Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario Semesta
(Suara dering ponsel terdengar dua kali sebelum diangkat)
Laras meraba saku rok seragamnya. Di layar, tertera nama Pak Joko.
"Halo, dalem Pak?" sapa Laras lembut.
"Nyuwun sewu, Non Laras. Ini tiba-tiba mobilnya mogok di tengah jalan. Sepertinya ada kendala mesin yang lumayan serius, Non," suara Pak Joko terdengar panik, napasnya tersengal seolah ia baru saja mencoba mendorong sedan hitam besar itu sendirian.
"Lama tidak kira-kira perbaikannya, Pak? Saya sudah di depan gerbang."
"Wah, sepertinya bakal lumayan lama, Non. Ini saya sudah panggil mekanik, katanya mesinnya harus dibongkar sedikit. Saya juga sudah izin ke Kanjeng Eyang dan Kanjeng Ibu kalau Non Laras akan terlambat sampai di rumah."
Mendengar nama itu, pundak Laras seketika menegang.
"Eyang bilang apa, Pak?" tanyanya, ada sedikit nada cemas yang ia sembunyikan.
"Sudah saya sampaikan kondisinya, Non. Kanjeng Eyang hanya berpesan agar Non hati-hati. Jangan keluyuran ke tempat yang tidak semestinya."
Laras membuang pandang ke arah jalan raya di luar gerbang sekolah. Kebebasan sejenak ini terasa seperti oksigen tambahan bagi paru-parunya.
"Ya sudah kalau begitu. Pak Joko tidak usah menjemput ke sekolah. Nanti temui saya di toko buku langganan saja, ya? Saya mau cari referensi buku baru di sana supaya tidak bosan menunggu."
"Baik, sendiko dawuh, Non Laras. Segera setelah mobil beres, saya langsung meluncur."
Laras mematikan ponselnya. Ia membuka ransel, mengambil sebuah hoodie merah muda longgar yang sengaja ia bawa. Ia mengenakannya, menutupi logo almamater sekolah elitnya yang mencolok. Ia melepaskan ikatan rambutnya, membiarkan helai hitam itu jatuh menutupi bahu.
Laras menyusuri trotoar dengan langkah yang tetap terukur. Namun, ketenangan itu pecah dalam sekejap saat ia mendekati kawasan pertokoan tua. Dari arah tikungan, seorang pria berlari kencang. Jaket denimnya yang kusam berkibar ditiup angin, deru napasnya memburu seperti binatang buruan yang terpojok. Di belakangnya, tiga pria bertampang sangar dengan tato di lengan mengejar sambil meneriakkan makian kasar.
Tepat di depan pintu masuk toko buku yang berkisi besi, langkah pria itu terhenti. Jalan buntu. Sebuah truk boks sedang bongkar muat, menutup celah pelarian di gang sempit samping toko. Para pengejar itu menyeringai, mengepung pria berjaket denim itu dengan tatapan lapar. Salah satu dari mereka mengeluarkan rantai besi yang bergemerincing menyeramkan.
Laras, yang berada hanya tiga meter dari sana, bukannya lari menjauh seperti pejalan kaki lainnya, ia justru terpaku pada sepasang mata pria itu. Ia mengenalnya. Itu Bara Aksara. Siapa yang tidak tahu Bara? Di sekolah, nama itu adalah sinonim dari masalah. Ia adalah "hantu" di koridor yang lebih sering menghuni ruang BK daripada ruang kelas. Namun, di mata itu, Laras tidak melihat ketakutan. Ia melihat kemarahan yang tertahan dan harga diri yang setinggi langit.
Saat preman bertubuh paling besar hendak melayangkan pukulan dengan rantai besi, Laras melangkah maju. Suaranya tidak melengking ketakutan, justru dingin dan penuh otoritas.
"Berhenti!"
Para preman itu tertegun, tangan mereka menggantung di udara. Mereka menatap Laras dari ujung kaki hingga ujung kepala. Meski hanya mengenakan hoodie, aura yang dipancarkan Laras sangat berbeda. Ia tampak "mahal" dan berbahaya bagi orang-orang kecil yang takut pada hukum.
"Saya sudah menekan nomor darurat dan pemilik toko ini sedang mengarahkan kamera pengawas tepat ke wajah kalian," bohong Laras sambil mengangkat ponselnya dengan tenang.
"Polisi patroli hanya berjarak tiga menit dari sini."
Preman-preman itu saling lirik. Mereka melihat ketenangan di wajah Laras dan menduga gadis ini adalah anak orang penting yang bisa menghancurkan hidup mereka dalam semalam hanya dengan satu telepon. Sambil meludah ke aspal dan memberikan ancaman terakhir yang tak jelas, mereka mundur perlahan lalu menghilang.
Suasana mendadak hening. Bara bersandar di pilar toko, mencoba mengatur napas yang tersengal. Darah merah segar menetes dari buku jarinya, juga ada sobekan kecil di sudut bibirnya. Ia menatap Laras dengan dahi berkerut, heran kenapa gadis borjuis ini mau terlibat.
"Lo cari mati?" suara Bara serak, matanya menatap tajam namun tetap menjaga jarak.
"Mereka bukan jenis orang yang bisa lo ancam pakai kamera mati. Gue tahu itu kamera CCTV sudah rusak dari bulan lalu."
Laras berjalan menuju kursi panjang di depan toko dan duduk di sana, menjaga jarak aman namun tak gentar.
"Aku mencari buku, bukan mati. Dan teknik gertakan tadi cukup berhasil, bukan? Setidaknya kamu tidak perlu ke rumah sakit sore ini."
Bara tersenyum miring—sebuah seringai yang berbahaya sekaligus memikat bagi siapa saja yang melihatnya.
"Gertakan yang nekat" ucap Bara mengistirahatkan tubuhnya di sebelah Laras.
"Lukamu butuh dibersihkan," potong Laras halus, mengabaikan sarkasme pria itu.
Ia mengeluarkan sapu tangan kain dari saku ranselnya—putih bersih dengan inisial 'L' yang disulam halus dengan benang perak di pojoknya. Ia mengulurkannya pada Bara. Bara menatap kain putih itu, lalu menatap tangannya yang kotor dan berdarah.
"Kain ini terlalu bersih buat darah gue," gumamnya rendah, ada nada getir dalam suaranya.
Laras tidak menarik tangannya. Ia justru bergeser satu tindak lebih dekat. Aroma mawar yang lembut dan elegan dari tubuhnya seketika menabrak bau aspal, logam, dan keringat dari tubuh Bara. Kontras yang luar biasa.
"Kain bisa dicuci, tapi infeksi di luka itu akan lebih sulit diurus. Ambil ini!"
Bara akhirnya meraihnya. Ujung jarinya yang kasar dan kapalan secara tidak sengaja bersentuhan dengan kulit tangan Laras yang halus. Sebuah sengatan tak kasat mata seolah merambat melalui saraf mereka, membuat jantung keduanya berdetak di luar ritme normal. Saat Bara menekan sapu tangan itu ke sudut bibirnya, kain putih itu seketika ternoda merah pekat.
"Gue bakal balikin ini" ucap Bara singkat, menyelipkan sapu tangan itu ke saku jaket denimnya.
Ia menatap Laras dalam-dalam, "Rumah lo di mana? Biar gue antar kalau sudah bersih. Gue nggak suka punya utang."
Laras terdiam. Otaknya bekerja cepat. Ia tidak mungkin memberi tahu alamat asli.
"Jalan Anggrek. Blok delapan nomor tiga puluh empat," jawab Laras tanpa ragu.
Seketika, atmosfer di antara mereka berubah. Keheningan yang tercipta terasa lebih berat daripada saat para preman tadi mengepung. Bara terpaku, menatap Laras dengan mata yang menyipit.
"Jalan Anggrek?" ulang Bara, suaranya kini terdengar lebih dalam dan penuh teka-teki.
"Blok delapan... nomor tiga puluh empat?"
Laras mengangguk mantap, meski hatinya mulai berdegup kencang karena kegugupan.
"Iya. Kenapa? Ada yang salah?"
Bara tiba-tiba tertawa kecil, suara tawa yang kering dan penuh ironi. Ia menggelengkan kepala seolah sedang menertawakan sebuah lelucon takdir yang sangat lucu.
"Lo beneran mau gue ke sana? Ke rumah itu?"
Firasat buruk mulai merayap di tengkuk Laras. Ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan pilihannya. Mungkin rumah itu milik guru sekolah? Atau rumah kosong yang angker? Atau kuburan?
"Tidak perlu dikembalikan, buang saja!" Laras tiba-tiba bangkit berdiri. Ia merasa harus segera pergi sebelum kebohongannya terbongkar lebih jauh.
Laras berdiri dan berjalan cepat memasuki toko buku. Namun, suara Bara yang lantang menghentikannya sejenak.
"Oii, Tuan Putri!" teriak Bara.
Laras menoleh sekilas, Bara berdiri di sana dengan senyum miring yang kini terasa jauh lebih misterius. "Gue bakal balikin ke sana. Tapi jangan kaget kalau pas gue ke sana, gue nggak perlu ngetuk pintu!"
Laras tersentak. Ia tidak sempat membalas ucapan itu dan memilih untuk terus berjalan cepat, masuk ke dalam toko dengan jantung yang berpacu gila. Di balik rak buku sejarah, ia mencoba menenangkan diri.
"Maksudnya apa coba? Bertamu kok nggak perlu ngetuk pintu sih. Dasar aneh!" gumam Laras sambil memegang dadanya.
Ijin mampir🙏