NovelToon NovelToon
BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mata Batin / Horor
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."


Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.


Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meja Sang Penenun

Lantai 12 Markas Besar Kepolisian mendadak terasa lebih dingin dari biasanya. Di dalam ruang kerja yang hanya diterangi lampu meja temaram, Adiwangsa duduk dengan tenang. Ia tidak terlihat seperti pria yang baru saja memerintahkan pembunuhan anak angkatnya sendiri. Di tangannya, sebuah pemotong cerutu emas berbentuk gunting bedah kecil berkilat memantulkan cahaya.

Di atas meja jati besarnya, bukan berkas kasus yang terbuka, melainkan sebuah papan tenun kayu kuno dengan ribuan benang merah yang saling silang—seperti peta nasib yang sengaja ia buat berantakan.

Tok, tok.

"Masuk," suara Adiwangsa berat, penuh wibawa yang menekan.

Seorang pria berseragam taktis masuk dengan kepala tertunduk dalam. "Lapor, Komandan. Tim JATANSUS kehilangan jejak di pelabuhan. Lampu padam secara tidak wajar, dan... senapan mereka semua macet. Seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal pelatuknya dari dalam."

Adiwangsa tidak terkejut. Ia justru tersenyum tipis, lalu—ceklek—ujung cerutunya terpotong rapi. "Benang itu sudah mulai bekerja di darahnya. Reyhan memang selalu punya bakat untuk menjadi jarum yang paling tajam."

"Tapi Komandan, dia membawa bukti itu. Kalau sampai jurnalis itu menyiarkannya lewat jaringan pers—"

"Rendy?" Adiwangsa memotong dengan tawa kecil yang meremehkan. "Anak jurnalis yang lidah bapaknya aku simpan di dalam formalin itu? Dia hanya butiran debu di mesin tenunku. Biarkan mereka merasa punya harapan. Harapan adalah benang yang paling kuat untuk menarik mereka kembali ke pelukanku."

Adiwangsa berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota yang diguyur hujan. Ia mengeluarkan sebuah benda dari saku seragamnya: sebuah kancing baju dinas Reyhan yang sudah berlumuran darah.

"Reyhan mengira dia sedang melawan kutukan," gumam Adiwangsa pada pantulan dirinya di kaca. "Padahal, dia sedang menyempurnakan polanya. Setiap kali dia menggunakan kekuatan itu untuk menyakiti, dia sedang menjahit jiwanya sendiri ke dalam takdir yang sudah kupilihkan."

Ia lalu mengambil sebuah jarum emas panjang dan menancapkannya tepat di tengah-tengah papan tenun, menembus sebuah foto kecil Reyhan, Kiara, dan Rendy.

"Bawa Kiara padaku hidup-hidup," perintahnya tanpa menoleh. "Lidahnya adalah satu-satunya yang belum dijahit. Dan untuk Reyhan... biarkan dia datang. Aku ingin melihat apakah putraku sanggup memutus benang yang sudah menjadi urat nadinya sendiri."

Di Pelabuhan yang Kelam...

Lampu sorot helikopter menyapu permukaan air yang hitam. Tim JATANSUS bergerak dalam formasi taktis, menodongkan senjata ke arah kontainer biru.

"Target terlihat! Tembakkan peluru bius!"

Pfft! Pfft!

Dua peluru melesat, tapi udara di sekitar tubuh Reyhan seolah membeku. Benang-benang merah keluar dari lukanya, memilin secepat kilat membentuk perisai mikroskopis yang menjatuhkan peluru itu dengan suara denting halus. Ting!

Reyhan mendongak. Matanya kini sedingin es, seolah sisi kemanusiaannya perlahan terkikis oleh amarah. "Kalian salah alamat," suaranya bergema, berlapis-lapis seperti ada ribuan bisikan yang ikut bicara. "Kalian membawa senjata api ke dalam ruangan yang penuh dengan benang."

Reyhan melompat turun. Saat melayang, tangannya bergerak seperti menarik senar gitar tak terlihat di udara.

Sreeet!

Sepuluh senapan laras panjang mendadak terikat satu sama lain. Benang merah itu melilit laras senjata mereka secepat kilat, menarik para polisi itu hingga bertabrakan satu sama lain. Senjata mereka terkunci mati.

"Apa-apaan ini?! Potong benangnya!"

Tapi setiap kali mereka mencoba memotongnya, benang itu justru merayap naik, mengikat jari-jari mereka pada pelatuk dengan paksa.

Reyhan mendarat mulus di depan komandan tim. Ia mencengkeram kerah baju pria itu dengan tangan yang melepuh hingga kain seragamnya mengeluarkan asap.

"Bilang pada Adiwangsa," desis Reyhan. "Gue tidak akan datang sebagai putranya. Gue akan datang sebagai hutang yang harus dia bayar."

Dengan satu sentakan, Reyhan melepaskan tarikannya. Sepuluh orang tim elit itu terpental hingga jatuh ke laut. Reyhan memungut radio panggil yang terjatuh, menekan tombolnya dengan ibu jari yang gemetar.

"Ayah... kau dengar ini?" suara Reyhan memecah frekuensi radio kepolisian. "Jangan duduk terlalu nyaman di kursimu. Aku baru saja memutus benang pertamamu. Dan percayalah... aku sangat suka menghancurkan hasil jahitan yang buruk."

Prak! Radio itu dilempar ke air. Reyhan berjalan menembus kegelapan, menuju motor tuanya dengan satu tujuan pasti: Pembalasan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!