Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Perjanjian Tiga Veil
...****************...
Malam menyelimuti Akademi Duskveil dengan tenang.
Lampu-lampu kristal di sepanjang taman Natureveil memancarkan cahaya hijau lembut.
Suara serangga malam dan angin yang menggerakkan dedaunan menciptakan suasana yang damai.
Namun bagi Arkan, malam itu terasa jauh dari tenang.
Ia berdiri menghadap dua orang murid yang baru saja menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari yang mereka sadari.
Leyna dari Natureveil.
Dan Solan dari Lightveil.
Solan menyilangkan tangan sambil menatap Arkan dengan ekspresi penasaran.
“Jadi,” katanya santai, “kau menemukan ritual kuno yang membutuhkan tiga jenis sihir, lalu kau memutuskan untuk mencobanya?”
Arkan menjawab tanpa ragu.
“Aku ingin mengetahui kebenaran tentang keluargaku.”
Solan mengangguk pelan.
“Ambisi yang cukup besar.”
Leyna menoleh ke arah Arkan.
“Kau bilang ritual itu ada di buku tua. Apa kau membawa catatannya?”
Arkan menggeleng.
“Tidak.”
Leyna mengerutkan kening.
“Kenapa tidak?”
“Karena buku itu terlalu berbahaya untuk dibawa keluar.”
Angin malam berhembus lagi melalui taman.
Arkan melanjutkan dengan suara pelan.
“Tapi aku mengingat bagian pentingnya.”
Solan mengangkat alis.
“Kau menghafalnya?”
Arkan mengangguk.
“Ritual itu membutuhkan tiga sumber sihir yang berbeda untuk membuka sesuatu.”
Leyna terlihat penasaran.
“Membuka apa?”
Arkan menatap mereka bergantian.
“Gerbang.”
Keheningan langsung turun di antara mereka.
Solan memiringkan kepala sedikit.
“Gerbang… ke mana?”
Arkan menggeleng.
“Buku itu tidak menjelaskannya.”
Leyna menghela napas pelan.
“Ini mulai terdengar seperti cerita legenda.”
Arkan menjawab dengan tenang.
“Mungkin memang legenda.”
Ia berhenti sejenak.
“Namun jika itu benar… maka keluargaku mungkin menyembunyikan sesuatu yang sangat besar.”
Solan tampak memikirkan hal itu.
Kemudian ia berkata,
“Baiklah.”
Leyna menoleh padanya.
“Kau serius ingin terlibat?”
Solan tersenyum tipis.
“Aku murid Lightveil. Kami mempelajari sejarah sihir lebih dalam daripada yang orang kira.”
Ia menatap Arkan.
“Ritual yang melibatkan tiga aliran sihir hampir tidak pernah tercatat dalam sejarah modern.”
Matanya sedikit bersinar oleh rasa ingin tahu.
“Artinya kalau ritual itu benar… kita mungkin akan menemukan sesuatu yang sangat langka.”
Leyna menggeleng sambil tertawa kecil.
“Kau terdengar seperti penjelajah yang mencari harta karun.”
Solan mengangkat bahu.
“Pengetahuan adalah harta karun terbaik.”
Arkan akhirnya berkata,
“Aku tidak memaksa kalian ikut.”
Ia menatap mereka dengan serius.
“Jika ini berbahaya, kalian masih bisa mundur sekarang.”
Leyna langsung menjawab,
“Aku sudah bilang akan membantu.”
Solan juga mengangguk.
“Aku juga.”
Arkan memperhatikan mereka beberapa detik.
Lalu ia berkata,
“Kalau begitu kita perlu tempat untuk mencoba ritual ini.”
Leyna langsung berkata,
“Bukan di sini.”
Arkan setuju.
“Tentu saja tidak.”
Solan berpikir sejenak.
“Ada satu tempat.”
Arkan dan Leyna menoleh padanya.
“Di mana?”
Solan menunjuk ke arah utara akademi.
“Reruntuhan menara tua.”
Leyna langsung mengenalinya.
“Menara Astral?”
Solan mengangguk.
“Tempat itu sudah tidak digunakan selama puluhan tahun.”
Arkan bertanya,
“Kenapa ditinggalkan?”
Solan menjawab,
“Konon dulu tempat itu dipakai untuk eksperimen sihir tingkat tinggi.”
Leyna menambahkan,
“Dan katanya pernah terjadi kecelakaan besar di sana.”
Arkan justru terlihat semakin tertarik.
“Artinya tempat itu cukup terpencil.”
Solan tersenyum,
“Tepat sekali.”
Angin malam kembali berhembus.
Arkan akhirnya berkata,
“Kita akan pergi ke sana besok malam.”
Leyna tampak sedikit gugup, meskipun ia mencoba menyembunyikannya.
“Ini benar-benar terasa seperti kita sedang melanggar setengah aturan akademi.”
Solan tertawa kecil.
“Hanya setengah?”
Arkan menatap langit malam.
Bintang-bintang mulai muncul di antara awan tipis.
Ia teringat kembali suara misterius di perpustakaan bawah tanah.
Rahasia keluarga Noctis belum selesai…
Arkan mengepalkan tangannya pelan.
“Aku harus tahu kebenarannya.”
Leyna memperhatikannya.
Untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu dalam mata Arkan.
Bukan hanya rasa ingin tahu.
Tapi juga sesuatu yang lebih dalam.
Seolah-olah ada beban besar yang diwariskan kepadanya.
Solan kemudian berkata santai,
“Kalau begitu kita harus membuat satu kesepakatan.”
Arkan menoleh.
“Kesepekatan?”
Solan mengangguk.
“Jika kita melakukan ini, kita melakukannya bersama.”
Ia menunjuk mereka satu per satu.
“Tidak ada rahasia di antara kita.”
Leyna mengangguk setuju.
“Dan jika sesuatu menjadi terlalu berbahaya…”
Ia melanjutkan kalimat itu.
“…kita berhenti.”
Arkan berpikir sejenak.
Lalu akhirnya ia mengangguk.
“Setuju."
Solan mengulurkan tangannya.
Leyna menaruh tangannya di atasnya.
Arkan menatap mereka sebentar.
Kemudian ia juga meletakkan tangannya di sana.
Tiga tangan.
Tiga rumah.
Tiga jenis sihir yang selama ini jarang bekerja sama.
Solan berkata pelan,
“Mulai malam ini…”
Leyna melanjutkan dengan senyum kecil,
“…kita adalah tim.”
Arkan menyelesaikan kalimat itu.
“Tim Tiga Veil.”
Angin malam berputar pelan di taman Natureveil.
Tanpa mereka sadari—
Di menara tinggi Akademi Duskveil, seseorang sedang memperhatikan taman itu dari kejauhan.
Sosok berjubah hitam berdiri di balik jendela.
Matanya menyipit ketika melihat tiga murid itu berdiri bersama.
Ia berbisik pelan pada dirinya sendiri.
“Ritual Tiga Veil…”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Jadi akhirnya seseorang mencoba membangkitkannya lagi."
Dan jauh di dalam perpustakaan bawah tanah—
Sebuah buku tua yang sudah lama tertutup tiba-tiba terbuka sedikit dengan sendirinya.
Halaman-halamannya bergetar pelan.
Seolah-olah sesuatu yang telah lama tertidur…
Mulai terbangun kembali.
...****************...