UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.
Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.
Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.
Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.
Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.
Namanya Raka.
Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.
Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang Tidak Direncanakan
Raka sudah berjalan beberapa langkah di depan.
Ia menoleh sebentar.
“Kamu mau berdiri di sana terus?”
Nara tersadar dari pikirannya.
“…tidak.”
Ia mempercepat langkahnya menyusul Raka.
Trotoar kota sudah jauh lebih ramai sekarang.
Orang-orang berjalan cepat.
Beberapa membawa tas kerja.
Beberapa lainnya berdiri di depan toko.
Bus kota berhenti di pinggir jalan.
Kondekturnya berteriak memanggil penumpang.
“Ledeng! Ledeng!”
Suara kendaraan bercampur dengan suara orang berbicara.
Bandung siang hari terasa hidup.
Raka berjalan santai seperti biasa.
Seolah keramaian itu tidak mengganggunya sama sekali.
Ia menunjuk ke arah sebuah bangunan kecil di sudut jalan.
“Di sana ada kafe kecil.”
Nara menoleh.
Bangunannya sederhana.
Papan kayunya bertuliskan “Warung Kopi Bu Imas”.
Beberapa orang duduk di depan sambil minum kopi.
“Tempat musisi sering berkumpul,” kata Raka.
“Kadang aku main di sana.”
Nara mengangguk pelan.
“Kamu dikenal banyak orang.”
Raka tertawa kecil.
“Tidak juga.”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Aku hanya sering muncul di tempat yang sama.”
Mereka berjalan lagi.
Beberapa meter kemudian, seorang pedagang kaset berdiri di depan toko kecil.
Kaset-kaset digantung di rak logam.
Suara musik keluar dari speaker kecil di atas meja.
Raka melambat sedikit.
Ia melirik rak kaset itu.
Nara memperhatikannya.
“Kamu ingin berhenti.”
Raka menoleh.
“Apa?”
“Kamu melihat kaset itu sejak tadi.”
Raka menyeringai.
“Pengamatan yang bagus.”
Ia berhenti di depan rak kaset.
Tangannya mengambil satu kaset.
Ia melihat bagian belakangnya.
“Album ini bagus.”
Nara berdiri di sampingnya.
Ia melihat kaset yang dipegang Raka.
Desain sampulnya sederhana.
Warna-warna cerah khas tahun 90-an.
“Musik sangat penting bagimu, ya?”
Raka mengangkat bahu kecil.
“Musik membuat hari terasa lebih menyenangkan.”
Ia mengembalikan kaset itu ke rak.
Kemudian menoleh ke arah jalan.
“Selain itu…”
Ia menyeringai sedikit.
“…aku tidak punya banyak hal lain.”
Nara menatapnya.
Ia merasa kalimat itu terdengar ringan.
Namun ada sesuatu yang jujur di dalamnya.
Raka mulai berjalan lagi.
Mereka melewati beberapa toko.
Sebuah toko sepatu.
Sebuah toko buku kecil.
Seorang pedagang koran berdiri di sudut jalan.
Nara memperhatikan semuanya.
Ia berkata pelan,
“Kamu sering berjalan seperti ini?”
Raka menoleh sedikit.
“Seperti apa?”
“Tanpa tujuan.”
Raka tersenyum kecil.
“Sering.”
“Kenapa?”
Raka menunjuk jalan kota di depan mereka.
“Karena kota selalu punya sesuatu untuk dilihat.”
Nara memandang jalan itu.
Orang-orang.
Toko-toko.
Mobil tua yang lewat perlahan.
Semuanya terasa berbeda dari kota yang ia kenal.
Namun anehnya…
ia tidak merasa benar-benar tersesat.
Raka menunjuk ke arah bangunan di depan.
“Lihat toko kaset itu.”
Nara melihat ke arah yang ia tunjuk.
Toko yang lebih besar dari yang tadi mereka lewati.
Jendela kacanya dipenuhi poster musik.
Beberapa orang berdiri di dalam.
Raka menyeringai.
“Sekarang kita akan masuk.”
Nara menatapnya.
“Kita?”
Raka mulai berjalan ke pintu toko.
“Tentu.”
Ia membuka pintu kaca.
Suara bel kecil berbunyi.
Ting.
Raka menoleh ke belakang.
“Kamu tidak akan tahu musik kalau hanya melihat dari luar.”
Nara ragu sepersekian detik.
Lalu ia mengikuti Raka masuk ke dalam toko.
Begitu mereka masuk, suara musik langsung memenuhi ruangan.
Lagu rock diputar cukup keras dari speaker yang tergantung di sudut langit-langit.
Ruangan toko itu tidak terlalu besar, tetapi penuh.
Rak-rak tinggi berdiri berjajar dari depan sampai ke belakang.
Setiap rak dipenuhi kaset musik dalam kotak plastik transparan.
Beberapa orang berdiri di antara rak sambil melihat daftar lagu di belakang kaset.
Di dekat meja kasir, dua pemuda sedang mendengarkan musik dengan headphone besar yang terhubung ke pemutar kaset.
Nara berhenti beberapa langkah dari pintu.
Ia melihat sekeliling.
Bagi orang lain, ini mungkin hanya toko musik biasa.
Namun baginya, tempat ini terasa seperti sesuatu yang menakjubkan dari masa yang sudah lama hilang.
Raka berjalan masuk seperti seseorang yang sudah sangat familiar dengan tempat itu.
Ia langsung menuju salah satu rak.
Tangannya bergerak cepat memeriksa kaset satu per satu.
Seorang pria di belakang meja kasir menoleh.
Begitu melihat Raka, ia langsung tersenyum.
“Eh!”
katanya.
“Anak gitar datang lagi.”
Raka menoleh.
Ia mengangkat tangan kecil.
“Pagi, Bang.”
Pria itu menunjuk rak kaset di depannya.
“Masih cari musik yang tidak bisa kamu beli?”
Raka menyeringai.
“Kalau bisa pinjam, kenapa beli.”
Pria itu tertawa.
“Kamu memang tidak berubah.”
Ia melirik Nara.
“Teman?”
Raka menjawab santai,
“Ya.”
Pria itu mengangguk kecil lalu kembali menata kaset di meja.
Sementara itu, Raka masih melihat rak musik.
Tangannya berhenti pada satu kaset.
Ia menariknya keluar.
“Ini dia.”
Nara mendekat sedikit.
Raka menunjukkan sampul kaset itu.
“Album ini bagus sekali.”
Nara melihat gambar di sampulnya.
Desainnya sederhana.
Nama band tertulis besar di bagian atas.
“Kamu suka semua jenis musik?”
tanya Nara.
Raka memutar kaset itu di tangannya.
“Hampir.”
Ia menunjuk rak lain.
“Rock.”
Rak lain lagi.
“Blues.”
Lalu rak yang lain.
“Jazz.”
Ia mengangkat bahu kecil.
“Musik itu sama seperti kota.”
“Ada banyak jalan.”
Nara memperhatikannya.
Raka terlihat berbeda di sini.
Matanya lebih hidup.
Cara ia berbicara tentang musik terdengar lebih serius dibanding biasanya.
Seolah ini adalah dunia yang benar-benar ia pahami.
Raka berjalan ke meja kasir.
Ia meletakkan kaset itu di sana.
“Bang, boleh dengar?”
Pemilik toko mendengus kecil.
“Boleh, tapi jangan merusak lagi.”
Raka tertawa.
Ia mengambil headphone besar yang terhubung ke pemutar kaset.
Kaset itu dimasukkan ke dalam pemutar.
Klik.
Raka menekan tombol.
Play.
Ia memasang headphone di telinganya.
Lalu menoleh ke Nara.
“Mau dengar?”
Nara ragu sebentar.
Namun ia mengangguk.
Raka melepas salah satu sisi headphone dan memberikannya pada Nara.
“Nih pasang di telinga.”
Nara mendekat sedikit.
Ia menempelkan headphone itu ke telinganya.
Beberapa detik hanya ada suara statis.
Lalu...
musik mulai terdengar.
Nada-nadanya lembut di awal, lalu perlahan berkembang menjadi irama yang lebih penuh.
Drum masuk perlahan.
Bass mengikuti di belakangnya.
Nara memejamkan mata sebentar.
Bukan karena ia ingin benar-benar mendengarkan musiknya.
Tetapi karena perasaan aneh kembali muncul di dalam dirinya.
Ia pernah mendengar lagu ini.
Berkali-kali.
Namun bukan di toko kaset.
Bukan di tahun 1995.
Melainkan di rumah.
Di masa depan di dalam ruang tamu.
Sebuah memori kecil muncul di kepalanya.
Seorang pria duduk di kursi dekat jendela.
Radio tua di atas meja.
Lagu yang sama mengalun dari speaker.
Dan suara ayahnya berkata dengan santai:
“Dulu lagu ini populer sekali.”
Nara membuka matanya perlahan.
Musik masih berjalan.
Raka berdiri di sebelahnya, satu sisi headphone masih di telinganya.
Matanya setengah tertutup.
Ia menganggukkan kepala sedikit mengikuti ritme.
Ia terlihat benar-benar menikmati lagu itu.
Nara memperhatikannya beberapa detik.
Cara ia mendengarkan musik…
cara ia tenggelam di dalamnya…
semuanya terasa sangat alami.
Seolah musik memang bagian dari dirinya.
Raka membuka mata.
Ia menoleh sedikit.
“Bagus, kan?”
Nara terlambat menjawab.
“…iya.”
Raka tersenyum kecil.
“Aku sudah dengar lagu ini puluhan kali.”
Ia menatap rak kaset di depan mereka.
“Tapi tetap tidak bosan.”
Nara berkata pelan,
“Ayahku juga suka lagu ini.”
Raka menoleh.
“Serius?”
Nara mengangguk kecil.
“Dia sering memutarnya di rumah.”
Raka tertawa ringan.
“Berarti ayahmu punya selera musik yang bagus.”
Nara hampir tersenyum.
Namun pikirannya kembali berhenti di satu hal.
Ayahnya sering memutar lagu ini.
Dan sekarang…
Raka juga mendengarkannya dengan cara yang sama.
Nara melepas headphone perlahan.
Ia menyerahkannya kembali pada Raka.
Raka melepas kaset dari pemutar.
Klik.
Ia memegang kaset itu sebentar sebelum mengembalikannya ke meja kasir.
Pemilik toko mengangkat alis.
“Bagus?”
Raka mengangguk.
“Seperti biasa.”
Pria itu tertawa kecil.
“Kamu selalu bilang begitu.”
Raka menyeringai.
“Karena memang begitu.”
Mereka berjalan keluar dari toko kaset beberapa menit kemudian.
Begitu pintu kaca terbuka.
suara kota kembali masuk.
Klakson.
Orang-orang berbicara.
Langkah kaki di trotoar.
Raka meregangkan bahunya sedikit.
“Musik selalu lebih bagus di dalam ruangan.”
Nara menatap jalan di depan mereka.
Ia berkata pelan,
“Kadang musik juga membawa kembali sesuatu.”
Raka menoleh.
“Maksudnya?”
Nara menggeleng kecil.
“Kenangan.”
Raka mengangguk pelan.
“Itu memang bagian dari musik.”
Ia mulai berjalan lagi di trotoar.
Nara mengikutinya.
Namun sekarang pikirannya dipenuhi oleh satu hal.
Lagu itu.
Ayahnya.
Dan pria yang sedang berjalan santai di depannya sekarang.
Semua terasa semakin terhubung.
Namun gambaran lengkapnya masih belum terlihat.
Raka berjalan beberapa langkah di depan Nara.
Trotoar siang hari semakin ramai.
Orang-orang keluar masuk toko.
Seorang pedagang minuman mendorong gerobak kecil di pinggir jalan.
Suara es batu beradu di dalam gelas terdengar ketika ia menuangkan sirup merah.
Raka berhenti di dekat pohon besar di tepi trotoar.
Ia bersandar sebentar pada batang pohon itu.
“Kota ini tidak pernah diam.”
katanya santai.
Nara berdiri di sampingnya.
Ia memandang jalan yang ramai.
“Di tempatku juga begitu.”
Raka menoleh sedikit.
“Tempatmu?”
Nara baru sadar kata-katanya.
Ia cepat menambahkan,
“Maksudku… tempat aku biasa tinggal.”
Raka mengangguk pelan.
Namun matanya masih memperhatikan Nara dengan rasa ingin tahu.
Beberapa detik mereka hanya berdiri di sana.
Lalu Raka berkata tiba-tiba,
“Aku ingin bertanya sesuatu.”
Nara menoleh.
“Apa?”
Raka mengangkat bahu kecil.
“Pertanyaan aneh.”
“Coba saja.”
Raka menatap jalan di depan mereka.
“Kalau kamu bisa mengubah sesuatu dalam hidupmu…”
Ia berhenti sebentar.
“…apa yang ingin kamu ubah?”
Nara tidak langsung menjawab.
Pertanyaan itu terlalu tepat.
Terlalu dekat dengan kenyataan yang sedang ia hadapi.
Ia berkata pelan,
“Mengubah?”
Raka mengangguk.
“Ya.”
Ia menunjuk ke arah kota.
“Semua orang punya sesuatu yang ingin mereka ubah.”
Nara menatap orang-orang yang berjalan di trotoar.
Seorang pria sedang berbicara di telepon umum.
Seorang anak kecil menarik tangan ibunya.
Sebuah bus berhenti dengan suara rem yang panjang.
Semua orang terlihat seperti menjalani hidup mereka tanpa berpikir dua kali.
Namun Nara…
sedang berdiri di masa lalu.
Ia berkata pelan,
“Mungkin… aku ingin mengubah banyak hal.”
Raka tersenyum kecil.
“Seperti apa?”
Nara menatap tangannya sendiri.
Ia tidak bisa menjawab dengan jujur.
Karena jika ia benar-benar bisa mengubah sesuatu.
mungkin seluruh masa depan akan berubah.
Ia akhirnya berkata,
“Hal-hal yang tidak bisa diperbaiki.”
Raka memiringkan kepala sedikit.
“Kesalahan?”
Nara mengangguk.
“Ya.”
Raka terdiam beberapa detik.
Kemudian ia berkata,
“Aku tidak tahu apakah aku ingin mengubah sesuatu.”
Nara menatapnya.
“Kenapa?”
Raka menunjuk gitar di punggungnya.
“Kalau aku mengubah sesuatu di masa lalu…”
Ia menyeringai kecil.
“…mungkin aku tidak akan berdiri di sini sekarang.”
Nara memperhatikan wajahnya.
Kalimat itu terasa sederhana.
Namun baginya…
itu jauh lebih rumit.
Raka menoleh lagi ke arah jalan.
“Lagipula…”
Ia menatap Nara sebentar.
“…masa depan belum datang.”
Nara menahan napas kecil.
Karena bagi dirinya.
masa depan sudah pernah datang.
Dan sekarang ia berdiri di masa lalu yang sama sekali tidak seharusnya ia kunjungi.
Raka mendorong dirinya menjauh dari pohon.
“Ayo.”
katanya santai.
“Kita jalan lagi.”
Nara mengangguk dan mulai berjalan bersamanya.
Namun pertanyaan Raka tadi masih tertinggal di kepalanya.
Jika ia benar-benar bisa mengubah sesuatu…
apa yang sebenarnya akan ia ubah?
Dan yang lebih menakutkan.
apa yang akan terjadi jika ia benar-benar melakukannya?
Raka sudah berjalan lebih dulu beberapa langkah di trotoar.
Nara mengikutinya.
Matahari siang sekarang terasa lebih hangat.
Bayangan pepohonan jatuh di sepanjang jalan.
Orang-orang masih berjalan cepat di sekitar mereka.
Seorang pedagang es keliling mendorong gerobaknya melewati trotoar.
Bel kecil di gerobak itu berbunyi pelan.
Ting… ting…
Raka berhenti di dekat kios kecil yang menjual koran dan rokok.
Ia membeli sebotol air minum dari kulkas kecil di depan kios.
Penjualnya seorang pria tua dengan rambut putih tipis.
Ia menatap Raka beberapa detik.
Lalu matanya menyipit sedikit.
“Raka?”
Raka menoleh.
“Ya?”
Pria tua itu tersenyum kecil.
“Kamu Raka, kan?”
Raka terlihat berpikir sebentar.
Kemudian wajahnya berubah sedikit.
“Oh.”
Ia tertawa kecil.
“Pak Hadi?”
Pria tua itu mengangguk.
“Kamu masih ingat.”
Raka menggaruk belakang lehernya.
“Sudah lama sekali.”
Pak Hadi menunjuk wajah Raka dengan jarinya.
“Kamu tidak banyak berubah.”
Raka tersenyum tipis.
“Itu kabar baik atau buruk?”
Pria tua itu tertawa kecil.
“Entahlah.”
Ia melipat koran yang sedang ia pegang.
“Terakhir aku lihat kamu masih anak kecil yang suka lari ke lapangan dengan gitar mainan.”
Raka menggeleng kecil.
“Sekarang gitar sungguhan.”
Pak Hadi memperhatikan gitar di punggung Raka.
“Kelihatannya masih sama seperti dulu.”
Ia memandang Raka lebih lama.
Lalu berkata,
“Kamu persis seperti ayahmu dulu.”
Kalimat itu terdengar biasa.
Namun bagi Nara.
sesuatu di dalam kepalanya seperti berhenti sebentar.
Ia menoleh cepat ke arah pria tua itu.
Pak Hadi melanjutkan santai,
“Dia juga sering jalan keliling kota tanpa tujuan.”
Raka tertawa kecil.
“Berarti aku mewarisi kebiasaan buruknya ya.”
“Tidak juga.”
Pak Hadi tersenyum.
“Dia juga suka musik.”
Raka terlihat sedikit terkejut.
“Serius?”
Pak Hadi mengangguk.
“Dulu dia sering bawa gitar juga.”
Ia menatap Raka beberapa detik.
“Walaupun akhirnya hidupnya berubah.”
Raka mengangkat bahu.
“Semua orang pasti berubah.”
Pak Hadi menatap Nara sekarang.
“Temanmu?”
Raka menjawab singkat,
“Ya.”
Nara mengangguk kecil.
“Halo.”
Pak Hadi tersenyum ramah.
“Jaga dia baik-baik.”
Raka langsung tertawa.
“Pak, seharusnya saya yang bilang begitu.”
Pria tua itu mengangkat bahu.
“Kamu tahu maksudku.”
Ia kembali membuka korannya.
“Salam untuk ayahmu kalau kamu pulang.”
Raka mengangguk.
“Baik.”
Raka dan Nara berjalan lagi meninggalkan kios kecil itu.
Beberapa langkah pertama mereka berjalan dalam diam.
Nara akhirnya berkata pelan,
“Dia mengenal ayahmu.”
Raka mengangguk.
“Dari dulu.”
“Dekat?”
Raka mengangkat bahu.
“Tidak terlalu.”
Ia menatap jalan di depan.
“Dulu ayahku sering lewat daerah sini.”
Nara memikirkan kalimat yang tadi ia dengar.
Kamu persis seperti ayahmu dulu.
Perasaan aneh itu kembali muncul.
Semakin banyak hal yang terasa terhubung.
Nama Raka.
Musik.
Cara ia berbicara.
Sekarang bahkan orang lain mengatakan ia mirip ayahnya.
Namun Nara masih belum tahu kenapa semua itu terasa penting baginya.
Raka menoleh.
“Kamu diam lagi.”
Nara tersadar.
“Maaf.”
Raka menyeringai kecil.
“Jangan terlalu banyak berpikir.”
Ia menunjuk ke arah jalan di depan mereka.
“Hari ini masih panjang.”
Nara mengangguk.
Namun jauh di dalam pikirannya…
sesuatu perlahan mulai bergerak.
Seperti ingatan yang hampir muncul ke permukaan.