Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Tiga atau empat orang mendekat. Seorang wanita berwajah sinis bertanya sambil tersenyum. Sari meliriknya sekilas lalu berkata datar,
“Ini pacarku, Bima. Sekarang dia adalah asisten Presdir Garuda Group.”
“Oh? Dari sopir langsung jadi asisten Presdir?” ejek seorang pria berpenampilan rapi di samping wanita itu. “Hebat juga. Nasibmu seperti ikan asin yang akhirnya bisa bangkit.”
“Jangan begitu,” wanita sinis itu tersenyum meremehkan. “Di zaman sekarang apa saja bisa terjadi. Burung gagak pun bisa terbang ke dahan lalu berubah jadi burung merak.”
Sebagian besar orang di belakang mereka menunjukkan ekspresi serupa—jelas tidak menyukai Bima yang dulunya hanya seorang sopir. Sari langsung mengernyit. Namun Bima lebih dulu tersenyum santai.
“Tidak apa-apa. Mengikuti Sari dan berjuang seumur hidup juga sudah cukup. Kesempatan seperti ini tidak semua orang bisa mendapatkannya.”
“Dengan kata lain, kamu cuma lelaki simpanan!” ejek pria tadi yang diketahui bernama Dodi. “Aku benar-benar malu melihatmu.”
“Dodi, cukup!” Sari menatap Dodi dan Rendy dengan marah. “Kalau kalian tidak menyambutku, kami akan pergi sekarang!”
Bima datang bersamanya. Walaupun ia sendiri tidak menyukainya, bukan berarti orang lain boleh menghina pria itu seenaknya.
“Dodi, hentikan. Sari adalah tamu yang kuundang. Jangan keterlaluan,” kata Rendy pura-pura menegur. Bima tertawa dalam hati. Maksud Rendy jelas: mereka tidak boleh berlebihan terhadap Sari… tapi terhadap dirinya, tidak masalah.
“Baiklah, demi menghormati Kak Rendy,” kata Dodi sambil tersenyum.
Sari merasa wajahnya masih panas setelah ciuman tadi. Ia memanfaatkan kesempatan itu. “Tunggu di sini. Aku ke kamar mandi sebentar.”
“Baik. Pergilah. Aku pasti akan bergaul dengan mereka dengan baik,” kata Bima sambil tersenyum.
Setelah Sari pergi, Rendy juga naik ke lantai atas dengan alasan ada urusan. Sebelum pergi, ia diam-diam memberi isyarat pada Dodi.
Segera, empat atau lima orang yang dipimpin Dodi mengelilingi Bima sambil tersenyum sinis.
“Bima, kan?” kata seseorang. “Menurutmu kenapa Sari bisa menyukaimu yang cuma sopir? Kamu sama sekali tidak pantas, tahu?”
“Benar! Seperti bunga melati yang tertancap di kotoran kerbau!”
“Bukan. Lebih tepatnya berlian yang jatuh ke dalam selokan!”
Mereka bergantian menghina. Sebagian besar orang di aula menonton dengan wajah geli. Hanya beberapa yang mengernyit, seolah merasa tindakan Dodi terlalu keterlaluan. Namun tidak seorang pun maju menghentikan mereka. Jelas hubungan Sari dengan lingkaran sosial seusianya di Jakarta tidak terlalu baik.
“Bima, bagaimana? Marah?” tanya seorang pria bertubuh kekar sambil mendekat dengan senyum mengejek. “Kalau marah, silakan saja bertindak. Kami hanya bicara sedikit. Jangan sampai terlihat seolah-olah kami menindasmu.”
“Iya,” tambah Dodi sambil melangkah maju. “Setidaknya beri reaksi sedikit. Jangan cuma berdiri di sini dan tersenyum bodoh.”
Bima tersenyum santai. Ia menatap Dodi dan berkata, “Tidak ada gairah? Bagaimana kalau kita buat sedikit panas?”
“Baik! Sopir kecil sepertimu mau memberi kami sesuatu yang panas?” Dodi menyipitkan mata penuh hinaan.
“Baik,” kata Bima sambil mengangguk serius. “Sopir kecil ini akan memberimu sesuatu.”
Ia tiba-tiba mengangkat tangannya—
Plak!
Tamparan keras mendarat di wajah Dodi. Tubuh Dodi langsung berputar dua kali sebelum jatuh terduduk di lantai dengan bunyi keras. Ia memuntahkan dua gigi besar bercampur darah.
“Bagaimana?” kata Bima sambil tersenyum tipis. “Cukup panas belum? Kalau belum, aku bisa menambahkannya.”
Ia lalu berbalik perlahan. Senyum di wajahnya menghilang. Ekspresinya berubah dingin. Matanya menyapu orang-orang di depannya.
“Sekelompok idiot yang bahkan tidak tahu seberapa tinggi langit… apakah kalian harus ditampar dulu baru merasa nyaman?”
Tamparan Bima terhadap Dodi membuat seluruh aula seakan membeku. Seorang sopir kecil… benar-benar menampar Dodi? Dan yang lebih keterlaluan lagi, ia baru saja memaki semua orang di ruangan itu sebagai orang bodoh.
“Kau… kau berani memukul Dodi? Dasar bajingan! Aku akan bertarung denganmu!” Wanita berwajah sinis tadi tiba-tiba menjerit dan menerjang ke arah Bima dengan tangan mencakar.
Buk!
Satu tendangan langsung mendarat di perut bawah wanita itu. Ia menjerit kesakitan. Tubuhnya terlempar ke belakang dengan posisi melengkung seperti udang rebus sebelum jatuh terduduk di lantai sambil meringis.
“Kau… kau berani memukulku?”
“Perempuan jalang, memangnya kau siapa?” Bima mencibir dingin. “Berani bertingkah di depanku? Percaya atau tidak, aku bisa meremas silikonmu sampai pecah? Kalau tidak percaya, coba saja terus bicara sembarangan.”
Orang-orang di aula kembali terperangah. Pria ini… terlalu ganas!
“Bima! Kau cuma sopir sialan, berani membuat keributan di sini? Kau sudah bosan hidup!”
“Sial! Terlalu sombong! Saudara-saudara, kita keroyok saja anak ini! Dia yang mulai duluan!”
Beberapa pria yang tadi bersama Dodi akhirnya bereaksi. Mereka menggulung lengan baju sambil berteriak marah, jelas berniat mengeroyoknya. Bima hanya tersenyum tipis. “Mengeroyokku? Dengan sampah seperti kalian? Saya memang sopir. Tapi menginjak kalian sampai mati bagiku sama mudahnya seperti bermain.”
Tiba-tiba ia melangkah maju. Kakinya menghentak lantai dengan keras—tubuhnya melompat tinggi.
Baam!
Kaki kanannya menyapu keras ke arah dada salah satu pria. Pria itu langsung terpental ke udara seperti karung pasir, menghantam pilar di belakang dengan suara keras sebelum jatuh ke lantai.
“Ah—!” Adegan brutal itu membuat beberapa wanita menjerit ketakutan. Orang-orang langsung menjauh. Bima menatap mereka dengan dingin.
“Kalian ini benar-benar bodoh. Dipermainkan orang lain, tapi masih merasa diri hebat. Kalau mau berkelahi, ayo saja!” Ia mengangkat tangannya dan mengaitkan jari ke arah beberapa pria di depannya. “Kalian tadi bilang mau mengeroyokku, bukan? Cepatlah! Datang bersama! Sopir kecil ini akan melayani kalian semua!”
Sikapnya begitu arogan, penuh dominasi. Beberapa pria yang dipanggil langsung mundur selangkah dengan wajah pucat. Kapan mereka pernah bertemu orang sekejam Bima?
“Sekelompok pengecut!” Bima mencibir. “Kalau tidak berani maju, mulai sekarang bersikaplah sopan di depanku. Sari adalah wanitaku. Kalau ada yang berani menggonggong di depannya lagi—tanpa peduli laki-laki atau perempuan—aku akan menghancurkan kalian! Kalian semua memandang rendah sopir, bukan? Kalau begitu dengarkan baik-baik! Namaku Bima. Hari ini… aku berbicara atas nama para sopir!”
Aura dominasi yang kuat menyelimuti seluruh aula. Tidak seorang pun berani menjawab. Melihat tidak ada lagi yang berani bicara, Bima berjalan santai ke sudut aula, mengambil makanan dari meja prasmanan, lalu mulai makan dengan lahap seolah tidak terjadi apa-apa.
Sementara itu, Sari keluar dari kamar mandi dengan tergesa karena khawatir Bima ditindas. Namun, ia justru melihat pemandangan yang membuatnya tertegun. Bima sedang duduk santai menikmati kue sambil minum cola, sementara tamu-tamu lain berkumpul menjauh darinya dengan ketakutan.
“Apa yang terjadi?” Sari mengerutkan kening sambil berjalan mendekat. “Mereka tidak menindasmu, kan?”
Bima mengusap mulutnya dan tertawa. “Sekelompok idiot itu? Mana mungkin mereka bisa menindasku. Kalau aku tidak menindas mereka, mereka seharusnya sudah bersyukur!”