Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
1 April 2000
"Dana sebesar Rp10.000.000.000 telah dikreditkan ke rekening BCA Anda yang berakhiran 1314. Saldo efektif Anda saat ini adalah Rp10.001.020.100."
Seorang pria dengan penampilan konyol, mengenakan kostum badut karakter, melangkah keluar dari kantor pusat penyelenggara undian dengan pengawalan ketat hingga ke gerbang.
Setelah berhasil berganti pakaian di toilet umum yang sepi, Arga akhirnya mengembuskan napas panjang. Wajahnya dipenuhi kegembiraan yang tak mampu ia kendalikan.
Tujuh hari lalu, ia terlahir kembali—terlempar dari tahun 2021 kembali ke masa ini.
Dalam kehidupan sebelumnya, Arga adalah seorang analis keuangan kelas teri. Dua puluh tahun memeras keringat di Jakarta, namun kemiskinan tak pernah benar-benar menjauh darinya. Hidupnya berlalu tanpa pencapaian, penuh dengan cicilan dan penyesalan.
Namun setelah terlahir kembali dengan ingatan fotografis tentang peristiwa masa depan, Arga memilih jalan pintas paling logis untuk membangun fondasi: memenangkan undian nasional.
Hadiah sebesar 10 miliar rupiah kini ada di tangannya.
Dalam waktu tujuh hari, Arga berubah dari seorang pemuda perantauan dengan tabungan pas-pasan menjadi seorang miliarder baru!
Perlu diingat, pada tahun 2000, harga Sate Ayam di pinggir jalan masih Rp3.000 per porsi. Harga rumah tipe menengah di pinggiran kota pun masih di kisaran Rp50 juta hingga Rp80 juta. Memiliki uang 10 miliar di tahun ini bukan sekadar kaya—itu adalah tiket menjadi raja bisnis!
"Selama aku bisa memanfaatkan momentum krisis dan ledakan teknologi, 10 miliar ini akan menjadi 100 miliar, satu triliun, bahkan melampaui kekayaan grup konglomerat terbesar di negeri ini!"
Mata Arga memerah, seluruh tubuhnya bergetar. Ini adalah tahun 2000! Zaman keemasan ada di depan mata.
Ia ingat betul, saham-saham perbankan yang jatuh pasca-krisis 98 akan segera melesat. Tanah di kawasan BSD atau Kelapa Gading masih sangat murah. Belum lagi potensi perusahaan rintisan teknologi dan komoditas tambang yang akan meledak beberapa tahun lagi.
Arga menetapkan tiga janji pada dirinya sendiri:
* Memuliakan orang tuanya dan menghapus semua penderitaan mereka.
* Membangun imperium bisnis yang tak tergoyahkan.
* Tidak akan lagi menjadi "pria lemah" yang bisa diinjak-injak harga dirinya.
Namun, Arga tetap waspada. Ia paham gelapnya sifat manusia. Sebelum ia benar-benar memiliki kuasa, ia harus bergerak dalam bayang-bayang.
Saat itu juga, ponsel Nokia 3210 di saku celananya berdering nyaring.
"Arga, cepat ke Restoran Pinang Muda sekarang!" suara di seberang ketus, lalu telepon ditutup sepihak.
Telepon itu dari Tiara—kekasihnya saat ini, yang di kehidupan sebelumnya adalah istri yang menjadi sumber malapetaka hidupnya. Wanita yang membuat Arga menderita dan membuat orang tuanya menelan penghinaan hingga akhir hayat.
"Baik. Kali ini, semuanya akan kuakhiri agar sejarah kelam itu tidak terulang."
Tanpa ragu, Arga mencegat taksi menuju restoran tersebut. Begitu melangkah masuk, ia melihat Tiara dan adiknya, Rendi, berdiri di depan kasir sambil tertawa-tawa.
"Kenapa lama sekali?" ketus Tiara saat melihat Arga. "Sudahlah, cepat bayar! Kasirnya sudah menunggu."
"Maaf, Mas. Totalnya Rp1.200.000," ujar pelayan restoran dengan sopan.
Arga tertegun sejenak. Di tahun 2000, uang 1,2 juta adalah gaji dua bulan seorang buruh pabrik. Mereka makan apa sampai menghabiskan uang sebanyak itu dalam sekali duduk?
"Aku tidak akan membayar. Biarkan mereka bayar sendiri," ujar Arga dingin.
"Apa?! Tidak bayar?" Tiara mendongak, menatap Arga dengan wajah tidak percaya.
Biasanya, Arga adalah pria yang bisa diatur—"budak cinta" yang akan melakukan apa saja demi senyuman Tiara. Namun hari ini, Arga terasa seperti orang asing. Tatapannya tajam dan tidak ada lagi binar pengabdian di matanya.
"Arga, jangan mempermalukan aku! Cepat bayar sekarang!" Tiara bersedekap, nadanya angkuh.
Arga menyeringai. Ingatan tentang dua puluh tahun disiksa secara mental oleh wanita ini muncul kembali.
"Kenapa aku harus bayar? Aku tidak ikut makan, dan menurutku sejuta dua ratus untuk makan siang itu tidak masuk akal," katanya datar.
"Rendi ini baru saja pulang wawancara kerja! Apa salahnya kita merayakan sedikit?" Tiara membentak. "Lagipula kita akan menikah. Rendi itu adik iparmu. Apa kamu setega itu mempermasalahkan uang makan keluarga?"
"Dia adikmu, bukan adikku!" suara Arga meninggi, membuat beberapa pelanggan menoleh. "Selama ini aku yang membiayai kuliahnya, uang rokoknya, bahkan cicilan motornya. Sekarang dia mau foya-foya, aku lagi yang harus menanggung? Kamu pikir aku ini mesin ATM?"
Tiara terkejut. Rendi yang merasa tidak nyaman segera menarik lengan kakaknya dan berbisik, lalu dengan senyum palsu berkata, "Sudah, Kak, jangan ribut. Biar aku yang bayar pakai uang tabunganku dulu."
Rendi akhirnya membayar, meski wajahnya terlihat sangat masam.
Setelah keluar dari restoran, Tiara kembali menyerang. "Ngomong-ngomong, Arga, soal rencana pernikahan kita bulan depan..."
"Kamu mau minta tambahan mahar seratus juta karena adikmu terjerat utang judi bola, kan?" potong Arga telak.
Wajah Tiara seketika pucat pasi. "Bagaimana... bagaimana kamu tahu?"
"Aku tahu lebih banyak dari yang kamu bayangkan," ujar Arga dingin. "Rendi kalah judi dan sekarang dikejar-kejar penagih utang. Dan kamu ingin orang tuaku menjual sawah satu-satunya di desa untuk menutupi kebodohan adikmu?"
"Dia adikku satu-satunya, Arga! Kalau kita menikah, masalah dia adalah masalahmu juga!" Tiara masih mencoba membela diri dengan egoisnya.
"Masalahku?" Arga tertawa getir. "Ayahku cacat karena kecelakaan kerja demi mengumpulkan uang pernikahan ini! Itu uang untuk pengobatannya, Tiara! Dan kamu ingin aku memberikan uang itu pada pecundang seperti adikmu?"
Tiara mencibir, "Ah, ayahmu kan bisa berobat pakai asuransi nanti kalau aku sudah jadi istrimu. Lagipula dia kan cuma orang desa, kuatlah!"
Mendengar itu, darah Arga mendidih. Ia teringat bagaimana di kehidupan lalu, Tiara mengusir ayahnya yang datang membawa oleh-oleh dari desa karena dianggap "mengotori" lantai keramik rumah mereka. Ayahnya harus berjalan kaki berkilo-kilometer di bawah hujan deras karena tidak diberi uang ongkos pulang oleh Tiara.
"Cukup!" bentak Arga.
"Arga! Jawab saja, kamu mau bayar seratus juta itu atau tidak? Kalau tidak, kita putus! Aku bisa cari pria lain yang lebih kaya!" tantang Tiara.
Arga menatap Tiara dengan tatapan paling dingin yang pernah ia miliki. Di masa lalu, ancaman ini selalu membuatnya berlutut. Tapi sekarang?
"Bahkan jika aku punya uang seratus miliar, aku tidak akan memberikan sepeser pun untuk keluarga parasit seperti kalian."
Arga berbalik badan, langkahnya mantap.
"Jawabanku cuma satu: Pergi dari hidupku!"
“Kamu… keterlaluan!”
Tiara hampir saja meledak. Namun, menyadari para pengunjung restoran mulai berbisik dan menunjuk-nunjuk ke arahnya, ia terpaksa menelan amarahnya bulat-bulat.
“Arga, lihat saja nanti! Kalau aku tidak bisa memberimu pelajaran, pasti ada orang lain yang bisa!”