Leonel adalah seorang hantu yang bersemayam di dalam patung.
Keberadaannya sudah bertahun-tahun lamanya dan tidak pernah keluar menampakkan wujudnya pada siapa pun.
Sampai suatu hari ada seorang wanita yang mengusik keberadaannya, sehingga dia terpaksa keluar dan menampakkan wujud aslinya, seorang hantu tapi tampan meskipun dengan wajah pucat, dia memang tidak bisa dilihat oleh mata awam kecuali orang itu sama energinya dengan hantu Leo, pasti manusia itu akan melihatnya seperti wanita yang mengusiknya hari itu ternyata sama energinya dengan hantu leo.
jadi siapakah yang bisa melihat leonel.
kalau mau tau ikutin kisahnya ya teman-teman ☺️🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.
Malam semakin larut, kegelapan mulai menyelimuti seluruh penjuru rumah sakit, Suasana yang tadi hanya terasa hening dan mencekam, kini berubah menjadi jauh lebih menakutkan.
Suara-suara gaduh mulai terdengar dari segala arah di luar perlindungan patung Dewi. Teriakan-teriakan samar, lolongan panjang, hingga suara langkah kaki yang tak kasat mata semakin keras dan semakin ramai.
Itu adalah suara para arwah gentayangan yang tidak bisa menemukan jalan pulang. Mereka terjebak selamanya di dunia ini karena hati mereka yang dipenuhi amarah, dendam kesumat, dan rasa kecewa yang mendalam hingga mati. Energi negatif mereka berterbangan di udara, membuat suasana menjadi semakin berat dan dingin.
Namun, di tengah kekacauan dan teror suara itu, Leo dan Arun hanya bisa berdiam diri, bersembunyi dengan aman di dalam energi positif yang memancar dari patung Dewi tempat mereka berlindung.
"Arun besuk aku hanya bisa mengantar Arun sampai disini ya... Leo gak bisa mengantarkan Arun sampai ketubuh Arun, karena Leo sudah gak bisa lagi kemana-mana, kalau siang patung dewi ini bagai penjara buat Leo, kalau malam Leo masih bisa keluar cuma sekedar untuk berjalan-jalan."
Leo menatap Arun dengan rasa sedih karena mungkin bagi Leo ini yang terakhir melihat Arun.
Kata-kata itu begitu menyakitkan. Leo menatap lekat wajah Arun, menatapnya dalam-dalam, seakan ingin mengingat setiap detail wajah orang yang dia sayangi itu, selamanya.
Di dalam hati kecilnya, Leo merasa... mungkin pertemuan ini adalah yang terakhir kalinya. Mungkin setelah pagi ini, mereka tidak akan pernah bisa bertemu lagi. Rasa sedih itu memenuhi seluruh wujudnya, membuat suasana di antara mereka semakin perih dan berat.
"Jadi... nikmati saja sisa waktu kita malam ini, Run. Karena saat matahari terbit nanti... kita mungkin harus benar-benar berpisah."
"Tidak untuk besuk Leo karena aku akan membawa kamu pergi dari gudang ini... hati kecil Arun berkata.
Malam semakin menuju puncaknya, waktu seolah bergulir dengan sangat cepat, tak terasa detik demi detik terus berlalu meninggalkan mereka berdua. Kegelapan yang tadinya terasa begitu pekat dan panjang, kini perlahan mulai menunjukkan tanda-tanda akan segera berganti.
Waktu seakan mempercepat langkahnya, mendekatkan jarak menuju pagi hari yang dinanti sekaligus ditakuti. Matahari sebentar lagi akan mulai menyapa, mengusir sisa-sisa kegelapan, dan memisahkan dua orang yang sedang menikmati detik-detik terakhir kebersamaan mereka di dunia yang berbeda ini. Kicauan burung-burung mulai bernyanyi bersahut-sahutan seakan memberitahu bahwa pagi sudah datang.
"Run... sudah, sekarang Arun keluar dari patung ini, dan pergilah menuju arah utara lalu belok kekiri ya... tubuh Arun berada di kamar nomer delapan, hati-hati jangan sampai tersesat soalnya Leo sudah gak bisa berjalan ke arah sana lagi."
"Iya Leo gak apa-apa Arun ngerti kok,"
Lalu Arun melangkah keluar patung dan menuju arah yang di bilang hantu Leo, Arun terus berjalan melayang di udara tanpa seorang pun tau, sesampainya di kamar bernomor kan delapan Arun berhenti terasa dadanya berdegup kencang meskipun tubuh fana nya berbaring tak berdaya di ranjang dengan banyak alat untuk membantunya bertahan.
Arun perlahan masuk menembus pintu kamar dan disamping ranjang terlihat Dimas dengan keadaan tertidur terlihat wajahnya yang kelelahan, Arun langsung membaringkan jiwanya kedalam tubuh fana nya yang lemah, beberapa menit kemudian tangan Arun bergerak-gerak, dan mulai sadar langsung pertama yang dia panggil adalah Leo.
"Leo...! Seru Arun, Dimas yang menjaganya langsung terbangun dan kaget.
"Arun... sudah sadar... Ya Allah terimakasih."
Rasa syukur dan bahagia terlihat dari wajah Dimas belum sempat Dimas ngomong lagi Arun sudah, memotong pembicaraan Dimas dengan keadaan masih lemah Arun berkata.
" Pak Dimas tolongin Leo saya mohon?"
Arun dengan mengangkat kedua tangannya yang lemah memohon ke Dimas untuk menyelamatkan Leo.
"Iya Arun aku ngerti Arun sayang sama Om Leo tapi kita harus cari dimana?"
"Saya tau dia ada dimana."
Jawab Arun membuat Dimas kaget.