"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."
Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.
Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.
Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.
Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.
Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.
Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18 Kirana Yang Dulu Sudah Mati
Ardy mengusap wajahnya kasar. Gesekan telapak tangan pada kulitnya seolah menjadi pelampiasan dari rasa frustrasi yang sejak tadi mendidih di ubun-ubun nya. Ia menarik longgar dasinya, berusaha mencari pasokan oksigen di dalam kamar yang mendadak terasa sempit dan mencekam ini.
Selama ini Ardy selalu berada di atas angin. Ia adalah raja, sang penguasa mutlak yang titahnya tak pernah dibantah. Kirana tidak pernah menatap matanya lebih dari lima detik. Namun sekarang? Wanita itu berdiri tegak di hadapannya, menantang tanpa sedikit pun gurat ketakutan.
"Aku bukan mempermasalahkan nominal uangnya, Rana!" bentak Ardy.
"Kamu pikir aku akan jatuh miskin hanya karena kamu menghabiskan uang miliaran dalam sehari? Harta keluargaku tidak akan habis hanya karena ulah kekanak-kanakan mu!"
Alih-alih gemetar atau menunduk meminta maaf seperti biasa, Kirana justru menyandarkan tubuhnya dengan sangat santai di tepi meja rias. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Dan sebuah senyum tipis, dingin, dan penuh ejekan terukir di bibir merahnya.
"Oh, ya? Kalau memang bukan soal uang, lalu kenapa Mas sampai harus membanting pintu dan mengejarku ke kamar dengan wajah panik seperti orang kebakaran jenggot?"
Ardy mengepalkan kedua tangannya hingga buku-bukunya memutih.
"Aku mempermasalahkan sikapmu. Kamu berubah. Kamu jadi kasar, pembangkang, arogan dan bahkan berani menatap serta melawan mama di depan mataku!" Ardy melangkah maju. "Kamu itu istriku! Aku berhak penuh menegur mu dan menghukum mu kalau kamu salah jalan!" lanjutnya dengan suara yang semakin meninggi hingga urat di lehernya bermunculan.
Kirana justru terkekeh pelan.
"Istri?" ulang Kirana lirih. Matanya menyipit, menatap Ardy seolah pria itu baru saja menceritakan lelucon paling tidak masuk akal di dunia.
"Kata yang bagus, Mas. Tapi, mari kita perjelas, sejak kapan kamu menganggap aku ini seorang istri?"
Ardy terdiam sesaat. Mulutnya terbuka, namun tak ada bantahan yang keluar.
Kirana melepaskan sandarannya dari meja rias. Perlahan, ia mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut kurang dari setengah meter.
"Apakah aku ini masih istrimu saat Mas mengajak Siska keliling Eropa dan membelanjakannya dengan uang yang sama?" desis Kirana tepat di depan wajah suaminya.
Ardy menelan ludah dengan susah payah. "Itu—"
"Atau, apakah aku ini masih istrimu saat Mas membiarkan mama menghinaku, memanggilku perempuan udik dan memperlakukanku lebih rendah dari pembantu di rumah ini? Dimana suamiku saat itu?" potong Kirana tanpa ampun.
"Apakah aku ini masih istrimu saat Mas memilih mematikan ponsel dan menemani Siska di apartemennya, sementara aku menangis darah, berjuang sendirian antara hidup dan mati di ruang gawat darurat?"
Kalimat terakhir itu menghantam dada Ardy.
"Kirana, cukup," geram Ardy.
"Jangan berani menyebut namaku kalau Mas bahkan belum bisa menjawab satupun pertanyaanku!" balas Kirana.
Kirana menatap pria di hadapannya dengan tatapan kecewa yang tak bisa ditutupi.
"Selama tiga tahun, kalian selalu menjejali ku dengan kata-kata hina. Kalian bilang aku perempuan kampungan. Istri yang memalukan. Beban keluarga yang tidak pantas mendampingi seorang pria hebat sepertimu."
Kirana merentangkan kedua tangannya, memamerkan penampilan sempurnanya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Sekarang aku berubah, Mas. Aku memakai pakaian mahal. Aku berdandan di salon kelas atas. Aku menggunakan kartu kredit suamiku untuk mengangkat derajatku. Bukankah ini yang kalian inginkan? Seorang nyonya rumah yang terlihat berkelas dan tidak memalukan jika dibawa ke pesta?"
Kirana memajukan wajahnya dan berbisik. "Lalu kenapa sekarang kalian semua gelisah dan kelabakan? Apa kalian takut karena anjing penurut yang dulu kalian tendang dan kalian injak-injak sesuka hati, akhirnya berani bangkit dan berbalik menggigit leher kalian?"
Ardy membuka mulutnya lebar-lebar, tetapi tak satu pun kata pembelaan berhasil keluar. Anehnya, di balik rasa kesal, malu dan ego yang terluka parah, ada sesuatu yang lain berdesir di dada pria itu.
Ardy menatap lekat-lekat wajah wanita di depannya. Ia baru menyadari, Kirana ternyata luar biasa cantik saat ia tidak lagi menundukkan kepalanya. Kulitnya bersinar dan tatapan matanya memiliki kedalaman yang memabukkan.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan mereka, Ardy benar-benar menatap istrinya, bukan sekadar melihat keberadaannya sebagai pelengkap rumah.
"Kamu gila," gumam Ardy serak, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku benar-benar nggak kenal kamu yang sekarang."
Mendengar pengakuan kekalahan itu, Kirana tertawa kecil. Tawanya terdengar sangat hambar, seolah seluruh sisa air mata yang pernah ia tumpahkan untuk pria di depannya ini telah mengering hingga tak bersisa.
"Itu karena kamu terlalu sibuk dengan perempuan lain, sehingga terlambat untuk mengenal seperti apa istrimu," jawab Kirana dingin.
Ia membalikkan badannya, berniat meninggalkan Ardy yang mematung.
"Kirana yang dulu, perempuan bodoh, naif, yang rela mengorbankan sisa harga dirinya di dapur demi memohon sepotong perhatian dari suaminya sudah mati, Mas."
Lalu, dengan senyum tipis yang entah mengapa membuat dada Ardy sesak hingga sulit bernapas, Kirana mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Dan asal Mas tahu, yang membunuhnya bukan kecelakaan waktu itu. Melainkan suamiku sendiri."
*
*
Sinar matahari pagi menerobos celah tirai, menyorot sosok Kirana yang duduk anggun di depan cermin. Ardy, yang baru saja selesai mengikat dasinya, mendadak terpaku. Matanya seolah terkunci, tak bisa lepas dari pantulan sang istri.
Pagi ini, Kirana tampak luar biasa memukau. Tubuhnya dibalut gaun merah marun keluaran desainer ternama yang mencetak tubuhnya dengan sangat sempurna. Rambut panjangnya yang biasanya hanya diikat asal, kini tergerai indah. Ia tidak lagi terlihat seperti wanita penurut yang bisa diinjak-injak.
Rasa gengsi dan penasaran tiba-tiba bergemuruh hebat di dada Ardy. Ia berdehem pelan, mencoba menyembunyikan kekagumannya.
"Kamu belanja sebanyak itu semalam sama siapa?" selidik Ardy. Matanya memicing tajam menatap punggung Kirana.
Alih-alih gugup, Kirana justru tersenyum miring. Ia mengambil lipstik mahal dari atas meja dan memoles bibirnya.
"Sama laki-laki," jawab Kirana kelewat enteng.
Padahal kenyataannya, Kirana belanja ditemani Vanessa. Sementara laki-laki yang Kirana maksud tak lebih dari supir taksi online dan seorang agen properti pria yang menemaninya mengecek rumah barunya.
Tidak bagi Ardy, jawaban dua kata itu ibarat bensin yang disiramkan ke dalam api. Rahang pria itu mengeras. Darahnya mendidih seketika, membakar wajahnya hingga memerah sempurna. Ego lelakinya meronta hebat.
"Laki-laki siapa maksudmu?!" seru Ardy dengan napas memburu. "Siapa laki-laki yang berani jalan sama istriku, hah?!"
Kirana berbalik, menatap suaminya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan luar biasa meremehkan.
Tanpa sudi mengucapkan sepatah katapun untuk menjelaskan, wanita itu menyambar tas barunya, lalu melenggang keluar kamar melewati Ardy begitu saja.
"Kirana!" teriak Ardy.
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy