NovelToon NovelToon
Love Unscripted

Love Unscripted

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:877
Nilai: 5
Nama Author: CieMey

Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.

Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang tak disengaja

Jalanan yang mereka lalui cukup padat. Nana memutuskan untuk beristirahat. Ia membelokkan motornya memasuki sebuah mall.

"Lah kok kita kesini, kan tadi katanya mau pulang" protes Vanya saat mengetahui Nana tidak jadi mengantarnya pulang.

"Macet Vanya"

Vanya mencoba menerima jawaban Nana. Ia tidak mau berdebat dengan Nana, apalagi saat ini mood Nana sedang tidak baik. Vanya tidak mau memperburuk suasana hati Nana.

Tujuan pertama mereka adalah toko buku. Nana dan Vanya berpisah, menelusuri rak rak buku. mencari cari buku yang mereka inginkan.

Setelah mereka mendapatkan buku yang mereka cari, mereka kembali berjalan mengelilingi mall.

Nana berinisiatif mengajak Vanya menonton bioskop, itu di lakukan untuk menebus rasa bersalahnya pada Vanya karena telah mengajak Vanya ke pemakaman.

"Van nonton dulu yuk... udah lama ga nonton bioskop nih"

"Ayo"

Mood Nana mulai membaik. Tak ada lagi tatapan sendu dari matanya. Cara bicaranya pun kembali terdengar seperti biasanya tidak lagi terdengar sangat lemah.

Semudah itu Nana merubah mood nya. Vanya rasa Nana sangat pandai menutupi kesedihannya di depan banyak orang.

Tidak ada yang menyangka jika Nana yang dingin ternyata memiliki luka yang dalam.

"Van kita dapet bangkunya di barisan B gapapa kan?"

"Iya gapapa... kita mau nunggu dimana?" tanya Vanya yang melihat lihat sekeliling.

"Kita makan aja dulu, kita kan blom makan dari tadi"

Dengan senang hati Vanya menerima saran dari Nana itu. Sejujurnya Vanya sudah sangat lapar dari tadi tapi ia sungkan untuk bilang ke Nana.

...  ☘️☘️☘️...

Vanya yang sedang sibuk berkelana dengan pikirannya itu dikagetkan dengan suara wanita yang sudah tak asing baginya. 

"Vanya..." Suara cempreng milik Desya menyadarkan Vanya dari lamunannya. 

Vanya menoleh kearah sumber suara dan mendapati Desya sahabatnya sejak sekolah dasar sedang berjalan mendekat kearahnya. 

"Vanya gue kangen banget sama Lo" Desya memeluk Vanya sangat erat. Ia sangat merindukan sahabatnya yang selalu sabar mengajarinya menjawab soal soal latihan terutama soal matematika. 

Vanya dengan sekuat tenaga mencoba melepas pelukan Desya "iya... Gue juga kangen sama Lo, lepasin gue ga bisa napas" 

Desya melepaskan pelukannya dan terkekeh melihat muka Vanya yang sudah seperti kepiting rebus karena ulahnya. 

"Hehehe sorry... btw Lo sendirian nih?" 

"Nggak, gue sama temen gue tuh" jawab Vanya sambil menunjuk kearah Nana menggunakan dagunya. 

"Temen apa pacar?" 

Vanya mendengus kesal, ia harus bisa menahan amarahnya jika sedang bersama Desya. 

Bahkan orang orang yang melihat mereka bingung, bagaimana bisa seorang wanita kalem dan pintar seperti Vanya bisa berteman baik dengan wanita seperti Desya yang terkenal sebagai juru kunci sejak kelas satu sekolah dasar dan juga memiliki sifat yang tidak bisa diam sangat jauh dari kata kalem. Bukan hanya orang orang yang melihat mereka saja yang bingung tapi Vanya sendiri juga bingung bagaimana bisa mereka berteman baik sampai saat ini.

"Temen Desya" Vanya menjawab dengan lembut. Percuma saja berbicara dengan Desya dengan nada yang kasar karena Desya akan tetap menanggapinya dengan candaan. 

"Ganteng juga... Boleh kali kenalin" kata Desya yang menatap Nana dengan tatapan genitnya. 

Sontak Vanya menoleh kearah Desya, ia terkejut dengan perkataan Desya tadi. Bagaimana bisa ia membiarkan Nana dekat dengan sahabatnya sendiri, ia tidak akan rela siapapun mengambil Nana darinya termasuk sahabatnya sendiri. 

"Kenapa Lo ngeliatin gue kaya gitu? Katanya cuma temen masa mukanya kaya ga ikhlas gitu"  

Tak ada respon dari Vanya, ia menatap lekat kearah Desya. Matanya seperti sedang mengintimidasi Desya, walaupun Vanya tau itu percuma karena jelas sahabat nya itu tidak akan pernah merasa terintimidasi dengan tatapannya itu.

...☘️☘️☘️...

Nana berjalan kearah Vanya sambil membawa nampan yang penuh dengan makanan. 

Nana melambatkan langkahnya ketika melihat Vanya yang tidak sendirian, ada seorang wanita yang sedang menemaninya. Sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang serius, Nana bisa melihat dari cara Vanya menatap wanita itu. 

Beruntung teman teman Desya memanggilnya. Vanya bisa bernapas lega sekarang.  

Tepat ketika Desya meninggalkan Vanya, Nana mempercepat langkahnya. 

"Van tadi siapa?" Tanya Nana yang baru saja duduk dihadapan Vanya, sambil melirik melihat kearah Desya dan temannya yang berjalan meninggalkan tempat makan. 

Vanya tak tau apa yang sedang di pikirkan oleh Nana sekarang. Kenapa juga nana harus menanyakan tentang Desya bahkan memperhatikan Desya seperti itu. 

"Van" Nana menoleh menatap Vanya yang sekarang sedang menatapnya. 

"Apa?" 

"Kok ga dijawab sih... Tadi tuh siapa?" 

"Emang kenapa? Lo suka?" Tanya Vanya dengan raut wajah kesal. 

Nana benar benar tidak memahami perasaan Vanya. Ia bahkan tidak peduli dengan raut wajah Vanya yang menunjukkan rasa kesalnya.

"Temen" jawab Vanya singkat.

"Kenalin dong" pinta Nana yang semakin membuat Vanya geram. 

Tak ada jawaban dari Vanya. Vanya hanya diam melahap makanannya. Moodnya berubah hancur. 

"Eh Van... Kok diem sih? Mau ga kenalin?" 

Vanya membuang napas dengan kasar, ia menyerah dengan Nana "iya nanti gue kenalin."

Nana tersenyum "jawaban yang sangat memuaskan" kata Nana yang langsung dihadiahi tatapan mematikan dari Vanya. 

Vanya menyesal karena telah menuruti perkataan Nana untuk mampir ke mall.

1
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
gempi
b
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!