NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Sisa-Sisa Takhta yang Runtuh

Lantai marmer di kantor hukum Maya terasa dingin, sedingin suasana hati Hana saat jemarinya menyentuh map biru tua yang terletak di atas meja. Di sana, tertera barisan kalimat hukum yang kaku, namun bagi Hana, setiap hurufnya adalah kunci menuju pintu keluar dari sebuah pengabdian sepuluh tahun yang ia bangun dengan air mata.

Hana menarik napas panjang. Aroma kopi pahit dan kertas baru memenuhi paru-parunya, memberikan sensasi ketenangan yang asing namun menenangkan. Tanpa ragu sedikit pun, ia membubuhkan tanda tangan di atas materai. Goresan penanya mantap, tidak lagi gemetar seperti saat ia harus meminta izin pada Aris hanya untuk sekadar membeli keperluan pribadinya.

"Sudah selesai," bisik Hana.

Maya mengambil map itu, memeriksanya dengan teliti di balik kacamata kerjanya yang tajam. "Ini langkah resmi, Hana. Begitu berkas ini masuk ke pengadilan, tidak ada lagi jalan mundur. Aris akan menerima panggilannya dalam hitungan hari. Kamu sudah benar-benar siap menghadapi badai yang mungkin dia ledakkan?"

Hana menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang empuk. Ia menatap keluar jendela, ke arah gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang tampak seperti tumpukan balok mainan. "Badainya sudah lewat, May. Sekarang aku hanya sedang membersihkan puing-puingnya. Aku tidak takut lagi pada apa yang akan dia katakan atau bagaimana ibunya akan mencaciku di depan arisan sosialitanya. Aku hanya ingin namaku tidak lagi bersanding dengan pria itu."

"Bagus. Karena Aris mulai bermain kotor melalui pengacaranya. Dia menuntut pembagian aset yang tidak masuk akal, bahkan mencoba mengklaim hasil keuntungan finansial pribadimu belakangan ini sebagai harta bersama karena status pernikahan yang masih sah," ujar Maya sambil menunjukkan sebuah dokumen di layar monitornya.

Hana tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat lepas dan tanpa beban. "Harta bersama? Dia lupa bahwa selama sepuluh tahun aku mengelola keuangan rumah tangga dengan sangat ketat agar dia bisa memamerkan gaya hidup mewahnya. Keberhasilan yang aku miliki sekarang adalah hasil murni dari diriku sendiri, saat dia sedang asyik dengan dunianya. Dia tidak punya hak sepeser pun atas hidupku yang sekarang."

Tiga hari kemudian, di sebuah rumah kontrakan yang jauh lebih kecil namun terasa ribuan kali lebih hangat, Hana sedang menata beberapa barang di rak barunya. Ia memutuskan untuk belajar berdiri di atas kakinya sendiri sepenuhnya. Rumah ini sederhana; hanya ada dua kamar, sebuah dapur minimalis yang menghadap ke taman belakang, dan ruang tamu yang terang oleh cahaya alami.

Tiba-tiba, bel rumah berbunyi dengan cara yang sangat tidak sabar. Hana mengernyit. Ia tidak sedang menunggu tamu, dan hanya sedikit orang yang tahu alamat barunya.

Saat pintu dibuka, sosok pria yang selama ini ia hindari berdiri di sana. Aris. Penampilannya jauh dari kata rapi. Kemeja putihnya tampak kusut di bagian lengan, dan ada lingkaran hitam yang dalam di bawah matanya, menunjukkan pria itu tidak tidur dengan nyenyak selama berhari-hari. Tidak ada lagi mobil mewah mengilap yang terparkir di depan; ia datang dengan kendaraan operasional kantor yang sudah kusam.

"Bagaimana kamu tahu aku di sini?" tanya Hana, tetap berdiri tegak di ambang pintu, menghalangi jalan masuk.

"Maya memberikan alamat ini pada pengacaraku untuk pengiriman dokumen resmi," suara Aris terdengar parau, seperti orang yang sedang dicekik oleh kenyataan. "Na... tolong. Jangan lakukan ini. Gugatan cerai itu... itu akan menghancurkan sisa-sisa reputasiku yang masih tersisa."

Hana menatap Aris dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak lagi merasa marah yang meledak-ledak, tapi ia juga tidak merasa kasihan. Pria di depannya ini terasa seperti orang asing yang baru saja ia kenali sisi gelapnya.

"Reputasimu hancur karena pilihanmu sendiri, Mas. Bukan karena selembar kertas gugatan. Gugatan itu hanya sebuah legalitas dari kehancuran yang sudah kamu ciptakan sejak pertama kali kamu memutuskan untuk mengkhianatiku," jawab Hana tenang.

"Aku sudah kehilangan jabatan, Hana! Citra meninggalkanku begitu tahu aku tidak lagi punya akses ke dana perusahaan! Dia bahkan membawa beberapa dokumen penting kantor yang harusnya jadi tanggung jawabku! Aku sedang diinvestigasi internal!" Aris mulai berteriak frustrasi, jemarinya menjambak rambutnya sendiri dengan kasar.

Hana hanya diam mendengarkan. Ironis sekali, pikirnya. Wanita yang diagung-agungkan Aris sebagai sosok yang lebih modern dan berkelas, ternyata adalah orang pertama yang melompat keluar dari kapal saat air mulai masuk ke dek.

"Lalu, apa hubungannya denganku?" tanya Hana dingin. "Dulu, saat aku butuh kamu untuk mendengarkan keluh kesahku tentang kesepian di rumah besar itu, kamu bilang aku terlalu banyak drama. Sekarang, saat kamu tertimpa masalah yang kamu buat sendiri, kamu datang mengetuk pintuku seolah aku adalah tempat perlindungan? Aku bukan lagi peredam stresmu, Mas."

"Na... aku mencintaimu. Aku baru sadar sekarang kalau hanya kamu yang tulus. Citra hanya menginginkan kedudukanku, tapi kamu... kamu ada sejak aku belum punya apa-apa dulu. Bisakah kita mulai lagi? Kita pindah ke kota lain?" Aris mencoba meraih tangan Hana, namun Hana mundur satu langkah dengan sigap.

"Mulai dari awal? Mas, jalur kita sudah berbeda," Hana menatap mata Aris dengan tajam. "Awal bagiku adalah saat aku tidak punya apa-apa tapi aku punya harga diri yang utuh. Awal bagimu adalah saat kamu kehilangan segalanya tapi tetap mencoba memanipulasi orang lain agar hidupmu tetap nyaman. Aku sudah berjalan terlalu jauh untuk kembali ke masa lalu yang penuh racun."

"Kamu jadi kejam, Hana! Kamu berubah menjadi orang yang berbeda sejak kamu merasa punya kekuatan sendiri!" bentak Aris, ego laki-lakinya kembali terluka saat melihat Hana tak lagi bisa ia kuasai.

"Aku tidak menjadi kejam, Mas. Aku hanya menjadi wanita yang berhenti membiarkan dirinya diinjak-injak olehmu. Sekarang, silakan pergi. Pengacaraku akan bicara dengan pengacaramu di pengadilan minggu depan. Jangan pernah datang ke sini lagi," ucap Hana tegas.

Hana menutup pintu dengan perlahan tapi pasti. Ia mengunci pintu itu, menyandarkan punggungnya sejenak pada kayu pintu, dan menarik napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, ia merasa bangga pada dirinya sendiri karena tidak goyah sedikit pun oleh rayuan maupun ledakan kemarahan Aris.

Malam harinya, Hana duduk di teras belakang rumahnya yang hanya diterangi oleh lampu temaram dan cahaya bulan. Ia memegang sebuah buku baru, menikmati ketenangan yang selama ini ia rindukan.

Tiba-tiba, ponselnya berdenting. Sebuah pesan dari nomor yang tidak ia simpan.

"Hana, ini Citra. Aku tahu Aris mendatangimu hari ini. Jangan percaya satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Dia mencoba menjebakmu agar kamu menarik gugatan cerai itu, supaya dia bisa menggunakan aset barumu untuk menutupi kerugian perusahaan dan menyelamatkan mukanya di depan keluarga besar. Dia pria yang licik. Aku pergi karena aku tahu dia akan menarikku ikut tenggelam bersamanya."

Hana menatap layar ponsel itu dengan senyum kecut. Bahkan setelah semuanya hancur, dua orang itu masih sibuk saling tikung dan saling menjatuhkan. Ternyata, "kebahagiaan" yang selama ini Aris pamerkan hanyalah sekumpulan kebohongan yang saling menopang satu sama lain.

Hana menghapus pesan itu tanpa niat untuk membalasnya. Ia tidak butuh konfirmasi dari wanita seperti Citra untuk mengetahui betapa busuknya karakter Aris. Pengalaman sepuluh tahun sudah cukup menjadi saksi paling jujur.

Esok pagi adalah hari pertama persidangan. Hana tahu, media mungkin akan mencoba mencari celah untuk menjadikannya berita utama. Teman-teman sosialita Mama Sarah mungkin akan membisikkan spekulasi buruk tentang statusnya nanti. Namun, Hana benar-benar sudah tidak peduli.

Ia berjalan ke arah cermin besar di ruang tamu. Ia melihat bayangan dirinya sendiri—seorang wanita dengan potongan rambut yang baru, kulit yang tampak lebih segar karena tidak lagi menanggung beban batin yang berat, dan mata yang kini memiliki binar masa depan.

"Sepuluh tahun aku hidup sebagai pelengkap hidupnya," bisik Hana pada bayangannya di cermin. "Sekarang, aku akan hidup sebagai tokoh utama dalam hidupku sendiri. Dan perjalanannya baru saja dimulai."

Hana mematikan lampu ruang tamu, melangkah menuju kamarnya dengan hati yang sangat ringan. Di luar sana, bintang-bintang bersinar terang, seolah-olah semesta sedang memberikan tepuk tangan sunyi bagi keberanian seorang wanita yang baru saja memenangkan kembali takdirnya dari tangan seorang pengkhianat.

1
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!