Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24.PERSAINGAN HATI YANG TERANG-TERANGAN
Di sebuah cafe cukup ramai dipenuhi oleh suara-suara percakapan dan deru musik instrumental yang lembut. Cahaya kristal dari lampu gantung besar di tengah ruangan menerangi setiap sudut, membuat aksen emas pada furnitur kayu mahkota terlihat lebih mencolok. Rayyan berdiri di dekat meja resepsionis, tangan memegang cangkir jus jeruk sambil membaca pesan singkat dari Sea di ponselnya: "Datang sebentar lagi, Mas Rayyan! Jangan pergi dulu ya 😉"
Ia tersenyum sendiri saat membaca pesan itu. Sudah tiga tahun sejak ia terakhir bertemu Amara, mantan kekasihnya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar saat mereka tengah merencanakan masa depan bersama. Sejak itu, kehidupannya berubah total setelah bertemu Sea—perempuan kecil dengan hati yang besar yang berhasil meretas tembok yang ia bangun di sekitar hatinya.
"Ternyata benar, kamu memang ada di sini, Rayyan."
Suara yang sangat akrab membuat Rayyan langsung menoleh. Di depannya berdiri Amara dengan penampilan yang lebih memukau dari sebelumnya. Rambut pirangnya yang dulu lurus kini diubah menjadi gaya bergelombang yang jatuh hingga bahu, mengenakan gaun malam warna merah anggur yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang langsing, dan aksen perhiasan berlian yang berkilauan di bawah cahaya lampu.
"Amara?" Rayyan terdiam sejenak, tidak menyangka akan bertemu wanita itu di tempat ini. "Kamu... kamu kembali?"
Amara menyeringai dengan gaya yang dulu selalu membuat Rayyan terpana. Ia melangkah lebih dekat, tangannya secara sengaja menyentuh lengan Rayyan dengan lembut. "Sudah tiga tahun, Rayyan. Aku tahu kamu pasti sudah berpikir aku hilang dari muka bumi. Tapi aku kembali sekarang, dan aku datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."
Rayyan sedikit mundur, menarik tangan nya kembali. "Apa yang kamu maksud, Amara? Kita sudah selesai tiga tahun yang lalu. Kamu yang memilih pergi tanpa memberi alasan apapun."
"Karna aku harus menyelesaikan urusan keluarga ku di luar negeri, Rayyan," ujar Amara dengan nada yang terdengar seperti sedang menyalahkan. "Aku tidak punya pilihan. Tapi sekarang semuanya sudah selesai, dan aku bisa kembali untukmu. Kamu tahu kan bahwa aku jauh lebih baik untukmu daripada Sea itu."
"Jangan menyebut dia seperti itu," kata Rayyan dengan nada yang sedikit tegas. "Sea adalah orang yang baik dan tulus padaku. Dia telah ada di sisiku ketika tidak ada orang lain."
Amara menggelengkan kepalanya dengan menyeringai. "Tulus? Atau hanya ingin mengambil kesempatan karena aku tidak ada? Rayyan, kamu tahu sifat aku. Aku selalu bisa memberikan apa yang kamu butuhkan—kehormatan, kemakmuran, hubungan bisnis yang berguna. Sedangkan Sea... apa yang bisa dia berikan selain kedekatan yang sepele?"
Rayyan merasa darahnya mulai mendidih. Ia telah sangat mencintai Amara dulu, tapi kini ia menyadari bahwa mereka tidak pernah cocok dari awal. Sea adalah kebalikan dari Amara—sederhana, hangat, dan selalu melihat dirinya sebagai seorang Rayyan, bukan sebagai pewaris perusahaan besar yang ia miliki.
"Jangan kamu menyalahkan Sea," kata Rayyan dengan suara yang lebih keras. "Dia tidak pernah menginginkan apa-apa dariku selain cinta dan rasa hormat. Sementara kamu..." ia terdiam sejenak, melihat mata Amara yang kini menunjukkan ekspresi marah. "Kamu selalu melihat apa yang bisa kamu dapatkan dariku, bukan siapa aku sebenarnya."
Sebelum Amara bisa menjawab, suara riang yang sangat akrab membuat kedua orang itu menoleh ke arah pintu masuk hotel. Sea berdiri di sana dengan penampilan yang jauh lebih sederhana namun tetap menawan—mengenakan baju kaos putih dengan rok jeans pendek, rambut hitamnya diikat menjadi sanggul yang sedikit acak-acakan, dan wajahnya yang ceria sedang menyeringai lebar saat mencari sosok Rayyan.
Namun, ketika pandangannya jatuh pada Amara yang sedang berdiri sangat dekat dengan Rayyan, ekspresi senyumnya sedikit memudar. Tapi hanya sebentar saja. Ia mengambil napas dalam-dalam, kemudian melangkah dengan yakin menuju mereka berdua.
SAAT YANG TIDAK DIHARAPKAN
Sea berhenti tepat di depan Rayyan dan Amara, matanya pertama-tama menatap Rayyan dengan tatapan yang penuh perhatian sebelum berpindah ke Amara. Ia tersenyum dengan ramah, meskipun dalam hati ia merasa ada sesuatu yang tidak nyaman melihat mantan kekasih kekasihnya berdiri begitu dekat dengannya.
"Hai, Rayyan," ujar Sea dengan suara ceria, seolah tidak melihat adanya Amara di sana. "Maaf ya aku datang terlambat. Ada antrian panjang di tempat yang aku lewati."
Rayyan segera melangkah mendekati Sea, tangannya secara alamiah merentang untuk meraih tangannya. "Tidak apa-apa, Sayang. Kamu datang sudah cukup membuatku senang."
Kata "Sayang" itu seperti menusuk hati Amara. Ia melihat Sea dengan tatapan yang penuh dendam, kemudian menoleh ke Rayyan dengan ekspresi yang ingin menyakitkan. "Jadi tetap bersama ya. Seperti yang kuduga, perempuan yang satu ini biasa-biasa saja yang berpikir bisa merebut hati seorang pewaris perusahaan besar seperti kamu."
Sea tidak terkejut dengan kata-kata Amara. Ia sudah tahu bahwa wanita itu datang dengan niat yang tidak baik. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian menatap Amara dengan tatapan yang tegas namun tetap sopan. "Saya tahu Bu Amara. Saya tidak ingin membuat masalah, tapi saya ingin Anda tahu bahwa saya mencintai Rayyan dengan tulus, bukan karena apa yang dia miliki."
"Tulus? Itu kata yang terlalu mudah diucapkan," ujar Amara dengan menyeringai sinis. "Kamu tidak mengerti dunia yang kita tinggali, Sea. Kamu hanya seorang gadis biasa yang beruntung bertemu Rayyan ketika dia sedang lemah. Tapi sekarang aku sudah kembali, dan aku akan menunjukkan bahwa aku jauh lebih baik untuknya."
Rayyan merasa tidak tahan lagi dengan ucapan Amara. Ia menarik Sea lebih dekat ke dirinya, melindunginya dengan tubuhnya. "Cukup sudah, Amara. Kamu tidak punya hak untuk mengatakan hal-hal seperti itu tentang Sea. Aku mencintainya, dan itu yang paling penting."
"Tapi kamu pernah mencintaiku juga, Rayyan!" teriak Amara dengan suara yang sedikit meninggi, menarik perhatian beberapa tamu hotel yang sedang berada di lobi. "Kamu pernah bilang kita akan menikah dan membangun keluarga bersama! Kamu tidak bisa begitu saja melupakan semua itu hanya karena bertemu gadis sembarangan ini!"
Sea merasa darahnya mulai mendidih. Ia tidak suka diperlakukan seperti itu, terutama di tempat umum yang ramai. Ia melihat sekeliling, melihat beberapa orang sudah mulai berbisik-bisik dan melihat mereka dengan ekspresi penasaran. Tanpa berpikir panjang, ia melepaskan tangan Rayyan dan kemudian dengan cepat duduk di pangkuan Rayyan, menjilati bibirnya dengan lembut sebelum menatapnya dengan mata yang penuh pesona.
" Rayyan..." ujar Sea dengan suara yang lembut dan penuh nada merayu, tangannya menyentuh pipi Rayyan dengan lembut. "Aku sudah merindukanmu seharian ini. Kamu tidak marah kan karena aku datang terlambat?"
Rayyan terkejut dengan tindakan Sea, tapi segera ia merespons dengan baik. Tangannya merenggang pinggang Sea dengan lembut, matanya penuh cinta saat melihat wajahnya yang cantik. "Tidak pernah marah padamu, Sayang. Kamu tahu kan itu."
Sea kemudian mengangkat wajahnya, menyentuh bi bir Rayyan dengan lembut sebelum memberikan ci uman yang lembut namun jelas terlihat oleh semua orang di sekitarnya. Setelah itu, ia melihat ke arah Amara dengan ekspresi yang sedikit menyeringai. "Maaf ya, Bu Amara. Sepertinya Mas Rayyan sudah punya orang yang dicintainya sekarang. Dan saya tidak akan pernah menyerah untuk mempertahankan cinta kami."
Amara melihat adegan itu dengan wajah yang memerah karena marah. Ia tidak menyangka bahwa Sea akan melakukan hal seperti itu di tempat umum yang ramai. Ia merasa malu dan tersinggung sekaligus. "Kamu benar-benar tidak tahu sopan santun, ya, Sea! Melakukan hal seperti itu di depan orang banyak!"
"Kalau harus seperti ini untuk menunjukkan bahwa Mas Rayyan adalah milikku, maka saya akan lakukan apa saja," jawab Sea dengan tegas, masih tetap berada di pangkuan Rayyan. "Saya bukan orang yang suka bersaing dengan cara yang tidak jujur, tapi jika seseorang mencoba mengambil apa yang menjadi milik saya, saya akan melindunginya dengan sekuat tenaga."
mampir di cerita aku,,
* my dangerous kenzo
* nathan : the man in suit