Acara perayaan ulang tahun Rachel, Sang Keponakan yang berusia empat tahun, keponakan dari si kembar Seza dan Sazi. Yang seharusnya menjadi hari paling menyenangkan dan membuat happy semua orang tapi tidak untuk Sazi adik dari Seza. Dunianya seolah runtuh karena tragedi tenggelam saat itu.
Antara hidup dan mati yang ia rasakan saat itu, keduanya tenggelam bersamaan. Namun cara diselamatkan oleh kedua pria berbeda usia itu yang jauh berbeda juga dari adegan romantis seperti drama film pada umumnya. hal itu yang dirasakan oleh Sazi adik dari Seza.
jika Seza ditolong dengan cara digendong ala bridal seperti ala drama romantis, tapi berbwda dengan pria ngeselin yang bikin kesal Sazi sepanjang sejarah ia baru ditolong dengan cara menyebalkan yaitu dengan cara dijambak dan diseret.
dan yang lebih memalukan lagi sazi hampir saja diberi nafas buatan oleh pria itu. namun saat bibir itu sudah mulai mendekat ia langsung memaksakan diri untuk sadar. dari situ ia sadar akan satu hal, apa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
"Kenapa nanya kayak gitu?, tanya Sazi.
"Sudah kamu jawab aku dulu." Sazi menatap jauh kedepan diiringi dengan helaan nafas yang terdengar halus namun sedikit berat "Aku enggak tau." Jawabnya pada Sadewa yang langsung mengangkat alisnya heran.
Sazi menoleh lagi ke arah dewa yang seolah tidak percaya ucapannya. "Serius.Wa!, gue sendiri enggak tau sama perasaan gue ini, kan gue tadi bilang masih adaptasi ah elah."
"Oke, tapi astaga Zi, pegimane ceritanya elo nikah tapi enggak tau sama hati elo sendiri." ucap dewa sambil tersenyum-senyum sambilngeleng kepala masih tidak habis pikir.
"Ikh capek deh gue jelasinnya ke elo Wa, A-Dap-TASI!, ADAPTASI you know!."
"Iya iya gue ngerti faham, btw elo tuh kurusan Zi?, elo kena cacingan bukan?." celetuk dewa yang langsung ngibrit ke kamar."
"NOBITAAA!, sini lu sekate kate ngatain gue cacingan haish."
"Zi dah malam tidur sono ntar lanjut lagi gue dah ngantuk, brak haha." ucap Sadewa yang nampak ngisnngisan lalu menutup pintu sambil tertawa namun setelah menutup pintu kamarnya ia langsung terdiam dan menyandarkan tubuhnya ke area pintu.
"Zi, kenapa sih elo selalu sok kuat padahal udah jelas gue liat dari mata elo tuh keliatan lagi rapuh. Kenapa elo selalu pendam semua hal sendiri. Gue janji Zi, gue akan tinggal lebih lama di indo demi elo. Gue sayang banget sama elo dari dulu, cuma sayang elo ga pernah sadar sama kepedulian dan perasaan gue ke elo." Dewa.
Esoknya. Seperti biasa Sadewa bangun pagi untuk mengantar Sazi sekolah. Stok kantong keresek pun sudah tersedia. Hari pertama saat ia menyusul Sazi dan menyuruhnya untuk menaiki mobilnya ia lupa akan satu hal.
Yaitu Sazi yang masih suka mabuk kendaraan membuat mobilnya penuh dengan muntahan Sazi, bahkan bajunya saja terkena banyak muntahan Sazi. Tapi ia hanya tertawa dan tidak merasa geli sama sekali justru malah memijat punggung Sazi saat itu.
#Flashback On#
"Wa, gue bilang kan apa, gue enggak mau naik mobil WA, sekarang jadi, huex,..! Huex,..!
"Astaga hahaha."
"Enggak apa apa Zi, muntahin aja, mobil kotor gampang di cuci, tapi kalo elo sakit kan sepi gue ga ada yang bisa gue ledekin lagi."
"Hwaa,..enek Dewa,..."
"Oia gue ada naro minyak angin sama permen jahe elo makan biar ilangin mualnya ya." Sazi hanya mengangguk pasrah."
"Wa, sorry baju kamu jadi kotor, sama mobilnya juga."
"Yaudah elo cuciin."
"Kampret lu, tega bener suruh gue cuci lagi begini."
"Canda Zi, haha, santai aja sih, emak sama Ade gue juga sama suka mabokan dah biasa gue jadi tadahan muntah."
"Elo enggak jijik Wa?."
"Biasa aja."
"Thanks ya Wa."
"Udah enakan punggungnya, sorry ya gue enggak bermaksud enggak sopan nih mijit punggung elo." ucap Sadewa tidak enak hati.
"Iya, enggak apa apa, justru gue yang bilang makasih elo mau nolongin gue disaat kayak gini, disaat banyak orang yang bakal bergidik jijik." jawab Sazi jujur.
"Udah Dewa cukup thanks."
"Iya sama sama."
Tanpa mereka sadari seseorang sudah memotret dari kejauhan dan mengeditnya seolah keduanya sedang melakukan adegan.mesra.
"Bagus, kita liat Zi, siapa yang akan jadi milik Fadli haha."
#Flashback off#
Dimalam itu secara bersamaan baik Sazi, Sadewa maupun Fadli sama sama mendapatkan pesan anonim dari nomor yang tidak mereka kenali.
Pantas saja saat keberangkatan Fadli ke Bali, fadli merasa langkahnya begitu berat entah kenapa. namun egonya menutupinya ia masih terus melanjutkan perjalanannya bersama Nadia hingga keduanya menginap di sebuah hotel yang sama.
Sesekali Fadli hanya bisa melamun dan menjawab seperlunya saja, kadang hanya mengangguk saja. Selebihnya antara kata Oh dan ya. Yangnl membuat Nadia hanya bisa terdiam dan melihat setiap gelagat dari ekspresi Fadli saat ketika bersamanya.
Nadia hanya bisa menghela nafas panjang seraya menghembuskannya perlahan. Didalam kamar dua pria dan dua perempuan berbeda usia itu masing masing sedang merenung.
Nadia yang terlintas diingatanjya antara perasaannya yang begitu besar pada Bryan namun Bryan nampak biasa saja. Tapi Nadia juga mulai memikirkan perasaan Fadli yang sudah lama pernah menyatakan cintanya pada Nadia.
Pergolakan batinnya terus berkelakar saat itu, begitu pun Fadli yang masih belum menyadari akan perasaannya pada Sazi. Namun tak ingin kehilangan Sazi seolah Sazi sudah menjadi tempatnya untuk pulang.
Tapi dia juga masih menginginkan bersama Nadia Fadli bimbang akan perasaannya sendiri. Ia hanya mencebik kesal dan tersenyum smirk lalu tak lama membanting barang yang ada terlihat dikedua netranya.
"Kenapa hidup gue rumit banget!" teriak Fadli meninju udara.
Sementara Sadewa dan Sazi keduanya hanya menatap layar ponsel dengan perasaan yang campur aduk.
Sadewa membuka pintu kamarnya malam itu secara perlahan. Dan sebelumnya mengetik pesan pada Sazi. Karena melihat nomor Sazi masih online saat itu.
"Zi, belum tidur?." tanyanya.✓®
"Belum, kenapa?"✓®
"Gue ke kamar elo ya bentar ada yang mau gue tanya."✓®
"Hm"
Sadewa pun mengetuk pelan kamar Sazi saat itu. Sazi langsung membukanya. "Ada apa Wa, bicara didepan saja ya, sambil makan mie, laper."
"Hah, noodles thats good okey, aku mau juga, bentar aku yang masak aja deh kalo gitu, elo tunggu aja disitu."
"Okey."
"Kalian belum tidur?, tanya Tante Fatma yang baru selesai sholat tahajud.
"Belum Tante, laper."
"Iya ma, lagi laper hehe."
"Disini udaranya dingin banget sazi.jadi bentar bentar laper."
"Tante mau sekalian di buatkan enggak?."
"Enggak deh, mau tidur ngantuk banget, kalau mau pake telor atau saos Tante taro di kulkas sama di lemari yang ujung ya Wa ambil aja."
"Oke Tante siap."
Dimeja makan Sazi sambil membaca buku, sesekali ia menguap karena sudah larut malam juga. Dewa hanya memperhatikan tanpa menggangu aktiusazi saat itu hanya tersenyum melihat semangat sahabatnya itu dalam belajar.
"Zi, elo makin kesini semangat banget belajarnya enggak capek apa?."
"Gue lagi kejar buat dapet beasiswa Wa?."
"iya padahal dulu mah elo Miss tidur haha."
"Ya itu dulu lah, sekarang beda."
"Emang si Fadli dah gak sanggup biayain kuliah elo sampe harus kerja kerasa begadang begitu."
"Bang Fadli sudah nglarang sih, tapi gue enggak mau ngrepotin dia Wa."
"Tapi diakan suami elo Zi."
"Iya, dia memang suami gue Wa, tapi hatinya masih bukan buat gue."
"jadi bisa kapan aja gue sama dia pisah kan."
"Iya juga sih, nih mienya dah mateng mie buatan Mr tampan from Swiss."
"Hilih haha" Sazi hanya bergidik saat Sadewa sudah mode sok tampannya diiringi tawa. Seperti biasa keduanya selalu memulai dengan ledekan lebih dulu sebelum ke mode serius. Namun tak lama,..
"Zi, gue barusan dapet chat dari orang itu lagi dia kirim foto lagi, elo dapet lagi enggak?."
"Jadi dia kirim lagi, coba sini wa gue penasaran nomernya sama enggak?."
pada akhirnya mereka menyamakan nomernya dan ternyata "Fix sih dia orangnya wa."
"Siapa?."
"Ayu Qibtia namanya, dia obses banget sama bang Fadli, bahkan kayaknya dia yang sudah buat gue tenggelam waktu ulang tahun ponakan gue tempo hari di villa."
"Seriusan Zi, Elo tenggelam lagi?, ya ampun elo dah berapa kali tenggelam coba dari dulu, enggak bosen apa Zi, tapi nih cewek nyeremin juga ya."
"Tapi tenang aja ntar gue bakal lacak nomer itu, kalo perlu kalo sudah kelewatan gue bakal laporin dia, bakal kenapa pasal tuh dia."
"Biarin ajalah itu Wa, gue aja santai,.. ntar juga dia capek sendiri."
"Kalo kata mama Zi, orang kayak modelan begitu mah enggak usah ditanggepin kalo ditanggepin makin menjadi, dulu pernah gue ngerasa trauma Wa,..sama kolam tapi dipikir lagi kan mau sampai kapan coba gue kayak gitu, sementara sekarang banyak musibah banjir dimana mana. Kalo gue engga bisa berenang gue harus nunggu minta tolong ke orang gitu buat nyelamatin diri gue sendiri kalo kondisinya lagi enggak ada bang Fadli, atau lagi enggak ada orang dirumah gimana iya kan." jelas Sazi.
"Biarin dia kesel sendiri capek sendiri, kita mah enjoy aja nikmatin hidup." Sadewa hanya menatap Sazi salut.
"Kalau aja gue ada disitu saat kejadian elo tenggelam udah pasti gue selamatkan elo Zi." ucap dewa, Sazi hanya tersenyum sambil ia menyendok mie goreng yang dibuatkan Sadewa.
Tapi dirinya tidak bisa sesantai Sazi. untuk saat ini dia hanya ingin menjadi tempat ternyaman untuk sahabatnya itu.
Tak bisa tidur pada akhirnya Fadli pagi pagi sekali sudah rapi, ia hendak bersiap untuk pulang ke Bandung. Namun tiba tiba saja ia dikejutkan dengan kedatangan Nadia ke kamar hotelnya yang berada selang satu kamar dengan kamarnya.
"Fad, kamu sudah rapi banget, mau kemana?, jalan yuk aku pengen ke kafe?."
Fadli yang tidak bisa menolaknya saat itu, hanya menarik nafas berat dan mengangguk pelan tanpa banyak bicara. Namun tatapannya pada Nadia tidak seperti biasanya, lebih cenderung tatapan seperti orang yang sedang menutupi sesuatu.
Sesekali ia melihat jam pada pergelangan tangannya, semakin tidak tenang saja saat itu. Nadia dalam dia hanya memperhatikan gelagat Fadli saat bersamanya.
"Kamu enggak tenang banget sih Fad, ada apa ngomong dong?." tanya Nadia lembut.
"Nad, hmm sorry aku harus balik sekarang ke Bandung?."
Seketika tangannya terhenti dan menaruh gelas yang berisikan wine kembali ke atas meja mini bar kafe tersebut.