Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai mengerti
Sekelebat bayangan entah dari mana asalnya muncul di benak Luna. Seorang wanita bernama Vivian memaksa Annette memakan makanan yang dibawanya saat Leon pergi ke kota. Setelah itu Annette merasa tenggorokannya sakit hingga tidak bisa bicara. Lalu sekitar dadanya juga mulai nyeri.
Seakan diberitahu, Luna mulai mengerti. Jika Annette yang sungguhan sudah tiada akibat diracun oleh Vivian. Dan alasannya dirinya berada di tubuh Annette adalah... Mungkin saja ia sudah tiada pula. Dengan alasan jatuh dari kursi atau kelelahan mengerjakan tugas.
Tapi yang membuatnya bingung mengapa ia harus masuk dalam tubuh yang diracun. Luna seperti mendengar suara halus namun tegas di dalam kepalanya.
'Balaskan dendamku.... Balaskan sakit hatiku...'
Ia terkejut. Kembali menatap Leon yang terlihat mencemaskan nya. Dapat ia simpulkan jika ia bisa sembuh dengan membuang sisa racun di tubuhnya. Tapi bagaimana caranya ?
"Apa ada susu disini ?" tanya Luna.
"Kau ingin susu ? Aku bisa mengambilnya di peternakan," jawab Leon.
"Iya aku ingin susu," jawab Luna.
Leon mengangguk lalu pergi. Dapat Luna lihat jika Leon berjalan ke arah kiri rumah yang mereka tempati.
Jarak satu rumah ke rumah yang lain tidak begitu jauh. Hanya beberapa meter saja. Suasana di desa seperti ini yang sejak lama ingin Luna kunjungi. Tapi bukan berarti ia harus terlempar ke zaman yang begitu jauh dari zamannya.
Sambil menunggu Leon mengambil susu, Luna mulai memakan sarapannya. Ia mencium semua makanan lebih dulu kalau-kalau ada racun di makanan itu. Tapi Leon nampak seperti orang baik, tidak mungkin ia ikut meracuni istrinya sendiri, pikir Luna.
Ia menghabiskan makanan itu dengan cepat. Diakhiri meminum secangkir teh yang begitu hangat di perut.
Ia masih berpikir apa karena di jasad ini ada jiwa yang baru sehingga racun itu tidak bekerja lagi melainkan hanya menyisakan rasa sakit saja ?
Lima belas menit kemudian Leon datang membawa secangkir susu. Luna mengambilnya, mencium aromanya yang bau khas sapi. Ia menutup hidungnya dengan tangan lalu meneguk susuk tersebut dengan menahan nafas.
Rasanya tidak enak di lidah, tapi menurut yang Luna ketahui susu bisa menetralkan racun. Menghambat penyerapan nya. Ia sendiri belum pernah membuktikan sebab di zaman nya dulu ia tidak pernah diracun.
Seperti sebuah keajaiban, setelah meminum susu itu dada Luna yang tadi terasa nyeri sekarang sudah tidak lagi. Ia merasa baik. Tapi walaupun begitu, ia masih belum bisa menerima jika harus menghabiskan sisa hidupnya di zaman apa ini.
Ia mencintai dirinya sendiri sebagai Luna. Bangga pada dirinya yang bisa menyelesaikan kuliahnya dengan beasiswa karena ia memang cerdas.
Sebuah perusahaan besar dengan gaji fantastis sudah siap menerimanya bekerja jika dia sudah lulus kuliah.
Walaupun ia tinggal di kamar sewa dan setiap harinya harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya, tapi ia senang menjalani hidup di dunia modern dimana dia bisa menonton drama favoritnya dengan ponsel canggih nya yang murah.
"Tahun berapa ini ?" tanya Luna mencoba siap mendengarkan jawaban Leon yang mungkin saja tidak ia duga.
"Tahun 1855, tanggal 4 Februari," jawab Leon. Lagi, meskipun heran tapi Leon tetap menjawabnya.
Mendengar jawaban Leon benar-benar membuat Luna terkejut. Ia sudah menduga ia terlempar ke zaman ratusan tahun dari zamannya. Dan kelak ia akan tiada di abad ini juga.
"Kau kenapa Annette ? kau terlihat aneh sejak bangun tidur. Bagaimana keadaan mu sekarang ?" tanya Leon.
Luna menatap Leon dengan dalam lalu menghela nafas panjang. Baiklah kalau takdir sudah menggariskan nya hidup seperti ini maka akan ia jalani. Tidak rugi juga menjalani hidup disini. Lagi pula disisinya ada Leon, suami tampan nya yang memanjakan matanya.
'Rupanya di zaman ini pria tampan begitu tampan. Baiklah mulai sekarang aku harus ingat namaku adalah Annette. Annette. Annette ' batin Luna.
"Leon berapa usiaku ? Apa kau bisa menceritakan bagaimana pertemuan pertama kita sampai kita menikah ?" tanya Luna yang mendekati Leon lalu merangkul lengannya.
Leon tersentak, sejak kapan Annette mau berdekatan dengannya. Bukannya setelah pernikahan sikap Annette begitu dingin padanya. Ia tidak mau Leon mendekati nya bahkan Leon harus rela tidur di luar kamar karena Annette menolaknya. Padahal Annette lah yang ingin Leon menikahi nya.
...
Groene Weide, 5 Desember 1854
(Ini nama desa fiktif ala-ala Belanda ya gaes..☺️)
Annette berlari sambil menangis. Gaunnya yang panjang menghalangi langkahnya hingga ia beberapa kali terjatuh di jalan bebatuan.
Tujuannya hanya satu yaitu tempat Leon di rumah perkebunan yang jaraknya sedikit jauh dari rumahnya besarnya.
Ia ingin meminta Leon menikahinya agar ia terbebas dari pernikahan paksa yang sudah diatur oleh Ayahnya, Wiles Laurent De Vries dan ibu tirinya Vivian De Vries.
Hanya Leon satu-satunya pria yang menjadi tujuannya. Ia mencintai pria itu berawal dari pertemuan mereka yang tidak disengaja ketika Annette dihadang anjing liar dan Leon menolongnya.
Lalu pertemuan selanjutnya adalah saat Leon mengantar hasil panen para petani di desanya untuk dijual pada ayahnya yang seorang pedagang kaya.
Tuan Wiles menerima segala hasil panen para petani mulai dari sayuran, buah dan bunga tulip.
Saat itulah cinta di hati Annette untuk Leon terus tumbuh. Leon pun juga bersikap baik padanya. Hingga Annette mengira jika Leon juga merasakan perasaan yang sama dengannya.
Suatu sore Tuan Wiles pulang dari berlayar dan ia mengatakan pada istri dan kedua anaknya jika ada temannya yang ingin menikahkan putranya dengan salah satu putri mereka.
Annette memiliki seorang adik seayah berbeda ibu. Namanya Emilie. Dia sangat cantik tidak jauh beda dari Annette. Namun Emilie memiliki kepribadian lembut dan hampir tidak tersentuh oleh orang lain karena pengawasan ketat dari ibunya, Nyonya Vivian.
Emilie sangat pandai bermain piano dan akan memamerkan bakatnya tersebut saat ada perayaan di setiap tempat. Sebuah kehormatan bisa mendatangkan Emilie pada sebuah acara.
Usianya sembilan belas tahun. Hanya berbeda satu tahun dengan Annette yang berusia dua puluh tahun.
Emilie dikenal sangat lembut dan baik hati. Ia dipuji seperti peri yang turun ke bumi. Senyumnya begitu memikat siapapun yang melihatnya termasuk Leon.
Sungguh Leon merasa dirinya terpikat pada sosok Emilie. Namun ia memendam perasaannya karena ia tau ia hanya seorang petani biasa dan tidak sama derajatnya dengan keluarga De Vries.
Tiap kali menjual hasil panennya ke rumah De Vries, yang pertama kali ingin dilihat oleh Leon adalah keberadaan Emilie yang selalu bermain piano dengan merdu di balkon rumahnya.
Tapi Leon tidak tau, di sisi lain di rumah De Vries ada gadis lain yang memandangnya penuh damba. Berharap dicintai olehnya. Dia adalah Annette.
...
Kalo ada yang kurang tolong kasih saran ya teman-teman 😉😉😉
😍😍💪❤❤
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤
❤❤❤💪💪💪
🤣😄😄❤💪💪
😍❤❤❤💪💪💪💪
🤣😄❤❤💪
❤❤😍😍💪