NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Dara tuh bukan tipe orang yang mudah menilai keburukan seseorang tanpa mencari tahu alasan di balik perbuatan seseorang tersebut.

Meski dia mengenal Bebi belum terlalu lama. Dalam arti belum hitungan tahunan, tapi sedikit banyaknya dia sudah paham bagaimana sifat dan karakter sahabatnya itu.

Apalagi saat melihat gerak gerik dan kegugupan yang tidak bisa disembunyikan oleh Bebi, dia tahu betul kalau Bebi seperti sedang ketakutan dan di bawah tekanan seseorang.

Bebi berbeda dengan Renita, Monica serta Braden. Dia bisa tahu kalau mereka memang mempunyai sifat tidak baik.

Dara duduk di samping Bebi, dia memegang kedua tangan Bebi yang bergetar. Kedua bahu Bebi juga ikut bergetar karena menangis.

"Bilang sama gue, lo disuruh sama siapa?" tanya Dara.

"Gue ..."

 

Kemarin, saat jam istirahat kedua, Bebi yang pergi ke toilet sendirian pun tiba-tiba dihadang oleh Renita dan juga Monica.

Mereka menyuruh Bebi melakukan apa yang mereka minta. Mungkin lebih tepatnya memaksa Bebi agar menuruti kemauan mereka.

"Gak! Gue gak mau!" tolak Bebi dengan tegas, raut wajahnya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.

Renita tersenyum miring. Dia menunjukkan sebuah foto di ponselnya kepada Bebi. Foto papa nya Bebi yang sedang berada di luar kota. Sedangkan Bebi di rumah hanya bersama ART dan ada orang suruhan papa nya yang berjaga di luar.

"Lo mau, bokap lo tercinta ini celaka?" tanya Renita.

Bebi menggelengkan kepalanya cepat. Jelas dia tidak ingin papa nya kenapa-napa. Orang tua dan keluarga satu-satunya setelah mama nya sendiri meninggal beberapa tahun yang lalu.

"Gue udah bayar orang buat ngikutin bokap lo. Lo ngebantah sekali aja, gue bakal nyuruh orang itu buat ngelakuin apa yang gue minta sekarang juga," ucap Renita.

"Kenapa lo ja-hat banget, Re? Papa padahal baik sama lo," kata Bebi dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.

Renita tertawa seketika. "Baik kata lo? Kalo emang baik, gak mungkin bokap lo ngusir gue sama Mama malem-malem!"

"Itu karena kalian juga yang gak tau diri!" sentak Bebi.

Monica sendiri hanya diam. Dia sebenarnya hanya memanfaatkan masalah yang terjadi antara Renita dan Bebi saja. Hanya memanasi Renita dan mengatakan kalau Bebi jadi berani karena dipengaruhi oleh Dara. Monica mencari sekutu untuk melawan Dara, agar bukan dia yang terseret nantinya.

Renita yang memang sejak awal sudah tidak menyukai Dara karena menilai Dara murid baru tapi sudah bersikap berani pun jelas makin tak suka. Ditambah dengan kejadian yang menimpanya, makin meradang lah dia.

"Intinya, lo harus ngelakuin apa yang gue suruh. Itu pun kalau lo gak mau bokap lo kenapa-napa," ujar Renita.

 

"Bukannya kemarin lo bilang ... lo pulang dijemput sama bokap lo?" tanya Dara.

Bebi menggelengkan kepalanya. "Gue bohong. Papa udah berangkat lagi ke luar kota karena pekerjaannya belum selesai."

Bebi berjongkok di depan Dara, dia menangis dan meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan kemarin.

"Lo tau, kemarin tamu bulanan gue datang. Gue yang tiap bulan selalu ngerasa kesiksa karena dismenore pun kemarin ngalamin itu sampe gue pingsan di sana," ucap Dara, membuat Bebi makin diliputi rasa bersalah.

"Dara, gue-"

"Lo sahabat gue. Kenapa lo gak bilang apa-apa sama gue kemarin? Lo... Hahh." Dara berakhir membuang napas kasar dari mulut. Ingin menyalahkan Bebi lagi, tapi jelas ini semua bukan sepenuhnya salah gadis berkacamata itu.

Orang kadang kalau sedang kepepet atau dilanda kebingungan jarang bisa berpikir jernih. Padahal ada banyak cara yang bisa Bebi lakukan untuk memberitahu Dara atau papa nya.

Tapi, kembali ke sifat Bebi yang memang sejak awal penakut, membuat dia kesulitan untuk berpikir dengan benar. Renita berhasil menekannya. Menggunakan seseorang yang paling penting di hidup Bebi sebagai ancamannya.

"Lo udah kasih tau bokap lo?" tanya Dara.

Bebi menggeleng. "Gue takut. Takut mereka tahu," jawabnya.

Dara menghembuskan napas berat. Gemes banget rasanya dia pada sahabatnya itu.

"Bebi. Gue tau lo tuh gak pinter-pinter banget. Tapi pliiis, pake otak lo buat mikir masalah ini dengan benar. Pake logika lo. Mereka bakal tau dari mana lo bilang sama bokap lo atau enggak. Mereka gak bakal tau kalau bukan lo yang bilang sendiri ke mereka!"

Bebi menunduk, dia benar-benar tidak kepikiran tentang hal itu. Rasa takutnya membuat otaknya benar-benar blank.

"Makanya, jangan pendem semua masalah lo sendiri. Sekarang ada gue yang bisa lo jadiin tempat buat cerita," sambung Dara.

"Gue bo-doh banget. Maafin gue, Dara," ucap Bebi penuh sesal.

Dara menghembuskan napas berat, dia membawa Bebi ke pelukannya. Mengusap punggung sahabatnya itu dengan lembut.

"Gue maafin. Udah, jangan nangis lagi," ujar Dara menenangkan.

Tidak berselang lama, ponsel Bebi bergetar. Ada panggilan masuk dari papa nya.

"Papa," gumam Bebi kemudian langsung menerima panggilan tersebut.

 

Di ruang guru, Renita berdiri dengan gelisah. Mendengarkan ucapan Rafa yang terus menerangkan nilainya yang berubah drastis belakangan ini.

"Iya ... Pak. Saya dengar. Udah belum?" tanya Renita dengan malas. Padahal, awal-awal Rafa bekerja sebagai guru di sana, Renita jadi siswi paling antusias saat bicara dengan guru tampan itu.

Rafa menyandarkan punggungnya ke kursi. Melipat kedua tangan di dada dan menatap siswi nya dengan kening mengkerut.

"Kenapa bapak ngeliatin saya kayak gitu?" tanya Renita.

"Kamu yang menyuruh Bebi untuk mengurung Dara di toilet kemarin?" tanya Rafa.

Suasana ruang guru agak sepi, jadi dia berani bertanya langsung di sana. Hanya ada staff administrasi, itu pun meja nya agak jauh dengan meja milik Rafa.

Kedua mata Renita melebar dibarengi dengan jantung yang berdetak cepat. Dia menelan ludahnya susah payah.

"Ma-maksud bapak apa?" tanya Renita gugup.

"Melihat reaksi kamu, saya yakin kalau tebakan saya benar," balas Rafa dengan raut wajah terlihat tenang.

"Bapak jangan asal nuduh!" sangkal Renita.

"Kalau saya punya buktinya. Kamu siap mengakui kesalahan kamu?" tanya Rafa.

"Atau ... mau saya publish kelakuan kamu di sekolah ini agar semua orang tahu?" ancam Rafa.

Kembali lagi pada Dara dan Bebi. Dara bingung karena Bebi langsung memohon padanya agar dia bicara dengan Oma Atira.

"Ada apa?" tanya Dara.

Bebi pun menjelaskan perihal barusan saat sang papa menghubunginya. Papa nya marah dan bertanya apa yang sudah dia lakukan kepada Dara sampai Oma Atira menegur Papa Bebi tersebut.

"Gue mohon. Lo bicara sama neneknya Pak Rafa buat maafin gue. Papa sama sekali gak salah dan gak tau masalah ini. Pliis, Dara."

Dara memegang pelipisnya yang berdenyut. Mengapa masalahnya seakan jadi merembet ke sana kemari? Dia juga tidak menyangka kalau Oma Atira akan ikut turun tangan dengan masalah yang dia alami.

"Bokap lo barusan jadi tau masalah yang lo hadapin, 'kan?" tanya Dara.

Bebi mengangguk dan Dara menghembuskan napas lega. Untuk masalah Oma Atira, dia akan bicara langsung nanti. Dan untuk Renita serta Monica, dia harus menyusun rencana untuk membuat kedua orang itu jera.

Padahal dia tidak pernah mencari masalah dengan mereka. Tapi mereka? Seakan terganggu dan terancam hanya dengan kehadirannya saja.

"Apa sih lo? Gak usah narik-narik tangan gue juga!" sentak Monica marah saat Renita menarik tangannya.

"Kita harus minta maaf sama Dara," ucap Renita.

Monica jelas terkejut mendengar perkataan Renita. "Minta maaf? Hahh.. Buat apa? Emangnya apa salah gue?" tanyanya.

"Pak Rafa udah tau kalau kita yang udah nyuruh si Bebi buat ngurung Dara di toilet kemarin," ujar Renita.

"Kita?" Monica menunjuk dirinya sendiri. "Bukan kita. Tapi lo sendiri yang nyuruh dia!"

Renita menganga. "Kok gitu sih? Kan yang ngasih ide elo sendiri. Gue yang ngomong sama si Bebi," ujarnya tidak habis pikir.

"Gue cuman bilang kalau si Dara yang udah pengaruhin si Bebi biar jadi berani sama lo. Lo ada bukti apa kalau gue yang nyuruh lo? Gak ada, 'kan?" Monica melengos. Enak saja dia jadi ikut kebawa-bawa. Tujuan awalnya kan biar hanya Renita saja yang terseret. Dia hanya puas saat tahu Dara sudah tidak bisa keluar dari toilet kemarin.

Monica juga berpikir, saat Rafa bertanya tentang Dara dan dia menjawab kalau Dara mungkin sudah pulang lebih dulu, gurunya itu juga akan langsung pulang dan Dara akan terkurung lama di sana.

Renita menatap tajam, dia menuding Monica dengan jari telunjuknya. "Lo sengaja bikin gue keseret sendirian?" tanyanya.

Monica tersenyum miring. "Kalau iya. Kenapa? Asal lo tau, gue mau jadiin lo temen gue pun buat manfaatin lo doang. Be-go!"

"Brengsek lo ya!" Renita langsung menarik rambut Monica sampai gadis itu menjerit kesakitan.

"Aaaa! Lepasin tangan lo dari rambut gue!" teriaknya sambil memegangi rambut yang dijam-bak oleh Renita.

"Gak sebelum lo mau minta maaf sama Dara bareng gue-Aaaaaa!" Renita ikut menjerit saat Monica balas menjam-bak rambutnya.

Mereka terus saling jam-bak, membuat beberapa orang murid yang mendengar pun langsung berlarian menghampiri. Bukan untuk membantu memisahkan, mereka malah asik menyoraki dan beberapa ada juga yang merekamnya.

"Lapor sama Braden, buruan!" suruh salah satu teman sekelas Monica dan Braden.

Priiiit!

Tidak berselang lama, Pak Boris selaku guru BK datang membunyikan pluit yang selalu menggantung di lehernya.

"Apa-apaan kalian ini?! Main jambak-jambakkan sampai rambut kalian macam singa begitu!"

Renita dan Monica hanya diam. Napas keduanya masih terdengar memburu karena aksi barusan. Mereka saling pandang dengan tatapan tajam, membuat Pak Boris langsung berdiri di tengah-tengah keduanya.

"Sudah! Sudah! Kalian semua bubar dan masuk ke kelas masing-masing!" perintah Pak Boris.

"Untuk kalian berdua, ikut saya sekarang!" tunjuknya pada Monica dan Renita.

Baru juga melangkah, Braden datang dengan napas terengah-engah. Dia barusan sedang ada di warung belakang sekolah.

"Ada apa, Pak?" tanya Braden.

"Ini. Si Monica ini pacarmu, bukan? Dia gelut sama si ... siapa namamu?" tanya Pak Boris pada Renita.

"Renita!" jawabnya dengan ketus.

"Iya. Sama si Renita ini. Liat saja rambut mereka," ucap Pak Boris.

Monica menggelengkan kepalanya cepat. Dia mendekat ke arah Braden namun pacarnya itu malah mundur. Bisa Monica lihat kalau Braden sedang kecewa padanya.

"Aku bisa jelasin semuanya, Braden," ucap Monica.

"Gue kecewa sama lo. Lo juga udah bikin gue malu jadi pacar lo!" tegas Braden.

Monica kembali menggelengkan kepalanya cepat. Kedua matanya sudah berkaca-kaca. Berbeda dengan Renita yang nampak tersenyum puas.

"Rasain!" batin Renita.

"Nanti dulu drama percintaan kalian. Sekarang kau Renita sama Monica ikut dulu ke ruangan saya!" ujar Pak Boris berjalan lebih dulu dengan Renita dan Monica menyusul di belakangnya.

Rafa yang turut menyaksikan kejadian barusan hanya diam saat Renita berjalan melewatinya dan menatap ke arahnya. Dia hendak pergi ke kelas IPS 1.

 

"Eh, eh. Tau gak sih, barusan si Renita berantem sama si Monica!"

Dara dan Bebi yang mendengar pun sontak langsung saling lirik dengan perasaan bingung campur penasaran.

Bukannya kemarin mereka berdua kompak menyuruh Bebi untuk mengurung Dara? Lalu kenapa sekarang malah berantem?

Rasa penasaran mereka harus tersimpan dulu karena guru biologi sudah masuk ke kelas.

"Selamat siang semuanya. Langsung saja buka buku halaman 56, tentang Teori Evolusi!"

 

Jam istirahat kedua, Dara dan Bebi sudah ada di kantin. Mereka sudah duduk dan menunggu makanan yang mereka pesan datang.

"Sekali lagi maafin gue ya," ucap Bebi.

Dara menghela napas panjang. "Sekali lagi lo bilang maaf, gue tarik lagi ucapan gue yang udah maafin lo."

Bebi langsung mengatupkan bibirnya. Keduanya kaget saat Renita dan Monica berdiri di samping mereka. Lebih tepatnya menghadap ke arah Dara.

"Kalian mau apa?" tanya Dara heran.

"Gue minta maaf," ucap Renita.

"Untuk?" tanya Dara.

"Gue yang udah nyuruh Bebi buat ngurung lo di toilet kemarin. Lebih tepatnya gue sama Monica," jawab Renita.

Renita menyenggol lengan Monica. Membuat gadis itu pun menghembuskan napas berat dan meminta maaf dengan kedua tangan mengepal.

Harga diri dan mukanya seakan jatuh dengan dia minta maaf seperti barusan. Tapi apa daya, belum cukup hukuman yang diberikan oleh Pak Boris, Braden pun menyuruh dia meminta maaf pada Dara atau hubungan mereka akan kandas. Braden akan memutuskannya.

Dara bengong karena kaget. Ada angin apa tiba-tiba Renita dan Monica minta maaf padanya?

"Gue pengen denger alesan kenapa kalian ngelakuin hal itu?" ucap Dara. "Dan lagi ... kalian harusnya minta maaf sama Bebi juga. Bukan sama gue aja," imbuhnya.

"Ngelunjak!" gumam Monica. Padahal dia sudah minta maaf. Tapi sepertinya Dara sengaja ingin mempermalukannya di sana.

"Gue dikomporin sama dia buat ngelakuin sesuatu sama lo," ucap Renita menunjuk Monica.

"Kok lo nyalahin gue lagi, sih? Mau lo apa?!" sentak Monica. Amarahnya semakin meningkat pesat karena Renita seakan mengatakan kalau dia lah penyebabnya.

"Emang bener, 'kan?" sahut Renita dengan santainya.

"Renita! Monica! Masih saya pantau ini. Kalau kalian berantem lagi. Hukuman kalian akan saya tambah!" Pak Boris berseru tidak jauh dari mereka.

 

Di perjalanan pulang, Rafa menghentikan mobilnya saat melihat Dara yang terus diam.

"Kok berhenti?" tanya Dara bingung. Rencananya mereka akan pergi ke rumah Ayah Aldi. Sekalian akan menginap di sana. Tapi sekarang, Rafa malah berhenti padahal mereka belum sampai.

"Mau dipeluk?" tawar Rafa.

"Hah?" Dara bingung.

Rafa melepaskan sabuk pengaman yang dipakainya juga sabuk pengaman yang dipakai oleh Dara. Dia menarik Dara ke pelukannya.

"Pasti hari ini lumayan berat buat kamu, bukan?" tanya Rafa sambil mengusap rambut Dara yang hari ini dibiarkan terurai indah.

Dara tersenyum tipis. Dia tidak menyangka Rafa akan bersikap hangat dan manis padanya seperti ini. Gadis cantik itu membalas pelukan sang suami. Dia menghirup aroma parfum yang digunakan oleh Rafa, aroma yang dia suka.

"Hm. Aku belum bicara sama Oma juga," jawab Dara.

"Oma pasti sudah tahu semuanya. Oma juga gak bakal memperpanjang masalahnya dengan papanya Bebi. Kamu gak usah khawatir soal itu," sahut Rafa.

"Kok Mas Rafa bisa tau?" tanya Dara.

"Sudah aku bilang. Jangan cemaskan hal itu lagi. Yang penting, masalahnya sudah selesai, bukan? Mereka sudah minta maaf sama kamu dan gak akan gangguin kamu lagi," balas Rafa.

Dara menghela napas pelan. Dia lupa kalau suaminya bukan berasal dari keluarga biasa. Terutama Oma Atira. Bukan hal yang sulit bagi Oma Atira untuk membereskan hal kecil seperti itu saja.

"Tapi ... aku juga bingung. Kenapa Renita tiba-tiba minta maaf sama aku. Kayak yang ... terlalu mendadak aja gitu."

Rafa tersenyum tipis. Dia tentu tidak lupa dengan ancaman yang dia berikan kepada Renita.

"Kamu hanya perlu bahagia, dan aku akan memastikan hal itu," batin Rafa. Dia tidak ingin kecolongan lagi dan membuat Dara terkurung di toilet seperti kemarin.

 

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!