NovelToon NovelToon
Sugar Duda Terjerat Cinta

Sugar Duda Terjerat Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Balas Dendam / Penyesalan Keluarga
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang anak kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, anak itu merupakan anak kesayangan seorang duda bangsawan.

Sebelumnya, Jenna selalu tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.

Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.

Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.

Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayah

Karena Juju tidur sangat nyenyak, Jenna turun dari tempat tidur dengan hati-hati untuk memeriksa apa yang terjadi.

Begitu membuka pintu kamar, ia melihat Marco sedang menuang air minum. Satu tangannya menekan perutnya. Wajahnya terlihat pucat.

Jenna segera berjalan mendekat. “Tuan Alamsyah, kamu gak apa-apa?”

“Gak apa-apa.”

“Perut kamu sakit?”

Marco tidak menjawab.

Jenna langsung tahu tebakannya benar. Ternyata Marco sebenarnya tidak bisa makan pedas. Kalau begitu kenapa tadi dia tetap makan?

“Tunggu sebentar, aku ambilin obat lambung.”

Untungnya ia menyimpan beberapa obat dasar di rumah. Jenna segera membawa obat itu.

“Ini harus diminum dua tablet.”

“Makasih.”

Marco mengambil obat dari telapak tangannya. Ujung jari pria itu yang sedikit dingin menyentuh telapak tangannya. Sentuhan ringan itu membuatnya merasa aneh. Seakan menyentuh ujung hatinya.

Di tengah malam yang sunyi dengan angin dan hujan seperti ini, sangat mudah kehilangan kendali ketika pria tampan seperti ini berada di depan mata.

Melihat Marco sudah meminum obatnya, ia tetap menemani sebentar. Tidak sopan rasanya jika langsung pergi.

“Sekarang lebih baik? Apa perlu ke rumah sakit? Maaf ya, aku gak tahu kalau kamu gak bisa makan pedas.”

Awalnya ia khawatir pada Juju.

Tapi pada akhirnya tidak terjadi apa-apa pada anak itu. Yang justru bermasalah malah Marco.

Ini harus disebut apa?

“Bukan salah kamu. Ini penyakit lama.” Setelah beberapa saat hening, Marco tiba-tiba berkata, “Alasan aku datang ke sini malam ini karena Juju ingin bertemu kamu.”

Jenna sedikit terkejut. “Juju mau ketemu aku?”

“Dia sangat ketakutan saat kejadian di gudang. Karena kamu yang menyelamatkannya, dia sekarang sangat bergantung sama kamu.”

Jenna menyadari sesuatu. Setiap kali Juju ada di dekatnya, atau ketika seseorang membicarakan Juju, aura dingin Marco langsung berkurang.

Ia tidak terlihat semenakutkan saat siang tadi.

“Oh begitu…” Jenna mengangguk.

Malam seperti ini memang membuat orang lebih mudah membuka diri. Ia akhirnya menanyakan hal yang sudah lama membuatnya penasaran.

“Ehm … maaf kalau aku lancang. Juju… gak bisa ngomong?”

Sampai sekarang ia belum pernah mendengar Juju mengucapkan sepatah kata pun. Bocah itu hanya mengangguk atau menggeleng.

“Bukan tidak bisa. Dia tidak mau bicara,” jawab Marco.

“Berarti masalah psikologis?” Jenna mengerutkan kening.

“Juju cukup tertutup. Dia sering menutup diri.”

“Begitu ya…”

Kurang lebih sama seperti yang ia duga. Namun mengenai alasan kenapa Juju menjadi seperti itu, itu pasti rahasia keluarga besar.

Jenna tentu tidak berani bertanya lebih jauh.

“Nona Adiputra.” Tiba-tiba Marco menatapnya. Tatapannya tenang, dingin, dan tajam.

Namun anehnya terasa sangat panas, seakan bisa membakar seseorang menjadi abu.

“Iya?” Jenna sedikit terkejut oleh tatapan itu.

“Kita pernah bertemu sebelumnya?”

Jika orang lain yang mengatakan kalimat itu, Jenna pasti mengira itu cara kuno untuk menggoda wanita. Namun yang mengatakan adalah Marco. Kebingungan di matanya terlihat nyata.

“Sepertinya tidak. Kalau aku pernah ketemu Tuan Alamsyah sebelumnya, gak mungkin aku lupa. Tapi … ada masalah apa?”

Nada Jenna cukup yakin. Dengan statusnya, tidak mungkin ia pernah bertemu seseorang di level Marco. Bahkan ketika ia masih menjadi putri keluarga Adiputra dulu.

“Gak ada.”

Marco mengalihkan pandangan. Matanya menatap malam gelap di luar jendela. Ia terlihat sedikit kesepian. Suasana percakapan ini mulai terasa aneh.

“Tuan Alamsyah, kalau gak ada apa-apa lagi… aku tidur dulu ya?”

Jenna berkata dengan hati-hati. Seakan mengetahui pikirannya, Marco mengangkat tangan. “Duduk dulu.”

Padahal Jenna sedang sangat buru-buru ingin kabur.

Jenna duduk patuh seperti murid sekolah dasar yang sedang dimarahi guru. Wajahnya hampir seperti mau menangis. Marco menopang kepalanya dengan satu tangan.

“Kamu takut sama aku?”

Di malam yang gelap, aura Marco terasa jauh lebih berbahaya dibandingkan sikap dinginnya di siang hari.

Jenna menggeleng kuat-kuat, lalu mengangguk dengan hati-hati. “Di kota ini kayaknya gak ada orang yang gak takut sama kamu, kan?”

Jari-jari panjang Marco memainkan cangkir di tangannya. Ia berkata perlahan,

“Jadi kamu takut sama aku karena orang lain juga takut? Kalau begitu kenapa kamu gak nikah sama aku aja, seperti wanita lain yang penakut itu?”

Pertanyaan itu membuat Jenna hampir jatuh dari kursinya. Ia sempat berpikir bahwa ujian ini sudah selesai siang tadi.

Ternyata ia terlalu naif. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan seperti ini?

Dengan tangan gemetar, Jenna mengangkat tangan.

“Sebelum jawab itu… boleh aku tanya satu hal dulu?”

Marco mengangguk. “Boleh.”

“Kenapa aku? Apa karena Juju sekarang bergantung sama aku? Menurut aku itu cuma sementara. Setelah emosinya stabil dia pasti akan baik-baik saja. Bahkan kalau pun tetap seperti itu… kamu juga gak perlu… gak perlu memaksakan diri sampai seperti ini…”

Marco meletakkan cangkirnya dan menatapnya.

“Sepertinya aku sudah menjelaskan dengan jelas pertama kali kita bicara, Nona Adiputra. Tapi kalau kamu masih belum mengerti, aku bisa ulangi lagi. Aku ingin membalas budi karena kamu menyelamatkan Juju. Cara aku adalah dengan memberikan diri aku.”

"Justru karena alasan itu aku gak bisa nerima!" Jenna menjerit dalam hati.

Ia merasa tidak mungkin melanjutkan pembicaraan ini. Dengan ekspresi meminta maaf ia berkata, “Tuan Alamsyah, aku sangat menghargai niat baik kamu. Tapi aku benar-benar tidak tertarik dengan pernikahan. Jadi .…”

Marco mengangkat alis. “Jadi kamu cuma mau tidur sama aku, tapi gak mau bertanggung jawab dengan menikahi aku?”

“Iya, itu benar seka—tunggu! Bukan! Bukan itu maksud aku!”

Jenna hampir berlutut di depan pria itu.

Bisakah kata-katanya lebih menakutkan lagi?

“Sayangnya aku tidak menerima hubungan badan sebelum menikah.”

“Siapa juga yang bakal percaya…” gumam Jenna tanpa sadar.

Bukankah dia sudah punya anak di luar nikah?

Tatapan Marco sedikit kosong saat melihat ke luar jendela.

“Juju adalah kecelakaan. Aku bahkan tidak tahu siapa ibunya.”

Jenna terdiam. Kenapa kalimat itu terdengar sangat tragis?

“Kalau begitu kamu keberatan karena aku punya anak?” tanya Marco tiba-tiba.

“Itu jelas gak mungkin!”

Seperti yang ia katakan tadi, hampir semua wanita di ibu kota ingin menjadi ibu tiri Juju. Bagaimana mungkin ia keberatan?

“Kalau begitu kenapa?”

Sepertinya Marco tidak akan membiarkannya pergi sebelum ia memberikan jawaban yang memuaskan. Jenna memijat dahinya dengan lelah.

Setelah menarik napas panjang, ia berkata, “Tuan Alamsyah, pernikahan bukan permainan. Entah itu untuk membalas budi atau alasan lain, kita baru saja bertemu. kamu tahu seperti apa kepribadian aku? kamu tahu masa lalu aku?”

“Yang ingin aku nikahi adalah kamu yang sekarang. Masa lalu kamu tidak ada hubungannya dengan aku.”

Jawaban Marco tetap tegas seperti biasa.

Ekspresi Jenna menjadi dingin. “Tapi buat aku, masa lalu itu bagian dari diri aku. aku gak bisa memotong masa lalu aku begitu saja lalu menikah dengan kamu. Tuan Alamsyah, kita berjalan di jalan yang berbeda. aku benar-benar menyarankan kamu untuk menarik kembali ide aneh itu.”

Suasana langsung hening. Jenna sempat berpikir pria itu akan marah besar setelah ditolak lagi.

Namun Marco hanya berkata dengan nada tenang, “aku mengerti.”

Saraf Jenna yang tegang akhirnya sedikit rileks. “Kalau begitu aku tidur dulu. Selamat malam.”

“Selamat malam.”

Pria itu menatap punggung rapuh yang menjauh itu. Tatapannya sedalam laut. Tenang di permukaan. Namun panas di dasar laut tetap tidak pernah berubah.

1
@Reeartha1231
lanjutin trus kak
@Reeartha1231
awal cerita yang bagus
ᴹᴵᴹᴵ a ʙᴊɴ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Pesona Jenna tak terkalahkan apalagi seorang Moy yang penuh tipu muslihat pasti kebusukannya segera terbongkar
tutiana
menarik
Piw Piw: terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!