NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Sarapan Beracun

Keheningan yang Menikam

Uap panas mengepul dari cangkir porselen putih yang terletak tepat di hadapan Elara, membawa aroma lavender yang seharusnya menenangkan. Namun, bagi penciuman Elara yang tajam dan telah terasah oleh penderitaan di penjara bawah tanah, aroma itu tercemar oleh bau logam yang samar dan getaran energi korosif yang dingin. Di seberang meja, Elena duduk dengan punggung tegak, jemarinya yang lentik menggenggam sepotong roti gandum dengan keanggunan yang dibuat-buat, sementara matanya yang berkilat penuh kebencian tidak pernah lepas dari gerak-gerik Elara.

"Mengapa kau hanya menatapnya, Elara?" suara Valerius memecah kesunyian, rendah dan penuh otoritas yang tidak bisa dibantah. Sang kaisar memotong daging asap di piringnya dengan gerakan mekanis, namun matanya yang gelap terus memindai wajah Elara, mencari sisa-sisa kemiripan dengan sosok yang dulu pernah ia khianati. "Selir Utama secara khusus meminta koki untuk meracik teh itu demi memulihkan energimu setelah kau pinsan di sel tempo hari."

Elara mengangkat pandangannya, menatap langsung ke mata Valerius tanpa berkedip. "Saya sangat tersanjung oleh perhatian yang begitu besar dari Selir Utama, Yang Mulia. Hanya saja, aromanya begitu unik hingga saya butuh waktu sejenak untuk mengaguminya."

Elena tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang tidak mencapai matanya yang dingin. "Keistimewaan memang terkadang menyakitkan bagi mereka yang tidak siap menerimanya, Penasihat. Teh itu mengandung ekstrak bunga dari perbatasan utara, sangat langka dan hanya orang spesial yang bisa merasakan khasiatnya yang sebenarnya."

"Orang spesial, ya?" Elara menyentuh pinggiran cangkir porselen itu dengan ujung jarinya. Ia bisa merasakan denyut sirkuit sihir hitam yang tersembunyi di dalam cairan tersebut, sebuah jebakan frekuensi yang dirancang untuk melumpuhkan sistem saraf pusatnya. "Saya mengerti sekarang mengapa Anda begitu bersikeras agar saya meminumnya."

"Tentu saja," sahut Elena sambil menyesap tehnya sendiri yang berasal dari teko berbeda. "Aku ingin memastikan bahwa kau memiliki kekuatan yang cukup untuk menjalankan tugas barumu. Tidak ada yang menginginkan seorang penasihat kaisar yang tiba-tiba ambruk karena kelelahan, bukan?"

Rina, yang berdiri kaku di belakang kursi Elara, memberikan kode rahasia dengan mengetukkan jarinya tiga kali pada pinggiran nampan perak yang dibawanya. Satu, dua, tiga. Kode itu adalah konfirmasi dari observasi Rina tadi malam—bahwa ada residu bubuk hitam di dapur pribadi Elena. Elara menarik napas perlahan, membiarkan energi Void Lv 0.9 miliknya mengalir dari luka bakar di punggungnya menuju telapak tangannya.

"Apakah ada yang salah dengan tehnya, Rina?" tanya Valerius tiba-tiba, membuat pelayan muda itu tersentak pelan.

"T-tidak ada, Yang Mulia," bisik Rina dengan kepala tertunduk dalam. "Saya hanya... sedikit gugup berada di ruangan yang begitu megah."

"Jangan biarkan kegugupanmu mengganggu ketenangan sarapan ini," ujar Valerius dingin sebelum kembali menatap Elara. "Minumlah. Aku ingin melihatmu pulih sepenuhnya, Elara. Asteria butuh stabilitas, dan kau adalah kunci yang baru saja kutemukan."

Elara merasakan dorongan irasional untuk tertawa pahit. Kunci yang kau temukan? Ia ingin berteriak bahwa ia adalah pintu yang telah dihancurkan oleh pria di depannya ini. Namun, ia menahan egonya. Ia tahu bahwa saat ini, ia sedang berdiri di atas panggung sandiwara yang mematikan. Dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang, Elara mengangkat cangkir teh tersebut.

"Jika ini adalah bentuk keramahan dari istana ini, maka saya tidak punya alasan untuk menolaknya," ucap Elara.

Logika di Balik Racun

Saat cangkir itu mendekati bibirnya, Elara menutup matanya sejenak. Ia mengaktifkan analisis struktur molekul Void-nya dalam skala mikroskopis. Ia bisa melihat jalinan partikel sihir hitam yang mengambang di dalam teh lavender itu—sebuah racun saraf yang disebut Solanum Nigra, yang dimodifikasi dengan energi korosif entitas Void. Racun ini tidak akan membunuhnya seketika, tetapi akan mengikis kemampuan sihirnya dan membuatnya tampak seperti penderita penyakit mental yang linglung.

Pilihan cerdas, Elena, batin Elara. Kau tidak ingin membunuhku secara fisik karena itu akan memicu kecurigaan Valerius, jadi kau mencoba membunuh jiwaku.

Elara menyesap teh itu perlahan. Cairan panas itu menyentuh lidahnya, membawa rasa pahit yang tajam seperti menelan duri mawar yang dicelupkan ke dalam cuka dan tembaga. Rasa panasnya segera merambat ke tenggorokannya, memicu kilas balik trauma api yang sempat membuatnya sesak napas. Ia teringat jilatan api di menara Asteria, rasa haus yang mencekik saat ia dibiarkan terbakar hidup-hidup.

"Bagaimana rasanya?" Elena bertanya dengan nada mendesak, matanya sedikit melebar saat melihat Elara menelan seteguk besar teh tersebut.

Elara meletakkan kembali cangkirnya di atas piring kecil dengan suara denting yang halus. Ia merasakan racun itu mulai bekerja, mencoba menyusup ke sirkuit energinya. Namun, Elara sudah bersiap. Ia menggunakan butiran garam dapur yang telah ia proses menjadi bubuk penetral di dalam mulutnya, mencampurkannya dengan energi Void yang siap menyerap molekul asing.

"Sangat kuat," jawab Elara dengan suara yang tetap stabil, meski batinnya sedang berperang melawan rasa sakit yang mulai berdenyut di sarafnya. "Aromanya mengingatkan saya pada sesuatu yang sudah lama terlupakan. Sesuatu yang terkubur di bawah tanah."

Valerius meletakkan garpunya, ketertarikan di matanya semakin nyata. "Apa yang kau rasakan sekarang?"

"Saya merasakan kehangatan yang mengalir ke titik-titik energi saya, Yang Mulia," Elara berbohong dengan sempurna, topeng wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun distorsi. "Selir Utama benar-benar ahli dalam memilih ramuan. Saya merasa... jauh lebih jernih sekarang."

Elena tampak sedikit goyah di kursinya. Senyumnya sedikit memudar. "Jernih? Kau tidak merasakan... sedikit pening atau sesak?"

"Sama sekali tidak," Elara menatap Elena dengan tatapan yang sangat tajam, sebuah tantangan terbuka yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua. "Justru sebaliknya. Saya merasa seolah-olah beban yang selama ini menekan saya telah terangkat. Apakah ada sesuatu yang seharusnya saya rasakan, Selir Elena?"

Elena menggenggam saputangannya erat-erat di bawah meja. "T-tentu saja tidak. Aku hanya khawatir dosisnya mungkin terlalu kuat untuk tubuhmu yang masih lemah."

"Jangan khawatirkan aku," Elara meraih sepotong roti dan mengunyahnya dengan tenang. "Aku adalah penyintas, Elena. Tubuhku mungkin tampak ringkih, tapi aku telah belajar untuk mencerna banyak hal yang seharusnya bisa membunuh orang biasa."

Valerius tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan batu yang berbahaya. "Kau dengar itu, Elena? Penasihat kita jauh lebih tangguh daripada yang kau perkirakan. Mungkin kau harus belajar satu atau dua hal darinya tentang ketahanan."

"Tentu saja, Yang Mulia," bisik Elena, wajahnya kini tampak sedikit pucat.

Elara merasakan racun yang telah ia serap melalui Void kini telah dinetralkan dan diubah menjadi energi murni yang tersimpan di dalam sel-sel tubuhnya. Namun, ia tidak berhenti di situ. Sebagai bagian dari strategi Third Option, ia harus membalikkan keadaan tanpa meninggalkan jejak yang bisa dibaca sebagai serangan sihir. Ia menyalurkan sedikit sisa getaran korosif dari racun itu ke arah meja kayu jati yang mereka gunakan.

Gema Pembalasan di Meja Makan

Getaran energi itu merambat secara invisibel di bawah permukaan meja yang tertutup taplak sutra, menuju ke arah cangkir teh milik Elena. Elara memperhatikan dengan seksama saat cangkir Elena tiba-tiba mengeluarkan uap yang lebih pekat, baunya berubah menjadi aroma mawar yang busuk secara instan—sama seperti aroma yang ia rasakan di kamar lamanya tadi malam.

"Elena, tehmu... sepertinya sudah dingin," ujar Valerius, matanya tertuju pada cangkir Elena yang kini bergetar halus.

Elena terkejut dan segera meraih cangkirnya. Namun, saat bibirnya menyentuh pinggiran porselen, ia mendadak terbatuk hebat. Wajahnya yang tadinya pucat kini berubah menjadi merah padam, dan ia tampak kesulitan bernapas seolah ada sesuatu yang mencekik tenggorokannya.

"Ada apa, Elena?" Valerius berdiri dengan cemas, tangannya memegang bahu selirnya.

"T-tidak tahu... tiba-tiba sesak," Elena terengah-engah, matanya melirik ke arah Elara dengan ketakutan yang murni.

Elara hanya menatapnya dengan ekspresi simpati yang palsu. "Mungkin aromanya terlalu kuat bagi Anda, Selir Utama. Terkadang, apa yang kita berikan kepada orang lain bisa kembali kepada kita dengan cara yang tidak terduga. Bukankah begitu?"

Elena mencoba bicara, namun suaranya hanya berupa desisan serak. Valerius segera memanggil tabib istana dengan nada marah, namun Elara tetap duduk dengan tenang, melanjutkan sarapannya seolah tidak terjadi apa-apa. Di dalam hatinya, ia merasa puas. Ia tidak menggunakan sihir penghancur, ia hanya memberikan "kejutan" balik dari racun yang Elena kirimkan sendiri.

"Ini aneh," gumam Valerius sambil menatap teh Elena yang kini berubah warna menjadi kehitaman. "Bagaimana mungkin teh yang berasal dari teko yang sama bisa berubah seperti ini?"

"Mungkin ada kontaminasi udara di ruangan ini, Yang Mulia," sahut Elara dengan nada datar. "Atau mungkin, sihir hitam yang selama ini melindungi istana ini mulai menunjukkan ketidakstabilannya. Seperti yang saya katakan semalam di perpustakaan, pondasi yang dibangun di atas kepalsuan tidak akan pernah bertahan lama."

Valerius menoleh ke arah Elara, tatapannya kini dipenuhi oleh keraguan dan rasa ingin tahu yang sangat besar. "Kau tahu sesuatu yang tidak kuketahui, Elara?"

"Saya tahu banyak hal yang mungkin telah Anda lupakan, Yang Mulia," Elara berdiri dari kursinya, membungkuk sedikit dengan martabat seorang ratu. "Namun, sekarang sepertinya Selir Utama butuh istirahat. Jika Anda mengizinkan, saya ingin menyerahkan laporan pertahanan utara ini kepada Anda di ruang kerja. Ada detail tentang Lembah Perak yang tidak bisa didiskusikan di sini."

Valerius mengangguk pelan, perhatiannya terbagi antara Elena yang masih terbatuk dan Elara yang tampak begitu mendominasi ruangan. "Pergilah. Aku akan menemuimu satu jam lagi. Dan bawa Rina bersamamu."

"Terima kasih, Yang Mulia."

Elara melangkah keluar dari ruang makan dengan langkah yang tegak. Rina mengikutinya dari belakang, tubuhnya masih gemetar namun matanya memancarkan kekaguman yang luar biasa pada majikannya. Begitu mereka sampai di koridor yang sepi, Elara berhenti dan menyandarkan tangannya pada pilar marmer yang dingin.

"Nyonya, Anda... Anda benar-benar melakukannya," bisik Rina dengan suara yang nyaris hilang.

"Ini baru permulaan, Rina," Elara mengusap keringat dingin yang muncul di dahinya. "Racun itu hampir saja menembus pertahanan Void-ku. Jika levelku bukan 0.9, aku mungkin sudah jatuh di depan mereka."

"Lalu bagaimana dengan Selir Elena?"

"Dia akan pulih, tapi dia akan merasa takut sekarang," Elara menatap ke arah taman istana yang terlihat dari jendela koridor. "Dia akan menyadari bahwa aku bukan lagi tawanan yang bisa ia injak-injak. Dan ketakutan itu akan membuatnya melakukan kesalahan yang lebih besar. Kesalahan yang akan membawanya langsung ke liang lahat yang sudah kusiapkan."

Elara mengepalkan tangannya, merasakan sisa energi racun yang kini telah terserap sepenuhnya ke dalam nadinya, memperkuat inti Void-nya secara perlahan. Ia tidak merasa bersalah atas apa yang ia lakukan pada Elena. Baginya, setiap rasa sakit yang ia kembalikan adalah bentuk keadilan bagi Aurelia yang telah dibakar.

"Siapkan diri kita, Rina," ucap Elara sambil kembali berjalan. "Setelah ini, konfrontasi tidak akan lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi di bawah meja. Kita akan menuju taman istana untuk melihat apakah mawar-mawarnya masih seindah dulu, atau sudah membusuk seperti pemiliknya."

Langkah kaki Elara bergema di koridor yang sunyi, suara yang penuh dengan determinasi dan otoritas. Ia tahu bahwa Valerius sedang memperhatikannya dari jauh, dan ia tahu bahwa Elena sedang merencanakan pembalasan yang lebih kejam. Namun, Elara tidak peduli. Ia adalah badai yang sedang bangkit, dan tidak ada satu pun di istana ini yang siap menghadapi kehancuran yang akan ia bawa.

Gema di Ruang Kerja

Langkah kaki Elara bergema dengan nada yang angkuh di atas lantai marmer koridor yang menuju ruang kerja pribadi sang kaisar. Di belakangnya, Rina berjalan dengan kepala tertunduk, tangannya meremas nampan perak yang kini terasa seberat beban rahasia yang mereka bawa. Elara tidak berhenti untuk menoleh ketika para pengawal istana yang mengenakan baju zirah perak berdiri tegak, mata mereka memancarkan campuran rasa hormat dan kecurigaan saat tawanan perang itu melintas dengan jubah ungu yang berkibar.

Pintu ganda dari kayu ek yang diukir dengan lambang elang kekaisaran terbuka perlahan. Aroma kayu cendana dan tinta tua segera menyergap indra penciuman Elara—aroma yang sama dengan yang sering menempel pada pakaian Valerius sepuluh tahun yang lalu. Ruangan itu hampir tidak berubah; rak-rak buku yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit masih menyimpan ribuan gulungan taktik perang, dan meja kerja besar di tengah ruangan tetap menjadi saksi bisu atas perintah-perintah eksekusi yang pernah dijatuhkan.

Valerius sudah berada di sana, berdiri membelakangi pintu sambil menatap keluar jendela besar yang mengarah ke pelataran eksekusi. Bahunya tampak kaku, dan Elara bisa mendeteksi frekuensi kegelisahan yang memancar dari aura kaisar itu melalui analisis Void-nya.

"Kau datang lebih cepat dari yang kukira, Elara," ucap Valerius tanpa berbalik.

"Menunda kewajiban hanya akan memberikan kesempatan bagi musuh untuk menyusun rencana baru, Yang Mulia," sahut Elara dingin sembari meletakkan bundel laporan militer di atas meja. "Dan seperti yang Anda lihat di meja makan tadi, musuh di dalam istana ini jauh lebih gesit daripada yang Anda sadari."

Valerius berbalik perlahan. Matanya yang tajam menatap Elara dengan intensitas yang seolah ingin menembus lapisan rahasia di balik wajah pucat itu. "Apakah kau sedang menuduh Elena meracunimu?"

"Saya tidak menuduh siapa pun, Yang Mulia. Saya hanya menyatakan fakta bahwa teh yang disajikan secara khusus untuk saya tiba-tiba berubah menjadi cairan korosif yang hampir merusak sirkuit energi Selir Utama sendiri," Elara berjalan mendekati meja, tangannya dengan berani menyentuh permukaan kayu yang dipoles halus. "Bukankah aneh jika sebuah 'obat pemulih' justru memberikan efek mematikan pada orang yang menyarankannya?"

Valerius terdiam sejenak, rahangnya mengeras. "Elena sangat setia padaku. Dia telah bersamaku sejak... sejak Aurelia tiada."

"Kesetiaan sering kali menjadi jubah bagi rasa takut akan kehilangan posisi, Yang Mulia," Elara menyapukan jarinya di atas peta perbatasan utara yang terbentang. "Elena takut pada saya bukan karena saya cantik atau berkuasa, tetapi karena saya memiliki sesuatu yang tidak ia miliki: kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi di Asteria."

"Apa maksudmu?" suara Valerius merendah menjadi desisan yang berbahaya.

"Lembah Perak," Elara menunjuk sebuah titik di peta dengan kuku jarinya yang bersih. "Laporan ini mencatat adanya anomali sihir yang identik dengan energi yang digunakan Elena pagi ini. Jika Anda membiarkan dia terus memanipulasi sirkuit energi istana ini, tidak akan lama lagi segel yang menahan entitas Void di bawah tanah kekaisaran akan retak. Dan saat itu terjadi, bahkan tahta Anda pun tidak akan bisa menyelamatkan Anda."

Ini adalah Third Option yang telah Elara susun sejak berada di perpustakaan. Ia tidak menyerang Elena secara pribadi di depan Valerius, melainkan membungkus ancaman tersebut sebagai masalah keamanan nasional. Ia tahu bahwa bagi seorang kaisar paranoid seperti Valerius, ancaman terhadap kekuasaan jauh lebih menakutkan daripada hilangnya seorang selir.

Resonansi yang Mengiris

Valerius melangkah maju hingga hanya tersisa jarak beberapa inci di antara mereka. Elara bisa mencium aroma mawar dan darah yang samar—aroma yang selalu menghantui mimpinya. Valerius mengangkat tangannya, jemarinya yang kasar menyentuh dagu Elara, memaksanya untuk menatap mata yang penuh dengan kegilaan dan obsesi tersebut.

"Kau mengingatkanku padanya... setiap kali kau bicara seperti itu," bisik Valerius. "Aurelia juga selalu bicara tentang keamanan rakyat dan stabilitas energi. Tapi dia mengkhianatiku. Apakah kau juga akan mengkhianatiku, Elara?"

Dilema martabat menghantam dada Elara. Ia ingin meludahi wajah pria ini, ingin menggunakan sisa energi Void-nya untuk menghancurkan jantung yang berdetak di depannya. Namun, ia tetap diam. Ia membiarkan Valerius menyentuhnya, menggunakan rasa jijik itu sebagai jangkar untuk memperkuat fokusnya.

"Saya adalah tawanan Anda, Yang Mulia. Pengkhianatan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki sesuatu untuk dilepaskan," ucap Elara dengan nada datar yang mengiris. "Saya tidak punya apa-apa lagi selain integritas saya sebagai seorang putri Asteria. Jika Anda meragukan laporan saya, silakan panggil Elena dan tanyakan padanya mengapa ia menggunakan sihir hitam untuk mengontaminasi sarapan tadi."

Valerius melepaskan cengkeramannya, tampak terguncang oleh jawaban dingin Elara. Ia berbalik dan memukul meja dengan kepalan tangannya. "Elena akan diperiksa. Tapi jika kau berbohong, Elara... aku sendiri yang akan memastikan kau kembali ke penjara bawah tanah, tanpa obor, tanpa makanan, hingga kau memohon untuk dibakar."

"Saya sangat menantikan saat di mana kebenaran akan membuktikan semuanya," Elara membungkuk sedikit, senyum kemenangan tersembunyi di balik tudung kepalanya. "Sekarang, dengan izin Anda, saya akan pergi ke taman untuk menenangkan saraf saya. Aroma mawar yang busuk di ruang makan tadi membuat saya merasa mual."

"Pergilah," usir Valerius tanpa menoleh lagi.

Elara keluar dari ruangan itu dengan langkah yang lebih ringan. Di luar, Rina sudah menunggunya dengan wajah yang lebih tenang namun tetap waspada. Elara memberi isyarat agar Rina mengikutinya menuju sayap timur, arah menuju taman mawar yang menjadi kebanggaan Elena.

Menuju Taman Kematian

Udara di taman istana terasa segar, namun Elara tahu bahwa keindahan bunga-bunga ini dipelihara dengan pupuk yang dicampur dengan residu sihir hitam. Saat ia melangkah masuk ke area labirin mawar, ia merasakan getaran energi yang familiar. Di tengah taman, di dekat air mancur marmer yang memancarkan air jernih, Elena berdiri sendirian. Wajahnya masih pucat, dan ada bekas luka bakar kecil di sudut bibirnya—sisa dari energi racun yang dipantulkan Elara tadi pagi.

"Kau berani datang ke sini setelah apa yang kau lakukan di meja makan?" suara Elena melengking, penuh dengan kebencian yang sudah tidak lagi disembunyikan.

Elara berhenti beberapa langkah di depan Elena, membiarkan angin taman menerbangkan rambutnya. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kau masih hidup, Elena. Akan sangat membosankan jika kau mati terlalu cepat karena racunmu sendiri."

"Kau... kau menggunakan sihir apa tadi?" Elena melangkah maju, tangannya mulai bersinar dengan pendaran cahaya logam yang tajam—ciri khas sihir tingkat ksatria Lv 2. "Seorang tawanan lemah dari Asteria tidak mungkin bisa membalikkan mantra korosif tanpa bantuan relik."

"Kau terlalu sibuk mencuri barang-barangku hingga kau lupa belajar tentang esensi sihir yang sebenarnya, Elena," Elara mengangkat tangannya, membiarkan energi Void Lv 0.9 berdenyut di ujung jarinya, menciptakan distorsi udara yang dingin dan hampa. "Dunia ini tidak hanya tentang elemen logam atau sihir hitam yang kau pinjam dari entitas bawah tanah. Ada kekuatan yang jauh lebih tua... kekuatan yang akan menelanmu bulat-bulat."

Elena tertawa histeris. "Kekuatan tua? Kau hanya seorang gadis kecil yang ketakutan! Valerius mungkin terpesona oleh wajahmu, tapi dia akan segera menyadari bahwa kau hanyalah mayat hidup!"

Elena mengangkat tangannya tinggi-tinggi, dan dari tanah di sekitar Elara, duri-duri mawar yang terbuat dari logam tajam mulai bermunculan, siap untuk mencabik-cabik raga Elara. Elara tidak menghindar. Ia justru menutup matanya, merasakan struktur molekul logam tersebut melalui resonansi Void-nya.

"Terima kasih atas energinya, Elena," bisik Elara.

Tepat saat duri logam itu akan menyentuh kulitnya, Elara menghentakkan kakinya. Sebuah gelombang kejut berwarna ungu gelap meledak dari tubuhnya, menyerap seluruh kepadatan logam tersebut dan mengubahnya menjadi debu halus dalam sekejap. Elena terhuyung mundur, matanya membelalak kaget saat melihat serangan terkuatnya dinetralisir tanpa usaha berarti.

"Bagaimana mungkin..." gumam Elena gemetar.

"Ini baru permulaan dari duel kita," Elara menatap Elena dengan mata yang kini berkilat ungu tajam di bawah sinar matahari. "Mari kita lihat seberapa lama martabat palsumu bisa bertahan saat seluruh duniamu mulai runtuh."

Elara melangkah maju, sementara di kejauhan, para penjaga mulai berlari menuju taman karena merasakan ledakan energi tersebut. Namun Elara tidak peduli. Babak baru telah dimulai, dan kali ini, ia tidak akan berhenti hingga Elena merasakan dinginnya tanah yang pernah ia huni.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!