Kamu punya bakat.`
Safira menatap pesan itu. Ada kehangatan, tetapi juga beban.
Arga melihat. "Rayhan?"
"Iya. Terima kasih soal Jovan."
"Hm."
"Mas Arga."
"Saya tidak bersaing dengan anak kecil."
"Aku belum bilang apa-apa."
"Wajahmu bilang."
Safira tersenyum. "Wajahku terbatas."
Arga menghela napas. Ia sendiri yang menciptakan senjata itu, sekarang dipakai melawannya.
Sore itu, setelah Jovan pulang, Safira membuka pola kecil untuk kemeja biru. Ia menambahkan dua kantong kuat di bagian depan, tetapi tetap menyembunyikan struktur agar tidak terlihat kasar.
Saat menjahit, ia teringat ucapan Jovan.
Mirip foto.
Ia tidak ingin memikirkan terlalu jauh. Banyak orang mirip. Banyak anak bicara tanpa konteks. Banyak keluarga menyimpan foto.
Tapi entah kenapa, kalimat itu menempel seperti benang halus di ujung jari.
Sulit terlihat.
Sulit dilepas.
Malamnya, Arga menerima pesan dari Bima.
`Gue cek sedikit. Keluarga Mahendra memang kehilangan anak perempuan sekitar dua puluh tahun lalu. Detailnya tertutup. Rayhan sensitif kalau ditanya.`
Arga membaca pesan itu, lalu menatap Safira yang sedang menjahit kantong batu di meja.
Ia ingat janji: bukan diam-diam.
"Safa."
"Hm?"
"Bima menemukan sesuatu soal keluarga Mahendra."
Safira berhenti menjahit.
Arga menunjukkan pesan itu.
Safira membaca, lalu menaruh jarum.
"Jadi ini mungkin bukan kebetulan."
"Mungkin kebetulan. Mungkin tidak."
"Aku belum siap untuk misteri keluarga baru."
"Kita tidak harus membuka sekarang."
"Tapi pintunya sudah terlihat."
Arga duduk di sampingnya.
"Kali ini, kalau kamu mau membuka, kita buka bersama."
Safira menatapnya.
Kata `bersama` tidak menyelesaikan ketakutannya.
Tapi setidaknya, ia tidak lagi berdiri sendirian di depan pintu yang asing.
Keesokan harinya, Bima datang membawa map tipis berwarna cokelat. Ia meletakkannya di meja Safira ketika atelier belum buka untuk pelanggan. Nadia sedang membeli kopi, Dinda masih di perjalanan, jadi ruangan hanya diisi suara kipas angin dan mesin jahit yang belum dinyalakan.
"Ini belum lengkap," kata Bima.
Safira tidak langsung menyentuh map itu. "Tentang keluarga Mahendra?"
"Iya. Rayhan Mahendra punya kakak perempuan bernama Ratih. Hilang saat usia sembilan belas tahun. Keluarga tidak pernah membuka detailnya ke publik."
Arga berdiri di samping jendela. "Tahun?"
Bima menyebut angka.
Safira menghitung dalam kepala. Tahun itu mendekati usia kelahirannya. Terlalu dekat untuk diabaikan.
"Ada foto?" tanya Safira.
Bima membuka map dan mengeluarkan satu lembar hasil cetak. Foto itu buram, mungkin diambil dari arsip acara lama. Seorang perempuan muda berdiri di samping Rayhan yang masih remaja. Rambutnya panjang, senyumnya kecil, matanya seperti sedang menahan sesuatu.
Safira menatap foto itu lama.
Tidak sama persis.
Tetapi cukup membuat tenggorokannya kering.
"Ini bisa kebetulan," katanya.
"Bisa," jawab Bima.
Arga mendekat. "Kita tidak akan menarik kesimpulan."
Safira menyentuh ujung foto. "Kalau perempuan ini ibuku?"
Tidak ada yang langsung menjawab.
Safira tertawa pelan. "Aku baru saja terbiasa dengan satu keluarga yang tidak menginginkanku. Sekarang mungkin ada keluarga lain yang kehilangan aku?"
Arga duduk di depannya. "Kamu tidak wajib menerima siapa pun sebelum kamu siap."
"Tapi kalau mereka benar-benar mencari?"
"Mereka menunggu bertahun-tahun. Mereka bisa menunggu sampai kamu mampu bernapas."
Safira menatapnya. Kalimat itu sederhana, tetapi untuk pertama kalinya Arga tidak terdengar seperti orang yang ingin mengatur langkahnya. Ia terdengar seperti orang yang berdiri di samping jalan, memegang lampu, membiarkan ia memilih arah.
Pintu kaca terbuka. Nadia masuk dengan dua gelas kopi dan berhenti ketika melihat wajah semua orang.
"Aku masuk di adegan penting?"
Dinda muncul di belakangnya, membawa helm. "Ada apa? Kenapa auranya seperti sinetron jam sembilan?"
Safira buru-buru memasukkan foto ke map. "Tidak ada. Kerja."
Dinda menyipit. "Kalau Kak Safa bilang tidak ada, berarti ada."
Bima mengambil map kembali. "Saya simpan dulu."
"Tidak," kata Safira.
Semua menatapnya.
Ia mengambil foto itu dan memasukkannya ke laci meja, lalu mengunci laci tersebut.
"Aku simpan di sini. Ini hidupku. Kalau ada yang harus menakutiku, biar aku lihat sendiri."
Arga mengangguk pelan.
Nadia tidak bertanya lagi. Ia hanya menaruh kopi di dekat tangan Safira. Dinda pun, untuk sekali dalam hidupnya, memilih diam.
Safira membuka buku pesanan Rayhan. Jarum, kain, ukuran, semua kembali menunggu.
Misteri boleh duduk di laci.
Pekerjaan tetap harus berjalan.