Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.
Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------
Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.
AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.
---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--
nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Naga dan Sebuah Akhir
Makin lama perut istri makin besar.
Go Beng Liong pusing. Bukan karena ngurusin, tapi karena istrinya makin aneh.
Setiap dia habis mandi, Kwee Lan minta dia agar mau dipeluk, dicium, bahkan istrinya mengendus-endus kayak anjing pelacak.
"Cium, Koh. Cium. "
Go nurut. Dia endus rambut istrinya. Wangi. Tapi aneh.
"Lo kenapa sih, Lan?"
"Gak tahu. Wanginya... kayak papa."
Go diem. Hatinya nyut-nyutan.
Dia baru sadar: sabun yang dipake Go Beng Liong itu sabun kesukaan almarhum ayahnya Kwee Lan, kan?
Gue... gue ngapain, sih? pikirnya. Gue hancurin anak orang, sekarang gue gantikan posisi papanya. Cuman gara-gara sabun! Ini gila.
Tapi dia suka. Walaupun gak nyaman, dia suka.
Kadang dia curiga, istrinya kumat lagi. Takut stress membuatnya jadi makhluk astral beneran. Tapi mata Kwee Lan-udah gak kosong. Matanya hangat. Matanya sayang.
Ini bukan kumat, batin Go. Ini... cinta.
Dua Tamu Istimewa
Gosip liar itu ternyata berefek sampai ke istana.
Sore itu, dua pria datang.
Yang pertama: Pangeran Lie Bun Hok-yang sekarang udah naik tahta jadi Kaisar.
Yang kedua: Kaisar lama-ayahnya, yang udah pensiun jadi kakek-kakek.
"Kami denger lo jago, " kata Kaisar lama.
"Kasih tips, " sambung Kaisar baru.
Go Beng Liong garuk kepala.
"Bentar... Masuk dulu. Jago apa?"
"Tips bikin istri hamil. "
Go melongo. Kaisar minta tips "menyatukan hidup menghasilkan Naga" ala Jendral Naga.
Jakun Sinseh Militer ini cuma naik turun. Sambil mikir biar kepala ga pindah dengkul. Dia mau liat anak, kalo boleh ya cucu.
Tapi Go inget perjalanannya: dari gagal mulu, tapi rajin praktek, akhirnya deposit cair.
"Gini, Yang Mulia..." Go mulai cerita.
Satu jam kemudian, Pangeran Lie-eh, Kaisar Lie-tersenyum puas.
"Gue mau satu lagi, kalo boleh sama Thien. "
Go cuma bisa geleng-geleng.
Kaisar aja minta tips gue. Dunia udah gila.
Malam itu, Go merenung.
Dia udah menerima keadaan. Rasa sesal yang dulu menghantuinya-gue hancurin anak orang, gue perusak, gue sumber masalah-udah terasa lunas.
Bukan karena Kwee Lan hamil.
Bukan karena dia jadi ayah.
Tapi karena... dia diterima.
Istrinya sayang.
Mertuanya bangga.
Bahkan kaisar minta tips.
Mungkin ini jalan Thien, pikirnya. Mungkin gue gak sejahat yang gue kira.
Kwee Lan pun merasa ia bebas. Bebas mencintai Jendral Naganya. Walaupun Thien mempertemukan dia dengan naganya lewat jalan hidup seperti kisah ikan koi menjadi naga. Penuh perjuangan dan gairah.
Kontraksi
Malamnya, Kwee Lan kontraksi.
Awalnya dia percaya diri. Sombong banget.
"Gue sinseh. Gue tahu rasanya. Gue kuat. " Sesumbar Sinseh Go. Katanya mau bantu lahiran istri sendiri. Soalnya udah biasa di RS Militer.
Kwee Lan cuma bisa ngeliat suaminya ngomong besar.
Satu jam kemudian, Jendral Go gak sadarkan diri
"Liong Aaaaaaaaa! " Jeritnya sambil menjambak rambut suaminya yang pingsan itu.
Untung, Ibunya Go udah panggil Sinseh Ong dari jauh-jauh hari. Dia tahu bakal begini.
"SINSEH ONG! CEPET! "
Lahiran
Lahiran dimulai.
Nyonya Nyoo pegang tangan mantunya yang lemes. Dia gemeteran. Keringat dingin.
"Lo kuat, Lan. Lo kuat. "
Kwee Lan gak jawab. Matanya terpejam.
Sinseh Ong kerja cepet. Perintahnya terdengar membentak-bentak pembantu buat ambil air dan macem-macem keperluan.
Sinseh Go akhirnya bangun. Begitu melek,
Go liat kepala bayinya mulai keluar. Walhasil pingsan lagi.
"Haiyaa Ndak ada guna aaaaaa!!" Teriak Nyonya Nyoo.
Chaos
Tan Eng bingung. Dia lari-lari kecil, padahal dia sendiri hamil muda. Perutnya masih kecil, tapi udah cemas setengah mati.
"KOKO! KOKO BANGUN! "
Go gak bangun.
"SINSEH ONG! KOKO GUE PINGSAN! "
Sinseh Ong nengok bentar. "BIARIN. YANG PENTING IBUNYA. "
Go Bun Kiat di pojok udah nangis. Nyonya Nyoo sibuk ngelapin air mata sambil bantuin Sinseh Ong.
Ah Niu dari luar cuma bisa diem. Tangannya megang pintu, jari-jarinya gemeteran. Dia inget dulu Kwee Lan dampingin dia. Sekarang dia cuma bisa nonton dari jauh.
Lahir
OEEK... OEEK...
Tangisan bayi pecah.
Dua kali.
Dua suara.
Sinseh Ong angkat tangan. Tangannya berlumuran darah, tapi wajahnya senyum.
"Dua, Ci. "
Kwee Lan buka mata. Lemes. Tapi matanya. Matanya hidup.
"Dua? "
"Iya. Laki-laki semua. "
Kwee Lan senyum. Senyum yang sama kayak dulu-waktu dia masih kecil, sebelum semuanya hancur.
Senyum asli.
Nama
Go siuman. Bayinya udah wangi seperti bau ayahnya. Mukanya seperti muka ayahnya. Tapi bibirnya manis seperti ibunya.
Dia liat istrinya udah sadar. Liat dua bayi di sampingnya. Liat Sinseh Ong senyum. Liat ibunya nangis.
"Dua? " tanyanya.
"Iya, Koh. Dua. "
Go diem. Lalu dia ngomong:
"Go Liong Hok (Naga Keberuntungan) " Tolehnya ke kiri
"Go Liong Bwee (Naga Indah/Tampan) " Tolehnya ke kanan.
..
Kwee Lan tersenyum.
"Cocok. "
25 Tahun Kemudian
Kwee Lan-wanita yang pernah jadi hantu, jadi makhluk mitologi, jadi dewi, jadi istri, jadi guru, jadi sinseh sejati-akhirnya berpulang.
Meninggalkan anak, suami, cucu, dan menantu. Untuk siswi, itu koleksi. Dan banyak sekali.
Banyak wanita yang selamat. Juga menghapus stigma bagi tabib-tabib wanita di Cia Agung.
Tiga naga: Go Beng Liong, Go Liong Hok, Go Liong Bwee-berdiri di depan makam.
Mereka memakamkan wanita berjasa itu dengan upacara militer penuh hormat.
Ah Niu datang. Tan Eng datang. Anak-anak mereka ikut.
Go Bun Kiat menangis. Nyonya Nyoo nangis. Semua nangis. Bunga bangsa itu lebih dahulu berpulang dari pada yang lain.
Tapi di tengah tangis, ada senyum.
Karena mereka tahu: Kwee Lan udah pulang dulu memeluk papanya dengan rasa puas karena mimpi mereka sudah diraih walaupun dengan darah, air mata, dan berubah menjadi makhluk mistis.
Tiga Orang Misterius
Di ujung makam, Tiga orang muncul.
Mereka bukan dari rombongan. Mereka datang sendiri. Jubah hitam. Wajah tertutup.
Mereka berjalan pelan ke arah makam Kwee Lan.
Berhenti.
Salah satu dari mereka menunduk.
Yang satu lagi angkat tangan-memberi hormat terakhir.
Lalu mereka pergi.
Tanpa suara. Tanpa nama. Tanpa jejak.
Go Beng Liong nengok ke arah mereka pergi. Hatinya berdebar.
Siapa mereka?
Tapi dia gak ngejar. Dia cuma bisa tebak:
Mungkin... masa lalu.
Mungkin... keluarga.
Mungkin...
Thien sendiri.
[TAMAT]