NovelToon NovelToon
Yan Kai

Yan Kai

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:781.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: DANTE-KUN

Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.

Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Setelah memasuki Kota Batu, Yan Kai tidak langsung terburu-buru melakukan apa pun. Ia justru berjalan santai menyusuri jalan utama kota, tatapannya bergerak ke segala arah.

Sudah satu tahun penuh ia hidup di Hutan Larangan, ditemani suara Binatang Iblis dan kesunyian hutan. Kini, suara tawa manusia, teriakan para pedagang, dan hiruk-pikuk kehidupan kota terasa begitu asing sekaligus menenangkan.

Tanpa sadar, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Akhirnya... aku kembali."

Perutnya yang sejak tadi mencium berbagai aroma masakan langsung berbunyi pelan. Yan Kai pun tertawa kecil. Ia segera menghampiri sebuah kedai yang dipenuhi pengunjung.

Di sana ia memesan berbagai hidangan yang selama ini hanya bisa ia impikan—semangkuk mi hangat, daging sapi panggang, ayam bakar berbumbu, sayuran tumis, serta sepoci teh hangat.

Saat makanan itu tersaji di hadapannya, Yan Kai sempat terdiam beberapa saat. Dahulu, sebagai pelayan sekte, ia hanya bisa memakan sisa makanan para murid.

Kini, ia dapat menikmati makanan hangat hasil jerih payahnya sendiri. Dengan penuh rasa syukur, ia mulai menyantap semuanya, sesekali wajahnya memperlihatkan ekspresi puas.

"Enak sekali..."

Setelah selesai makan, Yan Kai melanjutkan perjalanannya. Ia membeli beberapa stel pakaian baru yang lebih sederhana namun nyaman dikenakan—selain jubah hitam yang dimilikinya, kini ia memiliki beberapa pakaian cadangan untuk berganti. Tak lupa ia juga membeli beberapa kebutuhan sehari-hari.

Ketika melewati deretan kios makanan, matanya tertarik pada berbagai camilan manis yang dijual—manisan buah, kue beras, permen madu. Tanpa ragu ia membeli beberapa bungkus. Saat menggigit salah satu manisan itu, wajah Yan Kai kembali dihiasi senyum kecil. "Sudah lama sekali aku tidak makan makanan seperti ini."

Ia terus berjalan menikmati suasana kota. Sore harinya, keramaian mulai berkumpul di sebuah bangunan megah yang berada tidak jauh dari pusat kota. Di depan bangunan itu tergantung papan besar bertuliskan: Balai Lelang Kota Batu.

Rasa penasaran muncul di hati Yan Kai. Ia pun ikut masuk bersama para tamu lainnya. Di dalam aula, berbagai barang mulai dilelang satu per satu—senjata, pil, herbal langka, hingga berbagai benda antik. Namun Yan Kai tidak tertarik.

Hingga akhirnya, seorang pelayan membawa sebuah kotak kayu kecil ke atas panggung. Pembawa acara perlahan membukanya.

Di dalamnya terdapat sebuah liontin kuno berwarna hitam kebiruan, permukaannya dipenuhi ukiran yang telah memudar dimakan usia.

Pembawa acara tersenyum tipis. "Tuan-tuan sekalian. Barang berikutnya adalah sebuah liontin kuno yang ditemukan dari reruntuhan seorang kultivator. Kami telah menelitinya selama bertahun-tahun. Menurut dugaan, liontin ini memiliki kekuatan tersembunyi. Namun, hingga hari ini, belum ada seorang pun yang berhasil membangkitkan kekuatannya."

Karena itulah, nilai liontin tersebut menjadi sangat rendah. Tak seorang pun ingin menghabiskan uang untuk membeli benda yang kegunaannya tidak jelas.

"Harga awal. Lima koin emas."

Seluruh aula menjadi sunyi. Tidak ada satu pun tangan yang terangkat. Beberapa orang bahkan hanya menggeleng sambil tersenyum.

"Membuang uang."

"Kalau memang berharga, pasti sudah diketahui sejak lama."

"Itu hanya benda tua biasa."

Pembawa acara mulai terlihat kecewa. Ia kembali bertanya. "Apakah masih tidak ada yang berminat?"

Saat itulah sebuah suara tenang terdengar dari salah satu sudut ruangan.

"Lima koin emas."

Seluruh orang langsung menoleh. Yang mengangkat papan penawaran adalah Yan Kai.

Pembawa acara tampak sedikit terkejut, namun wajahnya segera berubah cerah. "Baik! Lima koin emas. Apakah ada penawaran lain?"

Aula tetap sunyi. Tak seorang pun berniat menaikkan harga.

"Kalau begitu. Lima koin emas. Pertama. Kedua. Ketiga. Terjual!"

Palu kayu diketukkan ke meja. Liontin kuno itu resmi menjadi milik Yan Kai. Setelah menyelesaikan pembayaran, ia menerima liontin tersebut dan mengamatinya sejenak.

Entah mengapa, sejak pertama melihatnya, ia merasa ada sesuatu yang aneh dari benda itu. Meski belum mengetahui apa kegunaannya, nalurinya mengatakan bahwa liontin itu bukanlah benda biasa. Tanpa banyak berpikir, ia menyimpannya ke dalam Cincin Ruang.

Malam pun mulai tiba. Langit Kota Batu dihiasi ribuan bintang. Yan Kai kemudian menuju sebuah penginapan yang berada di tengah kota. Setelah membayar biaya menginap, ia memperoleh sebuah kamar sederhana namun bersih.

Begitu memasuki kamar, ia merebahkan tubuh di atas tempat tidur yang empuk. Sudah satu tahun penuh ia tidur di atas tanah keras di dalam gua. Kini, kembali merasakan kasur yang nyaman membuatnya hampir tidak percaya.

Yan Kai menatap langit-langit kamar sambil tersenyum tipis. Hari itu adalah salah satu hari paling membahagiakan dalam hidupnya.

Ia dapat menikmati makanan enak, mengenakan pakaian baru, membeli berbagai camilan, bahkan memperoleh sebuah liontin kuno yang entah mengapa membuat hatinya sangat penasaran.

Dengan perasaan yang penuh suka cita, Yan Kai perlahan memejamkan matanya.

1
Durian Anget
kukira udah hancur
Durian Anget
lah di tutup mas peti nya
Durian Anget
jangan jangan ukurannya cuma hiperbola
Durian Anget
kecil
Durian Anget
mayat nya mana?
Durian Anget
bayangin kota perak luas nya berkali kali lipat lebih besar daripada GREAT BRITAIN
Durian Anget
sumpah gua takut nya nih mas author asal ketik doang🙏
Durian Anget
mas author ini salah ketik? atau ngasal ketik nih?
tau ga 3 jt km² itu seluas apa? hampir 2X total luas daratan Indonesia mas,
dan masa iya ada kota yang luas nya ratusan ribu sampai jutaan kilometer persegi? TAKUT NYA NGGA KONSISTEN NIH
Durian Anget
Hilih lu aja ngelepasin pasukan kerajaan awan suci 😹
Durian Anget
lima lantai melulu mas
Durian Anget
lah tiba tiba ada kapal terbang,
Durian Anget
kabur kok di bilang gugur🤡
Durian Anget
sikat aja mas
Durian Anget
btw puluhan ribu prajurit cuma action figure kah? 😹
Durian Anget
kali ini gua setuju
Durian Anget
udah gua duga akan ada ketidak konsisten an,

bukannya perjalan dari kota berlian ke perak membutuhkan berhari hari? ini kok dalam beberapa jam doang? apalagi itu bawa banyak pasukan dengan ranah kultivasi yang rendah?
Durian Anget
konsisten gak nih kayak gini?
Durian Anget
kesadaran saja gausah ada tambahan

toh belum sampai Ranai itu juga
Durian Anget: *ranah*
total 1 replies
Durian Anget
tapi kok SU LIAN pake pedang? tidak konsisten kah?
Kenzie Ganendra
ok mantap..lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!